Semuanya hancur dalam semalam. Kariernya tamat, uangnya habis, rencananya merampas ruko gagal total, ancaman preman sudah di depan mata, dan selingkuhannya pun lari terbirit-birit.
Ruang tamu itu riuh oleh gumaman keluarga besar yang kini menatap Dimas dengan pandangan iba bercampur jijik. Aku tahu, ego suamiku sudah rata dengan tanah. Inilah saatnya aku masuk kembali, bukan untuk menghancurkan, tapi untuk mengulurkan 'tali pertolongan' yang sebenarnya adalah jerat leher.
Dengan napas tersengal, aku bangkit perlahan. Kuusap air mataku dengan punggung tangan, lalu menatap Dimas yang kini terlihat seperti tikus got basah yang kehilangan arah. Aku memancarkan aura kepatuhan seorang istri yang luar biasa pemaaf, membuat seisi ruangan perlahan hening, terpesona oleh kebesaran hatiku.
"Mas, sudah, jangan menatap pintu itu lagi. Biarkan suster itu pergi," ucapku lembut, berjalan mendekat dan menyentuh lengan suamiku perlahan.
"Aku istrimu. Seburuk apa pun kesalahanmu padaku hari ini, aku sudah bersumpah di depan penghulu untuk menemanimu dalam suka dan duka. Aku akan tetap membantumu mencari jalan keluar."
Mendengar ucapanku, Bude Tika sampai mengusap air matanya sendiri.
"Gusti, Dimas, kamu itu punya istri berhati malaikat, kok ya masih berbuat jahat."
Dimas menatapku dengan mata memerah dan bibir gemetar. Setengah tak percaya, namun keputusasaannya yang akut membuatnya menelan bulat-bulat umpan yang kuberikan. Ia mencengkeram lenganku erat, membuang gengsinya jauh-jauh.
"K-kamu mau membantuku, Dek? B-bagaimana caranya? Aku tidak punya uang sepeser pun. Aku butuh lima ratus juta malam ini juga atau preman-preman Pak Surya akan menghancurkan kita semua besok pagi!"
Aku mencondongkan tubuhku ke depan, menatap lurus ke dalam matanya yang dipenuhi teror. Aku membiarkan suaraku mengalun tenang, menyodorkan solusi paling mematikan yang akan mengubah sisa hidupnya menjadi neraka jahanam.
"Mas lupa? Rumah yang kita tempati ini kan rumah warisan dari bapakmu, dan sertifikatnya sudah sepenuhnya atas namamu sendiri," bisikku pelan, namun kata-kataku menggema jelas di telinganya.
"Gadaikan saja sertifikat rumah ini pada Pak Haji rentenir yang ada di ujung blok perumahan kita malam ini juga, Mas. Syaratnya sangat mudah dan uangnya bisa cair dalam hitungan jam, karena tidur di lantai dingin beralaskan tikar sambil diawasi rentenir, jauh lebih baik daripada Mas harus menghadapi preman-preman utusan Pak Surya besok pagi."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar