Rabu, 08 April 2026

Ibuku Menampar Istriku dan Melemparinya dengan Sampah. Kubongkar Identitasku Sebenarnya! Aku Tidak Miskin, Aku Adalah...

 



"Makan ini, perempuan tidak tahu diuntung! Sampah memang pantasnya berserakan bersama sampah!"


PLAK!


Suara tamparan itu menggema nyaring di ruang tengah kontrakan kami yang sempit, disusul oleh suara sobekan kantong plastik hitam. 


Sisa sayur basi, ampas kopi, dan kulit buah yang membusuk tumpah ruah, mengguyur tubuh istriku, Nisa, yang langsung tersungkur di lantai.


Aku baru saja membuka pintu depan. Jantungku serasa berhenti berdetak. Tas ransel lusuhku terlepas begitu saja dari bahu, jatuh berdebum di lantai. 


Amarah langsung mendidih hingga ke ubun-ubun melihat pemandangan di depanku. 


Ibu kandungku sendiri berdiri berkacak pinggang, menatap sinis pada Nisa yang kini meringkuk bergetar dengan pakaian basah dan berbau menyengat.


"IBU! APA-APAAN INI?!" teriakku dengan suara menggelegar, membuat kaca nako jendela kontrakan kami sampai bergetar.


Aku melangkah lebar, langsung berdiri menjadi tameng di depan Nisa. Kutepis kasar tangan Ibu yang hendak menunjuk-nunjuk istriku lagi.


"Bagus kamu pulang, Dirga!" Ibu mencibir tajam, tak merasa bersalah sedikit pun. "Lihat istri parasitmu ini! Dia berani—"


"Cukup, Bu!" bentakku, urat di leherku sampai menonjol menahan emosi. "Aku banting tulang siang malam, dan ini perlakuan Ibu pada istriku?! Istri yang merawatku saat aku sakit keras dan rela hidup susah memakan nasi dengan garam bersamaku?!"


"Dia cuma perempuan miskin yang mau numpang hidup!" balas Ibu tak kalah sengit.


"Kalau begitu keluar dari rumahku sekarang, Bu! Keluar!" Aku menunjuk ke arah pintu yang terbuka lebar. Mataku menatap tajam wanita yang melahirkanku itu. 


"Jangan pernah sentuh Nisa seujung kuku pun lagi, atau Ibu akan menyesal!"


Ibu tertawa meremehkan. 


"Menyesal? Kamu mengusir ibu kandungmu demi perempuan melarat di gubuk ini? Cih! Nikmati saja hidup susah kalian selamanya!"


Dengan langkah angkuh, Ibu melenggang pergi, membanting pintu dengan sangat keras.

Keheningan yang menyesakkan dada langsung mengambil alih. 


Aku menghela napas panjang. Perlahan, aku membalikkan badan, berniat memeluk Nisa untuk menenangkannya.


Namun, Nisa justru merangkak mundur dengan tergesa-gesa. Tubuhnya bergetar semakin hebat. Matanya membelalak lebar, menatapku dengan ketakutan setengah mati. Wajahnya pias seolah baru saja melihat hantu.


Langkahku terhenti. Aku mengernyit bingung, sampai akhirnya aku menyadari arah pandangan matanya.


Nisa tidak menatap wajahku. Matanya terkunci pada benda pipih yang baru saja kukeluarkan dari saku celanaku secara refleks karena bergetar. 


Itu bukan ponsel Android layar retak yang biasa kugunakan untuk melamar kerja. 


Itu adalah ponsel satelit hitam pekat edisi terbatas, dengan lambang elang emas di bagian belakangnya—lambang penguasa bisnis nomor satu di negara ini.


Di depan mata Nisa yang membulat sempurna, aku mengangkat panggilan itu. 


Suaraku yang biasanya hangat dan lembut, seketika berubah menjadi sedingin es, sarat akan otoritas mutlak yang mematikan.


"Cabut semua fasilitas Ibuku," ucapku datar dan tanpa ampun. "Bekukan seluruh rekeningnya, tarik semua aset dan mobilnya. Pastikan malam ini juga, dia dan keluarga angkuhnya tidur di jalanan tanpa uang sepeser pun."


Aku mematikan sambungan secara sepihak, memasukkan kembali ponsel mewah itu ke dalam sakuku, lalu menatap Nisa yang kini menahan napas. 


Ilusi kehidupan sederhananya baru saja hancur berantakan. 


Pria di hadapannya bukan lagi kurir bergaji pas-pasan yang sering dihina tetangga. 


Aura dominan dan mengintimidasi yang menguar dari tubuhku membuat udara di ruangan sempit ini seakan habis tak tersisa.


Aku melangkah maju, berlutut di hadapannya, tak peduli pada lantai yang kotor.


"M-Mas, k-kamu ..." Suara Nisa bergetar hebat, air matanya menetes saking takutnya dengan perubahan auraku yang sangat drastis. 


"Kamu ... siapa sebenarnya?"


Aku mengusap lembut sisa air mata di pipinya dengan ibu jariku, menatapnya dengan senyum tipis yang penuh misteri.


"Jangan takut padaku, Sayang. Maafkan sandiwaraku selama ini," bisikku lembut, mencondongkan wajahku ke dekat telinganya. 


"Karena sebenarnya, pria yang selama ini makan nasi berkuah air putih bersamamu adalah ...."


***


Bab 2


"... Aku adalah pemilik tunggal Dirgantara Group. Pria yang memegang kendali atas separuh perputaran ekonomi di negara ini, dan pria yang baru saja membuang ibu kandungnya sendiri ke jalanan demi dirimu."


Nisa terbelalak. Napasnya seakan dirampas paksa dari paru-parunya. Mata bulatnya menatapku tanpa berkedip, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kesungguhan yang absolut.


"D-Dirgantara Group?" suara Nisa nyaris berupa bisikan yang tertiup angin. Tubuhnya masih bergetar di atas lantai yang kotor. 


"Perusahaan raksasa tempat Mas ... tempat Mas menangis karena ditolak melamar kerja sebagai kurir minggu lalu?"


Aku memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang yang terasa berat. 


"Maafkan aku, Sayang. Penolakan itu, tangisan itu ... semuanya hanya sandiwara."


"Sandiwara?" Nisa menepis tanganku yang hendak menyentuh pipinya. Ada kilat kekecewaan yang kini bercampur dengan ketakutannya. 


"Jadi selama dua tahun pernikahan kita, kemiskinan kita, beras yang harus kita bagi dua, cibiran tetangga, dan semua hinaan Ibumu itu semua cuma main-main buat Mas?!"


Aku menggeleng tegas. Kuraih kedua bahunya meski ia memberontak kecil. Bau menyengat dari sisa sampah rumah tangga yang menempel di bajunya sama sekali tidak menggangguku. 


Bagiku, dia tetap berlian yang paling berharga.


"Bukan main-main, Nisa. Aku sedang mencari ketulusan yang tidak bisa dibeli oleh harta keluargaku," ucapku menatap tepat di manik matanya yang berkaca-kaca. 


"Dulu, setiap perempuan yang mendekatiku hanya menginginkan uang dan posisiku. Keluargaku, termasuk Ibu kandungku sendiri, hanya menilaiku dari seberapa banyak aset yang bisa kuberikan untuk mereka."


Aku mengusap rambut Nisa yang lengket oleh kuah sayur basi, menyingkirkannya dari wajah cantiknya yang pucat.


"Lalu aku bertemu denganmu. Perempuan luar biasa yang rela makan nasi dengan garam bersamaku saat aku berpura-pura bangkrut dan diusir dari rumah. Perempuan yang rela bekerja dari pagi sampai malam hanya untuk membelikanku obat saat aku pura-pura sakit keras. Aku menyembunyikan identitasku karena aku ingin memastikan, bahwa perempuan yang akan mendampingiku di puncak kejayaan nanti, adalah perempuan yang sudi menemaniku di titik paling hancur."


Air mata Nisa akhirnya luruh menderas. Antara lega, syok, dan perasaan dikhianati yang campur aduk. 


"Tapi Ibumu ... Ibumu selalu menyiksaku, Mas. Dia selalu datang ke kontrakan ini dan menghinaku saat kamu pergi."


Rahangku mengeras. Rasa bersalah menghantam dadaku bertubi-tubi. Itulah satu-satunya penyesalanku. 


Aku terlalu sibuk mengatur perusahaan dari balik layar hingga kecolongan membiarkan wanita tua yang gila harta itu menyentuh milikku.


"Itu tidak akan pernah terjadi lagi," desisku tajam. "Mulai detik ini, tidak ada satu orang pun yang berani merendahkanmu. Kita tinggalkan tempat kotor ini sekarang."


Aku bangkit, berniat menggendong Nisa. Namun, tiba-tiba ponsel Android lusuh di saku kemejaku berdering nyaring.


Nama 'Ibu' tertera di layar yang retak itu.


Aku menyeringai dingin. Kubuka panggilan itu dan sengaja menekan tombol pengeras suara agar Nisa bisa mendengar semuanya.


"Dirga!! Apa yang sebenarnya terjadi, hah?!" 


uara jeritan Ibu terdengar melengking, penuh kepanikan dan histeria dari seberang sana. 


"Kenapa tiba-tiba semua kartu kredit Ibu diblokir?! Kenapa puluhan pengawal berjas hitam mengusir Ibu dari rumah mewah Ibu sendiri?! Mereka bilang semua aset ditarik paksa oleh Pemilik Utama! Cepat hubungi kenalanmu di kantor pusat, cari tahu siapa yang berani melakukan ini pada Nyonya Besar Dirgantara!"


Nisa menahan napas, menatapku dengan mata membulat. Ia bisa mendengar jelas suara sirine dan keributan di latar belakang telepon Ibu.


Aku menatap Nisa dengan lembut, lalu mendekatkan bibirku ke arah ponsel. Suaraku kini terdengar tenang, namun mematikan.


"Tidak perlu mencari tahu, Nyonya. Karena pria yang baru saja menyita rumah mewahmu dan membekukan seluruh hartamu, adalah anak kandung yang baru saja kau hina di kontrakan kumuh ini."


"A-apa?! Dirga, apa maksud—"


"Itu adalah harga yang sangat murah untuk satu tamparan dan sekantong sampah yang kau lemparkan pada istriku," potongku tanpa belas kasihan. "Bersiaplah menikmati dinginnya jalanan malam ini, karena penderitaanmu yang sesungguhnya baru akan kumulai besok pagi."


Aku mematikan sambungan itu sepihak. Menatap istriku yang masih terpaku tak percaya, aku mengulurkan tanganku padanya dengan senyum paling menawan.


"Sekarang, mari kita pulang ke istana kita yang sesungguhnya, Nyonya Besar Dirgantara."


***


Bersambung.... 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

  "Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan ana...