"Mbak Sherina? Udah selesai belum mandiin Mas Sagaranya?" Suara Zeya yang dibuat-buat manis terdengar dari balik pintu kamar.
Aku segera menyeka air mata, menarik napas dalam-dalam untuk menormalkan ekspresi wajahku, lalu membuka pintu.
Zeya berdiri di sana, sudah wangi dan berdandan rapi dengan tas bermerek di lengannya. Di belakangnya, Ibu mertuaku memakai gamis sutera baru, lehernya penuh kalung emas yang bertumpuk.
"Ada apa, Zeya? Ibu mau ke mana rapi sekali?" tanyaku dengan senyum lembut yang kupaksakan.
"Ini, Nak Sherina." Ibu mertuaku mengibaskan kipas lipatnya dengan gaya angkuh yang berusaha ditutupi senyum palsu. "Ibu sama Zeya pamit ke toko emas Koh Aseng di depan kecamatan sebentar, ya. Mau ambil pesanan gelang emas Ibu. Uang bulanan yang kamu transfer kemarin kan sisa sedikit, Ibu pakai buat investasi, nggak apa-apa, kan?"
Investasi matamu, batinku muak. Uang tiga puluh juta yang kukirim minggu lalu mereka bilang sisa sedikit?
"Oh, silakan, Bu," jawabku dengan nada seringan kapas, sangat sopan. "Pakai saja kartunya. Sekalian Zeya kalau mau beli perhiasan atau skincare, gesek saja. Hari ini, beli semua yang Ibu dan Zeya mau."
Mata Zeya langsung berbinar serakah. "Wah, beneran, Mbak?! Makasih ya, Mbak Sherina emang kakak ipar paling the best!"
Mereka berdua berjalan melenggang keluar rumah dengan tawa renyah, meninggalkanku yang menatap punggung mereka dengan senyum seringai yang mengerikan.
Silakan bersenang-senang, parasit. Nikmati pertunjukannya.
***
Empat puluh lima menit kemudian, di Toko Emas 'Sinar Jaya' yang selalu ramai oleh ibu-ibu sosialita desa, Ibu mertuaku berdiri dengan dagu terangkat tinggi di depan etalase kaca. Zeya sibuk merekam ibunya dengan ponsel.
Di atas etalase beludru merah, tergeletak dua gelang emas keroncong seberat lima puluh gram dan sebuah kalung liontin berlian.
"Totalnya jadi empat puluh delapan juta ya, Bu Lastri," ucap Koh Aseng sambil tersenyum ramah, menyerahkan mesin EDC. "Luar biasa memang menantunya yang di Dubai itu, rajin sekali kirim uang."
"Oh, jelas dong, Koh. Menantu saya itu tahu balas budi," sahut Ibu mertuaku dengan tawa sombong yang sengaja dikeraskan agar ibu-ibu lain mendengarnya.
Ibu mertuaku mengeluarkan kartu ATM Platinum atas namaku yang selama ini ia pegang dari dompetnya, lalu menyerahkannya dengan gaya ala nyonya besar.
Koh Aseng menggesek kartu tersebut.
Layar mesin loading sejenak, lalu mengeluarkan bunyi bip panjang. Kening Koh Aseng berkerut.
"Sebentar, Bu. Sinyalnya mungkin." Ia menggeseknya lagi.
Layar mesin EDC menampilkan tulisan merah yang berkedip. Koh Aseng menatap Ibu mertuaku dengan raut wajah canggung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf, Bu Lastri, tapi di layar tulisannya transaksi ditolak. Kartu Ibu diblokir."
Suasana toko yang tadinya riuh mendadak hening. Ibu-ibu yang sedang memilih perhiasan serempak menoleh.
Wajah Ibu mertuaku yang tadinya berseri-seri, kini memerah padam menahan malu. Zeya buru-buru menurunkan ponselnya.
"Blokir apanya sih, Koh?!" teriak Ibu mertuaku melengking, menggebrak etalase kaca hingga Koh Aseng terlonjak.
"Coba gesek sekali lagi pakai mesin yang benar! Saldo menantuku itu isinya ratusan juta, nggak mungkin ditolak! Mesinmu yang rongsokan atau kamu sengaja mau mempermalukan kami di depan orang satu kecamatan, hah?!"
***
Bersambung...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar