"Hentikan pernikahan ini! Pria yang sedang menjabat tangan penghulu itu masih sah menjadi suamiku!"
Suara lantang wanita dan ketukan sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer memecah keheningan gedung mewah ini.
Jantungku seolah berhenti berdetak. Tanganku yang tadinya mantap menggenggam tangan wali nikah, kini mendadak kebas dan sedingin es.
Di sebelahku, Siska—adik tiri dari mendiang istriku yang sebentar lagi akan resmi menjadi nyonyaku—terkesiap hebat. Wajahnya yang tertutup riasan pengantin seketika memucat pasi.
Semua tamu undangan menoleh ke arah pintu utama. Aku pun ikut memutar tubuh, dan rasanya seluruh aliran darahku tersedot habis ke dasar bumi.
Di ujung karpet merah, berdiri seorang wanita dengan gaun maroon yang begitu elegan, tampak sangat kontras dengan nuansa putih suci di gedung pernikahan kami.
Rambutnya ditata rapi, wajahnya memancarkan aura arogansi dan kekuasaan yang luar biasa. Sepasang mata tajam itu menatap lurus, menguliti pertahananku.
Itu Riana. Istriku.
Tapi bagaimana mungkin?!
Kakiku bergetar hebat hingga aku nyaris tersungkur jika tak berpegangan pada pinggiran meja akad.
Ingatan kelam tiga bulan lalu berputar paksa di kepalaku. Kecelakaan nahas itu. Mobil Riana yang hancur lebur dihantam truk di jalan tol.
Jenazahnya yang hangus dan nyaris tak bisa dikenali, yang hanya bisa kuidentifikasi dari cincin pernikahan di jari manisnya serta sisa kain gaun favorit yang ia kenakan.
Aku sendiri yang menguburkannya! Aku menangisi pusaranya sampai suaraku habis!
Dan karena kesedihan yang menghancurkan kewarasanku itulah, Siska hadir.
Siska yang lembut selalu menemaniku melewati masa berkabung, mengurusku, hingga akhirnya keluarga sepakat agar kami menikah saja untuk mengobati luka dan 'menjaga tali keluarga'.
"R—Riana?" suaraku keluar bergetar, terdengar seperti cicitan orang tercekik. "K-kau ... kau sudah mati ...."
Siska tiba-tiba mencengkeram lenganku dengan kuku-kukunya yang tajam.
"Mas! Dia bukan Mbak Riana! Dia pasti penipu yang mencoba memeras kita! Mbak Riana sudah kita makamkan, Mas!" jerit Siska panik, menunjuk dengan tangan gemetar ke arah wanita di ujung karpet itu.
Namun, wanita itu tidak gentar sedikit pun. Ia melangkah maju dengan keanggunan yang tak pernah kulihat dari sosok Riana yang dulu kukenal.
Riana yang dulu hanyalah ibu rumah tangga sederhana yang penurut, pelan bicaranya, dan selalu menundukkan kepala.
Wanita di depanku ini melangkah bak seorang penguasa yang siap mengeksekusi para pengkhianat.
Beberapa pria tegap berjas hitam tampak berjaga di belakangnya, membuat para tamu undangan menahan napas dan tak berani berkutik.
Ia berhenti tepat tiga langkah di hadapan meja akad. Matanya menatap jijik ke arah tangan Siska yang masih bergelayut erat di lenganku.
Wanita itu kemudian tersenyum, sebuah senyuman miring yang begitu dingin hingga membuat bulu kudukku meremang.
"Kau menangisi gumpalan daging yang salah di pemakaman itu, Mas," bisiknya dengan nada rendah yang mematikan.
"Dan sekarang, mari kita bicarakan siapa sebenarnya wanita malang yang kalian tumbalkan di dalam mobilku, dan berapa banyak uang yang kalian bayar untuk memutus remnya."
***
"Tenanglah, Suamiku sayang. Wajah pucatmu itu sungguh tidak perlu. Aku datang bukan untuk menghukummu, melainkan untuk mencabut taring ular berbisa yang sedari tadi bergelayut manja di lenganmu itu."
Ruangan yang tadinya hening karena ketegangan, kini dipenuhi bisik-bisik kejut para tamu undangan.
Aku membeku. Kalimat Riana barusan mengalir dengan nada lembut yang sangat kukenal, namun tatapan matanya tajam bagai belati saat terarah pada Siska.
Siska melepaskan cengkeramannya dari lenganku seolah baru saja tersengat listrik. Wajahnya yang memucat kini bergetar hebat.
"M-Mbak Riana, apa maksudmu? Aku ... aku adikmu! Mas, tolong aku, Mas! Dia pasti bukan Mbak Riana, dia siluman atau orang gila yang mau menghancurkan pernikahan kita!" isaknya, kembali bersembunyi di balik punggungku dengan air mata buaya yang selama tiga bulan ini selalu berhasil memperdayaku.
Aku menatap Riana, mencoba mencari kebohongan di wajah itu. Tidak ada.
Itu benar-benar istriku. Namun, aura intimidasi yang menguar darinya, diikuti empat pengawal berseragam gelap yang bersiaga di belakangnya, membuat lidahku kelu.
Riana yang kukenal tidak pernah memiliki akses pada kekuasaan seperti ini.
Riana melangkah pelan mendekat. Saat matanya berserobok dengan mataku, ada sebersit kehangatan dan rasa iba yang terpancar di sana, mengonfirmasi bahwa ia sama sekali tidak membenciku.
"Kau pria yang baik, Mas. Terlalu baik sampai kau tidak sadar sedang digiring menuju tiang gantungan," ucap Riana lembut, jemarinya yang lentik dan dihiasi cincin berlian, bukan cincin kawin sederhana kami, terulur mengusap rahangku yang menegang.
Sentuhannya nyata. Hangat. Istriku benar-benar masih hidup.
"A-apa maksudnya ini, Ri? Tiang gantungan? Kecelakaan itu ..." suaraku akhirnya lolos, meski serak dan nyaris tak terdengar.
Riana menarik tangannya, senyum lembutnya memudar, berganti dengan seringai mematikan saat menatap Siska yang mengintip dari balik bahuku.
"Tentu saja kecelakaan itu bukan ulahmu, Mas," suara Riana kembali mengeras dan menggema di seluruh ruangan.
"Tapi adik tiriku yang manis ini merencanakannya sedemikian rupa agar semua bukti mengarah padamu. Mulai dari sidik jarimu di tang pelonggar rem, hingga obat tidur yang selalu ia campurkan di kopimu setiap malam agar kau tak ingat apa pun dan mudah disetir."
Jantungku berdegup kencang bagai ditabuh genderang perang.
Obat tidur? Ingatanku melayang pada rasa lelah berkepanjangan dan sakit kepala hebat yang selalu menderaku beberapa minggu sebelum Riana kecelakaan, dan kopi buatan Siska yang selalu ia antarkan ke ruang kerjaku dengan dalih 'perhatian seorang adik'.
"Itu fitnah! Buktikan kalau kau bisa!" jerit Siska histeris. Kepanikannya kini merobek topeng gadis polos yang selalu ia kenakan.
Riana hanya terkekeh pelan, sebuah tawa elegan yang mengisyaratkan kemenangan mutlak. Ia menjentikkan jarinya.
Salah satu pengawal berjas hitam melangkah maju, melemparkan sebuah tablet ke atas meja akad nikah hingga menimbulkan suara benturan keras. Layar itu menyala, menampilkan rekaman CCTV yang sangat jelas.
Aku menahan napas. Di layar itu, terlihat Siska sedang menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal kepada seorang pria bertopi di bengkel langgananku.
"Silakan menyangkal sesukamu, Siska. Tapi sayang sekali, pria yang kau sewa untuk menyabotase rem mobilku, yang sengaja kau suruh memakai jaket suamiku malam itu agar terekam CCTV jalanan ..." Riana mencondongkan wajahnya, berbisik dengan nada yang membuat seluruh darah di tubuhku membeku.
"... sekarang sedang bersujud memohon ampun dengan kondisi babak belur di dalam bagasi mobilku di luar sana. Mau menyapanya?"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar