"Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan anak dari selingkuhanmu!"
Suara bisikan tajam Ibu Mertua memecah kesunyian kamar rumah sakit ini.
Aku menahan napas. Mataku sengaja kupejamkan rapat, sementara kedua tanganku mengepal kuat di balik selimut tebal.
"Ibu pelan-pelan sedikit bicaranya," desis Mas Anton, laki-laki yang berstatus suamiku.
"Laras baru saja melewati masa kritis akibat kecelakaan kemarin. Kata dokter dia kehilangan penglihatan dan kakinya lumpuh."
"Justru karena itu, Mas!" timpal suara wanita lain yang sangat kukenal. Itu Rina, perempuan yang selama ini kuanggap adik sendiri.
"Anakku butuh fasilitas mewah milik Laras. Biar Laras yang merawat anakku yang penyakitan ini. Toh dia buta, dia tidak akan bisa membedakan mana anak kandungnya."
Hatiku hancur berkeping-keping.
Ibu Mertua tertawa pelan, terdengar sangat puas.
"Tenang saja, Rina. Gara-gara ibu menabraknya kemarin, wanita sombong ini sudah tidak bisa apa-apa lagi. Sekarang, seluruh harta dan perusahaannya akan otomatis dikendalikan oleh Anton."
"Lalu anak kandung Laras mau diapakan, Bu?" tanya Rina lagi.
"Kita titipkan ke panti asuhan di luar kota malam ini juga!" jawab Mas Anton tanpa beban.
Hatiku rasanya mau pecah. Suami yang sangat kucintai, dan ibu mertua yang selama ini selalu kuhidupi dari jerih payahku, ternyata bersekongkol mengkhianatiku.
Mereka membalas semua kebaikanku dengan penderitaan ini.
Suara roda ranjang bayi yang ditarik pelan mulai terdengar menjauh, diikuti suara engsel pintu kamar rawat yang tertutup rapat.
Begitu ruangan kembali sunyi, perlahan kubuka kedua mataku yang diklaim buta menatap tajam ke arah pintu.
Tanpa kesulitan, aku menurunkan kedua kakiku dari atas ranjang dan berdiri dengan sempurna.
Kuraih ponsel yang kusembunyikan di balik bantal, lalu menekan sebuah nomor panggilan cepat.
"Blokir semua akses kartu kredit suamiku dan cabut hak tinggal Ibu Mertua di rumah utamaku malam ini juga."
***
"Transaksi ditolak?! Coba gesek sekali lagi, Mbak! Jangan main-main, kartu kredit saya ini tidak ada limitnya!"
Suara panik Mas Anton yang terdengar dari alat penyadap di ponselku membuat senyum sinisku mengembang.
Aku masih duduk dengan nyaman di atas ranjang rumah sakit, menatap asisten kepercayaanku yang baru saja masuk ke ruangan.
"Semua akses keuangannya sudah mati, Dimas?" tanyaku pelan.
"Sudah, Bu Laras. Kartu kredit, ATM, bahkan akses ke brankas perusahaan sudah kami bekukan sepenuhnya atas perintah Ibu."
"Bagus. Lalu, bagaimana dengan anak kandungku?"
"Tuan muda sudah aman, Bu. Mobil suruhan Pak Anton yang hendak membuangnya ke panti asuhan sudah kami cegat di tengah jalan. Anak Ibu sekarang dijaga ketat oleh suster di vila pribadi."
Aku menghela napas sangat lega. Mataku kemudian beralih pada bayi mungil di boks bayi sebelahku, anak hasil perselingkuhan Mas Anton dan Rina. Wajahnya pucat dan napasnya dibantu selang oksigen kecil.
"Lalu, bayi perempuan ini mau kita apakan, Bu?" tanya Dimas sambil melirik iba.
"Biarkan saja dia di sini. Anak ini akan jadi senjata utamaku untuk menghancurkan mereka semua dari dalam," jawabku dingin.
Tiba-tiba, ponsel Dimas berdering. Dia mendengarkan sejenak, lalu menatapku dengan raut wajah menahan tawa.
"Ada laporan apa lagi?" selidikku.
"Satpam rumah utama baru saja menelepon, Bu. Ibu mertua Anda saat ini sedang menangis dan mengamuk memukuli gerbang besi. Koper-koper berisi barang mewah yang mereka ambil sudah dilempar keluar oleh petugas keamanan kita."
"Biarkan saja wanita tua serakah itu tidur di pinggir jalan malam ini. Jangan biarkan dia masuk sejengkal pun ke rumahku!"
"Baik, Bu. Lalu, apa rencana kita besok pagi saat Pak Anton kembali ke ruangan ini?"
Aku membaringkan kembali tubuhku dan menarik selimut, lalu menatap Dimas dengan tajam.
"Siapkan pengacara terbaik kita di balik pintu. Begitu suamiku masuk besok pagi, aku akan menunjukkan padanya bagaimana cara seorang istri buta dan lumpuh mencabut nyawa kesombongannya tanpa sisa!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar