"Halu kamu sudah melampaui batas, Kirana! Ngarang dari mana kamu bilang hotel mewah ini milik keluargamu? Keluarga miskinmu itu bahkan untuk makan sehari-hari saja harus berutang!"
Tawaku meledak, sengaja kukuatkan untuk menutupi debar jantungku yang mendadak tak karuan.
Aku menatap berkeliling, mencari dukungan dari para tamu undangan kelas atas yang hadir.
"Bapak-Ibu sekalian, maaf atas gangguan kecil ini! Mantan istri saya ini memang sudah kehilangan akal sehatnya setelah saya ceraikan!" seruku lantang.
Bella yang berdiri di pelukanku ikut tertawa. Ia melipat tangan di depan dada, menatap Kirana dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.
"Mas, sudah, panggil satpam saja. Gaun dan perhiasan yang dia pakai itu pasti hasil pinjaman. Kasihan pemilik aslinya pasti sedang mencarinya. Orang miskin memang selalu menghalalkan segala cara untuk caper!"
Namun, tawa kami terhenti ketika melihat Kirana sama sekali tidak tersinggung. Wanita yang dulu selalu menunduk dan menangis jika kubentak itu, kini berdiri tegak dengan dagu terangkat. Tatapannya sedingin es, menusuk langsung ke ulu hatiku.
"Manajer," panggil Kirana pelan, suaranya mengalun tenang tanpa nada tinggi sedikit pun.
Pria paruh baya dengan setelan jas rapi—manajer hotel yang tadi lari terbirit-birit menemuiku—bergegas maju menembus kerumunan tamu.
Namun, bukannya menyeret Kirana keluar seperti yang kuharapkan, manajer itu justru membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan mantan istriku.
Keringat dingin membasahi dahi manajer itu.
"S-selamat datang kembali, Nona Muda Kirana Adijaya. Maafkan kelalaian kami karena tidak menyambut kedatangan Anda dengan layak."
Seketika, seluruh ballroom senyap. Bagaikan disambar petir di siang bolong, tubuhku membeku. Mataku membelalak ngeri melihat pemandangan di depanku.
"M-manajer ... apa-apaan kamu?! Kenapa kamu membungkuk pada wanita udik ini?!" bentakku dengan suara bergetar. "Cepat usir dia!"
Manajer itu menoleh padaku dengan tatapan tajam.
"Tutup mulut Anda, Rendra! Jaga batasan Anda! Beliau adalah pewaris tunggal Adijaya Group, yang artinya, beliau adalah pemilik sah hotel ini, sekaligus pemilik perusahaan tempat Anda bekerja!"
"T-tidak mungkin." Bella memekik tertahan. Wajahnya yang tadi berseri-seri kini sepucat kertas. Ia mundur selangkah, tanpa sadar melepaskan cengkeramannya dari lenganku.
"Adijaya Group?" terdengar bisik-bisik riuh dari para tamu undangan.
"Pantas saja auranya sangat berbeda."
"Jadi selama ini Rendra yang menumpang hidup pada pewaris Adijaya?"
Wajahku terasa panas, seolah baru saja ditampar bolak-balik di depan ratusan orang. Aku menatap Kirana dengan napas memburu.
Tiga tahun ... tiga tahun dia menyembunyikan identitas aslinya dariku dan rela kuperlakukan layaknya pembantu rendahan? Kenapa?!
Kirana melangkah maju dengan anggun. Setiap ketukan sepatu hak tingginya di atas lantai marmer seolah menjadi palu godam yang menghancurkan harga diriku. Ia berhenti tepat satu meter di depanku.
"Terkejut, Rendra?" Kirana memiringkan kepalanya sedikit, tersenyum sinis. "Selama tiga tahun aku merendahkan diriku, menyembunyikan identitasku hanya untuk melihat apakah kamu benar-benar pria tulus atau sekadar benalu yang haus harta. Dan tebakanku benar. Begitu kamu mendapat posisi manajer berkat campur tangan rahasiaku, kamu langsung membuangku ke selokan."
"K-Kirana, aku ..." Tenggorokanku tercekat. Aku ingin menyangkal, tapi tubuhku tak bisa berhenti gemetar.
Fakta bahwa posisiku yang kubanggakan selama ini adalah berkat wanita yang kuanggap tak berguna ini benar-benar menghancurkan akal sehatku.
Kirana menatapku tajam. Ia mengulurkan tangannya, dan seorang pengawal langsung menyerahkan sebuah map berlogo perusahaan ke tangannya.
Kirana melemparkan map itu tepat ke dadaku hingga jatuh berserakan di atas karpet merah.
"Simpan wajah memelasmu itu, Rendra. Mulai detik ini, kamu resmi saya pecat dengan tidak hormat dari Adijaya Group!"
***
Bab 3
"Jangan lupa denda ganti rugi untuk pemakaian hotel ini sebesar 2 miliyar."
"Dua miliar?! Kamu benar-benar sudah gila, Kirana! Uang tabunganku saja sudah habis terkuras untuk membelikan gaun dan perhiasan Bella! Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam semalam?!"
Suaraku pecah, setengah berteriak dalam kepanikan luar biasa. Mataku menatap nanar pada lembaran surat pemecatan yang kini berserakan di atas karpet merah.
Ruangan yang dipenuhi ratusan tamu elit itu kini berdengung oleh tawa tertahan dan cemoohan. Tatapan kagum yang sejak tadi mengarah padaku kini berubah menjadi tatapan jijik.
"Papa! Lakukan sesuatu! Jangan biarkan perempuan ini menghina kita!" rengek Bella histeris. Ia menarik-narik lengan jas pria paruh baya bertubuh tambun yang sejak tadi duduk di kursi VIP.
Pak Kusuma, ayah Bella yang selalu kubanggakan sebagai sosok berkuasa, akhirnya bangkit. Wajahnya memerah padam menahan amarah.
Dengan langkah angkuh, ia maju dan berdiri menantang tepat di hadapan Kirana.
"Jaga sikapmu, Nona! Saya tidak peduli siapa kamu! Saya Kusuma, Direktur Utama PT. Gemilang! Berani-beraninya kamu mengacaukan pernikahan putriku dan mempermalukan menantuku! Manajer, panggil polisi sekarang juga dan seret dia dengan tuduhan pencemaran nama baik!" bentak Pak Kusuma lantang, telunjuknya mengarah tajam ke wajah Kirana.
Alih-alih gentar, Kirana hanya menatap telunjuk itu dengan raut bosan. Ia lalu menoleh perlahan pada asisten pribadinya yang berdiri tegap di sampingnya.
"PT. Gemilang?" tanya Kirana dengan nada meremehkan.
"Benar, Nona Muda," jawab sang asisten dengan suara yang sengaja dikeraskan agar menggema ke seluruh ruangan. "Itu adalah salah satu anak perusahaan kecil kita di bawah naungan Adijaya Group divisi logistik."
Seketika, atmosfer di ruangan itu membeku.
Wajah arogan Pak Kusuma yang tadinya merah padam kini berubah sepucat mayat. Tangannya yang menunjuk wajah Kirana perlahan turun, bergemetar hebat seolah baru saja disengat listrik.
"A-anak perusahaan ... Adijaya Group?"
"Ah, jadi Anda Direktur anak perusahaan saya yang laporan keuangannya selalu merosot itu?" Kirana tersenyum manis, namun sorot matanya setajam silet.
"Pantas saja perusahaan Anda nyaris bangkrut. Rupanya Direktur Utamanya lebih sibuk menghamburkan uang untuk mendanai pesta pernikahan menantu benalu, daripada mengurus bisnis."
Bella menjerit tertahan. "Papa! Kenapa diam saja?! Bicaralah, Pa! Usir dia!"
Namun, pemandangan selanjutnya sukses membuat lututku kehilangan tulang.
Pak Kusuma, ayah mertua yang selama ini kupuja-puja kekayaan dan kekuasaannya, tiba-tiba menjatuhkan diri hingga lututnya menghantam lantai marmer tepat di depan ujung sepatu Kirana.
"N-Nona Kirana, m-maafkan kelancangan mulut saya. Saya sungguh tidak tahu kalau Rendra ... saya tidak tahu," ratap Pak Kusuma dengan suara serak, mengiba layaknya pecundang.
"Papa! Apa-apaan ini?! Kenapa Papa berlutut pada mantan istri Rendra?!" jerit Bella sambil berusaha menarik lengan ayahnya, namun ditepis kasar oleh Pak Kusuma.
Aku mundur beberapa langkah sambil memegangi kepalaku yang terasa mau pecah. Nafasku memburu.
Dunia di sekelilingku seakan runtuh tak tersisa.
Jadi, ayah Bella yang kubanggakan pun, yang selama ini kujadikan alasan untuk menceraikan Kirana, hanya sebutir debu di bawah telapak kaki mantan istriku?
Kirana menatap dingin ke arah kami bertiga secara bergantian. Ia menyunggingkan senyum kemenangan, lalu mengambil ponsel dari tangan asistennya.
"Cabut jabatan Kusuma dari kursi Direktur detik ini juga dan bekukan seluruh aset PT. Gemilang tanpa sisa. Dan untuk sepasang pengantin baru yang malang ini, silakan nikmati kemeriahan pesta kalian, karena kalian berdua tidak akan bisa keluar dari gedung ini sebelum tagihan dua miliar itu lunas hingga ke perak terakhir!"
***
Bersambung...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar