Bab 4
"Saya, Lestari Adiwangsa, dengan ini menyatakan bahwa Danang hanyalah anak angkat yang telah gagal menunjukkan baktinya. Oleh karena itu, saya mencabut segala hak perwalian atas namanya, dan menyerahkan seluruh kepemilikan Adiwangsa Group berserta aset senilai lima ratus triliun rupiah jatuh mutlak ke tangan menantu saya, Kinan!"
Suara lantang nan tegas dari Pak Baskoro menggema, memantul di dinding ruang tamu yang catnya mulai mengelupas. Hening.
Selama beberapa detik, hanya terdengar suara detak jam dinding dan embusan napas memburu dari Mas Danang.
"BOHONG!" Mas Danang tiba-tiba berteriak histeris, wajahnya merah padam.
Ia merampas kasar map berlogo garuda itu dari tangan Pak Baskoro, matanya melotot lebar membaca deretan kalimat dengan cap notaris di sana.
"Ini pasti palsu! Kalian berkomplot, kan?! Kinan, kau pasti menyewa aktor tua ini untuk menipuku karena aku menceraikanmu semalam!"
Pak Baskoro tersenyum tipis, sebuah senyuman profesional yang justru terlihat sangat merendahkan.
Ia memberi isyarat pada asistennya yang langsung mengeluarkan tumpukan dokumen lain, akta adopsi asli bermaterai puluhan tahun lalu, dan hasil tes DNA resmi.
"Ini bukti sah dari pengadilan, Saudara Danang. Anda diadopsi saat berusia dua tahun dari panti asuhan di pinggiran kota," jelas Pak Baskoro dengan nada sedingin es.
"Mendiang Nyonya Besar menyembunyikan identitas aslinya demi alasan keamanan. Beliau adalah pendiri tunggal Adiwangsa Group. Dan karena Anda telah mengusir Nyonya Kinan secara tidak hormat, klausul pembatalan waris Anda otomatis aktif."
Raya yang sejak tadi berdiri mematung, mendadak lemas hingga harus berpegangan pada pinggiran sofa.
"L-lima ratus triliun? Adiwangsa Group yang menguasai puluhan hotel dan rumah sakit mewah itu?" gumam Raya dengan bibir bergetar hebat. Ia menoleh, menatap Mas Danang dengan pandangan jijik dan penuh amarah.
"Jadi selama ini kau bukan siapa-siapa, Mas?! Kau cuma anak pungut yang kebetulan diurus orang kaya?!"
"Diam kau, Raya!" bentak Mas Danang panik.
Pria itu kembali menatapku. Kali ini, tidak ada lagi sorot arogan dan tatapan merendahkan di matanya. Ia menelan ludah kasar, menatap pakaian mewahku, pengacara di sisiku, dan bayangan mobil di luar jendela.
Seketika, lutut Mas Danang terlipat. Ia menjatuhkan dirinya di lantai, merangkak mendekat dan berusaha meraih ujung sepatu hak tinggiku dengan tangan gemetar.
"Kinan, Sayang. Maafkan Mas," suaranya mendadak melunak, terdengar sangat menyedihkan.
"Mas khilaf semalam, Mas tidak sadar. Raya yang terus menghasut Mas untuk mengusirmu dan Ibu! Kita perbaiki semuanya ya? Kita ini suami istri, Sayang. Harta ini milik kita berdua, kan?"
Aku melangkah mundur, menghindari sentuhannya seolah ia adalah kuman penyakit.
Hatiku yang dulu selalu luluh oleh kata-kata manisnya, kini hanya merasakan kepuasan melihat kehancurannya.
"Kita sudah resmi bercerai, Danang. Surat bermaterai yang kau lemparkan ke wajahku semalam sudah kutandatangani dan diserahkan ke pengadilan agama pagi ini oleh tim Pak Baskoro," jawabku dengan senyum miring.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah ini. Rumah sempit tempatku disiksa dan dijadikan pembantu tak bergaji selama tiga tahun.
"Dan asal kau tahu, sertifikat rumah kumuh ini atas nama Ibu," ucapku menatapnya tajam. "Yang artinya, per detik ini, rumah ini adalah hak milikku."
Mas Danang mendongak, wajahnya pias bagai mayat hidup.
"K-Kinan, tolong jangan usir Mas. Mas mohon, Mas tidak punya uang sepeser pun."
Aku mengabaikan rengekannya dan menoleh ke arah pria paruh baya di sisiku.
"Pak Baskoro, beri dua parasit ini waktu lima belas menit untuk memasukkan baju murahan mereka ke dalam koper. Jika lebih dari itu mereka masih menginjakkan kaki di rumahku, seret dan lemparkan mereka ke jalanan aspal di depan, persis seperti sampah yang mereka buang semalam!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar