Kamis, 30 April 2026

(3) Kujebak Suami dan Mertuaku untuk membalikkan Aset menjadiAtas Namaku. Lagipula Aset itu pakai Uangku. Setelah Namanya Berbalik, akan Kuceraikan Suamiku dan....

 


"Coba saja! Semua rekening itu atas namaku, Naira! Begitu aku telepon pihak bank sekarang juga, kartuku akan aktif lagi dan kamu yang akan mengemis memohon ampun padaku!"


Jari Arya bergerak brutal di atas layar ponselnya, membuka aplikasi mobile banking dengan napas memburu. 


Namun, sedetik kemudian, wajahnya yang tadi merah padam menahan marah seketika berubah pasi. Ponsel di tangannya nyaris terlepas.


"S-saldoku ... mana saldoku yang delapan ratus juta?! Naira! Apa yang kau lakukan pada uangku?!" jerit Arya histeris. Ia menatap layar ponselnya tak percaya. 


Sisa saldonya hanya tertulis lima puluh ribu rupiah.


Aku melangkah pelan mendekatinya, mengetukkan kuku-kuku jariku yang berpoles merah elegan ke atas meja kaca.


"Uangmu? Mas, sadarlah. Itu uang dari usahaku yang kupercayakan padamu untuk diputar. Karena kau tak becus dan malah memutarnya ke kasur pelakor, wajar kan kalau kutarik paksa kembali ke rekening induk perusahaanku?Mas Arya sepertinya lupa, otoritas pemindahan dana di atas lima ratus juta butuh persetujuan dan token dariku selaku pemilik dana utama."


"Kamu merampok anakku! Dasar wanita serakah, istri durhaka!" Ibu mertua tiba-tiba maju, menunjuk tepat di depan hidungku. Urat-urat di leher rentanya menonjol keluar. 


"Arya, jangan diam saja! Pukul dia! Seret dia keluar dari rumah ini! Berani-beraninya dia merendahkan suami sendiri!"


Arya yang sudah tersulut emosi dan kepanikan, mengepalkan tinjunya dan melangkah maju ke arahku. 


"Kamu benar-benar sudah kelewatan, Naira!"


Plak!


Bukan tangan Arya yang mengenai pipiku, melainkan tamparanku yang lebih dulu mendarat telak di wajahnya. 


Suara tamparan itu menggema nyaring di ruang tamu yang luas, membuat langkah Arya terhenti seketika. Ia memegang pipinya yang memerah, matanya terbelalak tak percaya.


"Satu langkah lagi Mas Arya berani menyentuhku, video perselingkuhanmu dan Maya ini akan viral di grup direksi kantormu malam ini juga!" ancamku dengan suara rendah, tajam, dan penuh penekanan. 


Aku mengangkat ponselku yang sudah siap menekan tombol 'kirim'. 


"Kita lihat, apa direktur utamamu itu masih mau mempertahankan manajer hidung belang yang karirnya dibangun dari mengemis uang istri."


Arya menelan ludah. Nyalinya seketika menguap. Ia tahu betul aku tidak pernah main-main dengan ucapanku.


"Waktu kalian lima belas menit untuk berkemas. Keluar dari rumahku, atau satpam komplek yang akan menyeret kalian berdua beserta koper-koper kalian," titahku tak terbantahkan.


Ibu mertua mulai menangis meraung-raung, mengutukiku dengan segala sumpah serapah. 


Namun, melihat Arya yang akhirnya tertunduk kalah dan mulai berjalan gontai ke arah kamar, wanita tua itu terpaksa mengikutinya sambil menghentakkan kaki.


***


Lima belas menit kemudian, mereka kembali ke ruang tamu. Arya menyeret dua koper besar, sementara Ibu mertua menenteng tas branded kesayangannya sambil memakai mantel bulu mahal dan kalung berlian yang menempel di lehernya.


Melihat itu, aku tersenyum sinis. Aku berjalan menghampiri Ibu mertua, lalu dengan gerakan cepat merampas tas tangan keluaran Paris itu dari genggamannya.


"Hei! Apa-apaan kamu, Naira?! Ini tasku!" jerit Ibu mertua panik.


"Tas Ibu? Coba ingat-ingat lagi, siapa yang menggesek kartunya saat Ibu merengek minta dibelikan tas ini bulan lalu?" Aku membalikkan tas itu, lalu menatap leher dan lengannya. 


"Kalung berlian. Gelang emas. Mantel bulu ini. Semuanya kubeli pakai uangku. Lepaskan semuanya sekarang, atau kumasukkan kalian ke penjara dengan tuduhan pencurian aset!"


"Naira, kamu gila?! Masa ibuku harus keluar tanpa memakai perhiasannya?! Kamu mau mempermalukan keluargaku?!" protes Arya tak terima.


"Keluarga mana yang kamu maksud, Mas? Keluarga parasit?" balasku telak. "Lepas. Sekarang."


Dengan tangan gemetar dan air mata penghinaan yang menetes, Ibu mertua terpaksa melepaskan kalung, gelang, dan mantel mewahnya. Ia melemparnya ke lantai dengan kasar. 


"Puas kamu, wanita ib ... wanita kejam?! Arya itu laki-laki mapan! Tanpamu, banyak wanita muda yang antre jadi istrinya! Si Maya itu jauh lebih cantik, lebih muda, dan lebih penurut daripadamu!"


"Oh ya?" Aku tertawa kecil, melipat kedua tanganku di dada. "Kalau begitu, silakan suruh Maya yang cantik dan penurut itu membiayai perawatan salon mingguan Ibu, obat asam urat Ibu yang mahal, dan gaya hidup Ibu yang sok sosialita ini. Aku jamin, besok pagi juga Maya akan membuang kalian ke tempat sampah."


Aku menendang koper Arya ke arah pintu luar. "Dan Mas Arya, tinggalkan kunci mobil di meja. Pergilah jalan kaki atau naik angkot. Silakan rasakan dunia nyata tanpa uangku."


***



(8) Suamiku Meminjam Uang 300 Juta. Karena Penasaran untuk Apa uangnya dipakai, Aku Pulang ke Rumah. Dan Betapa Marahnya saat Kulihat Suamiku Ternyata...Suamiku Meminjam Uang 300 Juta. Karena Penasaran untuk Apa uangnya dipakai, Aku Pulang ke Rumah. Dan Betapa Marahnya saat Kulihat Suamiku Ternyata...

 


"Tanda tangani surat tagihan denda pembatalan ini sekarang juga, atau bersiaplah tidur di balik jeruji besi malam ini atas tuduhan penipuan!"


Suara bariton yang menggema di teras sebuah minimarket 24 jam itu membuat Mas Retno terlonjak. Kopi seduh di tangannya tumpah membasahi celana kainnya yang sudah kusut masai. 


Di depannya, tiga pria tegap berjas rapi berdiri menutupi cahaya lampu jalan, menatapnya dengan sorot mata yang sangat mengintimidasi.


Ibu mertuaku yang sedang meringkuk kedinginan beralaskan kardus bekas di sudut teras, langsung menjerit tertahan dan bergegas bersembunyi di balik punggung putranya.


"T-tunggu dulu, Pak! Ini pasti ada yang salah!" Mas Retno berdiri dengan kaki gemetar, menerima map merah yang disodorkan pria di tengah. Matanya membelalak sempurna saat melihat deretan angka nol di lembar tagihan itu. 


"Denda pembatalan venue dan ganti rugi vendor, lima ratus juta?! Pak, saya pengangguran, saya tidak punya uang sebanyak ini! Tagih saja ke istri saya, Refi! Tagih ke rumahnya, dia pasti punya uang!"


Pria berjas yang merupakan ketua tim legal itu tertawa pelan. Tawa merendahkan yang membuat nyali Mas Retno semakin menciut ke dasar bumi.


"Istri Anda yang bernama Ibu Refi? Sayang sekali, Bapak Retno," ucap pria itu dengan senyum sinis yang mematikan. 


"Justru beliau sendiri yang menandatangani surat perintah penagihan ini sore tadi. Lagipula, mana mungkin pemilik sah dan komisaris utama hotel bintang lima kami sudi membayarkan denda untuk penyewa miskin yang berniat menipu seperti Anda?"


Deg.


Jantung Mas Retno seolah berhenti berdetak detik itu juga. Wajahnya yang sudah pucat kini pias tak tersisa darah sedikit pun. 


"P-pemilik sah? Komisaris utama? Kalian pasti salah orang! Istri saya cuma perempuan biasa yang jualan daster keliling!"


"Jaga mulut Anda!" bentak salah satu pria tegap itu, membuat Mas Retno mundur ketakutan hingga punggungnya menabrak tiang besi. 


"Pakaian yang Anda hina sebagai daster itu adalah brand fashion lokal ternama yang omzetnya miliaran rupiah per bulan! Sekarang, bayar denda ini atau kami panggil mobil polisi detik ini juga!"


Sementara itu, di balik dinding kaca lantai dua rumahku yang hangat, aku menatap gemerlap lampu kota sambil memutar gelas kaca berisi jus jeruk di tanganku. 


Laporan langsung dari tim legal hotel baru saja masuk ke ponselku, menyertakan foto mantan suamiku yang kini duduk menangis sesenggukan di aspal jalanan, memohon belas kasihan.


Rasa puas perlahan menjalar di dadaku. Bertahun-tahun aku merendah, menekan egoku demi menjaga harga diri seorang laki-laki yang ternyata hanya benalu tak tahu diri. 


Kini, biarkan takdir yang menamparnya keras-keras, mengajarinya penyesalan karena telah membuang berlian demi memungut batu kerikil.


Layar ponselku menyala, menampilkan panggilan dari Rina, asistenku.


"Tim kita sudah menyudutkannya di jalanan, Bu Refi," lapor Rina dengan nada lugas. 


"Pria itu menangis histeris. Dia bahkan bersumpah akan melakukan pekerjaan rendahan apa pun asal tidak dipenjara malam ini karena dia harus menghidupi ibunya. Apa kita serahkan saja dia ke pihak berwajib agar urusannya cepat selesai?"


Aku tersenyum tipis, menatap pantulan diriku yang begitu berkuasa di kaca jendela malam ini.


"Jangan biarkan dia masuk penjara secepat itu, Rina. Penjara terlalu nyaman untuk pengkhianat sepertinya. Bawa dia ke hotel besok pagi, biarkan mantan suamiku itu melunasi utang setengah miliarnya dengan memungut sampah dan menyikat toilet di tempat yang dulu sangat ia banggakan."


***



(6) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


"Zea? Nama samaran yang sangat bagus. Sayangnya, telingaku masih berfungsi dengan sangat baik saat kudengar pria berjaket kulit itu memanggilmu Siska di ujung gang semalam!"

Wajah wanita berdandan tebal itu pucat pasi seketika. Lipstik merah meronanya seakan tak mampu menyembunyikan bibirnya yang tiba-tiba gemetar. 

Matanya membelalak, menatapku seolah aku baru saja membongkar dosa terbesarnya di siang bolong.

"K-kamu ... kamu tahu dari mana soal Riko?!" cicitnya. Suaranya yang tadi mendayu manja kini berubah serak dan diselimuti kepanikan. Ia melangkah mundur hingga punggungnya menabrak pintu lemari es.

Aku tersenyum miring, melangkah maju memangkas jarak agar suaraku tak terdengar sampai ke luar dapur.

"Hidup ini tidak seluas yang kamu bayangkan, Siska. Riko itu mekanik di bengkel langgananku. Jadi, bagaimana kalau sekarang aku meneleponnya dan memberitahu bahwa calon istrinya sedang mencari mangsa di rumah pria beristri dengan alasan hamil palsu?" ancamku dingin, sambil merogoh ponsel dari saku celanaku.

"Jangan, Mas! Ku-kumohon, jangan beritahu Riko!" Siska refleks mencengkeram lenganku, matanya berkaca-kaca dipenuhi ketakutan yang nyata. 

"Dia bisa membatalkan pernikahan kami kalau tahu aku menerima tawaran dari ibumu ini! Aku butuh uangnya untuk tambahan sewa gedung bulan depan, Mas!"

Aku menepis tangannya. Rasa muak semakin memenuhi rongga dadaku. 

Demi membiayai pernikahannya sendiri, wanita ini rela disewa untuk menghancurkan rumah tangga orang lain dan menyiksa batin istriku.

"Berapa banyak uang yang ibuku janjikan padamu?" tanyaku tajam.

"Dua puluh juta, Mas. Tapi aku baru dibayar lima juta di awal," lirihnya sambil menunduk dalam.

"Aku akan membayarmu tiga kali lipat dari jumlah itu," putusku cepat, membuat Siska seketika mendongak dengan mata berbinar tak percaya. 

"Tapi dengan satu syarat mutlak."

"A-apa syaratnya, Mas? Aku janji akan lakukan apa saja, asal Mas tidak memberitahu Riko!"

"Jadilah sekutuku di rumah ini," bisikku penuh penekanan. 

"Tetaplah berpura-pura menjadi menantu idaman ibu mertuaku. Turuti semua sandiwaranya, tapi laporkan setiap detail rencananya padaku sebelum kalian bertindak. Jika kau berani berkhianat satu langkah saja, aku pastikan Riko akan menjemputmu di rumah ini malam itu juga."

***


(3) Aku Pura-Pura Pergi ke Luar Negera tapi Betapa Kagetnya Aku Saat Mendapati Istriku....

 




Dimas, pengacaraku yang sudah menemaniku sejak awal merintis perusahaan, tersenyum tipis sambil menyesap kopinya di sudut kafe remang ini. 

"Tenang saja, Pak Gavin. Perangkap sudah saya siapkan. Mereka tidak hanya akan miskin, tapi juga terjerat hukum. Surat kuasa pengalihan aset yang diberikan istri Anda kepada ibunya itu penuh celah manipulasi. Begitu kita laporkan dengan bukti rekaman CCTV dan rekam jejak transfer, mereka akan dituduh melakukan penipuan dan penggelapan terencana."

Aku mengangguk puas. Dendam ini tidak akan terbayar hanya dengan perceraian. Pengkhianatan mereka terlalu dalam, mengoyak harga diriku hingga tak bersisa.

Selama seminggu penuh, aku bersembunyi di sebuah apartemen kecil milik Dimas, memantau pergerakan mereka melalui kamera tersembunyi yang diam-diam kupasang di berbagai sudut rumah dan kantorku. 

Aku mengamati dengan muak bagaimana Alina dan mertuaku berpesta pora di rumahku sendiri, menggunakan uang yang selama ini kukirimkan dengan keringat dan air mata.

Bahkan Ardan, tak ragu datang ke rumahku saat malam tiba, bermesraan dengan istriku di atas rumah yang kubeli dengan hasil jerih payahku.

Setiap kali melihat mereka, rasanya aku ingin segera pulang dan mencekik mereka satu per satu. Namun, aku harus bersabar. Aku harus mengumpulkan semua bukti hingga tak terbantahkan.

Tepat seminggu setelah aku pura-pura berangkat ke Amsterdam, rencanaku mulai berjalan.

***

Pagi itu, melalui layar monitor di apartemen Dimas, aku melihat kepanikan melanda rumahku. Alina berteriak histeris menatap layar ponselnya, sementara ibu mertuaku tampak kebingungan dengan setumpuk tagihan kartu kredit di tangannya.

"Ini tidak mungkin! Kenapa semua kartu kredit ini declined? Dan kenapa sisa saldo di rekeningku hanya ratusan ribu?!" teriak Alina, suaranya melengking menembus speaker monitorku.

"Ada apa, Nak? Bukankah Gavin baru saja mentransfer seratus juta minggu lalu?" sahut ibunya panik.

"Itu sudah habis untuk membayar cicilan mobil baru ibu dan perhiasan yang kita beli kemarin! Harusnya hari ini Mas Gavin transfer lagi untuk biaya persalinan VVIP-ku!" Alina membanting ponselnya ke sofa. 

"Aku harus menelepon Ardan. Dia pasti bisa meminjamkan uang dulu."

Aku tersenyum sinis. Sayangnya, rencana mereka tak akan semudah itu.

Tak lama, Ardan muncul di rumahku dengan wajah pucat pasi. Penampilannya yang biasa rapi kini terlihat kusut masai.

"Ada apa denganmu, Sayang? Kenapa wajahmu panik begitu?" tanya Alina, mendekati Ardan dengan wajah cemas.

Ardan mengusap wajahnya dengan kasar. 

"Proyek kita hancur berantakan, Al. Gavin tiba-tiba menarik semua suntikan dananya tanpa pemberitahuan. Perusahaanku diambang kebangkrutan, dan aku terancam dilaporkan ke polisi atas tuduhan penggelapan dana oleh investor lain karena uangnya sudah kupakai untuk menutupi kerugian."

Alina mematung. Wajah cantiknya seketika pucat pasi. 

"Lalu bagaimana dengan biaya persalinanku? Dan hutang-hutang kita?"

Aku tertawa pelan, menyaksikan pertunjukan drama komedi yang lebih memuaskan daripada film mana pun. Mereka mulai menyadari bahwa jaring laba-laba yang mereka tenun sendiri kini menjerat leher mereka.

Saatnya untuk langkah selanjutnya.

Kuhubungi nomor ponsel Alina, yang sejak kemarin sengaja kuabaikan panggilannya.

"Halo, Mas! Kamu ke mana saja?! Kenapa semua kartuku diblokir dan kenapa kamu menarik dana dari proyek Ardan?!" teriak Alina langsung tanpa basa-basi, begitu panggilan tersambung.

Aku mengatur napasku, menekan segala amarah dan kekecewaan, lalu berbicara dengan nada sedingin es.

"Oh, halo, Sayang. Maaf, aku terlalu sibuk mengurus kepulanganku besok. Aku sengaja memblokir semua kartu dan menarik dana itu karena aku sudah menyiapkan kejutan luar biasa untuk kalian bertiga." 

Aku memberi jeda dramatis, menikmati keheningan yang mencekam dari ujung telepon sana. 

"Siapkan dirimu dan selingkuhanmu itu, Alina, karena saat aku menginjakkan kaki di rumah besok, bersiaplah menyambut neraka yang sudah kalian pesan sendiri."

***



(12) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


"Silakan angkat kakimu dari propertiku sekarang juga, Rendi. Fasilitas mewahmu memang sudah kutarik, tapi aku berbaik hati menyisakan satu hal untukmu; rincian tagihan utang miliaran rupiah yang mulai besok pagi akan ditagih secara resmi oleh pihak bank ke alamat rumah orang tuamu."


Ucapanku mengudara dengan tenang, namun ketegasannya mampu meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria di hadapanku.


Rendi seketika memucat, kakinya gemetar hingga tak sanggup lagi berdiri tegak. Ia mencoba membuka mulut untuk memohon kelonggaran, namun aku sudah lebih dulu memalingkan wajah. 


Tanpa perlu disuruh dua kali, petugas keamanan perumahan segera menggiring Rendi keluar dari halaman. Tidak ada kekerasan, hanya ketegasan hukum yang kini menunggunya di luar sana.


Di atas rumput halaman, Mbak Rini masih duduk bersimpuh dengan tatapan kosong. 


Dunianya baru saja runtuh. Pria yang ia puja dan ia biayai dengan utang miliaran itu ternyata membuangnya begitu saja saat hartanya ludes. Ilusi cinta yang ia banggakan hancur berkeping-keping di depan mata istriku.


"Waktu istirahat Anda sudah habis, Rini. Kembali ke dapur, masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan," suara Galen terdengar sopan namun tegas, memecah lamunan kosong kakakku.


Dengan langkah gontai dan air mata penyesalan yang mengalir dalam diam, Mbak Rini menyeret kakinya kembali ke dalam rumah. Ia tak lagi punya tenaga untuk melawan. Keserakahannya sendirilah yang telah menjatuhkannya ke titik terendah ini.


Malam pun perlahan turun menyelimuti kawasan townhouse eksklusif itu. Di dalam kamar utama yang bernuansa hangat, aku duduk di tepi ranjang, memandangi wajah damai Bintang yang sudah terlelap. 


Sari mengusap punggung putra kami dengan penuh kasih sayang, senyum lega tak pernah lepas dari bibirnya.


"Mas," bisik Sari perlahan, menatapku dengan mata yang berbinar lembut. "Terima kasih untuk hari ini. Melihat Bintang bisa tidur setenang ini, rasanya bebanku selama enam tahun ikut menghilang."


Aku menunduk, mengecup keningnya lama dengan penuh kelembutan. 


"Kamu dan Bintang berhak mendapatkan ketenangan ini, Sayang. Tugasku sekarang hanya memastikan kalian aman."


Setelah memastikan keduanya tertidur lelap, aku bangkit dan berjalan menuju ruang kerjaku di lantai satu. Suasana rumah sangat sepi, namun ketenangan itu terusik saat Galen masuk ke ruanganku membawa sebuah tablet.


"Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Pak Danu," ucap Galen seraya meletakkan tabletnya di atas meja kerjaku. 


"Sistem CCTV rumah kita menangkap aktivitas yang cukup mengkhawatirkan dari kamar asisten rumah tangga."


Aku menautkan alis. "Aktivitas apa?"


Galen menyentuh layar tabletnya. Di sana, terlihat Ibuku sedang duduk menyudut di dekat lemari pakaian. Ia memegang sebuah ponsel pintar, yang sepertinya ia pinjam secara diam-diam dari salah satu tukang kebun kami sore tadi.


Ibuku sedang merekam dirinya sendiri. Ia sengaja mengacak-acak rambutnya, mengoleskan sedikit debu ke pipinya agar terlihat sangat berantakan, lalu mulai menangis tersedu-sedu menghadap kamera ponsel.


"Tolong saya, siapa pun yang melihat video ini, tolong viralkan. Nama saya Maryam, saya diusir dari rumah saya sendiri dan dipaksa menjadi babu oleh menantu saya, Sari. Dia merampas semua hasil kerja keras anak laki-laki saya dan membiarkan saya yang sudah tua renta ini kelaparan di ruang sempit. Tolong, menantu durhaka itu benar-benar menyiksa batin saya ..."


Suara tangisan palsu Ibuku terdengar begitu meyakinkan. Sebuah narasi "mertua dizalimi menantu" yang sangat mudah memancing amarah netizen jika diunggah ke media sosial.


Galen menatapku dengan tenang. 


"Beliau bersiap mengirimkan video ini ke beberapa akun gosip besar malam ini juga, Pak. Narasi fitnah seperti ini bisa merusak nama baik Nyonya Sari di mata publik. Haruskah saya menyita ponsel itu sekarang sebelum videonya tersebar?"


Aku menatap layar tablet itu dalam diam. Rasa kecewa kembali menyelimuti hatiku. 


Ternyata, Ibuku belum juga menyadari kesalahannya dan malah mencoba memfitnah istriku. Aku menghela napas panjang, lalu menatap Galen dengan sorot mata yang tenang dan terukur.


"Biarkan saja Ibu menekan tombol kirim dan merasa menang malam ini, Galen. Karena beliau sama sekali tidak tahu, bahwa kamera keamanan kita telah merekam dengan kualitas HD bagaimana beliau berlatih memalsukan tangisannya dari awal, dan video di balik layar itulah yang akan kita rilis besok pagi sebagai bukti pencemaran nama baik."


***



(7) Kukurung Istriku di Dalam Mobil Saat Mau Menikah dengan Selingkuhanku. Tapi Betapa Kgetny Aku saat Istriku Muncul dengan....

 


"Singkirkan tangan kasarmu dari lenganku, Gembel! Kalau saja aku tahu kau hanyalah benalu miskin yang menumpang hidup pada Nona Muda Adhitama, aku tidak akan pernah sudi merusak masa depanku untukmu!"


Jeritan Aurel menggema tajam, memantul di dinding koridor VVIP yang dingin. Wanita yang kemarin malam memamerkan senyum angkuh di depan meja akad itu kini menepis tanganku dengan kasar. 


Wajah cantiknya berkerut penuh amarah, air matanya luntur mencetak garis hitam di pipinya yang pucat.


Aku terkesiap. Rasanya seperti ditampar godam tak kasat mata. 


"Aurel Sayang, jaga bicaramu. Aku ini pria yang hampir menjadi suamimu—"


"Suami?!" potong Aurel dengan tawa sumbang yang melengking. 


"Kau pikir aku mau bersuamikan tukang pel yang menanggung utang ratusan miliar? Gara-gara bualan manismu itu, ayahku jatuh bangkrut dan aku harus berlutut memegang kain kotor ini!"


Aurel tiba-tiba mengangkat gagang pel di tangannya dan menghempaskannya dengan kasar ke arahku. Aku menghindar, membuat gagang kayu itu berdebam keras menghantam dinding marmer.


Aku menatapnya nanar. Ke mana perginya Aurel yang anggun, manja, dan selalu merayuku dengan kata-kata memabukkan? 


Di hadapanku kini hanyalah seorang wanita rapuh yang egois dan meledak-ledak. Begitu aslinya terungkap saat hartanya lenyap, karakternya terasa sangat kontras dengan sosok yang berdiri tak jauh dari kami.


Aku perlahan memutar kepala, menatap Zea. Mantan istriku itu berdiri mematung dengan postur sempurna. Wajahnya setenang telaga, senyum tipisnya memancarkan keanggunan seorang penguasa yang sedang menonton pertunjukan badut di kerajaannya sendiri. 


Tidak ada amarah yang meledak, tidak ada makian kasar. Hanya dengan tatapan diam, Zea berhasil membuatku dan Aurel saling menghancurkan satu sama lain.


"Pertunjukan yang sangat menghibur," ucap Zea pelan, memecah ketegangan di antara kami. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap kami bergantian dengan sorot penuh kemenangan. 


"Tapi sayangnya, aku tidak menggaji kalian untuk menyuguhkan drama murahan di jam kerjaku."


Arkan melangkah maju, memposisikan diri di samping Zea dengan wajah sedingin es. 


"Kalian berdua punya waktu sepuluh menit untuk membersihkan koridor ini. Jika lantai ini belum berkilau saat Nona Muda kembali dari ruang rapat, bersiaplah menghabiskan malam ini terkunci di gudang logistik tanpa pendingin ruangan."


Tubuhku bergetar hebat. Ancaman Arkan bukanlah gertakan kosong. Pria itu punya wewenang absolut di bawah perintah Zea. 


Dengan tergesa-gesa, aku kembali memungut lapku yang jatuh, menunduk dalam, dan mulai menggosok noda di lantai dengan sisa-sisa tenaga. 


Aku menggigit bibir kuat-kuat menahan luapan emosi saat melihat Aurel, dengan tangan bergetar dan isak tangis tertahan, akhirnya ikut berlutut di sampingku dan mulai mengepel dengan gerakan kaku.


Kami berdua, sepasang pengkhianat yang bermimpi menguasai kekayaan, kini berlutut berdampingan di bawah kaki wanita yang dulu kami injak-injak harga dirinya.


Zea membalikkan badannya yang ramping, bersiap melangkah pergi bersama pengawal setianya. 


Sepatu hak tingginya berdetak pelan menyusuri koridor, namun setiap gema langkahnya seakan menjadi palu yang meremukkan sisa kewarasanku.


Namun, tepat sebelum ia berbelok menuju pintu ganda ruang rapat, Zea menghentikan langkahnya. Ia menoleh dari balik bahu. Mata elangnya menatap tajam lurus ke arah Aurel yang wajahnya masih sembab oleh air mata.


"Menangislah sepuasmu, Aurel. Tapi pastikan kau menggosok lantai itu dengan sangat hati-hati. Kau harus bekerja ekstra keras dan menjaga kesehatan mulai sekarang, bukan? Terutama untuk memberi makan bayi malang yang baru dua minggu bersembunyi di dalam rahimmu itu, yang kelak saat lahir ke dunia, hanya bisa memanggil seorang tukang pel miskin sebagai ayahnya."


***



Rabu, 29 April 2026

Kujebak Suami dan Mertuaku untuk membalikkan Aset menjadiAtas Namaku. Lagipula Aset itu pakai Uangku. Setelah Namanya Berbalik, akan Kuceraikan Suamiku dan....

 


"Tanda tangani surat balik nama ini sekarang, Mas. Kalau dana investor miliaran itu cair dengan syarat jaminan aset harus atas namaku, aku janji besok pagi juga mobil mewah yang Ibu mertua impikan sudah terparkir manis di garasi kita."


Mata suamiku, Arya, tampak ragu menatap map berisi sertifikat rumah, deretan ruko, dan tanah yang disodorkan notaris di hadapan kami. 


Namun, kilatan serakah langsung terpancar jelas dari sepasang mata tua di sebelahnya.


"Tunggu apa lagi, Arya? Cepat tanda tangani!" desak Ibu mertua tak sabar sambil menyikut lengan putranya. 


"Kapan lagi istrimu ini bisa diandalkan? Toh, ini demi kelancaran proyek barumu juga, kan? Biar dia yang pusing urus utang ke investor, kamu tinggal nikmati untungnya."


Aku menunduk, menggigit bibir bagian dalam untuk menyembunyikan senyum sinis yang hampir meledak.


Mereka pikir aku masih wanita lugu yang rela diperas keringatnya demi menghidupi parasit berkedok keluarga? 


Mereka lupa, seluruh aset yang selama ini tertulis atas nama Arya itu dibeli murni menggunakan uang tabunganku dan hasil kerja kerasku sendiri! 


Dulu aku terlalu buta oleh cinta hingga membiarkan semuanya memakai nama suamiku sebagai "bentuk penghormatan".


Aku baru tahu kebusukan mereka minggu lalu. Saat aku membongkar laci kerja Arya dan menemukan bukti transfer serta tagihan perhiasan puluhan juta atas nama wanita lain. 


Yang lebih menjijikkan, Ibu mertua ternyata tahu segalanya! Wanita tua itu dengan sadar bersekongkol menyembunyikan perselingkuhan anaknya. 


Pantas saja setiap akhir pekan ia selalu sibuk memintaku menemaninya arisan atau belanja seharian, dengan alasan agar Arya bisa fokus 'dinas luar kota'.


Dinas luar kota apanya? Suamiku asyik bersama pelakor tidak tahu malu itu menggunakan uang hasil keringatku!


"Kamu yakin ini aman, Naira? Tidak ada risiko buat namaku ke depannya?" tanya Arya, masih memutar-mutar pena di tangannya dengan bimbang.


"Tentu saja aman, Mas. Aku ini istrimu, mana mungkin aku menjerumuskanmu?" balasku dengan nada selembut sutra, padahal di dalam hati aku sedang mengasah pisau imajiner untuk memotong urat nadinya. 


"Lagi pula, kalau suntikan dana ini gagal masuk, kita bisa bangkrut. Mas Arya tidak mau kan, selingk ... eh, maksudku, rekan-rekan bisnis Mas kecewa berat?"


Mendengar ancaman kebangkrutan, tangan Arya langsung bergerak cepat membubuhkan tanda tangan di atas meterai. 


Disusul oleh coretan persetujuan Ibu mertua sebagai saksi dengan wajah berbinar-binar membayangkan mobil Eropa keluaran terbaru.


Selesai. Hak milik itu kini kembali padaku. Sepenuhnya. Sah di mata hukum.


Notaris membereskan berkas-berkas tersebut, menstempelnya, dan menyerahkan salinan resminya ke tanganku. Kuusap pelan map cokelat itu. Akhirnya, senjataku sudah kembali.


"Nah, urusannya sudah beres, kan?" dengus Arya sambil menyandarkan punggungnya ke sofa dengan gaya angkuh, merasa dirinya memegang kendali. 


"Jangan lupa janjimu, Naira. Besok Ibu mau lihat mobil itu datang. Jangan sampai aku malu."


Aku perlahan berdiri dari kursi. Memasukkan map sakti itu ke dalam tasku, menutup resletingnya rapat-rapat, lalu merapikan tatanan pakaianku dengan elegan. Sandiwara ini sudah selesai.


"Pasti, Mas. Aku selalu menepati janji," ucapku, berjalan mendekat hingga jarak kami hanya tersisa beberapa jengkal. 


Aku menatap wajah suamiku dan Ibu mertua bergantian dengan senyuman tajam yang tak lagi kuberi sekat.


"Tapi sebelum itu ..."


"Tapi apa lagi, sih?!" potong Ibu mertua ketus.


"Tolong sampaikan salam hangatku pada Maya," ucapku dengan suara tenang namun menggema di seluruh ruangan, memastikan setiap suku kata menancap tepat di jantung Arya yang seketika memucat pasi. 


"Beri tahu wanita simpananmu itu untuk segera mengepak barang-barangnya sekarang juga. Karena mulai besok, apartemen mewah tempat kalian berselingkuh itu, akan kujual beserta isinya."


***

Bab 2

"Maya? M-Maya siapa yang kamu maksud, Naira? Jangan gila kamu, menuduh suamimu sendiri tanpa bukti di depan orang lain begini!" suara Arya bergetar hebat. 


Wajahnya yang beberapa detik lalu tampak angkuh kini memucat layaknya mayat hidup, sementara keringat dingin mulai merembes di pelipisnya.


Aku tertawa sumbang. Tawa yang mengiris, hampa, namun penuh kemenangan. Notaris yang sedari tadi merasa atmosfer ruangan berubah mencekam, dengan cepat berpamitan dan melangkah keluar, meninggalkan kami bertiga dalam keheningan yang mematikan.


Begitu pintu tertutup, Ibu mertua langsung menggebrak meja kaca di depannya. Matanya mendelik tajam, rahangnya mengeras.


"Sembarangan kamu menuduh anakku, Naira! Istri macam apa kamu ini? Suami sudah banting tulang memikirkan proyek sampai kurang tidur, kamu malah memfitnahnya selingkuh! Jangan mengada-ada hanya karena kamu merasa sudah memegang aset-aset itu!" bentaknya dengan suara melengking.


Aku menoleh pelan, menatap wanita tua yang selama bertahun-tahun kuhormati layaknya ibu kandungku sendiri. 


Dulu, setiap kali ia memarahiku karena hal sepele, aku selalu menunduk meminta maaf. Tapi hari ini, Naira yang bodoh itu sudah mati.


"Banting tulang atau banting ranjang, Bu?" balasku telak, nadaku dingin dan datar.


"Jaga mulutmu, Naira!" Arya maju selangkah, mengangkat tangannya seolah hendak menamparku.


Namun, sebelum tangannya menyentuh wajahku, aku merogoh ke dalam tas jinjingku dan melemparkan sebuah amplop cokelat tebal ke dada Arya. 


Amplop itu jatuh berhamburan di lantai, memperlihatkan puluhan lembar foto dan cetakan mutasi rekening.


Mata Arya terbelalak sempurna. Ibu mertua yang berniat memungutnya ikut mematung saat melihat gambar-gambar itu. 


Foto Arya sedang memeluk mesra seorang wanita muda bernama Maya di lobi apartemen, foto mereka makan malam romantis, hingga bukti transfer ratusan juta untuk pembelian tas bermerek atas nama wanita itu. 


Semuanya tercetak jelas. Tanpa sensor. Tanpa bisa disangkal.


"Kamu pikir aku buta? Kalian pikir aku tuli?" Aku melangkah maju, memangkas jarak hingga punggung Arya membentur ujung sofa. 


"Selama ini aku menutup mata setiap kali Mas Arya bilang uang proyek tertunda. Aku diam saat Ibu mertua meminta uang jajan tambahan berjuta-juta yang ternyata dipakai untuk menutupi jejak kalian! Kalian berdua berkomplot menjadikanku mesin pencetak uang demi menghidupi wanita murahan itu!"


Ibu mertua menelan ludah dengan susah payah. Bibirnya bergetar, mencoba mencari pembelaan. 


"N-Naira, itu ... itu salah paham. Maya itu cuma ..."


"Cuma apa? Cuma rekan bisnis yang kebetulan minta dibelikan perhiasan berlian seharga lima puluh juta?" potongku tajam.


Arya kini tak bisa lagi berkutik. Bahunya merosot. Kepanikannya berubah menjadi kemarahan karena kedoknya terbongkar. Ia menatap nanar ke arah tasku yang berisi dokumen aset. Matanya kembali berkilat liar.


"Kembalikan map itu, Naira! Perjanjian balik nama tadi batal! Kamu menjebakku!" Arya mencondongkan tubuhnya, berusaha merebut tas dari tanganku.


Dengan sigap aku mundur, menepis tangannya dengan kasar. 


"Batal? Mas Arya sepertinya lupa, tanda tangan di atas meterai di depan notaris berkekuatan hukum tetap. Semua rumah, ruko, tanah, dan uang di rekening yang sebelumnya kau kuasai, secara hukum sudah kembali menjadi milikku!"


"Kamu keterlaluan, Naira! Kembalikan hak suamimu!" jerit Ibu mertua histeris, wajahnya memerah menahan amarah yang meledak-ledak. Ia maju hendak menarik rambutku, tapi aku menatapnya dengan tatapan membunuh yang membuat nyalinya seketika ciut.


"Keterlaluan? Bukankah Ibu mertua yang mengajariku cara bermain cantik dengan sangat elegan?" Aku tersenyum sinis, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah mewah ini. 


"Oh, dan asal kalian tahu, dana investor miliaran yang kujanjikan tadi? Itu tidak pernah ada. Itu cuma umpan manis agar tikus-tikus rakus seperti kalian masuk perangkap."


Arya jatuh terduduk di sofa. Kakinya seolah tak lagi mampu menopang berat badannya. Hancur sudah semua angannya tentang kebebasan dan kekayaan.


"Kamu kejam sekali, Naira," desis Arya, menatapku penuh kebencian. "Kamu pikir dengan mengambil aset ini, aku akan memohon padamu? Silakan ambil! Aku bisa pergi dengan Maya sekarang juga! Kami akan hidup bahagia tanpa wanita sombong sepertimu!"


Aku berjalan menuju pintu utama, membuka lebar-lebar pintu mahoni tersebut hingga angin luar berembus masuk, lalu menatap suamiku dengan senyum meremehkan.


"Silakan lari ke pelukan pelakor itu, Mas. Tapi sebelum angkat kaki dari rumahku, tolong letakkan kunci mobil dan dompetmu di atas meja. Kartu kredit dan ATM-mu sudah kublokir sejak tadi pagi," ucapku santai, lalu menoleh menatap wanita tua yang kini gemetar di sudut ruangan. 


"Oh, dan semoga Ibu mertua betah menumpang di apartemen sempit sewaan Maya. Itu pun kalau pelakor miskin itu masih sudi menampung anak kebanggaan Ibu yang sekarang resmi jadi gembel."


***



(7) Suamiku Meminjam Uang 300 Juta. Karena Penasaran untuk Apa uangnya dipakai, Aku Pulang ke Rumah. Dan Betapa Marahnya saat Kulihat Suamiku Ternyata...Suamiku Meminjam Uang 300 Juta. Karena Penasaran untuk Apa uangnya dipakai, Aku Pulang ke Rumah. Dan Betapa Marahnya saat Kulihat Suamiku Ternyata...

 


"Buka pagarnya, Refi! Aku rela berlutut memohon ampun di aspal panas ini asalkan kamu mau menyelamatkan Mas dari jeratan utang ratusan juta ini! Mas mengaku salah, Refi!" raung Mas Retno.


Suara gedoran keras di pagar besi rumahku bersahutan dengan tangisan histeris Ibu mertuaku di trotoar. 


Laki-laki yang baru beberapa menit lalu menatapku dengan penuh kesombongan, kini tak ubahnya seperti anak kecil yang kehilangan arah, memohon belas kasihan.


Aku berdiri di balik teralis pagar, menatapnya dengan raut wajah datar tanpa emosi. 


"Minta tolonglah pada ego dan harga dirimu yang setinggi langit itu, Mas. Bukankah kamu mau membuktikan bisa menginjak-injak harga diriku dengan gajimu sendiri? Oh, maaf, aku lupa kamu baru saja dipecat tidak hormat."


Tanpa memedulikan raungannya yang semakin putus asa, aku membalikkan badan dan melangkah elegan memasuki rumah. 


Kukunci pintu utama rapat-rapat, mengisolasi semua drama dari luar. Udara sejuk dari pendingin ruangan menyambutku, perlahan melunturkan sisa-sisa penat di pundakku.


Aku berjalan menuju dapur, menyeduh secangkir teh hangat, lalu duduk bersandar di sofa ruang keluarga. 


Kutatap sekeliling rumahku yang bersih dan tenang. 


Bertahun-tahun aku menyembunyikan identitasku yang sebenarnya demi menjaga perasaan seorang suami yang bahkan tidak tahu cara menghargai kesetiaan.


Tiba-tiba, suara dering telepon dari tablet kerjaku memecah keheningan. Layarnya menampilkan nama kontak eksklusif yang hanya kuhubungi untuk urusan bisnis berskala besar.


Kusentuh tombol hijau di layar. 


"Ya, Pak Handoko? Ada laporan apa siang ini?"


"Selamat siang, Bu Refi," sapa suara bariton yang berat dan profesional dari seberang sana. 


"Maaf mengganggu waktu istirahat Ibu. Ini mengenai reservasi Grand Ballroom untuk acara resepsi atas nama Retno pada akhir pekan ini."


Aku menyesap tehku perlahan, tersenyum miring. 


"Ada masalah dengan pria penipu itu?"


"Tepat sekali, Bu. Pria itu baru saja menelepon resepsionis kami. Sambil menangis terisak, dia memohon penundaan pembayaran denda pembatalan sepihak dan memaksa agar seluruh tagihan tersebut dikirim ke alamat rumah Ibu, mengklaim bahwa Ibu yang akan melunasinya. Sesuai instruksi awal, kami menahan prosesnya sementara. Apa yang harus kami lakukan terhadap pria ini?"


Tawaku tak tertahan lagi. Mas Retno benar-benar manusia tidak tahu malu. 


Setelah hancur lebur dan ketahuan berselingkuh, ia masih berani memakai namaku sebagai tameng untuk lari dari utang vendor hotelnya.


Kutaruh cangkir tehku di atas meja kaca, menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang menyala tajam. Kemenangan ini harus dieksekusi dengan sangat sempurna.


"Tolak mentah-mentah permintaannya, Pak Handoko. Kirimkan surat penagihan denda maksimal beserta tim legal kita ke alamat mana pun dia bersembunyi malam ini," ucapku dengan nada dingin yang mematikan. 


"Dan pastikan tim penagih kita membisikkan satu fakta kecil ini ke telinganya saat dia menangis ketakutan nanti, beri tahu laki-laki angkuh itu bahwa pemilik sah hotel bintang lima tempatnya berutang saat ini, adalah aku."


***



(5) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


"K-kamera pengawas? Kamu ... sejak kapan kamu mengawasi ibumu sendiri di rumah ini?!" desis Ibu dengan mata membelalak sempurna, wajahnya yang tadi angkuh mendadak pias tanpa darah.


Aku tersenyum tipis, menatap lurus ke dalam manik mata wanita yang telah melahirkanku itu. 


"Sejak aku merasa ada yang aneh dengan hilangnya bumbu dapur istriku setiap subuh, Bu," bisikku tak kalah pelan, memastikan wanita asing di samping Ibu tidak mendengar percakapan kami. 


"Jadi, nikmatilah masa menginap tamu Ibu ini. Selama Ibu dan dia tidak mengganggu istriku lebih jauh, rekaman itu akan aman di tanganku."


Aku menarik diri, membiarkan Ibu mematung dengan napas tertahan. Keringat dingin mulai sebesar biji jagung menetes di pelipisnya. Keangkuhan yang sejak tadi ia pamerkan runtuh dalam hitungan detik.


"Tante ... eh, Ibu? Ada apa?" tanya wanita bergaun ketat itu dengan kening berkerut bingung melihat perubahan drastis pada raut wajah Ibu.


"T-tidak apa-apa. Ayo, Ibu antar kamu ke kamar tamu. Kamu ... kamu istirahat saja dulu di sana," jawab Ibu terbata-bata. 


Beliau bahkan tidak berani menatap mataku saat menarik koper wanita itu dan bergegas pergi dari ruang tamu, seolah lari dari tatapan tajamku.


Begitu punggung mereka menghilang di balik pintu kamar tamu, aku segera menuntun Fitri menuju kamar kami. 


Tepat saat pintu tertutup, pertahanan Fitri runtuh. Tangis yang sejak tadi ditahannya kembali pecah. Istriku terduduk lemas di tepi ranjang, menyembunyikan wajah di kedua telapak tangannya.


"Fit ... hei, tatap Mas," ujarku lembut, berlutut di hadapannya dan menggenggam kedua tangannya yang sedingin es.


"Mas, hatiku sakit sekali," isak Fitri pilu, menatapku dengan mata yang memerah dan sembab. 


"Ibu tidak hanya terus menyalahkan masakanku, tapi Ibu juga membawa wanita lain ke rumah ini. Apa kesalahanku, Mas? Kalau memang aku belum bisa memberimu keturunan, apa harus sekejam ini Ibu mencoba menggantikanku?"


Hatiku mencelos mendengarnya. Simpatiku pada Fitri semakin dalam. 


Wanita sebaik dan setulus ini, yang selalu mengorbankan waktu istirahatnya untuk menyenangkan hati mertuanya, justru dibalas dengan fitnah yang mengiris hati.


"Dengarkan Mas baik-baik. Dia bukan siapa-siapa, dan anak yang ia bicarakan itu jelas bukan anak Mas," tegasku seraya menghapus sisa air mata di pipinya. 


"Mas sengaja membiarkan dia tinggal di sini sementara waktu, karena Mas sudah punya rencana untuk membongkar semua sandiwara ini tepat di depan mata Ibu sendiri. Kamu percaya sama Mas, kan?"


Fitri menatap mataku lekat-lekat, mencari keyakinan di sana. 


Perlahan, ia mengangguk pelan, meski gurat kesedihan dan ketakutan masih tercetak jelas di wajah cantiknya. 


Aku memeluknya erat, berjanji dalam hati akan membalas air mata istriku dengan cara yang paling elegan.


Sore harinya, aku sengaja bersikap biasa saja. Menjelang magrib, aku melihat celah dari pintu kamarku yang sedikit terbuka. 


Wanita itu, yang sempat kudengar Ibu panggil dengan nama Zea, tampak keluar dari kamar tamu sendirian menuju arah dapur. 


Ibu sendiri sedang mandi. Ini kesempatanku.


Aku melangkah santai menyusulnya, sengaja membuat langkah kakiku terdengar jelas. 


Zea yang sedang sibuk merapikan riasan wajahnya melalui pantulan kaca lemari es, terperanjat kaget melihat kehadiranku. 


Sedetik kemudian, raut wajah manja dan memelasnya seketika kembali terpasang.


"Mas Putra, kamu mau buatkan aku minum ya?" sapanya dengan senyuman menggoda yang dibuat-buat, perlahan melangkah mendekatiku.


Aku tidak mundur, hanya melipat kedua tangan di depan dada. Menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan menguliti, membuat langkah wanita itu terhenti seketika.


"Berapa Ibu membayarmu untuk menyewa perut palsu dan alat tes kehamilan itu, Zea? Karena kurasa, pria berjaket kulit yang semalam mengantarmu sampai ke ujung gang depan, akan sangat marah kalau tahu calon istrinya berani mengaku hamil anak laki-laki lain di rumah ini."


***



Aku Pura-Pura Pergi ke Luar Negera tapi Betapa Kagetnya Aku Saat Mendapati Istriku....


 

"Transfer seratus juta lagi hari ini, Mas. Kalau kamu masih mau melihatku di rumah ini saat kamu pulang dari Eropa nanti, kirim uangnya sekarang juga!"


Itu adalah pesan suara terakhir dari istriku, Alina, sebelum aku mematikan ponsel dan mencabut kartu SIM-ku. 


Aku tidak sedang berada di kabin pesawat menuju Amsterdam seperti yang kukatakan padanya. 


Saat ini, aku sedang duduk mematung di dalam mobil sewaan berkaca gelap, terparkir hanya lima puluh meter dari gerbang rumah mewah yang kubeli dengan keringat darahku sendiri.


Beberapa bulan terakhir, Alina berubah drastis. Dia yang dulunya lembut tiba-tiba menjadi lintah darat dalam pernikahan kami.


Alasan ibunya sakit parah, investasi butik teman yang butuh suntikan dana, hingga sumbangan panti asuhan, semua menjadi tameng untuk menguras rekeningku hingga hampir setengah miliar. 


Sesuatu terasa sangat salah. Instingku sebagai suami mengatakan ada kebingkai kebohongan besar yang sedang dia tutupi.


Benar saja. Tidak sampai setengah jam setelah penerbanganku seharusnya lepas landas, gerbang rumahku terbuka. 


Alina keluar, tidak dengan raut sedih melepas suami yang pergi jauh, melainkan dengan riasan paripurna. Ia mengenakan dress ketat berwarna maroon, lalu masuk ke dalam taksi online.


Tanpa membuang waktu, kuinjak pedal gas, membuntutinya dalam jarak aman.


Taksi itu membelah jalanan ibu kota, lalu berbelok dan berhenti di pelataran sebuah rumah sakit ibu dan anak VVIP yang sangat eksklusif. 


Jantungku berdesir hebat. Rumah sakit kandungan? Untuk apa Alina ke mari?


Aku turun, menarik kerah jaketku, memakai topi serta masker, lalu mengikutinya mengendap-endap masuk ke area lobi VIP. 


Dari balik pilar marmer yang besar, mataku menangkap siluet istriku sedang duduk di ruang tunggu. Tak lama, seorang pria dengan kemeja navy berjalan cepat menghampirinya.


Napasku nyaris putus saat mengenali wajah pria itu.


Ardan. Sahabatku sejak bangku kuliah sekaligus rekan bisnis yang paling kupercayai untuk menjaga perusahaanku selama aku dinas luar kota.


Duniaku seakan runtuh seketika saat melihat tangan Ardan dengan luwes melingkari pinggang Alina dari belakang. 


Dan yang membuat kewarasanku menguap tanpa sisa adalah ketika di balik dress ketat itu, perut istriku terlihat membuncit tegas, setidaknya sudah memasuki usia kehamilan lima bulan.


Ternyata dia menyembunyikannya di balik korset selama aku pulang kemarin dan menolak disentuh olehku. 


Kakiku lemas, pandanganku berkunang-kunang. 


Hamil? Bagaimana mungkin dia hamil, sementara selama hampir setengah tahun terakhir aku sibuk mengurus proyek di pedalaman dan kami sama sekali tidak pernah berhubungan suami istri?


Kuremas pinggiran pilar dengan tangan gemetar hebat. Darahku mendidih. 


Kuarahkan kamera ponselku, menahan sesak di dada demi merekam pemandangan menjijikkan di depan mata. 


Terekam jelas Ardan mengelus perut buncit itu dengan tatapan penuh puja, sementara Alina menyandarkan kepalanya manja di dada sahabatku.


Samar-samar, dari jarakku berdiri, sebuah kalimat meluncur begitu saja dari mulut Ardan, menembus telingaku bagai belati beracun.


"Kapan kamu mau menguras habis aset si pria bodoh itu dan minta cerai? Aku sudah tidak sabar menyambut jagoan kita lahir ke dunia tanpa perlu bersembunyi lagi, Sayang."


***

Bab 2

"Tahan sebentar, Mas Ardan. Begitu sertifikat rumah utama kita dan seluruh deretan mobil mewah itu sah beralih ke nama ibuku bulan depan, kita akan mencampakkan pria bodoh itu tanpa tersisa sepeser pun."


Kalimat yang meluncur dari bibir Alina itu bagaikan godam yang menghantam ulu hatiku. 


Aku, Alan Mahendra, pria yang selama ini membanting tulang meniti karier dari nol demi memberikan kehidupan bak ratu untuknya, ternyata tak lebih dari sekadar mesin ATM bagi sepasang pengkhianat ini.


Dari balik pilar marmer lobi, aku terus merekam tanpa berkedip. Kutahan gemuruh di dadaku mati-matian saat melihat Ardan mencium kening istriku dengan penuh kemenangan.


"Pintar sekali istriku ini," kekeh Ardan, tangannya masih mengelus perut buncit Alina. 


"Ibumu juga aktris yang hebat. Akting sakit parahnya benar-benar meyakinkan sampai si Alan rela mencairkan depositonya."


Darahku mendidih hingga ke ubun-ubun. 


Jadi, sakit parah ibu mertuaku yang selama ini membuatku bolak-balik mentransfer ratusan juta hanya fiktif belaka? 


Mereka berkomplot? Mertua yang selalu kuhormati dan kujunjung tinggi layaknya ibu kandungku sendiri, ternyata adalah otak di balik perampokan hartaku?


Tiba-tiba, aku merasa mual. Betapa butanya aku selama ini.


Dengan langkah gontai namun rahang mengeras, aku berbalik meninggalkan lobi rumah sakit bersalin VVIP itu sebelum mereka memergokiku. 


Aku kembali ke dalam mobil sewaan yang gelap. Aroma pengkhianatan ini terlalu pekat, tapi aku sadar, mengamuk sekarang hanya akan membuatku kehilangan segalanya.


Alina dan ibunya sudah merencanakan ini dengan sangat rapi bersama Ardan. 


Jika aku gegabah, mereka bisa memutarbalikkan fakta dan membawa kabur aset-asetku.


Tidak. Aku tidak akan membiarkan mereka menang. Jika mereka ingin bermain kotor, aku akan menunjukkan bagaimana rasanya tenggelam dalam lumpur.


Kuambil ponselku yang lain, ponsel khusus urusan bisnis yang tidak pernah diketahui Alina, dan mulai menyusun strategi. 


Jemariku menari di atas layar, mengakses sistem keamanan rumahku yang tersembunyi. 


Benar saja, dari rekaman CCTV yang selama ini kuabaikan, kulihat ibu mertuaku sedang duduk santai di sofa ruang tengah rumahku, menikmati secangkir teh sambil menonton televisi. 


Tidak ada selang infus, tidak ada wajah pucat, apalagi kondisi kritis yang selama ini diceritakan Alina.


Aku tersenyum sinis. Senyum paling dingin yang pernah kutarik seumur hidupku.


Tiba-tiba, ponsel utamaku yang baru saja kuaktifkan kembali bergetar hebat. Ada belasan panggilan tak terjawab dan sebuah pesan suara baru dari Alina.


Kutekan tombol play. Terdengar suara isakan tangis yang begitu memilukan.


"Mas ... hiks. Kamu sudah sampai? Mas, tolong segera transfer uangnya. Ibu kritis, Mas. Dokter bilang kalau hari ini tidak ada tindakan, ibu tidak akan selamat. Tolong, Mas."


Luar biasa. Jika penghargaan memiliki kategori untuk menantu dan istri paling manipulatif, Alina pasti akan memborong semua pialanya.


Sambil menatap tajam ke arah pintu keluar rumah sakit, melihat siluet Alina dan Ardan yang baru saja berjalan keluar menuju parkiran, aku menyeringai. 


Aku menekan tombol rekam untuk membalas pesan suaranya, membiarkan intonasi suaraku terdengar begitu panik dan penuh perhatian.


"Ya ampun, Sayang! Maaf, aku baru saja landing. Tentu saja, aku akan segera mengurus semuanya. Pastikan 'ibu' mendapat perawatan terbaik di ruang ICU bersalin itu ya, Sayang. Oh, dan bersiaplah untuk kejutan besar dariku saat aku 'pulang' nanti."


Begitu pesan terkirim, aku langsung menghubungi nomor pengacaraku. Begitu panggilannya tersambung, aku tidak memberinya kesempatan untuk menyapa.


"Halo, Pak Dimas. Bekukan seluruh rekening pribadiku. Siapkan dokumen pembatalan waris, tarik semua mobil yang dipakai mertuaku, dan cabut seluruh suntikan dana perusahaanku di proyek Ardan. Biarkan mereka berpesta dengan uang seratus juta terakhirku hari ini, karena besok pagi, aku pastikan mereka bertiga mengemis di bawah kakiku."


***



(11) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


"Bawa dia masuk ke halaman depan, Galen. Biarkan Mbak Rini melihat dengan mata kepalanya sendiri, seberapa besar 'cinta mati' yang diagung-agungkannya saat pria itu menyadari bahwa dompet wanitanya sudah kosong melompong."


Nada suara Sari terdengar sangat tenang, nyaris tanpa riak emosi sedikit pun. Namun, perintah itu mengalir dengan keanggunan seorang penguasa sejati.


Aku tersenyum bangga, mengecup pelipis istriku kilat. 


"Sesuai keinginanmu, Sayang." 


Kutatap Galen dan memberinya isyarat untuk segera melaksanakan perintah Nyonya Besar.


Tak butuh waktu lama bagi petugas keamanan untuk membuka gerbang baja perumahan dan menggiring seorang pria berpakaian kasual bermerek masuk ke area taman depan rumah kami. 


Pria itu, Rendi, terus mengoceh dengan nada tinggi, tak terima fasilitas mewahnya ditarik paksa.


"Kalian ini siapa berani menyita aset pribadiku?! Kembalikan kunci mobilku sekarang juga atau aku akan menuntut kalian ke pengadilan!" bentak Rendi dengan wajah memerah.


Langkah arogan Rendi mendadak terhenti saat kakinya menginjak halaman berumput halus. Matanya terbelalak lebar menatap kemegahan arsitektur rumah di hadapannya, sebelum akhirnya terpaku pada dua sosok yang berdiri di teras marmer.


Aku berdiri santai dengan sebelah tangan masuk ke saku celana panjangku. 


Di sisiku, berdiri Sari dengan balutan gaun pastel elegan dan perhiasan berlian yang memantulkan cahaya matahari sore.


"S-Sari? Danu?" Mulut Rendi terbuka setengah, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. 


Pria yang dulu selalu menghina profesiku sebagai perantau kini terlihat bagai orang bodoh. Matanya menatap lekat pada Sari, terpesona oleh kecantikan istriku yang kini memancar sempurna. 


"Sari, kamu terlihat ... luar biasa. R-rumah ini milik kalian?"


Sebelum Sari sempat menjawab, suara isak tangis memecah kecanggungan.


Mbak Rini, yang sedari tadi sedang mengelap kaca jendela besar di sisi teras dengan seragam abu-abunya, langsung melempar kain lapnya. 


Wajahnya yang kusam dan dipenuhi peluh mendadak berbinar penuh harap. Ia berlari kecil menghampiri Rendi.


"Rendi! Mas Rendi, syukurlah kamu datang mencariku!" ratap Mbak Rini. Ia mencoba meraih lengan pria itu dengan tangan basahnya. 


"Tolong aku, Mas! Bawa aku pergi dari sini! Mereka memaksaku menjadi pekerja kasar! Tolong lunasi utang-utangku, kamu kan sudah berjanji akan selalu menjagaku!"


Alih-alih menyambut pelukan Mbak Rini, Rendi justru mundur selangkah dengan raut wajah sangat jijik. Ia menepis tangan Mbak Rini dengan kasar, seolah baru saja disentuh oleh sesuatu yang kotor.


"Lepaskan! Apa-apaan kamu ini, Rini?!" bentak Rendi, matanya memindai seragam pekerja yang dikenakan kakakku dari atas sampai bawah. 


"Kenapa kamu berpakaian seperti babu? Dan utang? Utang apa maksudmu?! Bukankah kamu bilang kamu ini janda sosialita yang punya bisnis puluhan miliar?!"


Mbak Rini menggeleng panik, air matanya menetes deras membasahi pipinya yang tak lagi dipoles riasan mahal. 


"Itu ... semua uang itu ternyata milik Danu, Mas. Aku meminjam uang untuk membelikanmu apartemen dan mobil! Sekarang Danu menyita semuanya. Tapi tidak apa-apa, kan? Kita masih punya cinta kita, Mas. Bawa aku pergi."


Rendi mendengus keras, sebuah tawa merendahkan meluncur dari bibirnya. Ia menatap Mbak Rini seolah kakakku tak lebih dari sekadar tumpukan sampah di pinggir jalan.


"Cinta? Kamu pikir aku mau bersamamu yang sudah tua dan bangkrut ini kalau bukan karena uangmu?" cemooh Rendi tanpa ampun. 


Kata-katanya meluncur setajam silet, menyayat habis sisa-sisa kewarasan Mbak Rini. 


"Sadar diri, Rini! Aku hanya memanfaatkannmu! Menjijikkan sekali membayangkan aku harus hidup miskin bersamamu!"


Mbak Rini mematung. Kakinya lemas seketika. Tubuhnya meluruh ke atas rumput, menangis sejadi-jadinya menyadari bahwa kebanggaan dan ilusi cinta yang ia agungkan selama ini tak bernilai sepeser pun. 


Semua yang ia korbankan, termasuk mengkhianati keluarganya sendiri, berujung pada kehancuran mutlak.


Di sudut lain, Ibuku hanya bersembunyi di balik pintu utama, tak berani keluar menahan rasa malu yang tak tertahankan.


Rendi segera membuang muka dari Mbak Rini, merapikan kerah bajunya, lalu kembali menatap Sari dengan senyuman sok manis. Ia melangkah maju, mencoba menggunakan pesona lamanya.


"Sari, lihatlah kita sekarang. Ternyata takdir mempertemukan kita lagi, ya? Dulu aku meninggalkanmu karena keadaan memaksaku, bukan karena aku tidak cinta. Sekarang kamu sudah bahagia, dan jujur saja, aku masih sangat merindukanmu," rayu Rendi tak tahu malu, mengabaikan keberadaanku yang berdiri tepat di samping istriku.


Sari tersenyum manis, senyum yang membuat Rendi makin salah tingkah. 


Namun, detik berikutnya, kalimat yang keluar dari bibir istriku membuat darah pria itu seakan membeku.


"Simpan rayuan murahanmu itu untuk wanita lain, Rendi. Karena melihat wajahmu saja sudah membuat perutku mual," desis Sari tajam, keanggunannya sama sekali tak berkurang saat ia menghancurkan ego pria di hadapannya.


Melihat Rendi hendak membuka mulut untuk memprotes, aku segera melangkah maju, menutupi tubuh istriku dan menatap pria tamak itu dengan tatapan membunuh.


"Tarik kembali mata kotormu dari istriku, Rendi. Kunci apartemen dan mobilmu memang sudah kusita, tapi aku sengaja meninggalkan satu kenang-kenangan kecil untukmu; semua sisa tunggakan cicilan atas barang mewah itu sengaja kubiarkan tetap tertulis atas nama pribadimu, dan besok pagi, para penagih utang sudah bersiap menagih utangmu."


***



(6) Kukurung Istriku di Dalam Mobil Saat Mau Menikah dengan Selingkuhanku. Tapi Betapa Kgetny Aku saat Istriku Muncul dengan....

 


"Gosok lantai ini sampai mengkilap, Galen! Kalau ada satu tetes pun noda kopi yang tersisa, aku pastikan ibu dan adik kesayanganmu kelaparan di emperan toko malam ini!"


Tawa Rendi menggelegar ke seluruh penjuru koridor, diiringi kekehan sinis dari beberapa karyawan lain yang sengaja berkerumun untuk menonton. 


Pria yang dulu selalu membungkuk dan membawakan tas kerjaku itu, baru saja dengan sengaja menumpahkan segelas americano panas tepat di ubin yang sedang kupel.


Aku mengertakkan rahang hingga gigiku ngilu. Tanganku yang terbalut sarung tangan karet murah gemetar hebat menggenggam gagang pel. 


Seragam cleaning service*

 berwarna biru pudar yang kukenakan basah oleh keringat, menempel tak nyaman di tubuhku yang kelelahan. 


Perutku melilit perih karena belum kemasukan apa pun selain air kran sejak semalam.


Namun, bayangan Ibu yang merintih sakit perut dan Sinta yang menangis kedinginan di jalanan memaksaku menelan harga diriku bulat-bulat. 


Aku menunduk dalam, berlutut di lantai, dan mulai membersihkan noda kopi itu dengan lap di bawah tatapan merendahkan puluhan pasang mata.


Inilah neraka yang diciptakan Zea untukku. Dia membiarkanku hidup, namun merampas seluruh martabatku hingga aku merasa lebih rendah dari debu.


Suara denting lift VVIP berdenging, membuat kerumunan karyawan seketika membubarkan diri dalam kepanikan. 


Keheningan yang mencekam langsung mengambil alih koridor. Dari sudut mataku yang menunduk, aku melihat sepasang sepatu hak tinggi berwarna hitam glossy melangkah pelan ke arahku, diikuti oleh sepasang sepatu pantofel pria.


"Pekerjaan yang bagus, Mas Galen. Postur tubuhmu saat berlutut menyikat lantai jauh lebih natural daripada saat kau duduk sok berkuasa di kursi manajer."


Suara lembut itu membuat darahku berdesir ngeri. Aku mendongak perlahan. 


Zea berdiri menjulang di hadapanku, aura kekuasaannya begitu pekat. Di belakangnya, Arkan berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatapku dengan sorot mata sedingin es.


"Zea, kumohon," bisikku parau, tenggorokanku kering kerontang. 


"Aku sudah melakukan semua yang kau mau. Aku sudah mengepel seluruh lantai satu. Kumohon, berikan gajiku hari ini. Ibu butuh makan."


Zea berjongkok perlahan, menyamakan wajahnya dengan wajahku. Aroma parfumnya yang elegan dan mahal menyeruak, kontras dengan bau cairan pembersih ruangan yang menempel di bajuku. 


Ia tersenyum tipis, memiringkan kepalanya dengan tatapan polos yang begitu menipu.


"Tentu saja aku akan membayarmu, Mas. Aku ini pengusaha yang profesional," ucap Zea dengan nada seringan kapas. Ia lalu berdiri dan menoleh pada Arkan. 


"Arkan, bawa masuk bonus harian untuk pegawai teladan kita."


Arkan hanya mengangguk pelan, mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat.


Dari arah pintu darurat, dua orang pengawal berbadan tegap muncul. Mereka tidak datang dengan tangan kosong, melainkan menyeret paksa seorang wanita yang meronta-ronta histeris. 


Wanita itu memakai seragam cleaning service yang persis sama denganku, namun ukurannya kebesaran. 


Rambutnya yang biasanya ditata sempurna di salon mahal kini acak-acakan, wajah cantiknya basah oleh air mata dan riasan yang luntur. Mataku membelalak sempurna hingga nyaris melompat dari rongganya.


"A-Aurel?!" panggilku tak percaya.


Wanita itu mendongak. Begitu melihatku yang sedang berlutut memegang lap, tangis Aurel semakin pecah. 


"Galen! Lakukan sesuatu! Ayahku bangkrut total dan perusahaan ini merampas rumah kami! Perempuan ini memaksaku bekerja menjadi tukang pel untuk membayar utang Ayahku!"


Aku membeku. Dunia di sekelilingku seakan berhenti berputar. 


Aurel, putri direktur yang selalu diagungkan, yang kemarin malam membuangku karena aku jatuh miskin, kini bernasib sama hancurnya denganku?


Zea membalikkan badannya dengan anggun, menatap kami berdua secara bergantian dengan senyum kemenangan yang luar biasa mematikan.


"Kenapa kalian malah menangis? Bukankah ini reuni yang sangat mengharukan?" ucap Zea dengan nada bahagia yang dibuat-buat, suaranya menggema di koridor yang sunyi. 


"Sapa rekan kerja barumu, Mas Galen. Bukankah sangat romantis, bisa menghabiskan sisa hidup mengepel lantai berdua dengan wanita selingkuhanmu ini?"


***



(14) Selingkuhan Suamiku Mempermalukanku di Arisan. Dia Tidak Tahu Saja Kartu Kredit yang Dipakai Suamiku adalah Milikku. Akan Kubuat Mereka Menyesal!

 

Seketika, lobi itu riuh oleh suara tawa merendahkan dan bisik-bisik tajam dari geng arisan tersebut. 

Beberapa ibu bahkan terang-terangan mengeluarkan ponsel, memotret dan merekam ibu mertua yang kini menangis tersedu-sedu menutupi wajahnya dengan kain pel kotor.

"Makanya, jadi orang tua itu jangan sombong! Kemarin gayanya selangit pakai gelang keroncong emas selengan, sekarang kok bau karbol begini?" cibir salah satu ibu dengan kejam.

Harga diri ibu mertua hancur lebur berkeping-keping. Dipermalukan di depan orang-orang yang selama ini selalu ia pameri adalah siksaan mental yang jauh lebih menyakitkan daripada rasa laparnya.

Tepat saat tangis ibu mertua semakin histeris, aku melangkah keluar dari lift eksekutif. 

Suasana lobi yang tadinya riuh seketika hening. Para ibu arisan itu langsung menepi dan menunduk sopan menyambutku.

Melihat sepatuku mendekat, ibu mertua langsung merangkak maju. Ia membuang jauh-jauh sisa ego yang ia miliki, menjatuhkan kepalanya tepat di ujung sepatuku sambil menangis meraung-raung.

"Jannah, Ibu mohon ampun, Nak. Ibu tidak kuat lagi. Pinggang Ibu rasanya mau patah. Ibu malu dihina teman-teman Ibu. Tolong ampuni Ibu, Jannah. Ibu janji akan menyembah kakimu, Ibu akan jadi budakmu di rumah asal Ibu tidak dipermalukan di depan umum seperti ini lagi," isaknya dengan suara serak yang memilukan.

Aku menatap wanita tua yang bersujud di kakiku itu dengan ekspresi datar yang dingin. 

Tiga tahun air mataku menetes karena mulut berbisanya, dan hari ini, semuanya terasa sepadan.

Aku menunduk, mengangkat dagunya yang basah oleh air mata dengan ujung jari telunjukku, menatap matanya yang dipenuhi ketakutan dan keputusasaan yang absolut.

"Ibu menangis karena tidak sanggup menanggung malu di depan teman-teman arisan Ibu? Simpan air mata itu baik-baik untuk besok pagi, Bu. Karena besok, Ibu tidak akan mengepel lantai ini lagi. Ibu akan kubawa berdiri di mimbar pengadilan sebagai saksi utamaku, dan Ibu harus menceritakan kepada majelis hakim bagaimana putra kesayangan Ibu mencuri miliaran rupiah. Bersaksilah yang memberatkan Hakim agar dia dihukum maksimal, atau Ibu yang akan tidur di sel penjara menggantikannya."

***



Selasa, 28 April 2026

(6) Suamiku Meminjam Uang 300 Juta. Karena Penasaran untuk Apa uangnya dipakai, Aku Pulang ke Rumah. Dan Betapa Marahnya saat Kulihat Suamiku Ternyata...Suamiku Meminjam Uang 300 Juta. Karena Penasaran untuk Apa uangnya dipakai, Aku Pulang ke Rumah. Dan Betapa Marahnya saat Kulihat Suamiku Ternyata...

 


"Omong kosong! Kamu pikir istri Direktur Utama sudi memecatku hanya karena aduan perempuan egois sepertimu?!" raung Mas Retno. Tawanya meledak nyaring, berusaha mati-matian menutupi kepanikan yang mulai menggerogoti sisa harga dirinya.


Tepat saat ia menyelesaikan kalimatnya, sebuah truk towing atau derek besar berhenti tepat di depan pagar rumah. 


Dua orang pria bertubuh kekar turun, berjalan menghampiri mobil mewah putih mengkilap yang sejak tadi menjadi kebanggaan Mas Retno dan maduku.


"Maaf, dengan Bapak Retno?" tanya salah satu pria itu dengan nada tegas, sama sekali tidak memedulikan suasana tegang di sana. 


"Kami dari pihak dealer. Cek yang Bapak berikan untuk DP mobil ini ternyata kosong. Kami terpaksa menarik kembali unit ini sekarang juga."


Warna di wajah Mas Retno seketika tersapu habis, menyisakan pucat pasi layaknya mayat hidup. Mulut suamiku ternganga tanpa suara.


"A-apa?! Kosong?!" Istri barunya menjerit nyaring, menatap Mas Retno dengan sorot penuh horor. 


"Retno! Kamu bilang uang tabunganmu cukup buat nutupin cek itu! Terus utang pinjolku puluhan juta yang kupakai buat bayar aksesoris dan asuransinya gimana?! Kamu gila! Aku nggak sudi hidup gembel nanggung utang gara-gara laki-laki kere sepertimu!"


Tanpa memedulikan Mas Retno yang berusaha menahannya, perempuan berkebaya basah itu menepis kasar tangan suamiku. Ia berlari ke pinggir jalan, menyetop taksi yang kebetulan lewat, lalu masuk dan menghilang begitu saja dari pandangan.


Tinggallah Mas Retno yang mematung dengan tatapan kosong, serta Ibu mertuaku yang meratap sejadi-jadinya memeluk koper butut mereka di trotoar.


Seolah penderitaan itu belum cukup, ponsel di saku celana Mas Retno bergetar hebat. Laki-laki itu mengangkatnya dengan tangan gemetar.


"H-halo, Pak HRD?" bisik Mas Retno lirih. 


Detik berikutnya, kakinya kehilangan tenaga. Ia jatuh berlutut di atas aspal yang panas, membiarkan ponselnya tergelincir dari genggaman saat mendengar vonis pemecatan tak hormat itu dijatuhkan secara langsung.


Aku tersenyum puas dari balik pagar, bersedekap dada menikmati mahakarya kehancuran yang kubuat sendiri. 


Rasa sakitku selama bertahun-tahun rasanya terbayar lunas melihat laki-laki congkak itu kini tak ubahnya seperti pengemis kehilangan arah.


Aku melangkah perlahan ke luar pagar, menatap Mas Retno yang kini memeluk lututnya dalam keputusasaan yang absolut.


"Menangis yang keras, Mas! Tapi hemat sedikit air matamu hari ini," seruku dengan senyum termanis yang mematikan, membuat kepalanya dan Ibu mertuaku mendongak dengan tatapan putus asa. 


Kulemparkan sebuah amplop tagihan berwarna merah ke arahnya hingga jatuh tepat di atas pangkuannya. 


"Karena besok pagi, saat pihak hotel bintang lima dan seluruh vendor resepsi menagih sisa pembayaran ratusan juta yang kaubesarkan atas namamu sendiri itu, aku pastikan kau akan menangis darah untuk membayarnya!"


***



(4) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


"Simpan kebohonganmu itu, Nona! Jangankan melakukan hal sejauh itu, mengenal namamu saja aku tidak pernah!"


Suaraku menggelegar tegas, membelah ketegangan yang seketika menguasai ruang tamu. Nafasku memburu menahan amarah yang nyaris tak terbendung.


Di sebelahku, cengkeraman tangan Fitri terlepas. Istriku melangkah mundur dengan wajah seputih kapas. Matanya menatap nanar pada perut datar wanita asing di depan kami. 


Air mata yang baru saja reda kini kembali menganak sungai di pipi Fitri. Bibirnya bergetar hebat, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun akibat terkejut yang luar biasa.


Melihat Fitri hancur seperti itu, hatiku seakan diiris sembilu. 


Aku langsung menarik pinggang Fitri, merengkuhnya erat ke dalam pelukanku untuk menyalurkan kekuatan. Aku tidak akan membiarkan sandiwara ini meruntuhkan mental istriku.


"Mas, kamu tega sekali!" Wanita bergaun ketat itu tiba-tiba menangis tersedu-sedu, menampilkan raut wajah sedih yang sangat dibuat-buat. 


"Kamu lupa janjimu? Kamu bilang kamu lelah dengan istrimu yang belum bisa memberimu keturunan, lalu kamu berjanji akan bertanggung jawab kalau aku hamil!"


"Hentikan omong kosong ini!" tegasku seraya menatapnya tajam. 


"Aku bahkan tidak kenal siapa dirimu! Enam bulan aku menikah, setiap hari aku pulang tepat waktu dan menghabiskan hari libur hanya bersama istriku. Jangan pernah mencoba merusak rumah tanggaku dengan fitnah ini!"


"Putra! Jaga bicaramu!" Ibu tiba-tiba menyela, melangkah maju dan langsung berdiri melindungi wanita asing itu. 


"Dia sedang mengandung darah dagingmu, cucu Ibu! Laki-laki mana ada yang mau mengaku kalau ketahuan salahnya?! Ibu tidak sudi cucu Ibu terlantar di luar sana hanya karena kamu membela perempuan yang belum bisa memberimu anak ini!"


Ibu menatap tajam ke arah Fitri, sengaja menekan kata-katanya untuk menyudutkan istriku. 


Dan itu berhasil. Fitri terisak di dadaku, tangannya meremas kemejaku dengan kuat.


"Mas, apa benar?" lirih Fitri dengan suara parau yang menyayat hati.


"Demi Allah, Fit. Setitik pun Mas tidak pernah mengkhianatimu. Percaya sama Mas, ini semua murni fitnah dan jebakan," ucapku sungguh-sungguh, menangkup wajah Fitri dan menatap matanya dalam-dalam. 


"Mas adalah milikmu, selamanya."


Mendengar itu, kulihat raut wajah Ibu dan wanita itu menegang sesaat. 


Jelas sekali ini di luar prediksi mereka. Mereka pasti berpikir aku akan langsung panik, goyah, atau termakan tuduhan ini. 


Sayangnya, mereka lupa bahwa aku mendengar dengan jelas percakapan telepon Ibu semalam.


Wanita itu buru-buru membuka tasnya, mengeluarkan sebuah amplop rumah sakit dan dua buah alat tes kehamilan bergaris dua merah.


"Ini buktinya! Hasil pemeriksaan dan tes ini nyata! Kalau kamu tidak mau tanggung jawab, aku tidak akan pergi dari rumah ini!" ancam wanita itu seraya memeluk kopernya.


Ibu langsung memeluk bahu wanita itu dengan raut wajah iba. 


"Astaga, Sayang, jangan menangis! Kasihan anak di perutmu! Kamu tenang saja, mulai hari ini kamu tinggal di sini! Kamar tamu di sebelah kamar Ibu kosong, kamu akan tidur di sana dan Ibu yang akan merawat kandunganmu!"


Ibu lalu menatapku dengan sorot mata menantang. 


"Kalau kamu berani mengusirnya, langkahi dulu Ibumu ini, Putra! Ibu yang berkuasa di rumah ini!"


Aku menatap dua wanita beda generasi di hadapanku ini dengan senyum tipis. 


Skenario yang sangat rapi. Menumpang di rumah ini agar bisa menekan mentalku dan Fitri setiap hari, membuat seolah rumah tangga kami hancur, lalu perlahan menyingkirkan istriku.


"Baik," ucapku tenang, membuat tangisan Fitri semakin keras karena mengira aku menyerah. 


Aku mengusap puncak kepala Fitri untuk menenangkannya, lalu menatap Ibu dengan tatapan tajam tak terbantahkan. 


"Silakan dia tinggal di kamar tamu. Tapi Ibu harus ingat satu hal ..."


Aku sengaja melangkah maju, mendekatkan wajahku tepat ke samping telinga Ibu.


"Silakan nikmati sandiwara kalian di rumah ini, Bu. Tapi bersiaplah," bisikku pelan, memastikan suaraku hanya terdengar oleh wanita yang melahirkanku itu. 


"Karena kamera pengawas kecil yang baru kupasang di sudut dapur kemarin sore, sudah merekam dengan sangat jelas obrolan telepon Ibu semalam tentang rencana tes kehamilan palsu ini."


***



(9) Mertua Miskinku Mewariskan Ruko Kecil yang Sudah Mau Roboh. Kami Kira Ruko itu Tak Ada Isinya. Saat Mau Pindah, Isinya Ternyata adalah...

 


"Kalian mau menyita seluruh asetku?! Kalian pikir aku akan menyerahkan hasil kerja kerasku selama belasan tahun kepada bocah kemarin sore ini begitu saja?!"


Suara Paman Darmawan menggelegar, wajahnya memerah menahan amarah yang meledak-ledak. 


Ia menepis kasar tangan dua pria berjas rapi, tim auditor khusus dan pengacara dari perusahaan pusat, yang baru saja menyodorkan dokumen penyitaan aset secara paksa kepadanya. 


Pria paruh baya itu terengah-engah, menolak menerima kenyataan bahwa istananya telah runtuh dalam sekejap mata.


Mas Deon melangkah pelan menaiki panggung, berdiri menjulang di hadapan pamannya dengan aura penguasa yang tak terbantahkan.


"Hasil kerja keras?" Mas Deon mengulang kalimat itu dengan nada rendah yang mengiris tajam bak sembilu. 


"Menarik sekali kau berani menyebut hasil pencurian dana perusahaan ibuku selama lima belas tahun sebagai sebuah kerja keras, Paman."


"Itu fitnah! Aku membangun tempat ini dari nol!" bantah Paman Darmawan, keringat dingin semakin deras membasahi pelipisnya. Ia menoleh panik ke arah kerumunan tamu undangan yang mulai berbisik-bisik. 


"Kalian semua saksinya! Bantu aku panggil petugas keamanan luar untuk mengusir mereka! Jika kalian membantuku, aku akan memberikan potongan harga fantastis untuk semua kerja sama bisnis kita!"


Hening. Ratusan tamu elit itu saling pandang, namun tak satu pun yang beranjak dari tempatnya untuk membantu. 


Alih-alih membela, mereka justru melangkah mundur, menjauhi Paman Darmawan seolah pria itu menularkan nasib buruk.


Seorang pengusaha besar yang tadinya tertawa paling keras menyanjung Paman Darmawan kini berdeham pelan, membetulkan letak dasinya. 


"Maaf, Darmawan. Berbisnis dengan seseorang yang baru saja kehilangan seluruh hartanya dan terbukti menggelapkan dana bukanlah investasi yang menguntungkan. Terlebih lagi ..."


Pengusaha itu menundukkan kepalanya, menatap Mas Deon penuh hormat. 


"Tuan Muda Deon adalah pemegang kendali utama yang sesungguhnya sekarang. Kami tentu memilih setia pada pemilik takhta yang sah."


Dada Paman Darmawan naik turun dengan cepat. 


Pengkhianatan dari rekan-rekan bisnis yang selama ini ia traktir dan ia sanjung menjadi pukulan telak yang meruntuhkan sisa-sisa kewarasannya. Bibirnya bergetar tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.


"Serahkan jas, jam tangan, dan kunci mobil yang Anda pakai saat ini, Tuan Darmawan," ucap salah satu pengacara dengan nada datar dan tegas. 


"Sesuai putusan pengadilan niaga yang telah disahkan, seluruh aset yang menempel di tubuh Anda saat ini dibeli menggunakan uang perusahaan, dan harus dikembalikan detik ini juga."


"Tidak! Kalian tidak bisa melakukan ini padaku!" Paman Darmawan meronta.


Namun, tanpa perlu Mas Deon turun tangan, dua pengawal berbadan tegap langsung maju dan melucuti jas mahal serta perhiasan emas dari tubuh pria paruh baya itu di hadapan para tamu.


Tanpa perlawanan berarti, pria yang lima menit lalu merasa menjadi raja dunia itu kini hanya berdiri gemetar dengan kemeja putih kusut dan keringat bercucuran. Ia dipermalukan di depan mata ratusan rekan bisnisnya sendiri.


"Turunlah ke lobi, Paman. Mulailah pekerjaan barumu mengepel lantai dari sana, atau pintu keluar sudah terbuka lebar untuk menyambutmu kembali ke jalanan," perintah Mas Deon sedingin es.


Mas Deon membalikkan badannya, berjalan turun dari panggung dan kembali meraih tanganku dengan lembut. Ia menuntunku berbalik, berniat meninggalkan ruangan yang kini dipenuhi aura kekalahan Paman Darmawan.


Kukira semuanya akan berakhir dengan kemenangan telak dan elegan ini. Paman Darmawan tampak berjalan gontai menuruni panggung dengan tatapan kosong, hancur lebur tanpa sisa kehormatan. 


Namun, baru tiga langkah pria itu berjalan menjauh, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Paman Darmawan membalikkan badannya, menatap punggung suamiku lekat-lekat.


Tawanya tiba-tiba meledak. Tawa yang sangat sumbang, menggema di seluruh penjuru ballroom, sarat akan keputusasaan dan kelicikan yang belum sepenuhnya padam.


"Rampas saja semua hartaku malam ini, Deon! Nikmati kemenangan sementaramu!" teriak Paman Darmawan dengan suara serak, membuat langkah kami berdua terhenti seketika. 


"Tapi ketahuilah satu rahasia ini, Ibumu tidak pernah menderita penyakit jantung! Seseorang telah sengaja menukar obatnya dengan racun selama bertahun-tahun, dan pelaku yang sesungguhnya, masih berkeliaran bebas dan sedang menatapmu dari dekat!"


***



Ibuku selalu bilang istriku pemalas, padahal yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu istriku. Diam-diam kupasang CCTV, dan kubuat ibuku menyesal karena...

  "Masa hukuman untuk istriku sudah resmi berakhir hari ini, Bu. Dan karena Ibu selalu mengeluh Raisa adalah menantu pemalas yang menyu...