Selasa, 14 April 2026

Suamiku Jatuh Miskin. Dan Diusir Ibunya Karena Dianggap Tak Berguna. Kuberikan Sisa Uangku, tapi Betapa Kagetnya Aku Ketika Suamiku Malah Membawaku ke Rumah Mewah. Ternyata Suamiku adalah...

 


"Bawa istrimu yang kampungan itu dan angkat kaki dari rumah ini! Anak miskin tak berguna!"


Suara melengking Ibu Mertuaku bergema ke seluruh penjuru ruang tamu. 


Sebuah koper usang dilemparkan begitu saja hingga isinya, baju-baju murah milikku dan suamiku, berserakan di lantai marmer yang dingin.


Aku segera berlutut, memunguti pakaian kami dengan mata berkaca-kaca. 


Di sofa, Mas Yuda, kakak suamiku, hanya tersenyum sinis sambil menyesap kopi mahalnya. Tidak ada sedikit pun niat darinya untuk menengahi.


"Bu, usaha Bara memang sedang bangkrut, tapi beri kami waktu beberapa hari saja untuk mencari kontrakan," ujarku memelas, menelan harga diriku demi pria yang berdiri mematung di sebelahku.


"Cuih! Menumpang di sini lalu makan dari uang Yuda? Tidak sudi!" Ibu mertuaku melipat tangan di dada, menatap kami penuh jijik. 


"Bara itu cuma benalu! Bisnis kecil-kecilan saja hancur, beda jauh dengan Yuda yang baru saja diangkat jadi Manajer di Grup Artha. Sekarang, pergi kalian!"


Aku menatap Bara, suamiku. Pria itu menunduk, wajahnya tertutup bayangan poni rambutnya. Tangannya mengepal erat, entah karena menahan marah atau malu. 


Tanpa berpikir panjang, aku meraih tangannya yang dingin.


"Ayo, Mas. Kita pergi," bisikku pelan namun mantap. "Kita tidak butuh belas kasihan mereka."


***


Malam itu, kami berjalan menyusuri trotoar di bawah langit yang mulai mendung. 


Bara sedari tadi hanya diam. Tiba-tiba, ia berhenti melangkah dan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Maafkan aku, Naya. Gara-gara aku, kamu ikut diusir. Aku benar-benar tidak punya apa-apa lagi sekarang," ucapnya lirih.


Dadaku sesak melihatnya. Aku merogoh dasar tas selempangku, mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah lecek. 


Kutarik tangan Bara dan kuletakkan amplop itu di telapak tangannya.


"Ini apa?" tanyanya kaget.


"Ini sisa tabunganku dari hasil jualan kue kering, Mas. Ada sekitar lima juta," ucapku sambil tersenyum tipis, berusaha menguatkannya. 


"Ambil saja semuanya. Pakai untuk kita sewa kos-kosan kecil dan makan sebulan ke depan. Nggak apa-apa mulai dari nol lagi, Mas. Asal kita sama-sama, aku yakin Mas pasti bisa bangkit."


Bara menatap amplop itu cukup lama. Jakunnya naik turun. 


Perlahan, senyum yang sama sekali tidak terlihat seperti senyum pria putus asa mengembang di bibirnya. Sorot matanya yang tadi redup mendadak berubah tajam dan penuh wibawa.


"Kamu memberikan seluruh uang terakhirmu untuk pria yang baru saja dibuang keluarganya?" tanyanya dengan nada yang anehnya. 


"Karena kamu suamiku."


Bara tertawa pelan. Ia tiba-tiba melambaikan tangan, menghentikan sebuah taksi mewah kelas premium yang kebetulan lewat. Ia membukakan pintu untukku. 


"Naiklah."


"Mas! Taksi ini argo mahal! Uang kita—"


"Masuk saja, Sayang," potongnya lembut namun dengan otoritas yang tak bisa kubantah.


Di dalam taksi, Bara menyebutkan sebuah alamat yang membuat jantungku nyaris copot. 


Itu adalah kawasan perumahan paling elit di kota ini, tempat tinggal para triliuner yang harga tanah per meternya tak masuk akal.


Sepanjang jalan aku terus meremas ujung bajuku karena panik, tapi Bara malah menggenggam tanganku dengan santai. 


Tiga puluh menit kemudian, taksi berhenti di depan sebuah gerbang besi raksasa bercat emas.


Aku bersiap meminta maaf pada supir taksi jika kami tak bisa membayar, tapi mataku terbelalak melihat apa yang terjadi di luar jendela. 


Enam orang satpam berbadan tegap yang berjaga di gerbang itu tiba-tiba berbaris rapi. 


Saat kaca jendela Bara turun, mereka semua membungkuk hormat. Gerbang raksasa itu terbuka otomatis.


Taksi melaju masuk, melewati taman berair mancur, sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah rumah megah bergaya Eropa modern yang membuatku menahan napas. 


Beberapa pelayan berseragam sudah berdiri berjejer di depan pintu utama.


Bara turun, membayar taksi dengan segepok uang seratus ribuan dari saku jasnya, entah dari mana ia mendapatkannya, lalu membukakan pintu untukku. Kakiku gemetar saat melangkah keluar.


"Mas, kita di mana? Ini rumah siapa? Kenapa satpam dan pelayan itu menunduk padamu?" tanyaku dengan suara tercekat, menatap suamiku seolah ia adalah orang asing.


Bara tersenyum penuh arti. Ia merangkulkan satu tangannya di pinggangku, menarikku mendekat, lalu berbisik tepat di telingaku dengan nada yang sanggup membuat seluruh dunia Ibu mertuaku dan Mas Yuda runtuh seketika.


"Selamat datang di rumah kita, Naya. Maaf aku berpura-pura miskin selama ini. Sudah saatnya kamu tahu, kalau pemilik Grup Artha yang sebenarnya adalah ..."


***


Bab 2

"Aku. Pemilik tunggal Grup Artha yang sebenarnya adalah aku, Naya. Pria yang baru saja ditendang dan dihina habis-habisan oleh keluarganya sendiri."


Kakiku lemas seketika. Jika bukan karena lengan kokoh Bara yang menahan pinggangku, aku pasti sudah luruh ke lantai. 


Napasku tertahan, mataku membulat sempurna menatap pria yang selama tiga tahun ini tidur di sampingku di atas kasur lipat yang tipis.


Bara yang selalu memakai kaus pudar dan tersenyum sabar setiap kali Ibu Mertuaku mencacinya, adalah seorang triliuner?


Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi berjalan cepat dari arah pintu utama, lalu menunduk hormat di hadapan kami. 


"Selamat datang kembali di rumah Anda, Tuan Muda Bara. Nyonya Naya, mari silakan masuk. Kami sudah menyiapkan air hangat dan makan malam untuk Anda berdua."


Bara mengangguk pelan. Ia menuntunku melewati pintu kayu jati raksasa itu. 


Begitu masuk, aku dibuat tercengang oleh kemewahan yang terpampang di depan mata. Lampu gantung kristal raksasa menyala keemasan, tangga melingkar berlapis karpet merah tebal, dan perabotan antik yang nilainya pasti setara dengan harga ratusan rumah subsidi.


Aku masih mengenakan daster katun murah dan sandal jepit tipis, berdiri di tengah ruangan bak istana ini. Rasanya sangat salah tempat.


"Mas, aku tidak mengerti." Suaraku bergetar saat pelayan itu pamit undur diri, menyisakan kami berdua di ruang tengah. 


"Kalau kamu sekaya ini, kenapa kamu membiarkan kita hidup susah? Kenapa kamu membiarkan Ibumu dan Mas Yuda terus menginjak-injak harga diri kita?"


Bara menuntunku duduk di sofa kulit yang sangat empuk. Ia berlutut di lantai, tepat di depanku, lalu menggenggam kedua tanganku erat. Matanya menatapku dengan kelembutan yang luar biasa dalam.


"Maafkan aku, Sayang," ucapnya lirih. 


"Almarhum Kakek mewariskan seluruh pemegang saham mayoritas dan aset utama keluarga untukku, bukan untuk Mas Yuda atau Ibu. Kakek tahu sifat asli mereka yang serakah dan hanya peduli pada uang. Kakek memintaku menyembunyikan ini sampai aku benar-benar siap."


Bara menghela napas panjang. 


"Aku sengaja memalsukan kebangkrutan bisnis kecilku itu untuk menguji mereka. Aku ingin melihat, apakah Ibu dan darah dagingku sendiri mau menampungku saat aku jatuh miskin. Dan malam ini, terbukti. Mereka membuang kita seperti sampah."


Air mataku menetes tanpa bisa ditahan. Mengingat koper kami dilempar dan kata-kata kasar Ibu Mertuaku tadi membuat dadaku kembali sesak.


Tangan besar Bara terangkat, mengusap air mataku dengan ibu jarinya. 


"Tapi dari ujian ini, aku mendapatkan berlian yang sesungguhnya. Kamu, Naya. Kamu rela memberikan sisa uang lima jutamu yang berharga demi pria tak berguna ini. Kamu bertahan di sisiku di saat keluargaku sendiri meludahiku."


Bara bangkit, lalu mengecup keningku cukup lama. 


"Mulai detik ini, penderitaanmu berakhir. Aku berjanji, orang-orang yang merendahkanmu malam ini akan berlutut di kakimu."


Belum sempat aku membalas ucapannya, pria bersetelan jas tadi, yang kutahu bernama Pak Reno, asisten pribadi Bara, masuk kembali ke ruangan membawa sebuah tablet canggih.


"Maaf mengganggu, Tuan Muda," ucap Pak Reno sambil menyerahkan tablet tersebut. 


"Ibu Anda baru saja memperbarui status sosial medianya. Beliau mengadakan syukuran besar-besaran di rumah untuk merayakan pengangkatan Tuan Yuda sebagai Manajer Cabang di Grup Artha besok pagi. Beliau juga menuliskan sindiran terang-terangan yang menjelek-jelekkan Anda dan Nyonya Naya di sana."


Bara mengambil tablet itu, membaca layar sejenak. Rahangnya mengeras, tapi anehnya, ada senyum miring yang terbit di bibirnya. 


Sebuah senyuman berbahaya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia mengembalikan tablet itu pada Pak Reno.


"Biarkan Ibuku menikmati panggung kesombongannya malam ini, Reno," bisik Bara dengan senyum dingin yang membekukan darah. 


"Karena besok pagi, aku sendiri yang akan menyeret anak kesayangannya itu keluar dari gedung perusahaanku, tepat di detik pertama ia duduk di kursi manajernya."


***



Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

 


"Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan anak dari selingkuhanmu!"


Suara bisikan tajam Ibu Mertua memecah kesunyian kamar rumah sakit ini.


Aku menahan napas. Mataku sengaja kupejamkan rapat, sementara kedua tanganku mengepal kuat di balik selimut tebal.


"Ibu pelan-pelan sedikit bicaranya," desis Mas Anton, laki-laki yang berstatus suamiku. 


"Laras baru saja melewati masa kritis akibat kecelakaan kemarin. Kata dokter dia kehilangan penglihatan dan kakinya lumpuh."


"Justru karena itu, Mas!" timpal suara wanita lain yang sangat kukenal. Itu Rina, perempuan yang selama ini kuanggap adik sendiri. 


"Anakku butuh fasilitas mewah milik Laras. Biar Laras yang merawat anakku yang penyakitan ini. Toh dia buta, dia tidak akan bisa membedakan mana anak kandungnya."


Hatiku hancur berkeping-keping.


Ibu Mertua tertawa pelan, terdengar sangat puas. 


"Tenang saja, Rina. Gara-gara ibu menabraknya kemarin, wanita sombong ini sudah tidak bisa apa-apa lagi. Sekarang, seluruh harta dan perusahaannya akan otomatis dikendalikan oleh Anton."


"Lalu anak kandung Laras mau diapakan, Bu?" tanya Rina lagi.


"Kita titipkan ke panti asuhan di luar kota malam ini juga!" jawab Mas Anton tanpa beban.


Hatiku rasanya mau pecah. Suami yang sangat kucintai, dan ibu mertua yang selama ini selalu kuhidupi dari jerih payahku, ternyata bersekongkol mengkhianatiku. 


Mereka membalas semua kebaikanku dengan penderitaan ini.


Suara roda ranjang bayi yang ditarik pelan mulai terdengar menjauh, diikuti suara engsel pintu kamar rawat yang tertutup rapat.


Begitu ruangan kembali sunyi, perlahan kubuka kedua mataku yang diklaim buta menatap tajam ke arah pintu. 


Tanpa kesulitan, aku menurunkan kedua kakiku dari atas ranjang dan berdiri dengan sempurna.


Kuraih ponsel yang kusembunyikan di balik bantal, lalu menekan sebuah nomor panggilan cepat.


"Blokir semua akses kartu kredit suamiku dan cabut hak tinggal Ibu Mertua di rumah utamaku malam ini juga."


***


"Transaksi ditolak?! Coba gesek sekali lagi, Mbak! Jangan main-main, kartu kredit saya ini tidak ada limitnya!"


Suara panik Mas Anton yang terdengar dari alat penyadap di ponselku membuat senyum sinisku mengembang. 


Aku masih duduk dengan nyaman di atas ranjang rumah sakit, menatap asisten kepercayaanku yang baru saja masuk ke ruangan.


"Semua akses keuangannya sudah mati, Dimas?" tanyaku pelan.


"Sudah, Bu Laras. Kartu kredit, ATM, bahkan akses ke brankas perusahaan sudah kami bekukan sepenuhnya atas perintah Ibu."


"Bagus. Lalu, bagaimana dengan anak kandungku?"


"Tuan muda sudah aman, Bu. Mobil suruhan Pak Anton yang hendak membuangnya ke panti asuhan sudah kami cegat di tengah jalan. Anak Ibu sekarang dijaga ketat oleh suster di vila pribadi."


Aku menghela napas sangat lega. Mataku kemudian beralih pada bayi mungil di boks bayi sebelahku, anak hasil perselingkuhan Mas Anton dan Rina. Wajahnya pucat dan napasnya dibantu selang oksigen kecil.


"Lalu, bayi perempuan ini mau kita apakan, Bu?" tanya Dimas sambil melirik iba.


"Biarkan saja dia di sini. Anak ini akan jadi senjata utamaku untuk menghancurkan mereka semua dari dalam," jawabku dingin.


Tiba-tiba, ponsel Dimas berdering. Dia mendengarkan sejenak, lalu menatapku dengan raut wajah menahan tawa.


"Ada laporan apa lagi?" selidikku.


"Satpam rumah utama baru saja menelepon, Bu. Ibu mertua Anda saat ini sedang menangis dan mengamuk memukuli gerbang besi. Koper-koper berisi barang mewah yang mereka ambil sudah dilempar keluar oleh petugas keamanan kita."


"Biarkan saja wanita tua serakah itu tidur di pinggir jalan malam ini. Jangan biarkan dia masuk sejengkal pun ke rumahku!"


"Baik, Bu. Lalu, apa rencana kita besok pagi saat Pak Anton kembali ke ruangan ini?"


Aku membaringkan kembali tubuhku dan menarik selimut, lalu menatap Dimas dengan tajam.


"Siapkan pengacara terbaik kita di balik pintu. Begitu suamiku masuk besok pagi, aku akan menunjukkan padanya bagaimana cara seorang istri buta dan lumpuh mencabut nyawa kesombongannya tanpa sisa!"


***



Aku Diusir Ibu Mertuaku karena dianggap Menantu Miskin. Padahal Dia Tidak Tahu Saja, Siapa Aku Sebenarnya!

 


"Angkat kaki kau dari sini, benalu! Wanita pembawa sial sepertimu bisa membuat auraku dan rumah mewah ini ikut miskin!"


Sebuah koper kanvas kusam mendarat kasar di ujung kakiku, isinya berhamburan memperlihatkan daster-daster luntur kesayanganku. 


Aku menatap datar pada Bu Widya, ibu mertuaku.


"Ibu mengusirku?" tanyaku pelan, menahan nada suaraku agar tetap terdengar bergetar.


"Jangan panggil aku Ibu! Anakku, Zaki, sudah sadar dari pelet murahanmu itu!" Bu Widya berkacak pinggang, menatapku jijik. 


"Zaki sudah menemukan wanita yang sepantasnya. Wanita kelas atas, bukan gembel sepertimu!"


Pintu utama terbuka. Zaki melangkah masuk sambil menggandeng pinggang seorang wanita bergaun merah ketat yang menenteng tas branded, yang dari baunya saja aku tahu itu barang KW.


"Mas Zaki," lirihku, berpura-pura terkejut.


Zaki membuang muka, melempar sebuah map cokelat ke lantai tepat di sebelah dasterku. 


"Tanda tangani surat cerai itu. Aku butuh pendamping yang berkelas, bukan wanita yang kerjaannya cuma nyapu dan ngepel."


"Betul kata Mas Zaki," sahut wanita bergaun merah itu, tersenyum merendahkan. 


"Kenalkan, aku Clara. Calon menantu kesayangan Tante Widya. Maaf ya, aku tidak berniat merebut suamimu. Tapi pria sesukses Mas Zaki memang butuh wanita karir sepertiku yang bekerja di Wiratama Group."


Wiratama Group? Aku menahan tawa yang nyaris meledak. 


"Oh, kamu kerja di Wiratama Group?" tanyaku polos.


"Tentu saja!" Bu Widya menyela bangga, mengelus lengan Clara. 


"Clara ini staf penting di sana! Gajinya saja bisa buat beli ginjalmu! Sekarang, bawa baju rombengmu itu dan keluar dari rumah mewah anakku!"


"Rumah mewah anakmu?" ulangku, memastikan pendengaranku tidak salah.


"Ya! Rumah ini, mobil mewah di depan, semua ini hasil keringat Zaki! Pergi sana!" bentak Bu Widya tak sabar.


Aku menunduk, memunguti pakaianku perlahan, lalu berdiri dan menatap ketiganya. 


Tak ada lagi wajah memelas. Bibirku melengkung membentuk senyum tipis yang membuat dahi Zaki berkerut bingung.


"Baik. Aku akan pergi," ucapku tenang, menyeret koper keluar.


Udara malam menyapaku begitu aku melewati gerbang besi menjulang itu. 


Aku merogoh ponsel dari saku jaketku yang lusuh dan menekan panggilan cepat. Nada sambung hanya berbunyi sekali.


"Halo, Pak Hermawan? Mulai malam ini, cabut hak pakai rumah mewah itu dan tarik kembali semua aset yang dipakai Zaki. Oh, satu hal lagi, pastikan staf magang baru bernama Clara di Wiratama Group dipecat tanpa pesangon besok pagi. Mari kita lihat bagaimana gembel sesungguhnya bertahan hidup besok."


***


Bab 2

"Singkirkan tangan kotor kalian dari kap mobil anakku! Berani-beraninya gembel seperti kalian mau menderek mobil milik Zaki!"


Bu Widya menjerit histeris sambil memukul-mukul lengan dua pria berbadan tegap berseragam hitam di halaman depan.


Zaki berlari keluar rumah dengan piyama kusutnya, disusul Clara yang tampak kesulitan menyeimbangkan diri di atas heels tingginya.


"Ada apa ini, Pak?! Kenapa mobil saya diderek?!" bentak Zaki marah, matanya melotot tajam.


"Maaf, Pak Zaki. Kami dari tim legal. Mulai malam ini, hak pakai atas kendaraan dan properti ini resmi ditarik kembali," ucap salah satu pria itu dingin, menyodorkan sebuah map berisi dokumen.


"Ditarik bagaimana maksudnya?! Ini mobil dari hasil keringatku sendiri! Rumah ini juga bonus dari pencapaianku!" 


Zaki menepis kertas itu kasar.


"Anda selama ini hanya menerima fasilitas pinjaman tanpa nama, Pak. Pemilik aslinya meminta aset ini ditarik. Silakan kosongkan rumah ini paling lambat jam enam pagi besok, atau kami yang akan melempar barang-barang Anda ke jalan."


Kedua pria itu masuk ke dalam truk derek tanpa mempedulikan amukan Zaki. Mobil merah kebanggaan keluarga itu ditarik pergi begitu saja.


"Astaga, Zaki! Ini pasti gara-gara perempuan pembawa sial itu!" Bu Widya memegangi kepalanya, nyaris pingsan. 


"Baru beberapa jam benalu itu angkat kaki, kesialannya langsung membuat rezekimu mampet!"


"Sialan!" Zaki mengusap wajahnya frustrasi. "Pasti sistem di kantor sedang error. Besok pagi-pagi sekali aku akan urus ke pusat!"


"Tenang, Mas Zaki, Tante," sela Clara lembut, mengusap dada Zaki untuk menenangkannya. 


"Tidak perlu panik begitu. Mungkin memang ada salah paham. Lagipula, kan masih ada aku. Gajiku dari Wiratama Group sangat besar. Aku bisa menyewa apartemen mewah untuk kita tinggal sementara waktu."


Bu Widya langsung tersenyum lega, menggenggam kedua tangan Clara. 


"Ya ampun, untung saja Zaki memilihmu, Sayang. Coba kalau dia masih bersama si gembel itu, mau makan apa kita besok?"


"Lagipula aku dengar besok akan ada pengangkatan karyawan tetap," lanjut Clara bangga. "Posisiku pasti aman, Tante."


Tiba-tiba, ponsel di dalam tas Clara berdering nyaring. Ia melirik layar dan membusungkan dadanya dengan sombong.


"Nah, ini dari Kepala HRD Wiratama Group. Pasti mereka mau memberitahu soal pengangkatanku. Biar aku loudspeaker ya, biar Tante dan Mas Zaki dengar." Clara menekan tombol hijau. 


"Halo, malam, Pak Budi? Ada kabar baik apa untuk saya?"


Keheningan menyelimuti teras rumah sebelum suara lantang dan marah dari seberang telepon menghancurkan senyum angkuh Clara.


"Kabar baik dari mana?! Mulai detik ini juga, kamu dipecat dengan tidak hormat, Clara! Jangan harap kamu bisa menginjakkan kaki di gedung Wiratama Group besok, dan bersiaplah namamu masuk daftar hitam di seluruh perusahaan di kota ini!"


***



(4) Ibu Mertuaku Ternyata Tidak Miskin. Selama ini Ibu Mertuaku Menyembunyikan...

 


Bab 4

"Saya, Lestari Adiwangsa, dengan ini menyatakan bahwa Danang hanyalah anak angkat yang telah gagal menunjukkan baktinya. Oleh karena itu, saya mencabut segala hak perwalian atas namanya, dan menyerahkan seluruh kepemilikan Adiwangsa Group berserta aset senilai lima ratus triliun rupiah jatuh mutlak ke tangan menantu saya, Kinan!"


Suara lantang nan tegas dari Pak Baskoro menggema, memantul di dinding ruang tamu yang catnya mulai mengelupas. Hening. 


Selama beberapa detik, hanya terdengar suara detak jam dinding dan embusan napas memburu dari Mas Danang.


"BOHONG!" Mas Danang tiba-tiba berteriak histeris, wajahnya merah padam.


Ia merampas kasar map berlogo garuda itu dari tangan Pak Baskoro, matanya melotot lebar membaca deretan kalimat dengan cap notaris di sana. 


"Ini pasti palsu! Kalian berkomplot, kan?! Kinan, kau pasti menyewa aktor tua ini untuk menipuku karena aku menceraikanmu semalam!"


Pak Baskoro tersenyum tipis, sebuah senyuman profesional yang justru terlihat sangat merendahkan. 


Ia memberi isyarat pada asistennya yang langsung mengeluarkan tumpukan dokumen lain, akta adopsi asli bermaterai puluhan tahun lalu, dan hasil tes DNA resmi.


"Ini bukti sah dari pengadilan, Saudara Danang. Anda diadopsi saat berusia dua tahun dari panti asuhan di pinggiran kota," jelas Pak Baskoro dengan nada sedingin es. 


"Mendiang Nyonya Besar menyembunyikan identitas aslinya demi alasan keamanan. Beliau adalah pendiri tunggal Adiwangsa Group. Dan karena Anda telah mengusir Nyonya Kinan secara tidak hormat, klausul pembatalan waris Anda otomatis aktif."


Raya yang sejak tadi berdiri mematung, mendadak lemas hingga harus berpegangan pada pinggiran sofa.


"L-lima ratus triliun? Adiwangsa Group yang menguasai puluhan hotel dan rumah sakit mewah itu?" gumam Raya dengan bibir bergetar hebat. Ia menoleh, menatap Mas Danang dengan pandangan jijik dan penuh amarah. 


"Jadi selama ini kau bukan siapa-siapa, Mas?! Kau cuma anak pungut yang kebetulan diurus orang kaya?!"


"Diam kau, Raya!" bentak Mas Danang panik.


Pria itu kembali menatapku. Kali ini, tidak ada lagi sorot arogan dan tatapan merendahkan di matanya. Ia menelan ludah kasar, menatap pakaian mewahku, pengacara di sisiku, dan bayangan mobil di luar jendela.


Seketika, lutut Mas Danang terlipat. Ia menjatuhkan dirinya di lantai, merangkak mendekat dan berusaha meraih ujung sepatu hak tinggiku dengan tangan gemetar.


"Kinan, Sayang. Maafkan Mas," suaranya mendadak melunak, terdengar sangat menyedihkan. 


"Mas khilaf semalam, Mas tidak sadar. Raya yang terus menghasut Mas untuk mengusirmu dan Ibu! Kita perbaiki semuanya ya? Kita ini suami istri, Sayang. Harta ini milik kita berdua, kan?"


Aku melangkah mundur, menghindari sentuhannya seolah ia adalah kuman penyakit. 


Hatiku yang dulu selalu luluh oleh kata-kata manisnya, kini hanya merasakan kepuasan melihat kehancurannya.


"Kita sudah resmi bercerai, Danang. Surat bermaterai yang kau lemparkan ke wajahku semalam sudah kutandatangani dan diserahkan ke pengadilan agama pagi ini oleh tim Pak Baskoro," jawabku dengan senyum miring.


Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah ini. Rumah sempit tempatku disiksa dan dijadikan pembantu tak bergaji selama tiga tahun.


"Dan asal kau tahu, sertifikat rumah kumuh ini atas nama Ibu," ucapku menatapnya tajam. "Yang artinya, per detik ini, rumah ini adalah hak milikku."


Mas Danang mendongak, wajahnya pias bagai mayat hidup. 


"K-Kinan, tolong jangan usir Mas. Mas mohon, Mas tidak punya uang sepeser pun."


Aku mengabaikan rengekannya dan menoleh ke arah pria paruh baya di sisiku.


"Pak Baskoro, beri dua parasit ini waktu lima belas menit untuk memasukkan baju murahan mereka ke dalam koper. Jika lebih dari itu mereka masih menginjakkan kaki di rumahku, seret dan lemparkan mereka ke jalanan aspal di depan, persis seperti sampah yang mereka buang semalam!"


***





Kujual Mobil dan Rumah Milik Mertuaku karena Mengaku-Ngaku Beli Hasil Jerih Payah Anaknya, padahal Aku yang Membelinya. Kubuat Mereka...

 "Silakan berkemas sekarang, Ibu Mertua. Rumah beserta isinya, dan juga mobil di garasi itu sudah resmi terjual."


"Kamu gila, Arini?!" pekik Ibu mertuaku dengan mata melotot tajam. 


"Ini rumah dan mobil hasil jerih payah anakku! Berani-beraninya kamu mengusir kami, dasar menantu tidak tahu diuntung!"


Aku tersenyum tipis, melipat kedua tangan di depan dada. 


"Jerih payah Mas Dimas yang kerjanya cuma tidur sampai siang, atau jerih payah Ibu yang hobi arisan memamerkan harta menantunya?"


"Jaga mulutmu, Dek!" Mas Dimas menunjuk wajahku dengan marah. "Kamu cuma numpang di sini! Jangan pernah kurang ajar sama Ibuku!"


"Numpang?" Aku tertawa sumbang. "Mas, coba kamu cek mutasi rekeningmu sekarang. Masih ada sisa uang gajiku yang diam-diam kamu klaim sebagai hasil keringatmu ke semua orang itu?"


Mas Dimas buru-buru merogoh saku, menekan layar ponselnya dengan panik. Wajahnya yang tadi merah padam karena marah mendadak pucat pasi.


"K-kosong? Arini, kemana semua uang di rekeningku?!" tanyanya dengan suara bergetar.


"Sudah kutarik semua. Lagipula itu uangku, bukan uangmu," ralatku tegas.


"Lalu kami harus tinggal di mana kalau rumah ini kamu jual, hah?!" teriak Ibu mertuaku mulai histeris. Wajah angkuhnya seketika runtuh.


"Bukan urusanku. Pembeli rumah ini akan tiba lima belas menit lagi bersama petugas pengosongan. Pastikan kalian tidak merusak barang apa pun."


Aku membalikkan badan, melangkah perlahan ke arah pintu utama. Tanganku meraih gagang pintu, lalu menoleh menatap mereka berdua untuk yang terakhir kalinya.


"Selamat menikmati kemiskinan yang sebenarnya. Oh, dan satu lagi, Mas, surat cerai kita akan diantar langsung oleh pengacaraku besok pagi."


***

Bab 2

"Mereka berdua sedang menangis di pinggir jalan sekarang, Bu Arini. Tetangga satu komplek sudah berkumpul menonton koper mereka yang berantakan."


Aku tersenyum tipis mendengar laporan Pak Anton, agen properti kepercayaanku, dari seberang telepon. 


"Bagus, Pak. Biarkan saja, pastikan kunci rumah sudah diganti semua."


Belum sempat aku meletakkan ponsel di atas meja lobi hotel bintang lima ini, layar kembali menyala. 


Panggilan masuk dari 'Mas Dimas'. Aku membiarkannya berdering panjang sebelum menekan tombol hijau.


"Arini! Cepat kembali ke sini sekarang juga! Ibu hampir pingsan kepanasan di luar, dan orang-orang malah menertawakan kami!" teriak Dimas dengan suara serak, perpaduan antara amarah dan panik yang luar biasa.


"Bukannya Ibumu hobi berada di luar rumah untuk memamerkan perhiasan emasnya ke tetangga? Sekarang dia bisa sekalian memamerkan koper bekasnya," balasku santai sambil menyesap kopi hangatku.


"Kamu benar-benar iblis, Rin! Tega kamu mempermalukan suamimu sendiri seperti ini! Jemput kami sekarang atau aku akan laporkan kamu ke polisi atas tuduhan penipuan!" ancamnya dengan napas terengah-engah.


Aku tertawa pelan. "Penipuan yang mana, Mas? Atas rumah yang sertifikatnya murni atas namaku sebelum kita menikah? Atau atas mobil yang cicilannya selalu aku bayar pakai uang pribadiku?"


Hening. Dimas seolah kehabisan kata-kata di ujung sana.


"Lagi pula, Mas," suaraku berubah dingin. "Kenapa kamu repot-repot menyuruhku menjemput? Kenapa tidak minta tolong saja pada Indah?"


Terdengar suara napas yang tercekat. 


"K-kamu ... tahu dari mana soal Indah?"


"Silakan hubungi selingkuhanmu itu untuk minta tumpangan, Mas. Tapi sayang sekali, aku baru saja mengirim orang untuk menarik paksa mobil yang sering dia pakai pamer ke kantor pagi ini."


***



Jasad Suamiku Ditemukan Membusuk di Rumah Mertuaku. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Apa jangan-jangan Mertuaku itu...

 


"Tujuh hari, Bu! Tujuh hari Bang Yasir tidak pulang, dan Ibu masih saja melarangku lapor polisi?!"


"Kecilkan suaramu, Ainun!" desis Ibu mertuaku, matanya melirik cemas ke arah jendela yang tertutup rapat. "Kamu mau buat malu keluarga? Tetangga bisa dengar!"


"Malu kenapa, Bu? Suamiku hilang! Kapalnya sudah bersandar sejak tiga hari lalu, dan teman-temannya bilang Bang Yasir sudah pulang duluan malam itu juga!" cecarku tak tertahan.


"Mungkin dia sedang ada urusan di darat," potong Bapak dari sudut ruangan. Suaranya keras, tapi tangannya terlihat gemetar hebat meremas ujung sarung.


"Sampai mematikan ponsel berhari-hari? Tidak—" Ucapanku terhenti. Aku mengendus udara ruangan yang mendadak terasa berat. 


"Tunggu, bau apa ini?"


Ruangan mendadak hening. Wajah Ibu dan Bapak seketika pucat pasi.


"B-bau apa? Ibu tidak cium apa-apa," sanggah Ibu terbata-bata.


"Ini bau anyir. Asalnya dari arah paviliun belakang," ujarku sambil mengambil langkah.


Ibu langsung berlari menghalangiku, merentangkan tangannya lebar-lebar dengan napas memburu. 


"Berhenti di situ, Ainun! Jangan berani-berani kamu melangkah ke belakang!"


"Kenapa, Bu?! Baunya sangat menyengat!"


"KARENA BAPAK MELARANGMU!" bentak Bapak tiba-tiba, urat lehernya menonjol. Matanya melotot tajam, tapi aku bisa melihat kepanikan luar biasa di sana. 


"Duduk di ruang tamu sekarang! Jangan pernah dekati paviliun itu!"


Memilih untuk tidak mendebat orang yang sedang kalap, aku membalikkan badan. 


"Baik."


Aku berjalan ke ruang tamu dan menutup pintu agak keras. Tapi aku tidak beranjak menjauh. Aku menahan napas dan menempelkan telingaku rapat-rapat di balik daun pintu.


Hening sejenak. Lalu, terdengar bisikan panik yang langsung membuat darahku mendidih.


"Baunya sudah tidak bisa ditutupi lagi, Pak. Kita harus menguburnya malam ini juga," isak Ibu dengan suara gemetar.


"Bapak tahu! Ini juga gara-gara kamu yang menyuruh Bapak memaksa Yasir menandatangani surat warisan itu!" balas Bapak dengan desisan panik. 


"Kalau malam itu dia tidak melawan, Bapak tidak akan refleks memukul kepalanya sekeras itu pakai balok kayu!"


Jantungku seakan berhenti berdetak. Kakiku seketika lemas. 


Memukul kepalanya?


Air mataku tumpah. Tubuhku gemetar hebat antara amarah, hancur, dan kengerian. 


Tanpa berpikir panjang, aku menyambar linggis kecil dari kotak perkakas di sudut kamar. Aku menerobos keluar, mengabaikan jeritan kaget kedua mertuaku.


"Ainun! Berhenti!" jerit Ibu histeris.


"Minggir!" bentakku kalap.


Aku mengayunkan linggis itu ke gembok paviliun belakang, Gembok karatan itu hancur. Dengan sisa tenaga, aku menendang pintunya hingga terbuka lebar.


Angin dingin berbau anyir pekat langsung menampar wajahku. Linggis di tanganku terlepas, jatuh menghantam lantai. Napasku tercekat di tenggorokan. 


Di atas ranjang kayu di tengah ruangan itu, terbaring kaku sesosok tubuh mengenakan jaket kulit kesayangan suamiku. 


Tiba-tiba, Ibu mertuaku menjatuhkan dirinya di kakiku. Tangisnya pecah meraung-raung, meremas ujung rokku bak orang kesurupan.


"Ainun, ini bukan seperti yang kamu bayangkan, Nak!" jerit Ibu mertuaku dengan wajah memelas yang dibanjiri air mata. 


"Bapakmu cuma bermaksud memberinya pelajaran, tapi dia malah jatuh! Tolong, Nak. Kami sudah tua, jangan masukkan kami ke penjara. Mari kita kuburkan Yasir sama-sama malam ini, dan Ibu janji, besok seluruh harta warisan ini akan langsung Ibu balik nama atas namamu seutuhnya!"


***

Bab 2

"Semua harta warisan atas namaku, Bu? Termasuk dua kapal penangkap ikan Bang Yasir?"


Aku menelan ludah, menatap dingin wanita tua yang masih bersimpuh sambil memeluk kedua kakiku. 


Di dalam dada, jantungku meronta, menjeritkan nama suamiku yang terbujur kaku. 


Tapi aku tahu, berlari keluar sambil berteriak malam ini hanya akan membuatku disusul dan berujung sama seperti Bang Yasir. 


Aku harus pura-pura. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu, dan apa senjata yang Bapak gunakan.


"Iya, Ainun! Semuanya! Rumah ini, kapal, tabungan, semuanya!" isak Ibu mertuaku cepat. Matanya berbinar penuh harap melihat keraguanku. 


"Asal kamu tutup mulut dan kita kubur Yasir di halaman belakang malam ini juga!"


"Tidak bisa begitu, Bu," jawabku datar, pelan-pelan menarik kakiku dari cengkeramannya.


Bapak mertuaku yang sejak tadi mematung langsung maju selangkah, rahangnya mengeras. 


"Apa maksudmu tidak bisa?! Kamu mau mengkhianati kami?!"


"Bukan begitu, Pak," potongku cepat, berusaha menatap matanya tanpa bergetar. 


"Kalian pikir tetangga tidak akan curiga? Bang Yasir sudah hilang tujuh hari, lalu tiba-tiba ada gundukan tanah baru di belakang rumah yang bau sudah menyebar? Kita malah akan langsung ditangkap polisi!"


"L-lalu kita harus bagaimana, Ainun?" suara Ibu bergetar ketakutan.


"Kita harus melapor ke warga malam ini juga. Teriak minta tolong," ucapku mantap.


"KAMU GILA?!" bentak Bapak, tangannya refleks mengepal kuat.


"Dengarkan Ainun dulu, Pak!" balasku tak kalah keras. "Kita panggil warga, tapi kita siapkan alasan. Kita bilang saja Bang Yasir baru pulang diam-diam malam ini."


Mata Ibu mertuaku seketika melebar, dengan cepat menangkap maksudku. 


"Ya, ya! Dia baru pulang malam ini, lewat pintu belakang karena tidak mau mengganggu kita yang sedang tidur! Lalu ..."


Ibu menelan ludah, menatap lantai paviliun yang berkerak darah merah gelap.


"... Lalu dia terpeleset! Ya, benar! Lantai ini licin karena bocor! Dia terpeleset dan kepalanya membentur ujung dipan kayu itu dengan sangat keras!" cerocos Ibu mertuaku dengan wajah kalut namun penuh siasat.


Bapak menghela napas panjang, kepanikannya perlahan mereda. 


"Ya. Masuk akal. Jatuh dan kepalanya membentur dipan. Polisi desa tidak akan menyelidiki terlalu jauh kalau pihak keluarga menolak autopsi dan sudah mengikhlaskan."


Aku mengangguk pelan, meski perutku mual mendengar betapa lancarnya mereka mengarang cerita di atas mayat darah dagingnya sendiri. 


Sambil melirik ke arah ranjang, aku memperhatikan luka menganga di kepala Bang Yasir.


Luka itu terlalu melengkung dan dalam. Itu bukan sekadar luka pukulan balok kayu, apalagi benturan dipan. 


Mereka menyembunyikan sesuatu yang lebih kejam dari sekadar pertengkaran warisan. Aku butuh waktu mencari tahu sebelum warga meramaikan tempat ini.


"Biar Ibu yang lari ke depan teriak panggil Pak RT," ujar Ibu mulai bangkit berdiri. Dia menyeka air matanya dengan ujung daster, dan seketika itu juga raut sedihnya hilang tanpa sisa, berganti dengan wajah dingin tak berperasaan.


"Tunggu sebentar, Bu," tahan Bapak mertuaku dengan suara serak. Langkahnya perlahan mendekati jasad suamiku di atas kasur.


***



(4) Istriku ditabrak mobil sampai meninggal. Saat kunikahi adik tiri istriku, mendadak istriku muncul. Siapa dia sebenarnya? Ternyata istriku sebenarnya...

Bab 4

 Ruangan itu seketika sunyi senyap. Mulut Ibu Mertua terbuka rapat, sementara Siska mendongak dengan tatapan syok seolah baru saja melihat hantu. 


Selama ini, Ibu Mertua selalu memperlakukan Riana bak pembantu karena mengira istriku itu hanya wanita sebatang kara yang miskin.


Aku sendiri terpaku. Istri penurut yang selama ini mendampingiku, adalah pewaris tunggal keluarga Adhitama?


Riana membalikkan badannya dengan sangat anggun, bersiap melangkah pergi meninggalkan kekacauan ini bersama para pengawalnya.


Namun sebelum ia benar-benar keluar, ia menoleh dari balik bahunya, menatap tepat ke arah Ibu Mertua dan Siska yang masih mematung di lantai.


"Silakan batalkan pernikahan ini dan urus kejahatan putri kesayanganmu itu ke kantor polisi, Ibu Mertua," ucap Riana dengan senyum yang sangat manis, namun mematikan. 


"Dan pastikan kalian mulai mengepak barang-barang kalian. Karena besok pagi, tim pengacaraku akan menyita rumah agung itu beserta seluruh aset perusahaan suamiku, sebagai bentuk penarikan modal besar-besaran dari keluarga Adhitama."


***


​"Borgol saja tangan rapuhnya itu, Pak Polisi. Semua bukti transfer dari rekeningnya ke montir bayaran ini, beserta rekaman CCTV asli dari bengkel, sudah dikirim langsung oleh tim pengacaraku ke meja komandan kalian."


Suara Riana yang dingin dan penuh perhitungan menyambut langkah tegap beberapa petugas kepolisian yang baru saja memasuki ruang utama gedung.


Pemandangan di depanku sungguh membuat perutku mual. 


Siska, wanita yang beberapa menit lalu berdiri anggun di sisiku dengan balutan gaun pengantin mewah, kini merangkak mundur dengan wajah berantakan. 


Tiara di kepalanya miring, riasannya luntur oleh air mata hitam dari maskara yang luruh, dan gaun putihnya terseret mengusap karpet merah yang kotor.


"Tidak! Lepaskan aku! Aku tidak membunuh siapa-siapa! Wanita di mobil itu pencuri, jadi dia pantas mati!" jerit Siska histeris saat dua petugas polisi wanita mulai memegang kedua lengannya.


"Kau tidak berhak menentukan nyawa orang lain, Siska! Niatmu sejak awal adalah menyingkirkanku!" balas Riana tajam, tatapannya menyala bagai nyala api yang siap menghanguskan adik tirinya itu.


Siska memberontak kasar, lalu menoleh ke arahku dengan tatapan memelas. 


"Mas! Tolong aku, Mas! Cegah mereka! Aku melakukan semua ini karena aku sangat mencintaimu, Mas! Aku tidak rela melihat Mas hidup menderita dengan wanita miskin seperti dia! Aku pantas menjadi istrimu!"


Mendengar kata 'cinta' keluar dari mulut liciknya, kemarahanku akhirnya meledak tak tertahankan.


"Jangan berani-berani kau menyebut kata cinta dari mulut kotormu itu!" bentakku, membuat Siska tersentak kaget karena selama ini ia hanya mengenalku sebagai pria penurut yang sabar. 


"Kau meracuni pikiranku dengan obat tidur, memfitnah istriku, dan sekarang kau berlindung di balik kata cinta setelah mencoba membunuhnya?! Aku lebih baik mati membusuk daripada harus bersentuhan dengan monster sepertimu!"


Penolakanku yang mentah-mentah rupanya menjadi pukulan terakhir bagi Siska. Kakinya benar-benar lemas. Ia meraung sejadi-jadinya saat borgol dingin itu akhirnya mengunci kedua pergelangan tangannya. 


Suara tangisannya yang melengking tak sedikit pun memancing simpati dari para tamu undangan; mereka justru merekam momen memalukan itu dengan ponsel masing-masing, berbisik jijik melihat kebusukan sang pengantin wanita.


Di sudut lain, penderitaan rupanya belum selesai. Ibu mertua, yang sedari tadi syok menyadari bahwa menantu yang selalu ia jadikan 'pembantu tak bergaji' adalah pewaris tunggal konglomerat Adhitama, kini tersadar dari lamunannya.


Mengetahui bahwa perusahaanku akan ditarik modalnya dan rumah megah kami akan disita, wanita tua itu tiba-tiba melempar harga dirinya. 


Ia berlari tertatih menghampiri Riana, bahkan hendak bersimpuh memegang ujung gaun Riana.


"Riana, Nak. Menantu Ibu yang paling cantik dan baik hati," rengek Ibu Mertua dengan suara dibuat-buat agar terdengar memelas. 


"Ibu mohon, Nak. Ampuni Siska, dia masih muda dan buta karena cinta. Dan tolong, jangan tarik aset suamimu. Perusahaan itu satu-satunya kebanggaan keluarga kita, Nak. Kau masih istri sahnya, kan? Kalian masih bisa mengulang semuanya dari awal."


Riana mundur selangkah, menolak disentuh sedikit pun. Ia menatap Ibu Mertua dengan sorot mata penuh ejekan yang elegan.


"Keluarga 'kita'?" Riana mengulangi kata itu dengan tawa sinis. 


"Sejak kapan Ibu menganggapku keluarga? Seingatku, aku hanya 'perempuan benalu pembawa sial' yang bahkan tidak diizinkan makan di meja yang sama jika ada tamu keluarga yang datang."


Ibu Mertua pucat pasi, mulutnya megap-megap tak mampu menjawab karena semua yang dikatakan Riana adalah kebenaran yang tak terbantahkan.


Riana membenarkan letak tas kecil mewahnya, lalu melirik sekilas ke arah Siska yang kini digiring paksa keluar gedung oleh pihak berwajib diiringi tatapan hina dari seluruh tamu. 


Tugasnya di sini sudah selesai. Pembalasannya telak, tanpa cacat.


Lalu, pandangan Riana akhirnya jatuh kepadaku. Mataku memerah, menahan rasa malu, penyesalan, dan rindu yang bercampur menjadi racun mematikan di dalam dada. 


Aku ingin memeluknya. Aku ingin berlutut memohon ampun karena begitu bodohnya membiarkan diriku disetir oleh Siska dan ibunya.


"Ri, aku ..." suaraku tercekat.


Namun, Riana hanya memberikan sebuah senyuman tipis yang sangat dingin, senyuman yang menjadi garis pemisah yang tak akan pernah bisa kulewati lagi seumur hidupku.


"Simpan pembelaanmu, Mas. Surat gugatan ceraiku akan mendarat di mejamu besok pagi. Pastikan kau menandatanganinya tanpa drama, karena aku tidak sudi namaku masih bersanding dengan pria buta yang tak bisa membedakan mana berlian sungguhan dan mana tumpukan sampah."


***




Suamiku Jatuh Miskin. Dan Diusir Ibunya Karena Dianggap Tak Berguna. Kuberikan Sisa Uangku, tapi Betapa Kagetnya Aku Ketika Suamiku Malah Membawaku ke Rumah Mewah. Ternyata Suamiku adalah...

  "Bawa istrimu yang kampungan itu dan angkat kaki dari rumah ini! Anak miskin tak berguna!" Suara melengking Ibu Mertuaku bergema...