Selasa, 14 April 2026

Aku Diusir Ibu Mertuaku karena dianggap Menantu Miskin. Padahal Dia Tidak Tahu Saja, Siapa Aku Sebenarnya!

 


"Angkat kaki kau dari sini, benalu! Wanita pembawa sial sepertimu bisa membuat auraku dan rumah mewah ini ikut miskin!"


Sebuah koper kanvas kusam mendarat kasar di ujung kakiku, isinya berhamburan memperlihatkan daster-daster luntur kesayanganku. 


Aku menatap datar pada Bu Widya, ibu mertuaku.


"Ibu mengusirku?" tanyaku pelan, menahan nada suaraku agar tetap terdengar bergetar.


"Jangan panggil aku Ibu! Anakku, Zaki, sudah sadar dari pelet murahanmu itu!" Bu Widya berkacak pinggang, menatapku jijik. 


"Zaki sudah menemukan wanita yang sepantasnya. Wanita kelas atas, bukan gembel sepertimu!"


Pintu utama terbuka. Zaki melangkah masuk sambil menggandeng pinggang seorang wanita bergaun merah ketat yang menenteng tas branded, yang dari baunya saja aku tahu itu barang KW.


"Mas Zaki," lirihku, berpura-pura terkejut.


Zaki membuang muka, melempar sebuah map cokelat ke lantai tepat di sebelah dasterku. 


"Tanda tangani surat cerai itu. Aku butuh pendamping yang berkelas, bukan wanita yang kerjaannya cuma nyapu dan ngepel."


"Betul kata Mas Zaki," sahut wanita bergaun merah itu, tersenyum merendahkan. 


"Kenalkan, aku Clara. Calon menantu kesayangan Tante Widya. Maaf ya, aku tidak berniat merebut suamimu. Tapi pria sesukses Mas Zaki memang butuh wanita karir sepertiku yang bekerja di Wiratama Group."


Wiratama Group? Aku menahan tawa yang nyaris meledak. 


"Oh, kamu kerja di Wiratama Group?" tanyaku polos.


"Tentu saja!" Bu Widya menyela bangga, mengelus lengan Clara. 


"Clara ini staf penting di sana! Gajinya saja bisa buat beli ginjalmu! Sekarang, bawa baju rombengmu itu dan keluar dari rumah mewah anakku!"


"Rumah mewah anakmu?" ulangku, memastikan pendengaranku tidak salah.


"Ya! Rumah ini, mobil mewah di depan, semua ini hasil keringat Zaki! Pergi sana!" bentak Bu Widya tak sabar.


Aku menunduk, memunguti pakaianku perlahan, lalu berdiri dan menatap ketiganya. 


Tak ada lagi wajah memelas. Bibirku melengkung membentuk senyum tipis yang membuat dahi Zaki berkerut bingung.


"Baik. Aku akan pergi," ucapku tenang, menyeret koper keluar.


Udara malam menyapaku begitu aku melewati gerbang besi menjulang itu. 


Aku merogoh ponsel dari saku jaketku yang lusuh dan menekan panggilan cepat. Nada sambung hanya berbunyi sekali.


"Halo, Pak Hermawan? Mulai malam ini, cabut hak pakai rumah mewah itu dan tarik kembali semua aset yang dipakai Zaki. Oh, satu hal lagi, pastikan staf magang baru bernama Clara di Wiratama Group dipecat tanpa pesangon besok pagi. Mari kita lihat bagaimana gembel sesungguhnya bertahan hidup besok."


***


Bab 2

"Singkirkan tangan kotor kalian dari kap mobil anakku! Berani-beraninya gembel seperti kalian mau menderek mobil milik Zaki!"


Bu Widya menjerit histeris sambil memukul-mukul lengan dua pria berbadan tegap berseragam hitam di halaman depan.


Zaki berlari keluar rumah dengan piyama kusutnya, disusul Clara yang tampak kesulitan menyeimbangkan diri di atas heels tingginya.


"Ada apa ini, Pak?! Kenapa mobil saya diderek?!" bentak Zaki marah, matanya melotot tajam.


"Maaf, Pak Zaki. Kami dari tim legal. Mulai malam ini, hak pakai atas kendaraan dan properti ini resmi ditarik kembali," ucap salah satu pria itu dingin, menyodorkan sebuah map berisi dokumen.


"Ditarik bagaimana maksudnya?! Ini mobil dari hasil keringatku sendiri! Rumah ini juga bonus dari pencapaianku!" 


Zaki menepis kertas itu kasar.


"Anda selama ini hanya menerima fasilitas pinjaman tanpa nama, Pak. Pemilik aslinya meminta aset ini ditarik. Silakan kosongkan rumah ini paling lambat jam enam pagi besok, atau kami yang akan melempar barang-barang Anda ke jalan."


Kedua pria itu masuk ke dalam truk derek tanpa mempedulikan amukan Zaki. Mobil merah kebanggaan keluarga itu ditarik pergi begitu saja.


"Astaga, Zaki! Ini pasti gara-gara perempuan pembawa sial itu!" Bu Widya memegangi kepalanya, nyaris pingsan. 


"Baru beberapa jam benalu itu angkat kaki, kesialannya langsung membuat rezekimu mampet!"


"Sialan!" Zaki mengusap wajahnya frustrasi. "Pasti sistem di kantor sedang error. Besok pagi-pagi sekali aku akan urus ke pusat!"


"Tenang, Mas Zaki, Tante," sela Clara lembut, mengusap dada Zaki untuk menenangkannya. 


"Tidak perlu panik begitu. Mungkin memang ada salah paham. Lagipula, kan masih ada aku. Gajiku dari Wiratama Group sangat besar. Aku bisa menyewa apartemen mewah untuk kita tinggal sementara waktu."


Bu Widya langsung tersenyum lega, menggenggam kedua tangan Clara. 


"Ya ampun, untung saja Zaki memilihmu, Sayang. Coba kalau dia masih bersama si gembel itu, mau makan apa kita besok?"


"Lagipula aku dengar besok akan ada pengangkatan karyawan tetap," lanjut Clara bangga. "Posisiku pasti aman, Tante."


Tiba-tiba, ponsel di dalam tas Clara berdering nyaring. Ia melirik layar dan membusungkan dadanya dengan sombong.


"Nah, ini dari Kepala HRD Wiratama Group. Pasti mereka mau memberitahu soal pengangkatanku. Biar aku loudspeaker ya, biar Tante dan Mas Zaki dengar." Clara menekan tombol hijau. 


"Halo, malam, Pak Budi? Ada kabar baik apa untuk saya?"


Keheningan menyelimuti teras rumah sebelum suara lantang dan marah dari seberang telepon menghancurkan senyum angkuh Clara.


"Kabar baik dari mana?! Mulai detik ini juga, kamu dipecat dengan tidak hormat, Clara! Jangan harap kamu bisa menginjakkan kaki di gedung Wiratama Group besok, dan bersiaplah namamu masuk daftar hitam di seluruh perusahaan di kota ini!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

  "Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan ana...