Senin, 25 Mei 2026

(19) Ibu mertuaku lumpuh dan bisu. Setiap hari aku menyuapi dan merawatnya dengan tulus meski suamiku sering bersikap kasar padaku. Suatu siang, aku pulang lebih awal karena sakit. Dari celah pintu kamar, aku melihat ibu mertuaku berdiri tegak dan tertawa lepas bersama suamiku. Betapa hancurnya aku saat mendengar apa yang sedang mereka rencanakan terhadapku, ternyata selama ini mertuaku...

 


Semuanya hancur dalam semalam. Kariernya tamat, uangnya habis, rencananya merampas ruko gagal total, ancaman preman sudah di depan mata, dan selingkuhannya pun lari terbirit-birit.


Ruang tamu itu riuh oleh gumaman keluarga besar yang kini menatap Dimas dengan pandangan iba bercampur jijik. Aku tahu, ego suamiku sudah rata dengan tanah. Inilah saatnya aku masuk kembali, bukan untuk menghancurkan, tapi untuk mengulurkan 'tali pertolongan' yang sebenarnya adalah jerat leher.


Dengan napas tersengal, aku bangkit perlahan. Kuusap air mataku dengan punggung tangan, lalu menatap Dimas yang kini terlihat seperti tikus got basah yang kehilangan arah. Aku memancarkan aura kepatuhan seorang istri yang luar biasa pemaaf, membuat seisi ruangan perlahan hening, terpesona oleh kebesaran hatiku.


"Mas, sudah, jangan menatap pintu itu lagi. Biarkan suster itu pergi," ucapku lembut, berjalan mendekat dan menyentuh lengan suamiku perlahan. 


"Aku istrimu. Seburuk apa pun kesalahanmu padaku hari ini, aku sudah bersumpah di depan penghulu untuk menemanimu dalam suka dan duka. Aku akan tetap membantumu mencari jalan keluar."


Mendengar ucapanku, Bude Tika sampai mengusap air matanya sendiri. 


"Gusti, Dimas, kamu itu punya istri berhati malaikat, kok ya masih berbuat jahat."


Dimas menatapku dengan mata memerah dan bibir gemetar. Setengah tak percaya, namun keputusasaannya yang akut membuatnya menelan bulat-bulat umpan yang kuberikan. Ia mencengkeram lenganku erat, membuang gengsinya jauh-jauh.


"K-kamu mau membantuku, Dek? B-bagaimana caranya? Aku tidak punya uang sepeser pun. Aku butuh lima ratus juta malam ini juga atau preman-preman Pak Surya akan menghancurkan kita semua besok pagi!"


Aku mencondongkan tubuhku ke depan, menatap lurus ke dalam matanya yang dipenuhi teror. Aku membiarkan suaraku mengalun tenang, menyodorkan solusi paling mematikan yang akan mengubah sisa hidupnya menjadi neraka jahanam.


"Mas lupa? Rumah yang kita tempati ini kan rumah warisan dari bapakmu, dan sertifikatnya sudah sepenuhnya atas namamu sendiri," bisikku pelan, namun kata-kataku menggema jelas di telinganya. 


"Gadaikan saja sertifikat rumah ini pada Pak Haji rentenir yang ada di ujung blok perumahan kita malam ini juga, Mas. Syaratnya sangat mudah dan uangnya bisa cair dalam hitungan jam, karena tidur di lantai dingin beralaskan tikar sambil diawasi rentenir, jauh lebih baik daripada Mas harus menghadapi preman-preman utusan Pak Surya besok pagi."


***



Selasa, 19 Mei 2026

(15) Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

 


"Usap keringatmu, Ma. Jangan sampai setetes pun jatuh merusak takaran adonan ini, atau nyawa Mama yang akan jadi taruhannya hari ini."


Suaraku bergetar parau, memecah keheningan di sudut paling ujung dapur pusat Larasati Food & Beverage. Udara subuh yang membekukan tulang terasa kontras dengan hawa panas dari deretan oven raksasa di belakangku.


Di hadapanku, Mama tidak menjawab. Wanita yang minggu lalu masih tidur berselimut sutra di kamar ber-AC itu, kini berdiri dengan bahu merosot dalam balutan celemek putih yang mulai kusam. 


Tangan keriputnya yang biasa dihiasi berlian, kini memerah dan lecet karena harus menguleni tepung gandum berjam-jam sejak jam dua pagi tadi.


"S-sembilan ratus sembilan puluh delapan ..." gumam Mama putus asa. Napasnya memburu, matanya menatap nanar pada tumpukan adonan di mejanya. 


"Yoga, dada Mama sakit sekali, Nak. Tanganku sudah mati rasa."


Aku memejamkan mata erat-erat, menahan perih yang mengiris dada. 


Di sekeliling kami, puluhan pembuat roti profesional bekerja dalam diam, sama sekali tidak mempedulikan kehadiran mantan majikan mereka yang kini terpuruk di kasta paling bawah.


Setiap kali otot lenganku menjerit karena harus memindahkan loyang panas, bayangan masa lalu menamparku telak. 


Inilah yang Hani rasakan setiap subuh selama tiga tahun pernikahan kami. 


Sementara aku tidur mendengkur nyenyak, istriku berjuang dengan panasnya oven dan beratnya tepung, hanya untuk dicaci maki oleh ibu mertuanya sendiri saat matahari terbit. 


Karma ini bekerja dengan sangat senyap, namun terasa begitu mematikan.


***



(3) Keluarga suamiku selalu merendahkanku dan menyuruhku mengerjakan semua pekerjaan kasar karena mengira aku hanya yatim piatu melarat yang menumpang hidup. Mereka tak pernah tahu bahwa perusahaan tempat suamiku bekerja dan rumah yang mereka tinggali saat ini sebenarnya berada di bawah namaku. Ketika ibu mertuaku mengusirku malam itu, aku hanya tersenyum sinis. Hari ini, aku memutuskan untuk...

 


"Beraninya Anda!" Yasir menunjuk tepat di depan wajah Pak Ridwan. "Anda tidak tahu siapa saya?! Saya ini calon menantu Pak Baskoro, Direktur Utama di cabang ini! Berani Anda memecat saya, saya pastikan Anda yang akan ditendang dari perusahaan ini siang ini juga!"


Kekacauan di lobi itu mulai mengundang perhatian para karyawan lain yang baru datang. 


Yasir semakin merasa di atas angin, yakin bahwa nama calon ayah mertuanya akan membuat Pak Ridwan berlutut ketakutan.


Namun, sebelum Pak Ridwan sempat membalas, pintu lift VIP yang berada tak jauh dari mereka terbuka dengan suara dentingan halus. 


Keluar belasan orang berseragam eksekutif, berjalan tergesa-gesa dengan raut wajah tegang, mengelilingi seorang wanita muda yang berjalan anggun di tengah-tengah mereka.


Mata Yasir seketika berbinar saat melihat pria paruh baya yang berjalan mengekor di belakang wanita itu. Itu Pak Baskoro!


"Pak Baskoro! Tolong saya, Pak!" teriak Yasir kencang, menerobos penjagaan satpam dan berlari menghampiri rombongan itu. 


"Bapak harus pecat Manajer HRD gila ini! Dia berani memecat saya tanpa alasan, padahal dia tahu saya ini calon suami Gisella!"


Langkah rombongan itu terhenti. Pak Baskoro mendongak, wajahnya yang tadinya tegang kini berubah pias seketika. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya saat melihat Yasir.


Wanita muda yang berada di posisi paling depan itu perlahan membalikkan badannya. Ia mengenakan blazer set berwarna merah marun keluaran desainer ternama, dipadukan dengan kacamata hitam elegan yang baru saja ia lepaskan.


Lutut Yasir nyaris lemas. Matanya melebar sempurna, seolah baru saja melihat hantu di siang bolong.


"F-Fina?" gumam Yasir tak percaya, menatap wanita yang semalam baru saja ia usir dengan pakaian compang-camping, kini berdiri memancarkan aura kekuasaan yang mengintimidasi. Namun, egonya yang terlampau tinggi kembali mengambil alih.


"Fina?! Sedang apa gembel sepertimu di sini?! Oh, kamu mau mengemis pekerjaan padaku?!" teriak Yasir dengan urat leher menonjol, lalu menoleh ke arah Pak Baskoro. 


"Pak Baskoro, tolong suruh satpam seret perempuan gila ini keluar! Dia ini mantan istri saya yang benalu, dia pasti mau membuat keributan di sini!"


Alih-alih menuruti perintah Yasir, Pak Baskoro justru maju selangkah dengan tubuh gemetar, lalu—


PLAKK!


Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Yasir hingga pria itu tersungkur ke lantai lobi yang dingin.


"Tutup mulut kotor dan lancangmu itu, Yasir!" bentak Pak Baskoro dengan suara bergetar ketakutan, lalu menunduk 90 derajat ke arah Fina. 


"M-Maafkan kelancangan mantan karyawan saya ini, Nona Fina."


Fina melangkah pelan mendekati Yasir yang masih terkapar memegangi pipinya yang memerah. 


Sebuah senyum iblis terukir sempurna di bibir bergincu merahnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata Yasir yang kini memancarkan kebingungan luar biasa.


"Menyeretku keluar dari gedung milikku sendiri?" ucap Fina dengan nada rendah namun menusuk hingga ke tulang. 


"Sepertinya surat pemecatan itu belum cukup untuk menyadarkanmu, Yasir. Mari kita lihat, apakah siang ini ibumu masih bisa berteriak angkuh saat surat penyitaan rumah kulemparkan tepat ke wajahnya."


***



Senin, 18 Mei 2026

(18) Menantuku selalu meminta bahan masakan padaku, dia selalu datang dengan daster kotor. Karena curiga, aku diam-diam melihat perlakuan anakku pada menantuku. Ternyata selama ini anakku begitu jahat pada menantuku. Anakku melakukan...

 


"Kirimkan seragam pelayan bekas yang kemarin dipakai Putri ke alamat kos-kosan kumuh yang baru saja disewa Adi siang ini. Oh, jangan lupa sertakan sebotol karbol lantai murahan dengan catatan: Selamat menempuh hidup baru. Pastikan selingkuhanmu sudi memakainya untuk membersihkan kamar berdebumu."


Aku tersenyum penuh kemenangan setelah memberikan instruksi tersebut melalui telepon kepada asisten pribadiku. 


Kutaruh kembali ponselku ke atas meja kaca di ruang direksi, lalu menatap dua orang yang sedari tadi mendengarkan rencanaku.


Putri yang duduk di sofa seberangku menutup mulutnya, menahan tawa yang hampir meledak, namun matanya memancarkan rasa takjub yang luar biasa. 


Sementara itu, Komandan Dirga yang berdiri tegap di sudut ruangan, ikut melengkungkan senyum tipis di bibir tegasnya.


"Saya rasa mantan suami Nyonya Putri lebih membutuhkan salep luka bakar dan obat penenang daripada karbol lantai, Nyonya Besar. Tapi harus saya akui, taktik serangan psikologis Anda sungguh tanpa cacat," komentar Komandan Dirga dengan suara baritonnya yang tenang.


Aku tertawa pelan, menyilangkan kaki dengan anggun. 


"Luka di kakinya akan sembuh dalam seminggu, Komandan. Tapi luka di harga dirinya? Ibu pastikan itu akan bernanah seumur hidupnya."


Aku beralih menatap Putri. Menantuku itu sudah terlihat jauh lebih segar hari ini. Setelan blazer navy itu benar-benar menonjolkan aura kecantikannya yang selama setahun ini sengaja dikubur oleh Adi.


"Putri, mulai besok, Ibu akan memanggil guru privat dan konsultan bisnis terbaik untuk mengajarimu segala hal tentang manajemen Rajendra Corporation," ucapku serius. 


"Kamu akan menempati kursi direktur utama, menggantikan posisi Ibu secara perlahan."


Putri terkesiap. Kepanikan kembali tergambar jelas di wajah lembutnya. 


"D-direktur Utama?! Ibu ... Putri gak mungkin bisa! Putri cuma lulusan SMA, Putri gak ngerti cara memimpin ribuan karyawan. Nanti kalau perusahaan Ibu hancur gara-gara Putri bagaimana?"


Kepala Putri menunduk dalam, jari-jarinya kembali saling meremas dengan gelisah. 


Bayang-bayang hinaan Adi yang selalu menyebutnya 'perempuan bodoh' seolah kembali menghantuinya.

Namun, sebelum aku sempat menenangkan Putri, Komandan Dirga melangkah maju. Sepatu boots militernya berketuk pelan di atas karpet tebal, lalu ia berhenti tepat di samping sofa Putri. Pria gagah berseragam itu sedikit membungkuk, menyodorkan segelas air mineral yang entah sejak kapan sudah ia siapkan.


"Seorang jenderal yang hebat tidak lahir dari sekolah militer yang mahal, Nyonya Putri. Mereka lahir dari keberanian di medan perang," ucap Dirga lembut, menatap tepat ke manik mata Putri yang berkaca-kaca. 


"Anda sudah berhasil melewati medan perang paling kejam di rumah mantan suami Anda. Memimpin sebuah perusahaan hanyalah soal strategi kertas. Dan selama saya berdiri di belakang Anda, tidak akan ada satu pun dokumen atau manusia yang berani menyakiti Anda."


Mata Putri membesar. Rona merah seketika menjalar cepat dari leher hingga ke kedua pipinya. Tangannya yang gemetar saat menerima gelas itu tak sengaja bersentuhan dengan punggung tangan Dirga yang kasar dan hangat. 


Putri buru-buru menunduk, meminum airnya dengan salah tingkah.


"S-siap, Komandan ... eh, maksud saya, terima kasih," cicit Putri gugup.


Aku menyembunyikan tawaku di balik cangkir teh. Sungguh pemandangan yang menyegarkan di tengah panasnya aksi balas dendam ini.


***


Di sudut lain ibu kota yang berdebu dan bising, Adi duduk memeluk lutut di atas kasur tipis tanpa dipan. 


Kipas angin kecil di sudut ruangan kos-kosan berukuran 3x3 meter itu berputar mengeluarkan suara berderit, sama sekali tidak mengusir hawa panas yang memanggang tubuhnya.


Pria yang kemarin masih tidur di ranjang king size berpendingin sentral itu, kini harus menelan ludah menginap di kos murah pinggiran kota. 


Ia berhasil menyewanya dengan sisa uang hasil menggadaikan ikat pinggang kulit hermes miliknya ke seorang teman. 


Kakinya yang melepuh hanya diolesi pasta gigi karena ia tak sanggup membeli salep di apotek.


"Sialan ... Sialan kalian semua!" rutuk Adi mengacak-acak rambutnya frustrasi.


Bella, selingkuhan yang ia bangga-banggakan itu, benar-benar memblokir nomornya setelah memaki-makinya tadi siang. 


Tak ada lagi mobil mewah, tak ada lagi apartemen, tak ada lagi jabatan mentereng.


"Ah, kenapa hidupku jadi hancur seperti ini? Kenapa hidupku dihancurkan ibuku sendiri?"


***




(9) Aku membentak dan mengusir istriku yang sedang hamil tua karena ketahuan mencuri uang tabunganku sebesar 50 juta. Dia menangis memohon, tapi aku tidak peduli dan langsung menjatuhkan talak. Keesokan harinya, pihak rumah sakit meneleponku dan memintaku segera datang. Saat dokter menjelaskan untuk apa uang 50 juta itu dibayarkan oleh istriku malam sebelumnya, aku langsung meminta maaf dan menangis menyesal. Ternyata istriku...

 


"Cerai?! Mas Danu, kamu jangan gila! Aku ini istrimu! Kenapa kamu ikut-ikutan membuangku hanya karena Dewa yang salah memilih lawan?!"


Jeritan Mbak Rika memecah keheningan malam di perumahan elite itu. 


Ia meronta, berusaha memeluk kaki suaminya, menolak kenyataan bahwa kemewahan yang selama ini ia agungkan hancur lebur dalam hitungan jam.


Mas Danu menepis pelukan itu dengan kasar, wajahnya merah padam menyimpan murka yang tak tertahankan.


"Kau pikir Keluarga Suryanegara menghancurkan perusahaanku murni karena Dewa?!" bentak Mas Danu seraya menunjuk tepat di depan wajah Mbak Rika. 


"Asisten Tuan Bara baru saja meneleponku! Dia bilang semua ini terjadi karena mulut berbisamu yang berani menghina Nona Arini di lorong rumah sakit siang tadi! Kau menuduhnya pencuri, kau menghina bayinya, dan sekarang, aku yang harus menanggung kebodohanmu, Rika!"


"Mas, aku tidak tahu kalau dia ... aku sungguh tidak tahu!" Mbak Rika terisak keras, air matanya melunturkan riasan mahalnya.


"Alasanmu sudah terlambat! Bawa koper-kopermu dan menyingkir dari rumahku!" Mas Danu berbalik, masuk ke dalam rumah mewahnya dan membanting pintu utama dengan suara berdebum yang memekakkan telinga. 


Tinggallah aku dan Mbak Rika, dua kakak beradik yang kini resmi menjadi gelandangan, berdiri mematung di pinggir jalan yang sepi. 


Angin malam berembus semakin dingin, menusuk hingga ke tulang.


Aku menatap nanar koper-koper kami yang berserakan. Baru kemarin aku membanggakan jabatanku di depan teman-temanku, dan Mbak Rika memamerkan tas branded terbarunya di arisan keluarga. 


Kini, kami tak lebih dari pesakitan yang tak punya tujuan.


Tiba-tiba, Mbak Rika bangkit. Ia berjalan cepat ke arahku, dan tanpa aba-aba ...

PLAAAKKK!!


Sebuah tamparan keras, yang jauh lebih kuat dari tamparanku siang tadi, mendarat telak di pipiku.


"Ini semua gara-gara kamu, Dewa!" jerit Mbak Rika histeris, memukul-mukul dadaku dengan kedua tangannya. 


"Kalau saja kamu tidak menikahi perempuan yang menyembunyikan identitasnya itu, atau setidaknya kalau kamu tidak mengusirnya semalam, aku tidak akan berakhir seperti ini! Kembalikan suamiku! Kembalikan hartaku, Dewa!"


Aku hanya bisa diam, membiarkan Mbak Rika melampiaskan amarahnya hingga ia terduduk lemas di aspal. Hatiku terlalu hancur untuk sekadar membalas. 


Bayangan wajah Arini yang menatapku dingin dari layar ponsel tadi terus berputar di kepalaku layaknya kaset rusak.


***



(26) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


"Jangan sentuh amplop itu, Fitri. Di dalam lipatan kertas menguning ini, tersembunyi sebuah nama yang akan membuat ibuku berharap dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini."


Suaraku terdengar begitu pelan, namun gema ketegasannya mampu membekukan udara di dalam ruang tamu. 


Aku menarik amplop cokelat itu dari jangkauan Fitri, lalu melipatnya hati-hati dan memasukkannya ke dalam saku kemeja bagian dalam, tepat di depan dadaku.

Fitri menatapku dengan mata membulat, napasnya tertahan. 


Rasa ingin tahu tergambar jelas di wajah cantiknya, namun ia memilih untuk memercayaiku sepenuhnya. 


Istriku itu hanya mengangguk pelan, membiarkan rahasia kelam peninggalan almarhum Bapak tetap terkunci rapat di kepalaku malam ini.


"Aku mengerti, Mas. Lakukan apa yang harus kamu lakukan. Aku akan selalu mendukungmu," bisik Fitri seraya menyandarkan kepalanya di bahuku.


Aku mengusap rambutnya dengan sayang. Sembari memeluk istriku, otakku bekerja kilat menyusun setiap detail rencana. 


Aku tidak akan membongkar isi kertas itu sekarang, bahkan kepada Fitri sekalipun. Aku butuh reaksi yang murni, sebuah kejutan mutlak yang tidak terprediksi oleh siapa pun saat panggung sandiwara buatanku dibuka esok hari.


Malam itu, setelah Fitri terlelap karena kelelahan, aku menyelinap ke balkon kamar. Aku kembali menghubungi Dimas, memberikan instruksi tambahan yang sangat spesifik.


"Selain notaris palsu dan gedung kosong, aku butuh kau menjemput seseorang malam ini juga, Dimas," bisikku ke arah ponsel, memastikan suaraku tak membangunkan Fitri. 


"Aku akan mengirimkan sebuah alamat panti jompo di pinggiran kota. Cari pria tua bernama Pak Cokro. Bawa dia ke gedung itu besok pagi sebelum ibuku tiba. Pastikan kesehatannya stabil, dan pakaikan dia setelan jas yang paling rapi."


"Pak Cokro? Baik, Tuan Putra. Apakah beliau saksi kunci dari masa lalu ini?" tanya Dimas dengan nada penuh hormat.


"Lebih dari sekadar saksi, Dimas," aku tersenyum miring, menatap pekatnya langit malam. "Dia adalah kunci dari brankas dosa ibuku yang selama ini terkunci rapat."


***



(5) Suamiku menangis mengaku perusahaannya bangkrut dan meninggalkan utang miliaran. Aku rela bekerja siang malam hingga jatuh sakit demi membantunya melunasi utang, sementara ia mengurung diri di rumah. Suatu hari, aku mengantarkan pesanan catering ke sebuah restoran bintang lima. Betapa hancurnya aku melihat suamiku sedang memotong kue perayaan anniversary dengan wanita lain, dan ibu mertuaku memberinya kunci mobil mewah. Saat itu aku baru sadar, ternyata kebangkrutan itu hanyalah...

 


"Kalau bulan depan uang tiga puluh juta itu tidak masuk ke rekeningku, aku pastikan rumah kontrakan reot ini akan disegel paksa dan kalian berdua harus angkat kaki hari ini juga! Jangan main-main denganku, Nyonya!"


Sambungan telepon diputus kasar.


Aku membiarkan ponsel murahku tergeletak di atas meja dapur. 


Bukannya gemetar ketakutan seperti yang selama enam bulan ini kulakukan setiap kali penagih utang itu menelepon, aku justru tersenyum miring. 


Jemariku dengan tenang mengetuk layar, menyimpan rekaman percakapan barusan ke dalam folder rahasia.


"Akting yang bagus, Johan," gumamku seraya menyesap teh hangat. "Atau harus kupanggil ... Kakak Ipar palsuku?"


Ponselku kembali bergetar. Kali ini panggilan dari Surya.


"Gimana? Umpannya dimakan?" tanya Surya tanpa basa-basi.


"Dimakan habis sampai ke kailnya," balasku santai. 


"Lalu, bagaimana dengan aset perusahaannya yang bangkrut itu?"


"Suamimu memang licik. PT Mandala Jaya miliknya sengaja dipailitkan secara hukum. Tapi seminggu setelah pengadilan memutus bangkrut, sebuah perusahaan baru bernama PT Cipta Gemilang berdiri dengan suntikan dana tak terbatas. Direktur utamanya? Anita Lestari. Wanita bergaun merah yang kamu rekam semalam."


Aku mendengus geli. Jadi namanya Anita. Sangat klise.


"Biar kutebak, kantor baru mereka ada di gedung mewah kawasan Sudirman, kan? Bukan di ruko sempit yang disita bank itu."


"Tepat. Dan kabar baiknya, besok perusahaan Anita akan mengadakan peresmian divisi baru. Mereka sedang mencari vendor katering dadakan karena vendor sebelumnya membatalkan sepihak, tentu saja setelah aku 'sedikit' campur tangan. Kamu tahu harus apa, kan?" Surya terkekeh pelan di seberang sana.


"Kirimkan kontaknya padaku, Sur. Aku akan memberikan harga 'spesial' untuk istri kedua suamiku," ujarku dengan seringai tertahan.


Setelah menutup telepon dari Surya, aku beranjak untuk memulai pesanan kue lumpur. 


Alur balas dendam ini harus dinikmati perlahan, mengingat perjalanannya masih panjang. Aku tidak boleh gegabah melabrak mereka sekarang. 


Biarkan mereka menari di atas kebohongannya sendiri, sampai musiknya kuhentikan secara paksa.


***



(12) Ibu mertuaku lumpuh dan bisu. Setiap hari aku menyuapi dan merawatnya dengan tulus meski suamiku sering bersikap kasar padaku. Suatu siang, aku pulang lebih awal karena sakit. Dari celah pintu kamar, aku melihat ibu mertuaku berdiri tegak dan tertawa lepas bersama suamiku. Betapa hancurnya aku saat mendengar apa yang sedang mereka rencanakan terhadapku, ternyata selama ini mertuaku...

 


"Cepat kemasi baju-baju kusammu ke dalam kardus bekas di gudang! Malam ini, begitu Mas Dimas resmi mengusirmu di depan seluruh keluarga besar, aku tidak mau ada satu pun kuman kemiskinanmu yang tertinggal di calon kamarku!"


Suara lengkingan Bella bergema di ruang tengah, tepat setelah mobil yang ditumpangi Dimas menghilang di ujung jalan. 


Suster gadungan itu tak lagi repot-repot menyembunyikan wujud aslinya. Ia bersedekap dada, memandangiku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh kemenangan.


Aku yang sedang mengelap meja makan hanya menghentikan gerakanku sejenak. 


Aku menatapnya lurus-lurus, lalu membalasnya dengan anggukan kecil dan senyum paling patuh yang bisa kuciptakan.


"Baik, Suster Bella. Akan saya siapkan ruangannya agar nanti malam Anda bisa langsung 'menikmati' kejutan dari Mas Dimas," balasku lembut, menekan nada suaraku agar terdengar pasrah.


Melihat reaksiku yang tak melawan sedikit pun, Bella mencibir puas. Ia berbalik dan melenggang masuk ke kamar Ibu mertuaku. 


Tak lama kemudian, sayup-sayup kudengar suara tawa dua wanita ular itu bersahut-sahutan. 


Mereka merayakan kemenangan finansial yang mereka pikir sudah berada di depan mata.


Aku kembali ke dapur, melanjutkan tugas yang diberikan Dimas: menyiapkan hidangan paling mewah untuk makan malam keluarga besar. 


Tanganku dengan lincah membumbui ayam panggang dan menumis udang saus tiram. 


Namun, di balik celemek yang kukenakan, otakku bekerja merangkai jebakan mematikan untuk malam ini.


Sambil menunggu panggangan matang, aku menyelinap ke ruang keluarga. Aku mengambil remote Smart TV layar datar yang bertengger di dinding, lalu menyambungkannya dengan sistem nirakabel (screen mirroring) ke ponselku. 


Setelah memastikan koneksinya tersembunyi namun stabil, aku mengatur agar semua video rekaman, mulai dari Ibu mertuaku yang lincah memakan sate kambing hingga kemesraan menjijikkan Bella dan Dimas, siap diputar hanya dengan satu ketukan jariku.


Ponsel di sakuku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Pak Broto, sang notaris kepercayaan almarhum Bapakku.


[Sertifikat ruko sudah resmi beralih status menjadi milik Yayasan Panti Asuhan pagi ini, Nak. Notaris pihak pembeli baru saja memasukkan berkas surat kuasa palsu suamimu ke loket BPN untuk pengecekan. Sebentar lagi, bomnya akan meledak. Bersiaplah.]


***



(14) Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

 


"Darah dagingku, Ma?! Cucu kandung yang selalu Mama jadikan alasan untuk menghina istriku mandul setiap hari, ternyata Mama sendiri yang membuangnya ke tong sampah?!"


Suaraku pecah, melengking memantul di dinding kaca ruangan mewah ini. Dadaku terasa seperti dihantam godam ribuan ton. Udara di sekitarku mendadak raib, membuatku tercekik oleh kenyataan yang kelewat brutal ini.


Di bawah tatapanku, Mama yang masih terkapar di atas karpet tebal itu menggeleng panik. 


Wajah keriputnya pias tak berdarah, bibirnya membiru menahan pasokan oksigen yang kian menipis ke jantungnya.


"M-Mama tidak tahu dia hamil, Ga! Sumpah, Mama tidak tahu!" rintih Mama, merangkak memegangi ujung sepatuku. Air matanya menetes mengotori kulit sepatuku yang berdebu. 


"Dokter cuma bilang rahimnya hancur, Mama panik! Mama cuma mau menyelamatkan nyawanya, Ga!"


"Berhenti bersandiwara, Nyonya besar."


Suara Hani mengalun selembut beludru, namun sanggup membungkam isak tangis Mama seketika. 


Mantan istriku itu tidak beranjak dari kursinya. Ia hanya memberi isyarat kecil pada Wendi. Pengacara berjas navy itu dengan sigap melangkah maju, menjatuhkan sebuah map bening tepat di depan wajah Mama.


Di dalam map itu, terdapat salinan rekam medis berstempel resmi rumah sakit yang sudah menguning.


"Dokter menyodorkan hasil USG yang menunjukkan ada kantung janin berusia delapan minggu, dan Anda merobek kertas itu di depan dua perawat jaga," ucap Hani membacakan fakta dengan ketenangan yang membekukan tulang. 


"Anda menolak opsi operasi yang bisa menyelamatkan rahimku karena biayanya mahal. Anda justru memaksa dokter memotong habis rahimku malam itu juga, murni karena Anda ingin menghemat uang asuransi Mas Yoga agar bisa Anda pakai untuk foya-foya."


Tubuhku luruh ke lantai. Lututku menghantam karpet dengan keras. Aku tak lagi bisa menahan gejolak di perutku. 


Rasanya aku ingin memuntahkan seluruh isi perutku melihat monster berwujud ibu kandung yang selama ini kupuja setengah mati.


"Telan obatmu, Nyonya. Sebelum jantungmu benar-benar berhenti berdetak di ruanganku." 


Hani menggeser botol kecil itu lebih dekat ke arah Mama, menatapnya dengan pandangan sedingin es.


Dengan tangan bergetar hebat bak orang penderita parkinson, Mama membuka tutup botol itu. 


Ia menuangkan secuil bubuk kecokelatan itu langsung ke mulutnya, menelannya dengan rakus tanpa bantuan air. 


Beberapa detik kemudian, napasnya yang semula memburu perlahan mulai teratur. Ia menangis tersedu-sedu, memeluk botol kecil itu seolah itu adalah nyawanya sendiri.


Ia selamat. Iblis yang menghilangkan anakku ini masih diizinkan hidup.


Aku menunduk dalam-dalam, tak berani menatap wajah Hani. 


"Bawa polisi kemari, Han," bisikku putus asa. Air mataku menetes membasahi karpet mahal di bawahku. 


"Penjarakan kami berdua. Kami pantas membusuk di balik jeruji besi. Lakukan apa saja yang bisa membuat luka di hatimu sedikit sembuh."


Terdengar suara kursi yang digeser. Hani bangkit dari duduknya. Langkah hak tingginya terdengar mendekat, berhenti tepat di depanku yang masih bersimpuh tak berdaya. Ujung sepatu mahalnya menyentuh lututku.


"Polisi? Penjara?" Hani tertawa pelan, tawa yang tak menyiratkan kegembiraan sama sekali. 


"Itu terlalu nyaman, Mas Yoga. Di penjara, kalian masih bisa tidur di atas kasur gratis dan makan tiga kali sehari dari uang pajak negara. Aku tidak akan membiarkan kalian lepas semudah itu."


Aku mendongak, menatap wajah cantik yang kini terasa sangat jauh tak tergapai. 


"Lalu, apa yang kau inginkan, Han?"


Hani tersenyum miring. Ia menatap Ibumu yang masih gemetar memeluk botol obat di lantai, lalu kembali menatapku dengan sorot mata yang menggelapkan seluruh masa depanku.


"Obat di tangan Ibumu itu hanya cukup untuk tiga hari," ucap Hani dengan nada pelan dan mematikan.


"Di hari keempat, kalau Nyonya besar ini masih ingin bernapas, kalian berdua harus datang ke dapur pabrik rotiku setiap subuh. Masuk lewat pintu belakang yang gelap, pakai celemek paling kusam, dan uleni adonan kue dengan tangan kosong kalian sendiri sampai kapalan dan melepuh."


Napas Mama tercekat mendengar syarat itu.


"Setiap seribu adonan yang berhasil tangan rapuh Ibumu uleni, akan kutukar dengan satu takaran bubuk nyawa untuk hari itu," lanjut Hani, mencondongkan wajahnya menatap kami dengan kepuasan yang absolut. 


"Selama tiga tahun Ibumu menghina bau tepung dan keringat di tubuhku. Sekarang mari kita lihat, seberapa lama Nyonya besar yang angkuh ini sanggup merangkak dan mencium bau keringatnya sendiri demi memperpanjang nyawanya satu hari lagi."


***





Keluarga suamiku selalu merendahkanku dan menyuruhku mengerjakan semua pekerjaan kasar karena mengira aku hanya yatim piatu melarat yang menumpang hidup. Mereka tak pernah tahu bahwa perusahaan tempat suamiku bekerja dan rumah yang mereka tinggali saat ini sebenarnya berada di bawah namaku. Ketika ibu mertuaku mengusirku malam itu, aku hanya tersenyum sinis. Hari ini, aku memutuskan untuk...

 


"Angkat kakimu dari rumah ini sekarang juga, perempuan melarat! Anakku Yasir itu sekarang sudah jadi manajer, dia pantas mendapatkan istri dari keluarga terpandang, bukan parasit yatim piatu sepertimu yang cuma bisa menumpang hidup dan menghabiskan beras!"


Sebuah tas pakaian usang dilempar kasar hingga isinya berhamburan ke lantai marmer. 


Aku menatap nanar beberapa helai baju murahku yang berserakan, lalu perlahan mengangkat wajah, menatap wanita paruh baya yang sedang berkacak pinggang di hadapanku. Ibu mertuaku, Bu Ratih.


Di sebelahnya, Yasir, pria yang sudah tiga tahun ini kupanggil suami, hanya berdiri melipat tangan di dada. Tidak ada raut penyesalan, apalagi niat untuk membelaku.


"Kamu dengar sendiri, kan, Fin?" ucap Yasir dingin, tatapannya merendahkan. 


"Gajiku sudah puluhan juta sekarang. Aku butuh istri yang bisa dibanggakan saat kumpul bersama kolega, bukan perempuan yang penampilannya lebih mirip pembantu sepertimu. Surat cerai akan segera kuurus."


Aku menghela napas pelan, perlahan memunguti bajuku dan memasukkannya kembali ke dalam tas. 


Hatiku yang dulu mungkin akan hancur lebur mendengar kata-kata itu, kini justru terasa mati rasa. 


Lucu sekali. Tiga tahun aku menekan egoku, menyembunyikan identitasku, dan melayani mereka layaknya pelayan hanya demi mencari tahu apa arti 'keluarga' yang tulus itu.


Ternyata, ketulusan memang tidak pernah ada di rumah ini.


"Kenapa diam saja? Cepat pergi! Jangan harap kamu bisa bawa satu barang pun dari rumah mewah ini!" sentak Bu Ratih lagi, menendang ujung tasku. 


"Syukur-syukur Yasir dulu mau menampung gelandangan sepertimu!"


Aku berdiri tegak. Sebuah senyum sinis tanpa sadar mengembang di bibirku, membuat dahi Yasir berkerut heran.


Rumah mewah ini? Yasir yang menampungku?

Mereka benar-benar tidak tahu apa-apa. 


Yasir mungkin merasa menjadi raja setelah dipromosikan menjadi Manajer Operasional di Bumi Artha Group bulan lalu. Dia sangat bangga dengan pencapaiannya. 


Tapi, suami tercintaku itu tidak pernah tahu bahwa gedung perkantoran dua puluh lantai tempatnya mengabdi, beserta seluruh saham perusahaannya, berada di bawah kendaliku.


Bahkan, rumah mewah berlantai dua yang saat ini mereka pijak dengan penuh kesombongan, sertifikat aslinya tersimpan rapi di brankas pribadiku atas nama Fina.


"Baik," kataku pelan namun tajam. Mataku menatap lurus ke arah Yasir. 


"Aku akan pergi. Tapi ingat satu hal, Yasir, sekali aku melangkah keluar dari pintu ini, jangan pernah berlutut memohon untuk kembali padaku."


Bu Ratih tertawa sumbang, tawanya menggema di seluruh ruangan. 


"Mimpi kamu, gembel! Anakku sebentar lagi akan menikahi Siska, anak direktur! Mana sudi dia mengemis sama yatim piatu sepertimu!"


Aku tidak menjawab lagi. Tanpa menoleh ke belakang, aku melangkah keluar menembus dinginnya angin malam. 


Tepat saat pintu gerbang rumah itu tertutup rapat di belakangku, sebuah mobil keluaran terbaru berwarna hitam pekat meluncur dan berhenti tepat di hadapanku.


Seorang pria bersetelan jas rapi bergegas turun, menunduk hormat 90 derajat sambil membukakan pintu untukku. 


"Maaf terlambat menjemput Anda, Nona Fina."


Aku masuk ke dalam mobil yang hangat dan langsung bersandar di kursi kulit yang nyaman. 


Kuraih ponsel dari dalam saku, mendial sebuah nomor yang sudah tiga tahun tak pernah kuhubungi. Panggilan itu langsung diangkat pada dering pertama.


"Halo, Pengacara Dimas? Siapkan berkas penarikan aset rumah di blok ini besok pagi. Dan satu lagi, pastikan besok pagi meja manajer atas nama Yasir sudah kosong sebelum dia datang ke kantorku."


***

"Bakar semua kasur dan seprai di kamar belakang! Ibu tidak sudi rumah mewah kita ini masih menyisakan bau kemiskinan dari perempuan gembel itu. Hari ini juga, bawa Gisella kemari, kita harus merayakan kebebasanmu dan meresmikan hubungan kalian!"


Suara melengking Bu Ratih dari seberang telepon membuat Yasir tersenyum lebar. Sambil merapikan dasi mahalnya, pria itu melangkah penuh kebanggaan memasuki lobi gedung Bumi Artha Group yang megah.


"Beres, Bu. Ibu tenang saja, mulai hari ini standar hidup kita akan naik kelas. Perempuan parasit itu sudah kubuang ke tempat asalnya, yaitu jalanan. Nanti siang Yasir akan kenalkan Ibu dengan Pak Baskoro, ayah Gisella sekaligus Direktur Utama di kantorku ini," balas Yasir jemawa sebelum mematikan panggilan.


Ia berjalan dengan dada membusung menuju pintu pemindai kartu otomatis. 


Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menunduk, dan Yasir membalasnya dengan anggukan angkuh layaknya seorang penguasa. 


Manajer Operasional. Jabatan yang baru dipegangnya sebulan itu sudah cukup membuatnya merasa berada di puncak dunia.


Akses Ditolak.


Langkah Yasir terhenti. Ia mengernyitkan dahi, lalu kembali menempelkan kartu ID-nya ke mesin pemindai.


Akses Ditolak.


"Sialan, mesin murahan ini pasti rusak!" umpat Yasir kasar. Ia menoleh ke arah pos penjagaan dan berteriak, "Satpam! Buka palangnya! Kenapa mesin ini tidak bisa membaca ID Manajer saya?!"


Dua orang petugas keamanan bertubuh kekar segera menghampirinya, namun alih-alih membukakan jalan, mereka justru berdiri menghalangi. 


Di belakang mereka, Pak Ridwan Manajer HRD perusahaan, berjalan mendekat sambil membawa sebuah kardus cokelat berisi beberapa bingkai foto, mug, dan alat tulis.


"Tidak ada yang rusak dengan mesinnya, Saudara Yasir," ucap Pak Ridwan dingin, lalu meletakkan kardus itu tepat di ujung kaki Yasir. 


"Kartu akses Anda memang sudah dinonaktifkan secara permanen sepuluh menit yang lalu."


Yasir melotot. Wajahnya memerah menahan amarah. 


"Apa-apaan ini, Pak Ridwan?! Anda tidak punya hak menonaktifkan kartu saya! Apalagi membawa-bawa barang saya seperti ini! Anda mau memecat saya?! Jangan bercanda!"


"Saya tidak bercanda," desis Pak Ridwan, tatapannya menyiratkan rasa muak. 


"Mulai detik ini, Anda resmi diberhentikan secara tidak hormat. Silakan ambil barang-barang Anda dan tinggalkan lobi ini sebelum petugas keamanan menyeret Anda secara paksa."


***




Minggu, 17 Mei 2026

(17) Menantuku selalu meminta bahan masakan padaku, dia selalu datang dengan daster kotor. Karena curiga, aku diam-diam melihat perlakuan anakku pada menantuku. Ternyata selama ini anakku begitu jahat pada menantuku. Anakku melakukan...

 


Di bawah terik matahari siang yang menyengat, Adi duduk mengemper di halte bus yang sepi. 


Kemejanya basah oleh peluh, perutnya keroncongan minta diisi, dan kakinya yang melepuh terasa sangat perih.


Ia memeriksa dompetnya. Kosong. Bahkan uang recehan pun tak ada.


Dengan sisa baterai ponsel yang tinggal lima persen, Adi buru-buru memencet nomor Bella. 


Bagaimanapun juga, semalam wanita itu membawa kabur koper besarnya yang berisi barang-barang branded. 


Jika ia bisa membujuk Bella, ia bisa meminta wanita itu menjual satu tas saja untuk biaya mereka menyewa kamar dan makan hari ini.


Sambungan tersambung pada nada ketiga.


"Halo, Bella Sayang! Syukurlah kamu angkat!" ucap Adi tergesa-gesa, suaranya parau dan memelas. 


"Sayang, tolong jemput aku pakai taksi di halte dekat kantor lamaku. Kamu bawa tas pemberianku, kan? Kita jual satu dulu ya buat modal makan dan menginap hari ini, nanti kalau aku sudah dapat kerja."


"Kerja?! Kerja jadi badut lampu merah maksud kamu?!"


Bukannya jawaban manja, lengkingan histeris Bella dari seberang telepon membuat Adi harus menjauhkan ponsel dari telinganya. 


Suara wanita itu diiringi suara isak tangis dan keributan benda-benda yang dipindahkan.


"Bella? Sayang, kamu kenapa menangis? Ada apa?" tanya Adi panik.


"Ada apa kamu bilang?! Mas, kamu itu benar-benar bajingan ya! Pengacara ibumu baru saja mendobrak masuk ke tempatku! Mereka bawa dokumen tebal dan menyita semua tasku! Semua berlian, sepatu, bajuku, semuanya diangkut, Mas! Mereka bilang itu barang bukti hasil penggelapan uang perusahaanmu!" jerit Bella penuh derai air mata dan amarah yang meledak-ledak.


Adi mematung. Jantungnya serasa berhenti berdetak. 


"P-pengacara Ibu? M-menyita semuanya?"


"Iya! Dan kalau aku protes, mereka mau memenjarakanku atas tuduhan penadahan uang curian! Aku sekarang cuma sisa baju di badan karena kamu, Mas!" raung Bella dengan napas memburu. 


"Dengar ya, Adi! Mulai sekarang jangan pernah hubungi aku lagi! Nikmati saja surat tuntutan ganti rugi miliaran rupiah dari ibumu sendiri di pengadilan! Dasar mantan manajer gembel gak berguna!"


***



(8) Aku membentak dan mengusir istriku yang sedang hamil tua karena ketahuan mencuri uang tabunganku sebesar 50 juta. Dia menangis memohon, tapi aku tidak peduli dan langsung menjatuhkan talak. Keesokan harinya, pihak rumah sakit meneleponku dan memintaku segera datang. Saat dokter menjelaskan untuk apa uang 50 juta itu dibayarkan oleh istriku malam sebelumnya, aku langsung meminta maaf dan menangis menyesal. Ternyata istriku...

 


"Arini, kumohon. Mas tahu Mas khilaf, tapi tolong jangan bertindak sejauh ini! Mas ini suamimu, ayah dari anak yang sedang kamu kandung! Sebenci itukah kamu sampai tega membuang Mas ke jalanan seperti ini?!"


Aku berteriak menatap layar ponsel di tangan pengacara itu, mengabaikan tatapan tajam para pria berbadan tegap yang mengawasiku. 


Air mataku kembali menetes, mempertaruhkan sisa harga diri yang sudah hancur tak bersisa.


Namun, wajah Arini di seberang sana tetap sedingin pualam. Tidak ada lagi gurat kepatuhan atau binar cinta yang selama ini selalu ia tujukan padaku.


"Suami? Ayah?" Arini tersenyum miring, sebuah senyum elegan namun sanggup mengiris kewarasanku. 


"Sejak detik kamu menjatuhkan talak dan membanting pintu di saat aku memohon belas kasihan semalam, posisi itu sudah mati untukmu. Selamat menikmati malam panjangmu di jalanan, Dewa. Ini baru pemanasan."


Layar menggelap. Panggilan dimatikan secara sepihak.


"Waktu Anda sudah habis, Pak Dewa. Silakan tinggalkan area properti milik Nona Arini sekarang juga, atau staf keamanan kami yang akan menyingkirkan Anda," ucap pengacara itu dengan nada datar, lantas berbalik masuk ke dalam pekarangan dan mengunci gerbang besi rapat-rapat.


Aku terpaku menatap gerbang rumah yang menjulang tinggi itu. 


Rumah berlantai dua yang selama tiga tahun ini kubanggakan kepada semua orang sebagai hasil keringatku sendiri. 


Dulu, aku selalu menyombongkan diri karena bisa membayar cicilan bulanannya, menutup mata pada kenyataan bahwa Arini-lah yang membayar uang muka dan melunasi sebagian besar tagihannya secara diam-diam.


Angin malam berembus kencang, menembus kemejaku yang mulai lembap oleh keringat dingin. 


Dengan langkah gontai dan dada yang terasa sesak oleh penyesalan, aku menyeret tiga koper besarku menjauh dari rumah itu.


Jalanan perumahan tampak sepi. Kepalaku berdenyut nyeri memikirkan ke mana aku harus pergi malam ini. 


Pekerjaan melayang, rumah disita, dan aku sama sekali tidak memegang uang tunai karena seluruh tabunganku telah digunakan Arini atas nama cinta dan pengorbanannya, untuk menyelamatkan nyawa ibuku.


Tiba-tiba, sebuah ide melintas di kepalaku. Mbak Rika!


Ya, kakak perempuanku itu tinggal di sebuah perumahan elite tak jauh dari sini. 


Suaminya, Mas Danu, adalah seorang kontraktor sukses yang memiliki banyak proyek besar. Mbak Rika selalu memamerkan kekayaannya di setiap acara keluarga. 


Setidaknya, untuk beberapa hari ke depan, aku bisa menumpang di rumah mewahnya sampai aku bisa mencari pekerjaan baru dan memohon ampunan pada Arini.


Dengan sisa uang receh di saku, aku memesan taksi online. S


epanjang perjalanan, aku merangkai kata demi kata di kepalaku, mencoba mencari alasan yang tepat agar Mas Danu mengizinkanku tinggal sementara waktu.


Namun, begitu taksi berhenti di depan gerbang perumahan elite tempat Mbak Rika tinggal, pemandangan di depan mata membuat darahku berdesir hebat.


Di depan rumah mewah bergaya klasik itu, sebuah mobil milik Mbak Rika sedang ditarik oleh mobil derek. 


Beberapa pria berjas yang tampak sangat formal sedang mengeluarkan barang-barang bermerek dari dalam rumah, membiarkannya berserakan di garasi.


Dan di sana, di tengah kekacauan itu, Mbak Rika menangis histeris. Ia berusaha menahan koper-kopernya, namun suaminya, Mas Danu, menepisnya dengan kasar hingga wanita yang tadi siang begitu angkuh menghina Arini itu kini jatuh terduduk di lantai garasi.


Aku bergegas turun dari taksi, setengah berlari menyeret koperku mendekati mereka.


"Mbak Rika! Mas Danu! Ada apa ini?!" teriakku panik.


Mbak Rika mendongak. Wajahnya dipenuhi riasan yang luntur oleh air mata. Begitu melihatku, sorot matanya yang penuh ketakutan berubah menjadi kemarahan yang menyala-nyala.


Namun, sebelum Mbak Rika sempat membuka mulutnya, Mas Danu melangkah maju. Wajah pria paruh baya itu memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak. 


Ia menatapku dan Mbak Rika bergantian dengan kilat kebencian yang belum pernah kulihat sebelumnya, lalu melemparkan sebuah map tebal tepat ke wajah kakakku.


"Kalian berdua benar-benar benalu pembawa sial! Gara-gara kalian berani mengusik dan menghina Nona Arini Suryanegara, seluruh proyek perusahaanku dibatalkan sepihak malam ini juga dan aku dituntut ganti rugi puluhan miliar! Bawa koper-kopermu dan pergi dari rumahku sekarang juga, karena mulai detik ini, kamu resmi kuceraikan, Rika!"


***



(25) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


"Besok subuh, kirimkan seseorang yang menyamar sebagai notaris kelas atas ke tempat ibuku berada. Buat dia percaya bahwa almarhum Bapak diam-diam memiliki aset tanah senilai puluhan miliar di luar kota, dan Ibu adalah pewaris tunggalnya."


Kulihat Fitri menutup mulutnya yang sedikit terbuka karena terkejut mendengar rencanaku, namun ia tak menyela sedikit pun.


"Pastikan notaris palsu itu bersikap sangat meyakinkan, Dimas," lanjutku dengan nada yang semakin memberat. 


"Katakan pada ibuku bahwa aset itu bisa langsung dicairkan besok pagi pukul sepuluh, asalkan ia datang sendiri ke sebuah alamat gedung yang akan kuberikan padamu nanti. Jangan biarkan dia curiga sedikit pun."


Terdengar helaan napas kagum dari seberang telepon. 


"Sebuah umpan yang sangat brilian, Tuan Putra. Keserakahan wanita itu pasti akan membuatnya datang berlari ke alamat tersebut tanpa berpikir dua kali. Saya akan siapkan segalanya."


"Satu hal lagi, Dimas," potongku sebelum ia mematikan sambungan. 


"Pastikan gedung itu benar-benar kedap suara. Aku tidak ingin ada tetangga yang terganggu saat nyalinya hancur berkeping-keping besok."


"Siap laksanakan, Tuan."


Sambungan diputus. Aku menatap layar ponsel yang meredup, lalu beralih menatap Fitri yang kini memeluk lenganku dengan erat. 


Tidak ada ketakutan di matanya, yang ada hanyalah keyakinan bahwa suaminya akan menyelesaikan masa lalu ini dengan tuntas.


"Mas, kamu yakin rencana ini akan berhasil? Bagaimana kalau Ibu curiga?" bisik Fitri pelan.


"Dia tidak akan curiga, Fit. Orang yang sedang berada di titik paling hancur dan putus asa, akan memakan umpan apa pun yang terlihat seperti jalan keluar emas, apalagi jika itu menyangkut uang miliaran."


Aku menarik napas panjang, menatap pantulan diriku dan Fitri di kaca jendela yang gelap. 


Malam ini adalah malam terakhir bayang-bayang kelam masa lalu itu menguasai hidupku.


"Biarkan Ibu tidur dengan nyenyak di jalanan malam ini, bermimpi bahwa besok ia akan kembali menjadi nyonya besar yang bergelimang harta warisan," bisikku dengan sorot mata tajam yang siap mengoyak takdir. 


"Karena tepat saat dia membuka pintu gedung itu dengan senyum kemenangannya besok pagi, dia tidak akan menemukan sepeser pun uang warisan, melainkan sosok masa lalu yang bangkit dari kematian untuk menagih hutang nyawanya dengan cara yang paling kejam."


***



(4) Suamiku menangis mengaku perusahaannya bangkrut dan meninggalkan utang miliaran. Aku rela bekerja siang malam hingga jatuh sakit demi membantunya melunasi utang, sementara ia mengurung diri di rumah. Suatu hari, aku mengantarkan pesanan catering ke sebuah restoran bintang lima. Betapa hancurnya aku melihat suamiku sedang memotong kue perayaan anniversary dengan wanita lain, dan ibu mertuaku memberinya kunci mobil mewah. Saat itu aku baru sadar, ternyata kebangkrutan itu hanyalah...

 


Satu jam kemudian, setelah Akbar pamit pergi yang aku yakini bukan ke pasar induk, melainkan kembali ke pelukan wanita bergaun merah itu, aku langsung bersiap menuju pasar. 


Namun, baru saja aku membuka pintu depan, sebuah mobil putih mengkilap berhenti tepat di halaman sempit kontrakanku.


Kaca mobil turun perlahan, menampilkan wajah angkuh berbalut riasan tebal dari balik kacamata hitam. Ibu mertuaku.


Ia turun tanpa repot-repot membalas senyum apalagi salamku. Matanya memindai rumah kontrakanku dengan tatapan merendahkan, sebelum tangannya yang penuh perhiasan emas menyodorkan sebuah rantang plastik murahan ke dadaku.


"Ini, ada sisa nasi kotak dari acara arisan Mama kemarin. Sayang kalau dibuang ke tempat sampah, mending buat kamu sama Akbar. Lagian kamu kan harus hemat mati-matian demi bayar utang anakku," ucapnya angkuh.


Mataku tanpa sengaja menangkap kilau cincin berlian biru di jari manisnya, kado anniversary yang kulihat semalam, berlian yang harganya sepadan dengan sepuluh bulan keringat kateringku.


 Aku menerima rantang itu dengan tangan sedikit bergetar. 


Bukan karena sedih, melainkan menahan luapan amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun.


"Oh ya," tambah mertuaku, menepuk pundakku dengan kuku-kukunya yang baru di-manicure rapi. 


"Mama dengar bulan depan tagihan katering dari proyek kantormu cair besar, kan? Langsung transfer semuanya ke rekening Pak Johan, ya! Jangan serakah kamu pakai untuk jajan. Kasihan suamimu tiap hari stres mau bunuh diri karena diancam lintah darat," ucapnya dengan raut memelas yang begitu palsu, seraya mengelus berlian di jarinya dengan bangga.


Aku menunduk sejenak, menarik napas panjang, lalu perlahan mengangkat wajahku. 


Aku menatap lurus tepat di manik mata mertuaku, menyunggingkan senyum paling manis, paling tulus, dan paling mematikan yang pernah kumiliki.


"Tentu saja, Ma. Mama tenang saja. Bulan depan, jangankan sisa utangnya, 'nyawa' Mas Akbar beserta seluruh isinya pun, akan aku serahkan langsung ke tangan Mama."


***




(11) Ibu mertuaku lumpuh dan bisu. Setiap hari aku menyuapi dan merawatnya dengan tulus meski suamiku sering bersikap kasar padaku. Suatu siang, aku pulang lebih awal karena sakit. Dari celah pintu kamar, aku melihat ibu mertuaku berdiri tegak dan tertawa lepas bersama suamiku. Betapa hancurnya aku saat mendengar apa yang sedang mereka rencanakan terhadapku, ternyata selama ini mertuaku...

 


"Cepat setrika kemeja sutraku dan gelar karpet tebal di ruang tamu! Hari ini, aku akan membuktikan bahwa Dimas bukanlah gembel yang bisa ditindas, melainkan seorang miliarder muda yang akan membeli harga diri bos sialan itu!"


Teriakan antusias Dimas menyambut pagiku. Kantung matanya sedikit menghitam karena tak bisa tidur semalaman akibat ketakutan, namun kini wajahnya berseri-seri penuh kesombongan.


Ia berdiri di depan cermin, menyisir rambutnya ke belakang dengan gaya parlente yang justru terlihat menggelikan di mataku.


Aku mengangguk patuh, segera mengambil setrika dan melicinkan kemeja mahalnya dalam diam. 


Di kamar seberang, kulihat sekilas Suster Bella, sang selingkuhan, juga sibuk memoles wajahnya dengan lipstik merah merona, sama sekali tidak mencerminkan riasan seorang perawat. 


Ibu mertuaku pun terdengar bersenandung kecil dari balik pintu kamarnya. Mereka semua sedang bersiap menyambut kemewahan hasil rampokan.


Tepat pukul sembilan pagi, sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam mengkilap berhenti di depan rumah. Dimas nyaris tersandung kakinya sendiri saat berlari membukakan pintu.


Seorang pria paruh baya berkacamata tebal yang terlihat sangat berwibawa turun dari mobil, diiringi seorang asisten yang menenteng koper kecil. 


Pria itu adalah Pak Surya, sang calon pembeli yang tampaknya benar-benar memiliki uang tak berseri.


"Silakan masuk, Pak Surya yang terhormat! Suatu kebanggaan rumah kami dikunjungi oleh Anda," sambut Dimas dengan postur membungkuk yang begitu menjilat.


Aku berdiri di sudut ruang tengah, memperhatikan dari kejauhan sambil menyuguhkan nampan berisi teh dan camilan. 


Suster Bella ikut berdiri di dekat kamar Ibu, tersenyum menggoda ke arah Dimas setiap kali Pak Surya tidak melihat.


Setelah berbasa-basi sebentar, Pak Surya langsung masuk ke inti pembicaraan. Asistennya membuka koper, mengeluarkan sebuah cek dan meletakkannya di atas meja bersama salinan surat kuasa palsu yang ujungnya sudah dicap jempol olehku tempo hari.


"Saya ini pebisnis yang tidak suka membuang waktu, Pak Dimas. Ruko peninggalan mertua Anda itu lokasinya sangat strategis," ucap Pak Surya dengan nada tegas. Ia mendorong selembar cek itu ke hadapan suamiku. 


"Ini uang muka sebesar lima ratus juta rupiah sebagai tanda jadi."


Mata Dimas membelalak sempurna. Tangannya bergetar hebat saat menyentuh lembaran kertas berharga itu. Ia nyaris lupa cara bernapas.


"L-lalu, sisa pelunasannya yang dua setengah miliar bagaimana, Pak?" tanya Dimas dengan suara serak, berusaha menutupi rasa rakusnya.


Pak Surya tersenyum simpul, menyandarkan punggungnya ke sofa. 


"Tenang saja. Sisanya akan saya transfer sore ini juga, tepat setelah notaris pribadi saya selesai mengecek keabsahan surat kuasa dan mengurus balik nama sertifikat ruko tersebut di BPN. Begitu statusnya bersih, uang langsung masuk ke rekening Anda."


"Oh, tentu saja bersih, Pak! Dijamin 100% aman! Istri saya sudah pasrah dan menandatangani semuanya!" sahut Dimas cepat, terlalu kegirangan hingga tak sadar betapa gegabahnya kalimat itu.


Transaksi singkat itu selesai. Setelah Pak Surya dan mobil mewahnya menghilang di ujung jalan, meledaklah sorak-sorai di ruang tamu kami. 


Dimas melompat kegirangan, bahkan ia tak ragu lagi memeluk pinggang Bella di depanku.


"Kita kaya! Kita kaya raya, Bella!" seru Dimas kegirangan, lalu berlari ke kamar ibunya. 


"Ibu! Sore ini kita bisa borong emas sekilo, Bu!"

Ibu mertuaku yang lupa sedang pura-pura lumpuh refleks mengangkat tangannya untuk bersorak, sebelum buru-buru menurunkannya lagi saat melihatku berdiri di ambang pintu.


Aku memasang raut wajah bingung dan polos. 


"Mas, uang muka untuk apa? Tamu tadi beli apa dari kita kok sampai bawa uang ratusan juta?"


Dimas menoleh padaku. Sorot matanya dipenuhi arogansi dan cibiran tajam. Ia mengibaskan cek itu tepat di depan hidungku.


"Kamu tidak perlu tahu otak bisnis laki-laki! Sekarang, aku mau ke bank untuk mencairkan cek ini. Ratusan juta ini akan kugunakan untuk melempar wajah mantan bosku agar utang ganti rugiku lunas hari ini juga!" 


Dimas berjalan ke arah rak sepatu, memakai pantofelnya dengan gaya angkuh. Ia lalu menatapku dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan.


"Dan kamu, Dek," lanjutnya dengan nada dingin yang mengancam, "malam ini masak hidangan paling mewah. Aku akan mengundang keluargaku untuk makan malam, karena aku akan mengumumkan sebuah 'kejutan besar' tentang siapa wanita yang sebenarnya pantas menyandang status nyonya di rumah ini."


Aku tahu persis apa arti kalimat itu. Begitu uang pelunasan miliaran itu masuk sore nanti, ia berniat menceraikan dan mengusirku malam ini juga.


Alih-alih menangis atau memohon, aku justru tersenyum sangat manis. Kutarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke dalam mata pria yang sedang menggali kuburannya sendiri itu.


"Akan kusiapkan hidangan perpisahan yang paling sempurna, Mas," balasku dengan nada selembut sutra, membuat keningnya sedikit berkerut bingung. 


"Oh ya, pastikan volume ponselmu menyala paling keras sore ini. Kudengar, kejutan dari kantor Notaris biasanya datang tanpa permisi, dan selalu berhasil membuat orang jantungan mendadak."


***



(27) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


"Malam ini, biarkan seluruh kota melihat bagaimana wanita yang dulu dihina dan dibuang, kini berdiri di balkon tertinggi sebagai ratu yang menguasai segalanya. Mulai detik ini, tidak akan ada lagi benalu dari keluarga mana pun yang berani menyentuh sehelai pun rambutmu, Sari."

Suaraku mengalun lembut namun penuh penekanan, mengalahkan sayup-sayup alunan musik klasik dari dalam ballroom.

Di balkon VVIP yang sepi dan eksklusif ini, aku merengkuh pinggang Sari dari belakang. Istriku menyandarkan kepalanya di dadaku, memejamkan mata menikmati hembusan angin malam kota yang terasa begitu damai. 

Pemandangan kelap-kelip lampu ibu kota terhampar luas di bawah kami, seolah bersujud di bawah kaki Nyonya Besar Wijaya yang baru saja diresmikan malam ini.

Sari memutar tubuhnya perlahan, menatap kedua mataku dengan senyuman yang sangat menawan. 

"Semuanya terasa seperti mimpi, Mas. Rasa sakit selama enam tahun hidup di gubuk, hinaan dari Maryam dan Rini, semuanya seolah menguap begitu saja. Terima kasih sudah menjadikanku wanita paling beruntung di dunia."

Aku mengecup pelipisnya dengan penuh kasih sayang. 

"Kamu pantas mendapatkannya, Sayang. Mereka yang dulu menyiksamu kini sudah menuai karmanya. Maryam akan menghabiskan sisa napasnya di balik jeruji besi yang dingin, dan Rini akan terus mengepel lantai rumah kita sambil menyaksikan kebahagiaan kita setiap hari."

Malam perjamuan gala dinner itu pun berakhir dengan sangat sempurna. Kehadiran Sari dan aku telah menjadi buah bibir paling hangat di seluruh penjuru ibu kota.

***

Tiga hari berlalu sejak malam bersejarah itu. Kehidupan kami mulai memasuki ritme yang baru, ritme yang penuh dengan kemenangan dan kedamaian.

Pagi ini adalah hari pertamaku secara resmi mengambil alih kursi Direktur Utama di menara kantor pusat Wijaya Group, sementara Tuan Haris mulai menyerahkan kendali operasional sepenuhnya kepadaku. 

Ruang kerjaku kini berada di lantai tertinggi, dikelilingi dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan seluruh penjuru kota.

Di atas meja kerja mahoniku yang luas, tidak hanya terdapat tumpukan dokumen investasi, tapi juga sebuah figura kecil berisi foto Sari dan Bintang yang selalu menjadi sumber kekuatanku.

Tepat saat jam makan siang tiba, pintu ruanganku terbuka. Bukan asisten atau sekretaris yang masuk, melainkan istriku tercinta. Sari melangkah masuk dengan senyum cerah, membawa sebuah kotak bekal mewah berjenjang.

"Selamat siang, Pak Direktur," sapa Sari dengan nada menggoda, meletakkan kotak bekal itu di atas meja tamu di sudut ruangan. 

"Aku tahu makanan di restoran bintang lima di bawah sana sangat mahal, tapi aku yakin suamiku ini lebih merindukan masakan rumahan."

Aku langsung bangkit dari kursi kebesaranku, meletakkan dokumenku begitu saja, dan menghampirinya. 

Kupeluk tubuh mungilnya erat-erat, menghirup aroma vanila dari rambutnya. 

"Kamu tahu persis kelemahanku, Sayang. Tidak ada koki hotel mana pun yang bisa mengalahkan masakan istriku."

Kami menikmati makan siang itu dengan diselingi canda tawa ringan. 

Melihat wajah berseri-seri wanita ini, seluruh beban pekerjaanku seakan hilang tanpa sisa.

Aku akan meratukanmu, Sari. Akan kubuat orang-orang yang telah meremahkan dan merendahkanmu menyesal seumur hidup. 

***


(13) Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

 


Tubuhku luruh ke lantai semen yang dingin. Aku menangis meraung, memukul kepalaku sendiri berkali-kali. 


Betapa butanya aku. Aku membiarkan istriku dihina mandul oleh ibuku sendiri, padahal perempuan itu kehilangan masa depannya karena menyelamatkan nyawaku.


***


Malam itu berlalu seperti neraka. Paginya, aku menyeret Mama yang kondisinya semakin melemah. Napasnya pendek-pendek, bibirnya membiru, dan tangannya dingin. 


Tanpa ampun, aku membawanya kembali ke gedung megah Larasati Food & Beverage Corp.


Kami diizinkan masuk ke ruangan direktur utama. Hani sudah menunggu. Ia duduk dengan punggung tegak di kursi kebesarannya, diapit oleh Wendi yang berdiri waspada di sisinya.


Melihat sosok Hani, Mama yang sudah tak berdaya langsung melepaskan genggamanku. 


Dengan sisa tenaga yang ia miliki, wanita yang selalu angkuh itu menjatuhkan dirinya ke lantai karpet tebal, merangkak tertatih mendekati meja Hani.


"Hani tolong Mama, Nak," isak Mama, suaranya parau dan terputus-putus. 


"Mama minta maaf. Mama khilaf, tolong berikan obat itu, Hani. Dada Mama sakit sekali, Mama tidak mau mati."


Aku memalingkan wajah, tak sanggup melihat ibuku sendiri mengemis nyawa seperti cacing tanah di bawah kaki wanita yang nyaris ia hancurkan hidupnya.


Hani tidak mundur. Ia menatap ke bawah, menatap wajah ibuku dengan mata teduhnya yang sedingin es abadi. 


Perlahan, Hani merogoh laci mejanya, mengeluarkan botol kaca kecil berisi bubuk cokelat penyambung nyawa itu, dan meletakkannya di sudut meja, tepat di depan wajah Mama.


Mata Mama berbinar penuh harapan. Tangannya yang gemetar terulur perlahan untuk meraih botol itu.


Namun, tepat sebelum jemari keriput Mama menyentuh kaca botol, suara Hani mengalun lembut, menghentikan waktu di ruangan itu.


"Ambil obatmu, Nyonya besar," ucap Hani, senyum miring yang ganjil terbit di bibirnya. 


"Silakan telan dan perpanjang napasmu hari ini. Tapi sebelum kau merasa menang karena berhasil selamat, mari kita luruskan satu detail kecil yang sengaja kau sembunyikan dari Yoga malam itu, Bahwa di dalam rahim yang kau paksa dokter untuk dibuang ke tong sampah tiga tahun lalu itu ... sebenarnya sedang berdetak jantung cucu pertamamu."


***



Sabtu, 16 Mei 2026

(16) Menantuku selalu meminta bahan masakan padaku, dia selalu datang dengan daster kotor. Karena curiga, aku diam-diam melihat perlakuan anakku pada menantuku. Ternyata selama ini anakku begitu jahat pada menantuku. Anakku melakukan...

 


"Kamu pikir dengan menendangku keluar, perusahaan ini akan tetap berdiri kokoh?! Aku yang mencari klien! Aku yang membesarkan nama perusahaan ini! Kalian berdua akan hancur berantakan dan merangkak mengemis padaku dalam hitungan hari!"


Teriakan putus asa Adi menggema keras di tengah lobi. Pria itu terus meronta dengan wajah memerah, berusaha melepaskan diri dari pegangan dua petugas sekuriti yang menahannya erat-erat tanpa kekerasan.


Mendengar bentakan kasar suaminya, Putri tersentak kaget. Wajah menantuku yang tadinya berusaha keras tampil berani, kini memucat. Ia melangkah mundur dengan bibir bergetar, lalu bersembunyi di balik punggungku. 


Tangan mungilnya yang dingin meremas ujung blazer yang kukenakan. Menantuku ini memang masih terlalu lembut dan penakut. 


Luka batin yang ditorehkan Adi selama setahun tidak bisa sembuh hanya dalam semalam.


Melihat Putri yang kembali gemetar, naluri keibuanku seketika mendidih. Aku melangkah maju, memosisikan diriku sebagai perisai kokoh untuk Putri. 


Kutatap anak kandungku yang sombong itu dengan tawa sinis yang mengiris habis sisa-sisa harga dirinya.


"Merangkak mengemis padamu? Adi, Adi ... betapa lucunya isi kepalamu itu," cemoohku, melipat kedua tangan di dada dengan gaya angkuh dan elegan. 


"Kamu pikir klien-klien besar itu mau bekerja sama karena kehebatanmu? Mereka menandatangani kontrak karena Ibu yang diam-diam menyuruh mereka dari balik layar! Rajendra Corporation tidak akan goyah sedikit pun tanpa parasit sepertimu. Justru kamulah yang sebentar lagi akan menangis darah karena Ibu sendiri yang akan mengajarimu arti kata miskin yang sesungguhnya!"


Adi tertegun. Matanya membelalak lebar, tak sanggup membalas rentetan kenyataan pahit yang baru saja kulemparkan ke wajahnya.


"Bawa dia keluar dari pelataran gedung ini," titahku tenang namun tegas kepada para sekuriti. "Jangan gunakan kekerasan, pastikan saja pria kotor ini tidak menodai lantai lobi kita lagi."


"Baik, Nyonya Besar!" Kedua petugas itu langsung membimbing Adi keluar menuju pintu kaca. 


Pria yang kemarin sore masih menjadi atasan mereka itu kini diseret keluar bak orang gila yang mengigau.


Setelah Adi menghilang dari pandangan, suasana lobi kembali hening. Putri menghela napas panjang, meremas dadanya yang berdegup kencang.


Tiba-tiba, sebuah sapu tangan berwarna abu-abu yang wangi disodorkan tepat di hadapan Putri.


"Tarik napas pelan-pelan, Nyonya Putri. Pemandangan kotor tadi memang sedikit mengganggu pernapasan," ucap Komandan Dirga dengan suara baritonnya yang lembut namun mengayomi. 


Pria berseragam militer itu tersenyum tipis, menatap Putri dengan sorot mata teduh yang kontras dengan postur tegapnya.


Putri mendongak. Melihat wajah tampan dan dada bidang Dirga yang begitu dekat, rona merah seketika menjalar di kedua pipi menantuku. Sifat pemalunya langsung mengambil alih.


"T-terima kasih, Komandan," cicit Putri pelan, menerima sapu tangan itu dengan tangan gemetar salah tingkah.


Aku hanya bisa tersenyum simpul melihat interaksi mereka. Sangat menggemaskan. 


Inilah pria yang pantas untuk Putri, pengawal yang akan melindungi kelembutannya, bukan si brengsek Adi.


"Ayo, Putri, Komandan Dirga. Kita naik ke ruangan," ajakku.


Sesampainya di ruang direksi yang luas dan mewah, aku langsung duduk di kursi kebesaran, sementara Putri duduk di sofa tamu, masih berusaha menenangkan detak jantungnya.


Aku membuka laci meja kerja yang ditinggalkan Adi. Keningku berkerut saat menemukan sebuah buku tabungan dan setumpuk dokumen tagihan berlogo perusahaan.


Saat kubuka, mataku menyipit membaca rinciannya. Pembelian tas, perhiasan berlian, dan perawatan salon VVIP. Totalnya mencapai ratusan juta rupiah.


"Ibu, itu kertas apa?" tanya Putri, mendekat ke meja kerjaku.


"Ini adalah senjata pertama kita untuk menghancurkannya, Nak," jawabku dengan senyum miring yang mematikan. 


"Ternyata selama ini mantan suamimu memakai dana operasional perusahaan untuk membelikan barang-barang mewah pelakor itu. Ini penggelapan dana murni."


Putri menutup mulutnya terkejut.


"Astaga, lalu apa yang akan Ibu lakukan? Melaporkannya ke polisi?"


"Terlalu mudah kalau hanya dipenjara," dengusku elegan. Aku segera mengangkat telepon di atas meja, menyambungkannya langsung ke Kepala Divisi Hukum perusahaanku.


"Halo, siapkan tim pengacara terbaik kita sekarang juga. Bawa surat perintah penyitaan aset ke alamat apartemen Bella. Sita semua tas bermerek, perhiasan, dan barang berharga apa pun yang ada di sana karena itu dibeli menggunakan dana perusahaan yang digelapkan oleh Adi. Jika perempuan itu melawan, ancam dia dengan pasal penadahan barang hasil curian."


Aku meletakkan gagang telepon dan menatap Putri yang menatapku takjub. 


"Balas dendam terbaik, Putri, adalah dengan merampas kembali apa yang paling mereka sombongkan, tepat di depan mata mereka secara elegan dan berkelas."


***



(7) Aku membentak dan mengusir istriku yang sedang hamil tua karena ketahuan mencuri uang tabunganku sebesar 50 juta. Dia menangis memohon, tapi aku tidak peduli dan langsung menjatuhkan talak. Keesokan harinya, pihak rumah sakit meneleponku dan memintaku segera datang. Saat dokter menjelaskan untuk apa uang 50 juta itu dibayarkan oleh istriku malam sebelumnya, aku langsung meminta maaf dan menangis menyesal. Ternyata istriku...

 


Setibanya aku di depan rumah, rumah ruko dua lantai yang selama ini kubanggakan hasil cicilanku, langkahku terhenti mendadak. 


Jantungku seakan berhenti berdetak.


Gerbang besi rumah itu terkunci rapat dari dalam. Dan tepat di luar gerbang, berserakan tiga koper besar milikku beserta kardus-kardus berisi seluruh pakaian dan barang pribadiku. 


Persis seperti apa yang kulakukan pada Arini semalam.


Beberapa pria berbadan tegap dan berwajah garang tampak berjaga di balik pagar, menatapku dengan sorot mengancam.


Saat aku masih mematung tak percaya menatap koper-koperku yang tergeletak di pinggir jalan, seorang pria berjas rapi, yang kuyakini sebagai pengacara keluarga Suryanegara, berjalan menghampiriku. 


Ia tidak membawa dokumen, melainkan menyodorkan sebuah ponsel pintar yang layarnya sedang menampilkan panggilan video.


Dengan tangan gemetar, kuterima ponsel itu.


Di layar, tampak Arini bersandar di ranjang rumah sakit VVIP. 


Ia tidak lagi mengenakan daster pudar. Rambutnya disisir rapi, dan meski wajahnya masih sedikit pucat, sorot matanya tak lagi memancarkan kelembutan seorang istri yang selalu mengalah. 


Matanya menatapku tajam, penuh dengan dominasi dan keangkuhan seorang pewaris yang sesungguhnya.


"Bagaimana rasanya, Mas? Udara malam di luar gerbang jauh lebih menusuk tulang daripada di teras rumah, bukan? Nikmati pemandangan koper-kopermu yang berserakan itu. Jangan terburu-buru menangis, karena perceraian kita besok pagi, barulah permulaan dari kehancuranmu yang sesungguhnya."


***



(24) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


"Biarkan dia meratapi kerasnya aspal jalanan malam ini, Fit. Karena besok pagi, saat matahari terbit, neraka yang sebenarnya baru akan membuka pintunya untuk menyambut wanita itu."


Aku melipat kembali kertas bermaterai yang mulai menguning itu dengan gerakan sangat perlahan, seolah benda itu adalah sebuah granat yang siap meledak. 


Senyum dingin yang tak pernah kuketahui kumiliki kini tercetak jelas di bibirku. Udara di ruang tamu terasa mendingin, seiring dengan amarah dan rencana gila yang mulai tersusun rapi di kepalaku.


Fitri menatapku dengan kening berkerut dalam, rasa penasaran tergambar jelas di wajah cantiknya. Ia mencoba melongok, berusaha melihat isi dari kertas yang baru saja kutemukan di dasar kotak kayu Bapak.


"Kertas apa itu, Mas? Bukti kejahatan Ibu yang lain?" tanyanya dengan suara tertahan. 


"Kenapa tidak kita serahkan saja semuanya ke Dimas sekarang agar polisi bisa langsung bertindak?"


Aku menoleh, menangkup sebelah pipi istriku dan mengusapnya lembut untuk meredakan kecemasannya.


"Belum saatnya, Sayang," jawabku tenang. 


Aku memasukkan amplop cokelat itu ke dalam saku kemejaku, menguncinya rapat-rapat dari pandangan siapa pun. 


"Kalau kita serahkan ini ke polisi sekarang, Ibu hanya akan dipenjara. Ia akan diberi makan gratis tiga kali sehari di balik jeruji besi, dan mungkin dalam beberapa tahun ia bisa bebas dengan remisi. Itu terlalu nyaman untuk seseorang yang telah menukar nyawa suaminya sendiri demi gaya hidup."


Aku bangkit berdiri, menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan jalanan kompleks yang mulai menggelap. 


Di luar sana, wanita yang melahirkanku itu pasti sedang luntang-lantung mencari tempat berteduh.


"Lalu, apa rencana Mas?" tanya Fitri, ikut berdiri di sampingku. Ia tak sedikit pun meragukan keputusanku, matanya memancarkan dukungan penuh.


"Kita akan menggunakan titik kelemahan terbesarnya untuk menghancurkannya, Fit. Keserakahannya."


Aku meminta ponsel Fitri dan segera mencari nomor Dimas. Nada sambung hanya berbunyi satu kali sebelum asisten pribadi yang setia itu mengangkatnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Putra?" sapa Dimas dari seberang sana, nadanya sangat profesional dan sigap.


"Dimas, aku butuh sumber dayamu malam ini juga," perintahku tanpa basa-basi, suaraku mengalun tegas layaknya seseorang yang sedang memegang kendali penuh atas sebuah permainan catur. 


"Kerahkan orang-orangmu untuk melacak di mana ibuku menggelandang malam ini. Pastikan dari jauh bahwa dia aman dan tidak mati kelaparan, karena aku butuh dia tetap bernapas untuk pertunjukan besok."


"Baik, Tuan. Apa langkah selanjutnya?"


Aku tersenyum miring, membayangkan skenario yang akan membuat Ibu terbang tinggi ke awan sebelum akhirnya kujatuhkan ke dasar jurang tanpa dasar.


***



(3) Suamiku menangis mengaku perusahaannya bangkrut dan meninggalkan utang miliaran. Aku rela bekerja siang malam hingga jatuh sakit demi membantunya melunasi utang, sementara ia mengurung diri di rumah. Suatu hari, aku mengantarkan pesanan catering ke sebuah restoran bintang lima. Betapa hancurnya aku melihat suamiku sedang memotong kue perayaan anniversary dengan wanita lain, dan ibu mertuaku memberinya kunci mobil mewah. Saat itu aku baru sadar, ternyata kebangkrutan itu hanyalah...

 


"Total aset lancar yang disembunyikan suamimu menyentuh angka dua puluh lima miliar. Dan pria bernama Johan yang memeras uang kateringmu setiap bulan itu ... adalah kakak kandung dari selingkuhan suamimu sendiri."


Suara bariton Surya, pengacara sekaligus teman lamaku, mengudara dari seberang telepon tepat saat matahari pagi baru saja mengintip di balik celah dinding tripleks rumah kontrakan kumuh kami.


Aku tidak menangis. Anehnya, mataku justru terasa sangat kering. Tawa hambar meluncur dari bibirku, menyayat keheningan dapur yang berbau apek. 


Dua puluh lima miliar. Dan selama enam bulan ini, aku mati-matian menahan lapar, hanya makan sisa ujung roti, dan bekerja dua puluh jam sehari demi menebus 'utang' fiktif yang ternyata masuk ke kantong selingkuhan suamiku.


"Kirimkan semua berkasnya ke email rahasiaku, Sur. Jangan ada satu sen pun asetnya yang luput dari pantauanmu," balasku dingin, seraya mengiris tempe tipis-tipis di atas talenan.


"Kamu mau aku langsung membekukan rekeningnya sekarang? Bukti videomu semalam sudah sangat cukup kuat untuk gugatan perdata dan pidana penipuan," tawar Surya dengan nada geram.


"Belum," sergahku cepat. "Itu terlalu mudah, Sur. Membunuh ular tidak bisa hanya dengan menginjak ekornya. Biarkan dia merasa menang dan membangun istananya setinggi mungkin. Aku ingin mengulitinya perlahan-lahan dari dalam."


Aku memutus sambungan telepon saat telingaku menangkap suara langkah kaki diseret dari arah kamar tidur. 


Buru-buru kuubah raut wajahku. Mataku kubuat sedikit layu, senyum letih yang memprihatinkan kupasang di bibir. Aksi panggung babak kedua dimulai.


Akbar muncul dengan kaus oblong lusuh dan sarung yang melilit pinggangnya. Wajahnya ditekuk, memancarkan aura melarat dan putus asa yang begitu meyakinkan.


"Masih pagi sudah masak banyak, Dek? Maaf ya, Mas belum bisa bantu apa-apa. Hari ini Mas mau coba ngelamar jadi kuli panggul di pasar induk," ucapnya dengan nada parau, lalu pura-pura terbatuk sambil memegangi dadanya.


Dulu, mendengar suara batuk itu saja aku akan langsung menangis panik. 


Sekarang? Rasanya aku ingin menjejali mulut bajingannya itu dengan pisau daging yang sedang kupegang.


"Tidak apa-apa, Mas Akbar. Yang penting Mas sehat," kataku selembut sutra, menyodorkan sepiring nasi dengan dua potong tempe goreng sisa kemarin dan sambal terasi. 


"Dimakan dulu, Mas. Cuma ada ini. Uang belanja sudah habis kupakai untuk nombokin bahan katering semalam."


Akbar menatap piring itu dengan kilat mata jijik yang berusaha keras ia sembunyikan. 


Tentu saja dia mual. Perutnya pasti masih kepenuhan mencerna Wagyu dan kue tart premium dari pesta mewahnya semalam.


"Makasih, istriku yang paling salihah," gumamnya, memaksakan diri mengunyah tempe keras itu dengan wajah seolah sedang menelan duri.


Kamu akan merasakan rasa sakit itu perlahan, Mas! 


***



(4) Mamaku selingkuh dan ingin menguasai harta papaku yang sedang di luar negeri, kujebak mamaku dengan cara...

  "Huwaaa ... Papa! Maafin Mama, Pa! Rumah kita dibobol maling siang bolong! Brankas di kamar hancur berantakan, dan yang paling bikin ...