Selasa, 09 Juni 2026

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

 


"Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang saham mayoritas. Biarkan suamiku menebak-nebak di ambang kewarasannya sendiri."


Bram mengangguk hormat, jemarinya dengan cekatan mengetik pesan ke pihak penyelenggara acara. 


Rencana sedikit kuubah. Membongkar semuanya malam ini memang akan menghancurkan Wendi dalam sekejap, tetapi kehancuran yang instan tidak akan meninggalkan bekas yang menyiksa. 


Pria yang menganggap istrinya tak lebih dari pajangan rumah itu, harus direbus perlahan-lahan dalam keraguannya sendiri.


***


Pintu ganda ballroom berukir emas itu terbuka lebar. Alunan musik orkestra mendadak berganti menjadi simfoni penyambutan yang megah. 


Semua mata, ratusan eksekutif papan atas, serentak menoleh ke arah pintu masuk.


Aku melangkah masuk dengan balutan gaun sutra emerald yang menyapu lantai, memancarkan keanggunan yang dingin. 


Berlian murni melingkar di leherku, memantulkan cahaya lampu kristal ke segala penjuru.


Di sisi kiri dan kananku, Direktur Utama dan jajaran petinggi lainnya berjalan mengiringi, seolah aku adalah ratu yang baru turun dari singgasana.


Dari tempatku berdiri, mataku dengan mudah menangkap sosok Wendi di barisan paling depan.


Pria itu mematung. Gelas di tangannya nyaris tergelincir jatuh. Mulutnya setengah terbuka dengan mata terbelalak lebar, menatapku seolah baru saja melihat hantu. 


Aku tahu persis apa yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya. 


Apakah itu Nagita? Istriku yang bodoh dan selalu memakai daster itu? Tidak, tidak mungkin. Wanita ini terlalu elegan, terlalu berkuasa.


Aku melewatinya begitu saja tanpa menoleh sedikit pun, menyisakan wangi parfum eksklusif yang tak akan pernah bisa ia beli dengan gajinya. 


Aku duduk di kursi VVIP yang dipisahkan oleh tali beludru merah, menikmati pemandangan Wendi yang kini terlihat gelisah, berkali-kali mengusap wajahnya dan berbisik panik kepada rekan di sebelahnya.


***


Acara puncak pun tiba. Sang pembawa acara naik ke atas podium, memegang amplop berlogo emas. 


Wendi segera memperbaiki postur duduknya. Ia merapikan kerah jasnya, bersiap menyambut kemenangan yang sudah ia pamerkan padaku pagi tadi.


"Dan kini, momen yang kita tunggu-tunggu. Berdasarkan keputusan mutlak dari dewan direksi dan arahan langsung dari Perwakilan Pemegang Saham Mayoritas kita, Nyonya Gita ..." 


Pembawa acara memberi jeda, menatap ke arah kerumunan.


Wendi sudah mencondongkan tubuhnya ke depan, senyum angkuhnya perlahan mengembang.


"Posisi Direktur Pemasaran yang baru secara resmi diserahkan kepada, Bapak Hendra Kusuma!"


Suara tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. 


Namun, Wendi tidak bergerak. Senyumnya membeku, wajahnya pucat pasi seolah aliran darahnya baru saja ditarik paksa. 


Hendra, rival terbesarnya di kantor, berdiri dengan sorak-sorai kemenangan dan berjalan gagah menuju panggung, melewati Wendi yang kini terlihat tak lebih dari sekadar bayangan redup.


Aku menyesap air mineral di gelasku dengan sangat anggun, menyembunyikan senyum kepuasan. 


Konfrontasi langsung dengan berteriak dan memaki itu terlalu murahan. 


Menghancurkan panggung impiannya tepat di depan matanya, sambil memastikan ia tetap tidak tahu bahwa istrinyalah sang algojo, adalah sebuah mahakarya.


***


Setelah acara resmi selesai, Wendi yang tampak masih shock berusaha menerobos kerumunan untuk mendekati area VVIP. 


Matanya menatapku lekat-lekat, penuh dengan kebingungan, amarah, dan rasa penasaran yang meledak-ledak. 


Namun, sebelum ia bisa melangkah lebih dari batas karpet merah, dua penjaga berbadan tegap langsung menahan dadanya.


Aku bangkit dari kursiku, memutar tubuh membelakanginya tanpa memberikan satu tatapan pun, lalu melangkah anggun menuju pintu keluar khusus.


Di dalam kesunyian kabin mobil yang membawaku menjauh dari hotel, Bram menoleh dari kursi depan. 


"Tuan Wendi tampak sangat hancur, Nyonya. Apakah Anda ingin saya menyiapkan surat pemecatannya besok pagi?"


Aku bersandar santai di kursi kulit, menatap gemerlap lampu kota dari balik jendela mobil.


"Jangan pecat dia, Bram. Biarkan dia tetap bekerja di sana. Hukuman paling menyiksa bagi pria dengan kesombongan setinggi langit bukanlah kemiskinan, melainkan dipaksa menjadi pesuruh bagi saingan terbesarnya. Besok pagi, pastikan Hendra memberinya tugas paling rendah di perusahaan. Kita lihat, seberapa lama rajaku itu bisa bertahan dengan mahkotanya yang sudah patah."


***



Menantuku selalu membuat makanan basi untuk anakku. Setelah kuselidiki, ternyata selama ini anakku selingkuh. Akhirnya kubantu menantuku dengan...

 


Menantuku selalu membuat makanan basi untuk anakku. Setelah kuselidiki, ternyata selama ini anakku selingkuh. Akhirnya kubantu menantuku dengan...


***


"Buang saja semua makanan ini ke tempat sampah, Ma! Istri tidak tahu diuntung, masa setiap hari selalu memasak makanan basi untuk suaminya?!"


Gala membanting sendok ke atas meja makan. Napasnya memburu, wajahnya merah padam menatap piring berisi oseng cumi yang aromanya memang agak masam. 


Di sebelahnya, Irma hanya menunduk dalam. Jari-jemarinya saling bertautan dengan erat, gemetar, sementara air mata sudah menggenang di pelupuk matanya tanpa berani menetes.


Aku, Widya, menatap putra tunggalku dan menantuku bergantian. Sebagai ibu kandung Gala, naluriku mendadak terusik. 


Ada yang aneh. Irma adalah menantu yang kupilih sendiri karena sifatnya yang lemah lembut dan sangat pintar memasak. 


Mana mungkin dalam seminggu terakhir ini dia mendadak bertingkah konyol dengan menyajikan makanan busuk untuk suaminya sendiri?


"Gala, jaga bicaramu," tegurku datar, berusaha menahan emosi. "Mungkin Irma lelah, atau ada bumbu yang salah."


"Salah bumbu bagaimana, Ma? Ini sudah kelewatan! Kalau Mama tidak percaya, coba saja sendiri!" 


Gala berdiri, menyambar tas kerjanya dengan kasar, lalu melangkah lebar keluar rumah tanpa mencium tanganku ataupun berpamitan pada istrinya. 


Suara pintu depan yang berdentum keras menyisakan keheningan yang mencekam di ruang makan.


Aku mengalihkan pandangan pada Irma. Menantuku itu langsung berlutut di dekat kakiku, terisak pelan. 


"Maaf, Mama. Maafkan Irma. Irma memang bukan istri yang baik."


Aku berjongkok, memegang kedua pundak Irma, lalu menatap matanya dalam-dalam. 


"Irma, tatap Mama. Kamu sengaja, kan? Ada apa sebenarnya?"


Irma tersentak. Dia menggeleng cepat dengan kepanikan yang terpancar jelas di matanya. 


"Enggak, Ma. Irma cuma ... cuma teledor."


Jawaban yang terlalu instan. Aku tahu ada sesuatu yang disembunyikan.


***


Siangnya, setelah Irma pamit ke pasar, aku memutuskan untuk menyelidiki kamar mereka. 


Hatiku tidak tenang. Aku mulai memeriksa laci-laci, lemari pakaian, hingga ke sudut-sudut meja kerja Gala. 


Hingga akhirnya, mataku tertuju pada sebuah jaket kerja Gala yang tergantung di balik pintu. Dari kantong dalamnya, menyembul selembar kertas kecil berlogo laboratorium klinik swasta.


Penasaran, aku mengambil dan membukanya. Jantungku mencelos seketika. 


Itu adalah hasil tes DNA prenatal, tes patologis untuk janin yang masih di dalam kandungan.


Di sana tertulis nama Gala sebagai pemohon, dan nama seorang wanita bernama 'Vanya' sebagai pihak ibu. Hasil probabilitas penanda genetik: 99,9% Identik.


Duniaku serasa berputar. 


Anak laki-laki yang kubesarkan dengan nilai-nilai agama dan kehormatan, ternyata berselingkuh di luar sana. 


Bahkan selingkuhannya sedang mengandung darah dagingnya.


Belum sempat aku meredakan syok, sebuah ponsel lama di dalam laci meja kerja Gala yang sepertinya tertinggal, bergetar. 


Ada pesan WhatsApp masuk yang terpampang di layar kunci dari kontak bernama 'Vanya'.


[Sayang, hari ini jangan lupa transfer uang bulanan untuk bayar sewa apartemen, ya. Anak kita di dalam perut udah kangen pengen makan steak mewah. Untung kamu selalu bisa makan hemat di rumah karena masakan basi istrimu itu, jadi uangnya bisa buat aku semua.]


Deg.


Seketika, potongan-potongan teka-teki di kepalaku menyatu dengan sempurna. 


Pantas saja Irma selalu memasak makanan basi! 


Itu adalah satu-satunya cara Irma agar Gala tidak makan di rumah, sehingga Gala terpaksa mengeluarkan uang untuk makan di luar dan mengurangi jatah uang yang bisa dia berikan untuk selingkuhannya. 


Irma sudah tahu semuanya, dan dia sedang menahan luka ini sendirian sambil menguras isi dompet Gala secara perlahan dengan caranya sendiri.


Air mataku menetes, bukan karena kecewa pada Irma, tapi karena murka pada darah dagingku sendiri. 


Gala sudah menjelma menjadi bajingan, dan dia tega menginjak-injak ketulusan wanita sebaik Irma.


Awas kamu Gala, Ibu akan buat perhitungan untukmu! Kamu pasti akan menyesal telah selingkuh! 


***

Gala pulang dengan wajah ketus. Di meja makan, Irma kembali menyajikan semangkuk sup ayam yang kuahnya tampak berminyak aneh dan berbau kecut.


Gala langsung mendengus jijik. 


"Lagi?! Kamu sengaja mau meracuni aku, Irma?! Ma, lihat menantu kesayangan Mama ini! Mulai hari ini, Gala mau cerai dari Irma!"


Irma hanya diam, menggigit bibir bawahnya, siap menerima makian. Namun, sebelum Gala sempat melontarkan kata-kata kasar berikutnya, aku berjalan mendekat. 


Bukannya memarahi Irma, aku justru mengambil mangkuk sup basi itu, lalu dengan gerakan cepat, aku menyiramkan seluruh isinya tepat ke atas kepala Gala.


Byur!


Kuah sup yang masam dan potongan ayam mendarat di rambut dan kemeja mahal Gala. Suasana rumah seketika hening mencekam. Gala mematung dengan mata melotot syok, sementara Irma menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja kulakukan.


Aku menatap Gala dengan pandangan sedingin es, lalu tersenyum menyeringai.


"Bukan cuma makanannya yang basi, Gala, tapi otak, hati, dan seluruh harga dirimu juga sudah busuk karena perempuan murahan itu!"


***​


"Ma! Apa-apaan ini?! Kenapa Mama malah menyiram Gala?!"


Suara Gala meninggi, bergetar menahan syok dan amarah yang luar biasa sembari mengusap kuah sup yang menetes dari wajahnya. 


Irma di sampingnya langsung bergerak mundur, wajahnya pucat pasi melihatku yang masih menggenggam mangkuk kosong dengan ekspresi yang sangat tenang.


Aku menarik napas panjang, lalu mengubah raut wajahku dalam sekejap menjadi ekspresi panik yang dibuat-buat.


"Astaga, Gala! Maafkan Mama, Nak! Mama tadi mau mengusir lalat besar yang mau hinggap di kepalamu, tapi tangan Mama mendadak licin dan gemetar karena tekanan darah tinggi Mama kambuh!"


Aku memegang pelipisku, berpura-pura limbung agar sandiwara ini terlihat sempurna di mata Gala. 


"Irma, cepat ambilkan handuk untuk suamimu. Dan Gala, bersihkan badanmu dulu. Maafkan Mama, ya, tensi Mama akhir-akhir ini memang sering naik kalau melihat kalian ribut terus."


Gala mendengus kasar, meski amarahnya mereda karena mengira ini murni kecelakaan akibat penyakitku.


 Dengan langkah menghentak penuh kekesalan, dia berjalan menuju kamar mandi.


Begitu punggung Gala menghilang, aku menatap Irma yang sedang mengambil kain pel. Aku mendekatinya, lalu menahan tangannya dengan lembut. 


"Simpan kain pelnya, Irma. Biar bibi yang urus. Ikut Mama ke kamar."


Di dalam kamar, pintu kukunci rapat. Irma berdiri dengan kepala tertunduk, meremas jemarinya ketakutan.


"Irma, buka tasmu," perintahku lembut namun tegas.


"Ma, Irma mohon, jangan ceraikan Irma dari Mas Gala," tangisnya pecah.


"Siapa yang bilang mau menceraikanmu?" Aku tersenyum hangat, lalu mengambil tas tangan Irma dan membukanya sendiri. 


Aku mencari sesuatu di sana, hingga kutemukan sebuah buku tabungan atas nama Irma yang saldonya hampir kosong. 


Aku juga memeriksa ponselnya. Benar saja, tidak ada bukti transferan nafkah yang layak dari Gala selama beberapa bulan terakhir. 


Semuanya sudah dikuras oleh wanita bernama Vanya itu.


Aku menggenggam kedua tangan menantuku. 


"Mama sudah tahu semuanya, Irma. Tentang Vanya, tentang hasil tes DNA itu, dan tentang alasan kenapa kamu selalu memasak makanan basi untuk Gala."


Irma terbelalak, air matanya seketika berhenti menetes karena terkejut. 


"Mama ... Mama tahu?"


"Mama tahu kamu sengaja membuat Gala jengkel agar dia tidak makan di rumah, dan uang makannya habis untuk jajan di luar sehingga uang untuk selingkuhannya berkurang, kan?" 


Aku mengusap air mata di pipi menantuku. 


"Tapi caramu terlalu melelahkan untuk dirimu sendiri, Sayang. Menghadapi laki-laki tidak setia itu tidak perlu dengan mengotori tanganmu di dapur setiap hari. Mama punya cara yang lebih ampuh."


***



(3) Uang tabungan lima ratus juta kamu sudah aku transfer ke selingkuhanku, kamu mau apa? Ingat, aku yang cari uang!" Suamiku tertawa penuh kemenangan karena berhasil menguras tabunganku, sampai ponselnya berbunyi menampilkan notifikasi pembekuan seluruh aset dan pembekuan kartu kreditnya...

 


"Investor utama kita, The Sovereign Group, baru saja mengirimkan nota darurat. Mereka menarik seluruh suntikan dana jika Anda masih menginjakkan kaki di gedung ini. Kami tidak punya pilihan."


"Investor utama? Tapi kenapa?! Apa salah saya?!" Gunawan menuntut penjelasan, napasnya memburu.


"Mereka tidak memberi alasan personal," jawab Direktur itu dingin. 


"Mereka hanya mengatakan, gaya hidup Anda belakangan ini berisiko merusak citra korporasi. Selamat pagi, Gunawan."


Gunawan berdiri mematung di lobi korporasi yang fana itu. Dunia yang ia bangun dengan keangkuhan runtuh dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. 


Di kepalanya, kalimat Yuna semalam mendadak bergaung seperti lonceng kematian: Perusahaan tempatmu bekerja, ada karena aku mengizinkannya.


Tidak, tidak mungkin Yuna, batin Gunawan menolak keras. Dia hanya anak yatim piatu yang beruntung kunikahi! Ini pasti konspirasi bisnis.


Dengan sisa harga diri yang hancur, Gunawan pulang ke rumah menggunakan taksi daring, yang pembayarannya terpaksa menggunakan sisa uang tunai terakhir di dompetnya. Ia bertekad akan menyeret Yuna dan menuntut penjelasan.


Namun, saat ia membuka pintu rumah mewah mereka, aroma masakan yang sangat harum menyambut indra penciumannya. 


Di meja makan, telah tersaji sup ayam jamur kesukaannya lengkap dengan segelas teh hangat. Yuna duduk di sana, membaca sebuah majalah bisnis dengan tenang. 


Ia mendongak, menatap Gunawan yang berantakan dengan senyuman hangat seorang istri yang berbakti, seolah badai semalam dan kehancuran karier Gunawan pagi ini sama sekali bukan karena ulah tangannya.


"Kamu sudah pulang, Mas? Ayo makan dulu, kamu kelihatan sangat lelah," sapa Yuna, suaranya begitu manis, tanpa ada nada sarkasme sedikit pun. 


Sikap elegan dan penuh perhatian ini justru membuat Gunawan merasa seperti sedang berjalan di atas lapisan es yang siap pecah kapan saja.


Gunawan mendekat ke meja makan dengan tubuh gemetar, menatap makanan itu, lalu menatap istrinya dengan pandangan ngeri. 


"Yuna, tolong katakan padaku, apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan?"


Yuna meletakkan majalah jalanya dengan perlahan, lalu menatap manik mata Gunawan yang dipenuhi ketakutan.


"Aku tidak melakukan apa-apa, Mas, aku hanya berhenti menjadi jaring pengamanmu," Yuna tersenyum manis sembari mendorong mangkuk sup ke hadapan suaminya. 


"Bukankah kamu pria hebat yang mencari uang sendiri? Nikmati saja prosesnya, karena ini baru hari pertama."


***





Senin, 08 Juni 2026

Suamiku dilempar makanan basi oleh mertuaku. Suamiku yang tidak terima langsung mengamuk dan mengusir mertuaku. Kukira selama ini suamiku lemah, tapi ternyata suamiku...

 


Suamiku dilempar makanan basi oleh mertuaku. Suamiku yang tidak terima langsung mengamuk dan mengusir mertuaku. Kukira selama ini suamiku lemah, tapi ternyata suamiku...


***


"Makan ini, dasar anak tak berguna! Suami istri sama-sama benalu, pantasnya memang menelan sampah busuk!"


PRANG!


Aroma asam dan menyengat seketika menguar tajam, memenuhi seluruh penjuru ruang tamu kami yang sempit. 


Aku terkesiap, napasku seakan berhenti di tenggorokan saat melihat kuah kental sayur lodeh yang sudah berjamur itu menetes dari rambut dan kemeja lusuh suamiku.


Mertuaku, wanita yang selama ini selalu menganggapku sebagai kutukan dalam keluarganya, berdiri berkacak pinggang dengan wajah angkuh. 


Tangannya baru saja melemparkan mangkuk berisi makanan sisa tiga hari lalu itu tepat ke arah wajahku, namun Hanan dengan sigap pasang badan dan melindungiku agar tak terkena cipratannya sedikipun.


Tubuhku gemetar hebat. 


Selama pernikahan kami, Hanan selalu menunduk. Dia pria yang sangat baik, tapi dia tak pernah berani melawan ibunya. 


Aku sudah terbiasa melihatnya menelan ludah, meminta maaf, dan membersihkan kekacauan yang dibuat wanita tua itu. 


Kukira hari ini akan sama. Kukira suamiku akan kembali menjadi pria lemah yang hanya bisa terdiam pasrah.


Namun, aku salah besar.

Hanan tidak menunduk. Tangan kasarnya perlahan mengusap sisa kuah busuk di pelipisnya. 


Saat ia mengangkat wajah, rahangnya mengeras. Sorot matanya yang biasa teduh kini menajam, memancarkan aura dingin yang mengintimidasi hingga membuat bulu kudukku meremang.


"Apa yang kau lihat?!" bentak mertuaku, meski nada suaranya terdengar sedikit goyah melihat tatapan putranya. 


"Mau melawan?! Aku ini ibumu! Berani kau menatapku seperti itu demi perempuan mandul ini?!"


Hanan melangkah maju. Satu langkahnya entah kenapa terasa begitu berat dan penuh kuasa.


"Cukup."


Hanya satu kata. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan, namun bergema dengan ketegasan mutlak yang tak terbantahkan.


"Mas Hanan," panggilku lirih, takut setengah mati.


"Keluar dari rumahku. Sekarang," desis Hanan. Tangannya menunjuk lurus ke arah pintu yang terbuka.


Mata mertuaku melotot seakan mau keluar dari sarangnya. 


"Kau mengusirku?! Anak durhaka! Kalian ini gembel yang bahkan untuk makan saja kesusahan! Berani-beraninya kau mengusirku dari rumah ini!"


"Aku bilang, keluar."


Hanan melangkah semakin dekat, menjulang di hadapan wanita yang telah melahirkannya itu. 


Entah kilatan apa yang ada di mata suamiku saat ini, tapi wanita tua yang biasanya sangat arogan itu mendadak pucat pasi. 


Ia mundur perlahan, bibirnya bergetar hebat, seolah sedang berhadapan dengan malaikat maut.


Tanpa berani mengucapkan satu makian pun lagi, mertuaku berbalik dan berjalan cepat keluar dari pekarangan rumah kami dengan wajah ketakutan.


BRAK!


Hanan membanting pintu hingga tertutup rapat, lalu menguncinya. Hening seketika menyelimuti kami. 


Aku masih membeku di sudut ruangan, tak percaya dengan pemandangan yang baru saja kusaksikan. 


Apakah itu benar-benar Hanan? Suamiku yang penurut dan gampang ditindas?


Perlahan, punggung tegap Hanan berbalik menatapku. Tatapan tajam pembunuhnya langsung lenyap tak berbekas. Ia tersenyum lembut, lalu mendekat dan berlutut di hadapanku, meraih kedua tanganku yang sedingin es.


"Mas." Suaraku bergetar, air mataku akhirnya tumpah. 


"Kamu ... kamu mengusir Ibu? Bagaimana kalau keluarga besarmu marah? Bagaimana kalau kita tidak diakui lagi, Mas? Nanti kita mau hidup pakai apa?"


Hanan mengusap air mata di pipiku dengan ibu jarinya yang bebas dari noda. Tatapannya begitu dalam, memancarkan perlindungan mutlak sekaligus penyesalan yang luar biasa.


"Maafkan aku karena membiarkanmu menderita selama ini, Melina. Aku diam bukan karena aku lemah. Aku hanya mencoba menahan diri demi menghormati wanita yang telah memberiku nyawa. Tapi saat dia berani menyentuh dan merendahkanmu, kesabaranku sudah habis." 


Hanan mengecup punggung tanganku dengan lembut, lalu menatap mataku lekat-lekat. 


"Kamu tidak perlu takut dibuang oleh keluarga miskin dan serakah itu, Sayang. Mulai detik ini, tidak akan ada satu pun manusia di dunia ini yang boleh menghinamu lagi. Karena asal kamu tahu, sebenarnya suamimu ini adalah ..."


***

Bab 2

"... sebenarnya suamimu ini adalah orang yang memegang kendali atas semua kesombongan mereka."


Napas Melina tercekat. Mata sayunya membelalak lebar, menatap lurus ke dalam netra legam suaminya. 


Ruang tamu kecil yang masih menyisakan aroma tak sedap itu mendadak terasa hampa, tergantikan oleh ketegasan luar biasa yang menghentak dada. 


Tidak ada lagi Hanan yang selalu menunduk pasrah. Pria di hadapannya kini memancarkan wibawa dan aura misterius yang belum pernah Melina lihat sebelumnya.


"Maksud Mas Hanan?" bisik Melina pelan. Tangannya tanpa sadar meremas ujung kemeja Hanan. 


"Kendali apa? Bukankah sebulan yang lalu saat kamu pulang, kamu bilang kontrak kerjamu di luar negeri diputus dan kita harus hidup berhemat?"


Hanan tersenyum, sebuah senyuman tipis yang menyiratkan kecerdasan dan ketenangan. Pria itu bangkit perlahan, melepaskan kemejanya yang bernoda, lalu membimbing istrinya untuk duduk di sofa tua mereka.


"Sebulan ini adalah ujian, Sayang," jelas Hanan lembut, suaranya tenang namun begitu menguasai suasana. 


"Aku tidak pernah dipecat. Aku sengaja pulang dengan pakaian lusuh, kantong kosong, dan berpura-pura jatuh miskin. Aku ingin melihat, seberapa besar cinta dan penerimaan keluargaku saat aku tak punya apa-apa. Ternyata dugaanku benar."


Melina terdiam, mencoba mencerna rentetan kalimat suaminya. Ingatannya kembali pada kejadian satu bulan terakhir. 


Betapa angkuhnya Mas Danang, kakak iparnya itu, memamerkan mobil mewah baru dan menyindir Hanan sebagai beban keluarga. 


Betapa teganya ibu mertuanya menyuruh Melina mengerjakan tugas setara asisten rumah tangga di rumah besar mereka hanya demi sisa lauk pauk.


"Aku bisa diam jika hanya aku yang direndahkan," lanjut Hanan, rahangnya kembali menegang saat mengingat kejadian pelemparan makanan sore ini. 


"Tapi melihat mereka berani melukaimu dan menginjak harga dirimu, itu adalah garis batas yang tidak seharusnya mereka lewati."


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan, Mas?" tanya Melina, rasa khawatir masih tersisa di hatinya. 


"Kamu tidak akan bertindak gegabah, kan? Aku tidak ingin kamu berdebat keras atau sampai bertengkar fisik dengan Mas Danang."


Hanan meraih tangan Melina, mengecupnya dengan penuh penghormatan.


"Kita tidak akan mengotori tangan kita dengan hal semacam itu, Melina. Pembalasan terbaik bukanlah dengan teriakan atau amarah," ucap Hanan, matanya menatap tajam ke depan, seolah sedang menyusun bidak catur yang mematikan. 


"Kita akan biarkan mereka merasa terbang sangat tinggi. Mas Danang sangat membanggakan posisinya, bukan? Ibu selalu memuja kakakku karena kehidupan mewahnya. Kita akan mengambil apa yang paling mereka agungkan secara diam-diam. Tanpa mereka sadari dari mana asalnya."


Melina menatap suaminya dengan takjub. Pria di hadapannya ini adalah seorang ahli strategi yang tengah merancang permainan sempurna. 


Meski Melina belum tahu apa sebenarnya pekerjaan Hanan di luar negeri sana, satu hal yang ia yakini: suaminya bukan lagi pria tak berdaya.


Hanan kemudian mengambil ponselnya yang layarnya sudah retak, menekan satu nomor tanpa nama yang selama sebulan ini tak pernah ia hubungi. Panggilannya diangkat pada dering pertama.


"Mulai jalankan rencananya," ucap Hanan melalui sambungan telepon, suaranya sedingin es. 


"Tahan semua aliran utamanya secara perlahan. Biarkan dia merasa pestanya besok lusa adalah puncak kejayaannya, sebelum kita tarik karpet merah itu tepat dari bawah kakinya."


Hanan menutup telepon dan menatap istrinya yang masih terpaku. Ia membelai rambut Melina dengan lembut.


"Mas, kita diundang ke pesta perayaan jabatan Mas Danang lusa nanti," cicit Melina ragu. 


"Tapi kita mau pakai baju apa ke sana? Bagaimana kalau Ibu dan Mas Danang mengusir kita di depan banyak orang?"


Senyum di bibir Hanan melebar, memancarkan kepastian yang membuat hati Melina seketika tenang.


"Pakai saja gaun biasamu yang paling rapi, Sayang. Biarkan mereka tertawa dan mencemooh saat kita datang," bisik Hanan tepat di depan wajah istrinya. 


"Karena sebelum malam itu berakhir, aku akan memastikan mereka berlutut memohon pada orang yang baru saja dilempar sayur basi."


***



(3) Kutampar dan kuusir istriku demi membela selingkuhanku. Pagi itu juga, aku dipecat dan jatuh miskin. Betapa kagetnya aku saat rumahku disita dan ternyata istriku...

 


Bab 3


Ia tidak tahu, bahwa di sebuah ruangan kerja yang mewah di pusat kota, seorang asisten sedang melaporkan sesuatu pada Restu.


"Semua aliran dana dan fasilitas atas nama Tirta sudah dihentikan, Nyonya. Sesuai perintah Anda, kita tidak perlu menuntutnya ke jalur hukum atas penggelapan aset kecil yang dulu ia lakukan," ucap sang asisten dengan hormat.


Restu yang sedang menyesap teh hangatnya hanya mengangguk pelan. 


"Benar. Penjara terlalu nyaman untuk orang seperti dia. Biarkan dia menikmati 'kebebasan' yang sudah kuatur."


Bagi Restu, jebakan terbaik bukanlah jeruji besi, melainkan membiarkan targetnya berjalan di atas duri yang sengaja ditebarkan secara perlahan tanpa tahu siapa pelakunya.


***


Keesokan paginya, Tirta yang mulai kelaparan dan frustrasi mencoba mencari peruntungan. 


Sebagai mantan Manajer Pemasaran berprestasi, ia yakin masih ada perusahaan lain yang mau menampungnya. Ia mendatangi sebuah perusahaan kompetitor yang dulu sangat gencar ingin merekrutnya.


"Maaf, Pak Tirta," ucap HRD perusahaan tersebut dengan senyum formal yang dipaksakan. 


"Nama Anda sudah masuk dalam daftar hitam aliansi perusahaan nasional. Kami tidak bisa menerima kandidat dengan catatan buruk."


"Daftar hitam? Siapa yang memasukkan nama saya?!" tuntut Tirta dengan mata memerah.


"Kami tidak berwenang memberitahunya. Yang jelas, pihak di balik keputusan ini memiliki kekuatan untuk menutup seluruh akses karier Anda di kota ini. Permisi."


Tirta keluar dari gedung tinggi itu dengan langkah gontai. 


Di tengah terik matahari, ponselnya tiba-tiba berdering dari nomor yang tidak dikenal. 


Dengan tangan gemetar, Tirta mengangkat panggilan itu, berharap ada keajaiban atau tawaran pekerjaan.


Namun, suara di seberang telepon justru membuat darahnya berdesir hebat. Itu suara Restu, yang terdengar sangat lembut namun begitu dingin.


"Bagaimana rasanya hidup di tempat yang seharusnya, Mas? Ini baru permulaan dari permainan yang kamu mulai sendiri."


***



(3) Ibuku selalu bilang istriku pemalas, padahal yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu istriku. Diam-diam kupasang CCTV, dan kubuat ibuku menyesal karena...

 


Bab 3


"Selamat menikmati masa hukumanmu, Sayang. Jangan lupa pakai tabir surya saat bersantai di kolam renang pribadi villanya, dan pastikan kamu menghabiskan limit kartu hitam ini sebagai bentuk penyesalan terdalammu."


Aku mengecup kening Raisa di depan teras rumah, melambaikan tangan saat supir pribadi berjas rapi membukakan pintu mobil mewah yang akan mengantarnya ke bandara. 


Dari ekor mataku, aku bisa melihat Ibu berdiri mematung di balik jendela ruang tamu. 


Wajahnya pias, matanya menatap nanar ke arah mobil yang perlahan menjauh membawa 'menantu pemalasnya' menuju penderitaan paling nikmat di Pulau Dewata.


Kini, pertunjukan sesungguhnya baru dimulai.

Begitu aku melangkah masuk ke dalam rumah, keheningan yang mencekam langsung menyambutku. 


Tidak ada lagi suara gemericik air dari dapur atau denting spatula yang biasanya sudah berbunyi sejak subuh. 


Yang ada hanyalah Ibu, berdiri kaku di tengah ruang keluarga, menatap noda kecap lengket dan sampah yang kemarin sengaja ia tebar sendiri.


"Ciko berangkat kerja dulu ya, Bu. Oh ya, biro jasa kebersihan berlangganan kita kebetulan sedang libur panjang minggu ini," ucapku sambil merapikan dasi, menatap Ibu dengan senyum paling tulus. 


"Tapi Ciko sama sekali tidak khawatir. Toh, selama ini Ibu selalu mengeluh merekalah yang membuat lantai lecet, dan Ibu bilang hasil pel Ibu jauh lebih bersih, kan? Selamat berolahraga, Bu."


Tanpa menunggu jawabannya, aku berjalan keluar. 


Namun, sebelum masuk ke dalam mobil, aku menyempatkan diri menelepon Tante Marni, ketua arisan sosialita berlian yang gengsinya setinggi langit, sekaligus saingan terberat Ibu dalam urusan pamer kekayaan.


"Halo, Tante Marni? Ini Ciko. Iya Tante, besok acara arisannya di rumah Ciko, kan? Ciko cuma mau mengabari, Ibu melarang keras Ciko pesan katering dari hotel bintang lima. Katanya, lidah Tante Marni dan ibu-ibu lainnya terlalu berkelas untuk makanan instan. Jadi, Ibu bersikeras akan memasak semua hidangan dari nol, sendirian, khusus untuk sahabat-sahabat tercintanya."


Dari seberang telepon, aku bisa mendengar pekikan kagum Tante Marni. 


Rencanaku terkunci rapat. Ibu tidak akan bisa memesan makanan dari luar tanpa menjatuhkan harga dirinya sendiri hingga ke dasar bumi.


***


Hari itu berlalu dengan sangat menyenangkan. Aku memantau CCTV dari kantorku dan hampir tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan di layar. 


Ibu yang biasanya hanya duduk manis menonton televisi sambil mengunyah camilan, kini harus mengepel lantai marmer berkali-kali karena noda kecapnya mengering dan lengket. 


Ia tampak terengah-engah, berkali-kali memijat pinggangnya, sementara setumpuk piring kotor bekas makan malam kami sisa kemarin masih menggunung di wastafel.


***


Keesokan harinya, tepat di hari H arisan, aku sengaja mengambil cuti setengah hari dan pulang lebih awal.


Kondisi rumah ... luar biasa berantakan. Asap tipis mengepul dari arah dapur, diiringi suara panci yang beradu kasar. Aku melangkah santai menuju sumber keributan. 


Kulihat Ibu sedang berdiri di depan kompor dengan daster yang basah oleh keringat, rambut sasaknya acak-acakan, dan wajahnya tercoreng noda bumbu rendang. Ia sedang memotong daging dengan tangan gemetar saking lelahnya.


"Ya ampun, Ibu. Aroma masakannya sangat ... unik," sapaku lembut, bersandar di ambang pintu dapur.


Ibu menoleh dengan mata merah dan napas tersengal. 


"Ciko! Kenapa kamu membatalkan pesanan katering rahasia yang Ibu pesan tadi pagi?! Ibu nyaris pingsan mengurus rumah sebesar ini sendirian!"


Aku memasang wajah terkejut yang kubuat sealami mungkin. 


"Loh, Ibu pesan katering? Ciko batalkan karena Ciko pikir itu penipuan, Bu. Kan Ibu sendiri yang selalu bilang ke Ciko dan Raisa kalau masakan katering itu sampah dan hanya perempuan malas yang tidak mau masak untuk tamu kehormatannya. Ciko hanya ingin menjaga nama baik Ibu di depan teman-teman arisan."


Bibir Ibu bergetar hebat. Ia memegang ujung meja dapur, tampak kehilangan kata-kata, terjebak dalam jaring kebohongannya sendiri yang kini menjerat lehernya dengan sangat manis.


Tepat pada detik yang menegangkan itu, suara bel rumah berbunyi nyaring, disusul oleh riuh rendah suara hak tinggi yang beradu dengan lantai teras. Rombongan nyonya-nyonya berlian itu telah tiba.


Aku tersenyum penuh arti, membiarkan Ibu yang masih berantakan panik setengah mati, lalu berjalan ke depan untuk membukakan pintu. 


Begitu pintu terbuka lebar, kurentangkan tanganku menyambut belasan wanita sosialita yang tampil dengan gaun dan perhiasan paling gemerlap.


"Selamat datang, Tante-tante semua! Silakan masuk ke ruang makan. Ibu sudah berkeringat darah di dapur sejak subuh tadi, khusus menyiapkan hidangan yang katanya ... jauh lebih berkelas daripada sekadar mengandalkan tenaga menantu yang menumpang hidup."


***



(3) Kucuri uang tabungan istriku untuk membiayai pernikahan adikku. Saat ketahuan, istriku justru tertawa lepas, betapa kagetnya aku saat istriku bilang...

 


Aku mendengus keras, memilih membuang muka dan membanting tubuh ke atas kasur, menarik selimut tebal menutupi dadaku. 


Aku tidak akan membiarkan omong kosongnya merusak suasana hatiku. Wanita ini hanya tidak terima uangnya kuambil, itu saja.


***


Aku terbangun dengan perasaan segar. Sinar matahari pagi menembus celah gorden. Aku menggeliat, merasa menang karena malam tadi bisa tidur nyenyak tanpa ada gangguan 'rentenir' fiktif karangan Andin. 


Di sebelahku, kasur sudah kosong. Andin pasti sudah berangkat kerja ke kantornya yang membosankan itu.

Baru saja aku meraih handuk untuk mandi, ponselku tiba-tiba bergetar hebat di atas nakas. Ada lima panggilan tak terjawab dari Ibu, dan kini panggilan keenam masuk dengan layar yang terus berkedip panik.


"Halo, Bu? Tumben pagi-pagi sekali—"


"WILLY!! TOLONG IBU, NAK!! KAMU KESINI SEKARANG JUGA!!"


Suara jeritan Ibu yang histeris dan diiringi suara pecahan barang yang jatuh ke lantai membuat jantungku seolah merosot ke perut.


"Bu?! Ada apa?! Halo?!"


"Ada penagih utang, Wil!! Banyak sekali! Mereka bawa linggis dan cat semprot merah! Mereka bilang kamu punya utang ratusan juta yang jatuh tempo hari ini dan bunganya berlipat ganda! Ya ampun, Willy! Mereka sedang menyeret kursi tamu dan TV Ibu keluar!! Mereka bilang mau menyita rumah ini!!"


Napas Ibu terdengar tersengal-sengal diiringi suara bentakan pria bersuara serak di latar belakang. 


Tanganku gemetar hebat hingga ponselku nyaris terlepas. Keringat dingin seketika membanjiri pelipisku.


"Willy! Kamu hutang ke siapa, Nak?! Siska sampai pingsan melihat mereka mencorat-coret tembok depan rumah! Tolong Ibu, Wil—"


Tut.


Sambungan diputus paksa dari seberang. Pikiranku kosong. Kakiku lemas tak bertulang. 


Ini tidak mungkin. Rentenir itu ... mereka sungguhan ada?!


Dengan tangan bergetar, aku mencoba menghubungi Andin. Panggilan pertama ditolak. Panggilan kedua diabaikan. 


Baru pada panggilan ketiga, suara ketukan sepatu hak tinggi yang elegan terdengar berirama dari seberang, disusul suara yang begitu tenang dan anggun.


"Bagaimana, Mas? Kopi paginya terasa lebih nikmat dengan teriakan panik Ibumu?" sapa Andin dari seberang telepon.


"Andin!! Apa yang sebenarnya kamu rencanakan?! Suruh orang-orang suruhanmu itu pergi dari rumah Ibuku sekarang juga, atau aku akan menceraikanmu detik ini juga!!" teriakku dengan suara pecah dan kepanikan yang luar biasa.


Dari seberang sana, terdengar suara tawa kecil Andin yang mengalun merdu namun mematikan, menyisakan kengerian yang membuat lututku ambruk ke lantai.


"Cerai? Silakan saja, Mas. Suratnya bahkan bisa kuurus hari ini juga. Tapi sebelum itu, bilang pada Ibumu untuk menyiapkan camilan dan teh yang enak untuk tamu-tamuku, karena sebelum uang tiga ratus juta itu kembali utuh dengan bunga tiga ratus persen ke rekeningku, para penagih utang itu akan menginap dan mengadakan pesta dangdutan setiap hari di ruang tamu Ibumu."


***



(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

  "Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang sa...