Minggu, 12 April 2026

Ibu Mertuaku Ternyata Tidak Miskin. Selama ini Ibu Mertuaku Menyembunyikan...


 "Keluar kamu dari rumahku! Bawa sekalian buntelan rongsokan warisan ibuku itu!"


Suara bentakan Mas Danang mengalahkan suara petir di luar sana. Sebuah tas kusam dilemparkan hingga mendarat di genangan air teras depan.


"Mas, ini malam hari dan hujan badai. Setidaknya biarkan aku tidur di teras sampai pagi. Uangku tidak ada sepeser pun," isakku, memohon pada pria yang baru tadi siang memakamkan ibu kandungnya sendiri.


"Teras ini baru kupel! Nanti kotor lagi kena bajumu yang dekil itu," sahut Raya tajam. 


Perempuan yang selama ini diklaim Mas Danang sebagai 'rekan kerja' itu kini dengan angkuh melingkarkan lengannya ke pinggang suamiku.


"Dengar, Kinan. Bebanku merawat ibu yang penyakitan sudah selesai, dan tugasmu sebagai perawat gratisannya juga sudah tamat," ucap Mas Danang tanpa sedikit pun rasa bersalah di matanya. 


"Pergi sebelum aku memanggil satpam perumahan!"


Pintu dibanting dan dikunci dari dalam. Tubuhku luruh ke lantai teras yang dingin. Air mataku mengalir deras menyatu dengan sisa hujan yang menampar wajah. 


Ibu mertuaku, satu-satunya alasan aku bertahan dari kekejaman Mas Danang, kini sudah tiada.


Dengan tangan bergetar, aku memungut tas lusuhku dan melangkah tanpa arah hingga menemukan halte bus yang sepi. 


Sambil memeluk lutut menahan dingin, aku merogoh saku jaket. Ada sebuah lipatan kertas usang berwarna kecokelatan yang dibungkus plastik klip kecil.


Ini adalah benda terakhir yang dijejalkan Ibu Tari ke tanganku sebelum napasnya berhenti di rumah sakit.


"Simpan ini, Kinan. Jangan buka sampai Danang benar-benar membuangmu." Suara parau Ibu Tari kembali terngiang di telingaku.


Di bawah remang lampu jalan, aku membuka lipatan kertas itu. 


Jantungku berdebar. Apakah ini sisa uang simpanan Ibu? Atau surat utang?


Bukan. Hanya ada sebuah cincin perak pudar dengan ukiran aneh, dan sebaris kalimat pendek yang ditulis dengan tangan yang gemetar:


[Kinan, pergilah ke alamat di balik kertas ini. Temui pria bernama Gala. Tunjukkan cincin ini. Dia akan melindungimu. Jangan percaya siapa pun selain dia.]


Dahiku berkerut. Aku membalik kertas itu dan membaca sebuah alamat di kawasan elit Menteng.


"Siapa Gala? Kenapa Ibu kenal orang di perumahan mewah?" gumamku bingung. 


Setahuku, Ibu Tari hanyalah wanita tua malang yang makan sehari-hari saja sering diabaikan oleh anak kandungnya sendiri.


Namun, tak ada pilihan lain. Dengan sisa uang dua puluh ribu rupiah, aku nekat menaiki ojek online menerobos hujan menuju alamat tersebut.


***


Setengah jam kemudian, aku berdiri mematung. 


Alih-alih rumah biasa, di hadapanku menjulang sebuah gerbang besi hitam yang sangat megah. Temboknya tinggi menyerupai benteng, lengkap dengan pos penjagaan.


Dengan tangan bergetar dan tubuh menggigil hebat, aku memencet bel di pintu kecil samping gerbang. Tak lama, pintu terbuka.


Seorang pria jangkung melangkah keluar. Kemeja hitamnya sedikit basah terkena tempias hujan. 


Wajahnya sangat tampan, dengan rahang tegas dan tatapan mata yang tenang namun tajam. Auranya sangat dominan dan dingin, tapi tidak ada kesan meremehkan dari sorot matanya.


"Cari siapa malam-malam begini?" tanyanya dengan nada datar yang berat.


"A-aku ... aku mencari Pak Gala," suaraku bergetar parah karena hawa dingin yang menusuk tulang. Kuberanikan diri menyodorkan cincin perak itu ke hadapannya. 


"I-Ibu Tari ... mertuaku, yang menyuruhku ke mari. Beliau baru saja meninggal tadi siang."


Pria itu terdiam. Pandangannya turun, menatap cincin di tanganku lekat-lekat, lalu beralih menatap wajahku yang pucat pasi dan bibirku yang membiru.


Tanpa banyak bicara, ia membuka pintu gerbang lebih lebar, lalu memayungkan payung besarnya tepat di atas kepalaku, membiarkan sebelah bahunya sendiri kehujanan.


"Masuk. Kau bisa sakit kalau terus berdiri di situ," ucapnya tenang, tangannya dengan hati-hati menuntunku masuk melewati gerbang.


Langkahku terhenti sejenak. Di balik tembok ini, terhampar halaman luas dengan deretan mobil mewah dan sebuah rumah bak istana yang benderang. Kakiku lemas melihat kemegahan yang tak masuk akal ini.


"Ini rumah Anda?" tanyaku menatapnya tak percaya. 


"Tapi Ibu Tari, ibu mertuaku hanya wanita miskin yang hidupnya menderita. Bagaimana mungkin beliau menyuruhku ke tempat sebesar ini?"


Langkah pria itu terhenti. Ia menoleh menatapku. Sorot matanya yang dingin kini menyimpan rahasia yang kelam.


"Miskin?" Gala mendengus pelan, menatapku lurus di bawah rintik hujan. 


"Ibu Lestari tidak pernah miskin. Dan asal kau tahu, pria yang baru saja mengusirmu itu bukan anak kandungnya. Akulah putra kandungnya yang asli. Selamat datang di rumah mertuamu yang sesungguhnya, Kinan."


***

"Kamu pasti berpikir Ibu Lestari sudah gila. Rela membiarkan dirinya kelaparan, hidup melarat, dan dihinakan oleh anak angkatnya sendiri, sementara beliau memiliki kerajaan bisnis sebesar ini, bukan?"


Suara bariton Gala memecah keheningan ruang tamu yang luasnya mungkin setara dengan sepuluh kali lipat rumah Mas Danang. 


Kakiku yang beralaskan karpet bulu tebal masih gemetar. Aku duduk sambil meremas secangkir teh hangat yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan berseragam rapi.


Aku menatap pria di hadapanku tak percaya. Pakaian basahku sudah diganti dengan piyama sutra yang entah milik siapa, dan Gala kini duduk di sofa seberangku, menyilangkan kaki dengan aura yang begitu mendominasi.


"M-maksud Bapak, Mas Danang benar-benar hanya anak angkat? Tapi kenapa Ibu Tari menutupi ini semua dariku?" tanyaku dengan suara serak. 


Mataku masih memanas mengingat wajah tanpa dosa suamiku dan Raya saat mengusirku tadi.


Gala meletakkan cangkir kopinya. Sorot mata elangnya menatapku lekat. 


"Dua puluh lima tahun lalu, perebutan kekuasaan di Adiwangsa Group hampir membunuhku. Untuk melindungiku yang saat itu masih bayi, Ibu memalsukan kematiannya dari publik. Beliau hidup di perkampungan kumuh dan mengambil Danang dari kerabat jauh untuk dijadikan tameng."


Napasku tercekat. "Tameng?"


"Ya. Semua musuh keluarga Adiwangsa mengira Danang adalah pewaris yang disembunyikan. Ibu sengaja membesarkannya dalam kemiskinan agar tidak ada yang mencurigainya, sementara aku dibesarkan di luar negeri dengan identitas baru, dilatih untuk merebut kembali semuanya dari balik layar," jelas Gala datar, seolah ia sedang menceritakan dongeng sebelum tidur, bukan sebuah konspirasi gila.


Kepalaku pening. "Jadi, pernikahanku dengan Mas Danang, pengabdianku pada Ibu selama ini, hinaan yang kuterima, semuanya hanya bagian dari kebohongan?"


Ada jeda sejenak. Rahang Gala mengeras, lalu tatapannya yang sedingin es tampak sedikit melunak. Pria itu menyodorkan sekotak tisu ke arahku.


"Ibu tidak pernah berniat menyakitimu, Kinan. Beliau tidak menyangka Danang akan tumbuh menjadi pria rakus, arogan, dan menyiksamu. Saat Ibu tahu Danang berselingkuh dengan Raya, kesehatan Ibu memburuk karena merasa bersalah padamu. Beliau tidak bisa membongkar penyamarannya begitu saja, karena itu berarti membahayakan nyawaku."


Air mataku akhirnya tumpah. Hatiku hancur, namun entah kenapa ada kelegaan aneh mengetahui bahwa ibu mertuaku tidak sungguh-sungguh gila. 


Beliau adalah seorang ibu yang rela membuang kemewahannya demi melindungi nyawa anak kandungnya.


"Lalu kenapa Ibu menyuruhku menemuimu malam ini?" tanyaku sambil mengusap air mata. 


"Kalau Mas Danang sudah mengusirku, bukankah urusanku dengan keluarga kalian sudah selesai?"


Gala tersenyum tipis—senyum yang sangat misterius dan berbahaya. Ia merogoh saku jasnya dan melemparkan sebuah map berlogo garuda ke atas meja kaca di antara kami.


"Karena mulai malam ini, permainan yang sesungguhnya baru dimulai. Dan Ibu menjadikanmu sebagai pemegang kunci utamanya," ucap Gala penuh penekanan.


Aku ragu-ragu meraih map itu. Mataku membelalak saat membaca judul dokumen di dalamnya: Undangan Pembacaan Wasiat Lestari Adiwangsa


"B-buat apa ini?"


"Besok pagi, pengacara utama keluarga Adiwangsa akan mendatangi rumah sempit suamimu. Danang pasti sedang kegirangan, mengira ibunya yang 'miskin' itu mungkin meninggalkan sedikit uang asuransi kematian atau sertifikat rumah kumuh itu untuknya dan selingkuhannya," ucap Gala, nada suaranya berubah dingin dan mengancam.


Gala mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus tepat ke manik mataku hingga aku bisa melihat pantulan diriku yang berantakan di matanya.


"Menangislah sepuasnya malam ini, Kinan. Keluarkan semua rasa sakitmu. Karena besok pagi, saat wasiat dibacakan di depan hidung Danang, bajingan itu dan selingkuhannya yang akan merangkul kakimu sambil menangis darah memohon ampun padamu."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

  "Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan ana...