Kamis, 09 April 2026

Kujual Mobil Istriku untuk Membiayai Pernikahanku dan Selingkuhan, tapi Betapa Kagetnya Aku Ketika Tahu Siapa Sebenarnya Istriku!

 


"Untung saja mobil istri naifku itu laku mahal, Sayang. Kalau tidak, mana bisa kita menggelar resepsi semewah ini untuk merayakan cinta kita?"


Bisikan penuh kebanggaan itu meluncur dari bibir Dimas. Ia tersenyum puas, memandangi dekorasi gedung bertabur kristal dan bunga mawar putih impian selingkuhannya, Rina, yang kini resmi bersanding di sebelahnya di atas pelaminan.


Rina tersipu manja, mengalungkan lengannya ke lengan Dimas. 


"Makasih ya, Mas. Aku janji akan jadi istri yang jauh lebih baik dari perempuan udik itu. Dia pasti sedang sibuk bekerja di luar kota sekarang, mencari uang untuk suaminya yang tampan ini."


Dimas tertawa pelan. "Biarkan saja. Cepat atau lambat aku juga akan menceraikannya setelah semua asetnya—"


BRAAAK!


Suara pintu jati utama gedung yang didorong kasar menghentikan tawa Dimas seketika. Alunan musik romantis mendadak mati. 


Ratusan pasang mata tamu undangan serempak menoleh ke arah pintu masuk.


Di sana, berdiri seorang wanita dengan gaun merah marun yang membalut tubuhnya dengan elegan. Rambutnya ditata rapi, dan wajahnya dipulas riasan tegas yang memancarkan aura dingin yang menusuk.


Langkah sepatu hak tingginya beradu dengan lantai marmer, menggema di tengah keheningan yang tiba-tiba mencekam.


Wajah Dimas pucat pasi. Tubuhnya menegang kaku seolah baru saja disambar petir.


"Mas, itu ... itu bukannya Mbak Kirana?" bisik Rina dengan suara bergetar, meremas lengan Dimas dengan panik.


"Kirana?" Suara Dimas nyaris tak terdengar. Ia menelan ludah dengan susah payah saat wanita itu kini sudah berdiri tepat di bawah panggung pelaminan. 


"Bukannya ... bukannya jadwal dinasmu sampai minggu depan?"


Kirana tersenyum miring. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap dua manusia di atas pelaminan itu dengan pandangan merendahkan.


"Kalau aku tidak pulang lebih awal, aku tidak akan pernah tahu ke mana perginya mobilku, Mas," ucap Kirana dengan suara tenang, namun cukup lantang untuk didengar oleh tamu-tamu di barisan depan. 


"Dan aku juga tidak akan tahu kalau suamiku yang pengangguran ini tiba-tiba punya dana miliaran untuk menyewa gedung bintang lima."


"Kirana, jaga bicaramu!" desis Dimas, setengah turun dari pelaminan dan berusaha menarik tangan istrinya. "Kita bicarakan ini di rumah! Jangan bikin malu di sini. Banyak kolega dan kerabat kita!"


Kirana menepis tangan Dimas dengan kasar. 


"Malu? Orang yang menjual harta istrinya diam-diam demi menikahi benalu bersertifikat seperti dia ..." Kirana menunjuk Rina dengan dagunya, "... masih punya rasa malu?"


Mata Rina berkaca-kaca. "Mbak, tolong jangan hina saya. Mas Dimas berhak bahagia!"


"Bahagia pakai uangku?" Kirana tertawa sinis. 


Sebelum Dimas atau panitia acara sempat bereaksi, Kirana sudah melangkah cepat dan merampas mikrofon dari tangan pembawa acara yang mematung di pinggir panggung.


"Perhatian, Hadirin sekalian!" seru Kirana, suaranya kini menggema ke seluruh penjuru gedung.


Tamu undangan mulai berbisik-bisik riuh. Ibu mertua Dimas yang duduk di meja VIP tampak memegang dadanya, syok berat melihat kehadiran menantunya.


"Turun, Kirana! Turun sekarang atau aku seret kamu keluar!" bentak Dimas dengan wajah memerah menahan amarah dan malu yang luar biasa.


Namun Kirana sama sekali tidak gentar. Ia menatap tajam langsung ke manik mata suaminya, menyunggingkan senyum kemenangan yang membuat bulu kuduk Dimas meremang.


"Silakan nikmati hidangan mewah malam ini, semuanya! Maaf mengganggu waktu makan malam kalian yang disponsori penuh oleh hasil penjualan mobilku," ucap Kirana santai, lalu menatap Dimas yang kini gemetar menahan amarah. 


"Tapi sayangnya, Mas Dimas, kamu terlalu bangga bisa mengelabuiku dan menjual mobil itu, padahal sebenarnya ..."


Kirana menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan yang mencekam menyelimuti seluruh ruangan, lalu berbisik tajam tepat di depan mikrofon.


"Mobil yang baru saja kau jual ke dealer itu adalah ...."


***

Part 2

"... aset operasional kelas VVIP milik Mahendra Jaya Group, Mas! Dan kau, baru saja terekam memalsukan tanda tangan untuk menjual aset perusahaan raksasa itu!"


Keheningan yang mematikan seketika menyergap seluruh penjuru gedung. Beberapa tamu undangan yang merupakan pengusaha tampak melebarkan mata saat mendengar nama konglomerat 'Mahendra Jaya Group' disebut.


Dimas mematung selama beberapa detik sebelum akhirnya memaksakan sebuah tawa sumbang yang terdengar menyedihkan.


"Kau mulai gila ya, Kirana?!" bentak Dimas, menunjuk wajah istrinya dengan tangan gemetar. 


"Sejak kapan perusahaan sebesar itu meminjamkan mobil mewah untuk karyawan rendahan sepertimu? Jangan mengarang cerita hanya karena kau tidak terima aku membuangmu!"


Rina, yang mulai mendapatkan kembali kepercayaan dirinya, ikut tersenyum meremehkan. 


"Benar kata Mas Dimas, Mbak. Kalau Mbak memang sakit hati dan miskin, tidak perlu berhalusinasi di sini. Terima saja kenyataan kalau Mas Dimas sudah muak hidup melarat denganmu!"


"Heh, perempuan tidak tahu diri!"


Sebuah jeritan melengking memecah suasana. Ibu Mertua tiba-tiba sudah menyeruak dari meja VIP, berjalan cepat menghampiri panggung dengan wajah merah padam menahan amarah.


"Sudah untung anakku yang tampan ini mau menikahimu dulu! Bukannya berterima kasih, kau malah datang mengacaukan pestanya!" Ibu Mertua berkacak pinggang, menatap Kirana dengan jijik. 


"Pengawal! Keamanan! Seret perempuan gembel ini keluar dari gedung sekarang juga!"


Namun Kirana sama sekali tidak bergeser dari tempatnya. Ia justru membalas tatapan tajam Ibu Mertua dengan senyum yang sangat manis, namun mematikan.


"Mengusirku, Ibu Mertua? Yakin?" balas Kirana santai, tawanya mengudara dengan merdu namun sarat akan intimidasi. 


"Gedung mewah ini disewa atas namaku. Katering bintang lima yang sedang Ibu Mertua kunyah itu dipesan menggunakan kartu kreditku. Dan tahukah Ibu, baju pengantin bertabur kristal yang dipakai anak kesayanganmu dan selingkuhannya itu, adalah hasil rancangan butik yang tagihannya dialamatkan ke kantorku!"


Mata Dimas mendelik hampir keluar. 


"Tutup mulutmu, Kirana! Jangan memfitnah!"


"Fitnah?" Kirana mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, memperlihatkan layar yang menampilkan deretan mutasi rekening. 


"Silakan cek pesan dari pihak gedung, Mas. Lima menit yang lalu, aku sudah membatalkan semua pembayarannya. Dan dalam hitungan ketiga, manajer gedung ini akan mematikan semua listriknya karena kalian adalah penyusup yang tidak bisa membayar sewa."


Satu ...

Dua ...

Tiga!


Tepat setelah Kirana menyelesaikan hitungannya, lampu gantung kristal raksasa di tengah ruangan mendadak padam. 


Disusul dengan matinya seluruh pencahayaan panggung dan alunan musik. Gedung mewah itu kini hanya diterangi oleh lampu remang-remang dari arah pintu darurat.


Kepanikan langsung melanda para tamu. Ibu Mertua memekik kaget dan mundur beberapa langkah, memegangi dadanya yang berdetak tak karuan.


"Apa-apaan ini?! Nyalakan lampunya!" teriak Dimas panik.


"Tidak ada yang akan menyalakan lampu untuk pencuri, Mas," desis Kirana tajam. "Termasuk polisi yang sudah menunggumu di luar sana."


***


Part 3

Tepat saat kata-kata itu meluncur, suara sirine polisi meraung nyaring dari arah lobi utama gedung. 


Tiga orang petugas berseragam lengkap melangkah masuk, membelah kerumunan tamu yang sibuk berbisik-bisik.


"Permisi, apa benar ini Saudara Dimas?" tanya petugas terdepan dengan suara tegas. 


"Kami mendapat laporan atas tindak pidana pencurian aset dan pemalsuan dokumen dari direksi Mahendra Jaya Group."


Wajah Dimas seketika pucat sepucat mayat. Kakinya lemas hingga ia nyaris tersungkur di atas karpet pelaminan. 


"Pak ... Pak Polisi, ini salah paham! Rina yang menyuruhku menjual mobil itu! Rina yang merencanakannya!"


Rina terkesiap, menatap Dimas dengan raut tak percaya. 


"Mas! Kok kamu jahat banget malah fitnah aku?! Aku sama sekali nggak tahu soal mobil itu!"


Kirana melangkah pelan mendekati pelaminan, menatap dua pengkhianat itu secara bergantian dengan tatapan puas.


"Tentu saja dia akan memfitnahmu untuk menyelamatkan dirinya sendiri, Rina," bisik Kirana, suaranya mengalun dingin. 


"Sama seperti caramu menipu Dimas. Kalian berdua memang pasangan yang sangat serasi."


Rina menelan ludah dengan kasar. 


"Apa ... apa maksudmu?!"


"Sebelum polisi memborgol suamiku, apa kau tidak ingin menyapa tamu VVIP yang baru saja tiba di pintu masuk sana, Rina?" Kirana menunjuk ke arah pintu utama yang baru saja terbuka lebar.


Di sana, berdiri seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal, dikawal oleh dua orang pria berbadan tegap. Wajah pria paruh baya itu merah padam, menatap tajam langsung ke arah Rina di atas pelaminan.


Dimas menoleh kaku.


"R—Rina ... siapa laki-laki tua itu?" tanyanya dengan suara bergetar.


Bibir Rina memutih, seluruh tubuhnya gemetar hebat. 


"Mas, itu ..."


"Silakan sapa dia, Rina," potong Kirana sambil mengangkat mikrofonnya kembali, membiarkan suaranya bergema di tengah keheningan. 


"Atau perlu aku yang mengumumkan ke semua tamu di sini, bahwa pria paruh baya kaya raya yang baru saja datang itu sebenarnya adalah ...."


***


Bersambung.... 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

  "Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan ana...