Selasa, 14 April 2026

Suamiku Jatuh Miskin. Dan Diusir Ibunya Karena Dianggap Tak Berguna. Kuberikan Sisa Uangku, tapi Betapa Kagetnya Aku Ketika Suamiku Malah Membawaku ke Rumah Mewah. Ternyata Suamiku adalah...

 


"Bawa istrimu yang kampungan itu dan angkat kaki dari rumah ini! Anak miskin tak berguna!"


Suara melengking Ibu Mertuaku bergema ke seluruh penjuru ruang tamu. 


Sebuah koper usang dilemparkan begitu saja hingga isinya, baju-baju murah milikku dan suamiku, berserakan di lantai marmer yang dingin.


Aku segera berlutut, memunguti pakaian kami dengan mata berkaca-kaca. 


Di sofa, Mas Yuda, kakak suamiku, hanya tersenyum sinis sambil menyesap kopi mahalnya. Tidak ada sedikit pun niat darinya untuk menengahi.


"Bu, usaha Bara memang sedang bangkrut, tapi beri kami waktu beberapa hari saja untuk mencari kontrakan," ujarku memelas, menelan harga diriku demi pria yang berdiri mematung di sebelahku.


"Cuih! Menumpang di sini lalu makan dari uang Yuda? Tidak sudi!" Ibu mertuaku melipat tangan di dada, menatap kami penuh jijik. 


"Bara itu cuma benalu! Bisnis kecil-kecilan saja hancur, beda jauh dengan Yuda yang baru saja diangkat jadi Manajer di Grup Artha. Sekarang, pergi kalian!"


Aku menatap Bara, suamiku. Pria itu menunduk, wajahnya tertutup bayangan poni rambutnya. Tangannya mengepal erat, entah karena menahan marah atau malu. 


Tanpa berpikir panjang, aku meraih tangannya yang dingin.


"Ayo, Mas. Kita pergi," bisikku pelan namun mantap. "Kita tidak butuh belas kasihan mereka."


***


Malam itu, kami berjalan menyusuri trotoar di bawah langit yang mulai mendung. 


Bara sedari tadi hanya diam. Tiba-tiba, ia berhenti melangkah dan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Maafkan aku, Naya. Gara-gara aku, kamu ikut diusir. Aku benar-benar tidak punya apa-apa lagi sekarang," ucapnya lirih.


Dadaku sesak melihatnya. Aku merogoh dasar tas selempangku, mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah lecek. 


Kutarik tangan Bara dan kuletakkan amplop itu di telapak tangannya.


"Ini apa?" tanyanya kaget.


"Ini sisa tabunganku dari hasil jualan kue kering, Mas. Ada sekitar lima juta," ucapku sambil tersenyum tipis, berusaha menguatkannya. 


"Ambil saja semuanya. Pakai untuk kita sewa kos-kosan kecil dan makan sebulan ke depan. Nggak apa-apa mulai dari nol lagi, Mas. Asal kita sama-sama, aku yakin Mas pasti bisa bangkit."


Bara menatap amplop itu cukup lama. Jakunnya naik turun. 


Perlahan, senyum yang sama sekali tidak terlihat seperti senyum pria putus asa mengembang di bibirnya. Sorot matanya yang tadi redup mendadak berubah tajam dan penuh wibawa.


"Kamu memberikan seluruh uang terakhirmu untuk pria yang baru saja dibuang keluarganya?" tanyanya dengan nada yang anehnya. 


"Karena kamu suamiku."


Bara tertawa pelan. Ia tiba-tiba melambaikan tangan, menghentikan sebuah taksi mewah kelas premium yang kebetulan lewat. Ia membukakan pintu untukku. 


"Naiklah."


"Mas! Taksi ini argo mahal! Uang kita—"


"Masuk saja, Sayang," potongnya lembut namun dengan otoritas yang tak bisa kubantah.


Di dalam taksi, Bara menyebutkan sebuah alamat yang membuat jantungku nyaris copot. 


Itu adalah kawasan perumahan paling elit di kota ini, tempat tinggal para triliuner yang harga tanah per meternya tak masuk akal.


Sepanjang jalan aku terus meremas ujung bajuku karena panik, tapi Bara malah menggenggam tanganku dengan santai. 


Tiga puluh menit kemudian, taksi berhenti di depan sebuah gerbang besi raksasa bercat emas.


Aku bersiap meminta maaf pada supir taksi jika kami tak bisa membayar, tapi mataku terbelalak melihat apa yang terjadi di luar jendela. 


Enam orang satpam berbadan tegap yang berjaga di gerbang itu tiba-tiba berbaris rapi. 


Saat kaca jendela Bara turun, mereka semua membungkuk hormat. Gerbang raksasa itu terbuka otomatis.


Taksi melaju masuk, melewati taman berair mancur, sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah rumah megah bergaya Eropa modern yang membuatku menahan napas. 


Beberapa pelayan berseragam sudah berdiri berjejer di depan pintu utama.


Bara turun, membayar taksi dengan segepok uang seratus ribuan dari saku jasnya, entah dari mana ia mendapatkannya, lalu membukakan pintu untukku. Kakiku gemetar saat melangkah keluar.


"Mas, kita di mana? Ini rumah siapa? Kenapa satpam dan pelayan itu menunduk padamu?" tanyaku dengan suara tercekat, menatap suamiku seolah ia adalah orang asing.


Bara tersenyum penuh arti. Ia merangkulkan satu tangannya di pinggangku, menarikku mendekat, lalu berbisik tepat di telingaku dengan nada yang sanggup membuat seluruh dunia Ibu mertuaku dan Mas Yuda runtuh seketika.


"Selamat datang di rumah kita, Naya. Maaf aku berpura-pura miskin selama ini. Sudah saatnya kamu tahu, kalau pemilik Grup Artha yang sebenarnya adalah ..."


***


Bab 2

"Aku. Pemilik tunggal Grup Artha yang sebenarnya adalah aku, Naya. Pria yang baru saja ditendang dan dihina habis-habisan oleh keluarganya sendiri."


Kakiku lemas seketika. Jika bukan karena lengan kokoh Bara yang menahan pinggangku, aku pasti sudah luruh ke lantai. 


Napasku tertahan, mataku membulat sempurna menatap pria yang selama tiga tahun ini tidur di sampingku di atas kasur lipat yang tipis.


Bara yang selalu memakai kaus pudar dan tersenyum sabar setiap kali Ibu Mertuaku mencacinya, adalah seorang triliuner?


Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi berjalan cepat dari arah pintu utama, lalu menunduk hormat di hadapan kami. 


"Selamat datang kembali di rumah Anda, Tuan Muda Bara. Nyonya Naya, mari silakan masuk. Kami sudah menyiapkan air hangat dan makan malam untuk Anda berdua."


Bara mengangguk pelan. Ia menuntunku melewati pintu kayu jati raksasa itu. 


Begitu masuk, aku dibuat tercengang oleh kemewahan yang terpampang di depan mata. Lampu gantung kristal raksasa menyala keemasan, tangga melingkar berlapis karpet merah tebal, dan perabotan antik yang nilainya pasti setara dengan harga ratusan rumah subsidi.


Aku masih mengenakan daster katun murah dan sandal jepit tipis, berdiri di tengah ruangan bak istana ini. Rasanya sangat salah tempat.


"Mas, aku tidak mengerti." Suaraku bergetar saat pelayan itu pamit undur diri, menyisakan kami berdua di ruang tengah. 


"Kalau kamu sekaya ini, kenapa kamu membiarkan kita hidup susah? Kenapa kamu membiarkan Ibumu dan Mas Yuda terus menginjak-injak harga diri kita?"


Bara menuntunku duduk di sofa kulit yang sangat empuk. Ia berlutut di lantai, tepat di depanku, lalu menggenggam kedua tanganku erat. Matanya menatapku dengan kelembutan yang luar biasa dalam.


"Maafkan aku, Sayang," ucapnya lirih. 


"Almarhum Kakek mewariskan seluruh pemegang saham mayoritas dan aset utama keluarga untukku, bukan untuk Mas Yuda atau Ibu. Kakek tahu sifat asli mereka yang serakah dan hanya peduli pada uang. Kakek memintaku menyembunyikan ini sampai aku benar-benar siap."


Bara menghela napas panjang. 


"Aku sengaja memalsukan kebangkrutan bisnis kecilku itu untuk menguji mereka. Aku ingin melihat, apakah Ibu dan darah dagingku sendiri mau menampungku saat aku jatuh miskin. Dan malam ini, terbukti. Mereka membuang kita seperti sampah."


Air mataku menetes tanpa bisa ditahan. Mengingat koper kami dilempar dan kata-kata kasar Ibu Mertuaku tadi membuat dadaku kembali sesak.


Tangan besar Bara terangkat, mengusap air mataku dengan ibu jarinya. 


"Tapi dari ujian ini, aku mendapatkan berlian yang sesungguhnya. Kamu, Naya. Kamu rela memberikan sisa uang lima jutamu yang berharga demi pria tak berguna ini. Kamu bertahan di sisiku di saat keluargaku sendiri meludahiku."


Bara bangkit, lalu mengecup keningku cukup lama. 


"Mulai detik ini, penderitaanmu berakhir. Aku berjanji, orang-orang yang merendahkanmu malam ini akan berlutut di kakimu."


Belum sempat aku membalas ucapannya, pria bersetelan jas tadi, yang kutahu bernama Pak Reno, asisten pribadi Bara, masuk kembali ke ruangan membawa sebuah tablet canggih.


"Maaf mengganggu, Tuan Muda," ucap Pak Reno sambil menyerahkan tablet tersebut. 


"Ibu Anda baru saja memperbarui status sosial medianya. Beliau mengadakan syukuran besar-besaran di rumah untuk merayakan pengangkatan Tuan Yuda sebagai Manajer Cabang di Grup Artha besok pagi. Beliau juga menuliskan sindiran terang-terangan yang menjelek-jelekkan Anda dan Nyonya Naya di sana."


Bara mengambil tablet itu, membaca layar sejenak. Rahangnya mengeras, tapi anehnya, ada senyum miring yang terbit di bibirnya. 


Sebuah senyuman berbahaya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia mengembalikan tablet itu pada Pak Reno.


"Biarkan Ibuku menikmati panggung kesombongannya malam ini, Reno," bisik Bara dengan senyum dingin yang membekukan darah. 


"Karena besok pagi, aku sendiri yang akan menyeret anak kesayangannya itu keluar dari gedung perusahaanku, tepat di detik pertama ia duduk di kursi manajernya."


***



Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

 


"Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan anak dari selingkuhanmu!"


Suara bisikan tajam Ibu Mertua memecah kesunyian kamar rumah sakit ini.


Aku menahan napas. Mataku sengaja kupejamkan rapat, sementara kedua tanganku mengepal kuat di balik selimut tebal.


"Ibu pelan-pelan sedikit bicaranya," desis Mas Anton, laki-laki yang berstatus suamiku. 


"Laras baru saja melewati masa kritis akibat kecelakaan kemarin. Kata dokter dia kehilangan penglihatan dan kakinya lumpuh."


"Justru karena itu, Mas!" timpal suara wanita lain yang sangat kukenal. Itu Rina, perempuan yang selama ini kuanggap adik sendiri. 


"Anakku butuh fasilitas mewah milik Laras. Biar Laras yang merawat anakku yang penyakitan ini. Toh dia buta, dia tidak akan bisa membedakan mana anak kandungnya."


Hatiku hancur berkeping-keping.


Ibu Mertua tertawa pelan, terdengar sangat puas. 


"Tenang saja, Rina. Gara-gara ibu menabraknya kemarin, wanita sombong ini sudah tidak bisa apa-apa lagi. Sekarang, seluruh harta dan perusahaannya akan otomatis dikendalikan oleh Anton."


"Lalu anak kandung Laras mau diapakan, Bu?" tanya Rina lagi.


"Kita titipkan ke panti asuhan di luar kota malam ini juga!" jawab Mas Anton tanpa beban.


Hatiku rasanya mau pecah. Suami yang sangat kucintai, dan ibu mertua yang selama ini selalu kuhidupi dari jerih payahku, ternyata bersekongkol mengkhianatiku. 


Mereka membalas semua kebaikanku dengan penderitaan ini.


Suara roda ranjang bayi yang ditarik pelan mulai terdengar menjauh, diikuti suara engsel pintu kamar rawat yang tertutup rapat.


Begitu ruangan kembali sunyi, perlahan kubuka kedua mataku yang diklaim buta menatap tajam ke arah pintu. 


Tanpa kesulitan, aku menurunkan kedua kakiku dari atas ranjang dan berdiri dengan sempurna.


Kuraih ponsel yang kusembunyikan di balik bantal, lalu menekan sebuah nomor panggilan cepat.


"Blokir semua akses kartu kredit suamiku dan cabut hak tinggal Ibu Mertua di rumah utamaku malam ini juga."


***


"Transaksi ditolak?! Coba gesek sekali lagi, Mbak! Jangan main-main, kartu kredit saya ini tidak ada limitnya!"


Suara panik Mas Anton yang terdengar dari alat penyadap di ponselku membuat senyum sinisku mengembang. 


Aku masih duduk dengan nyaman di atas ranjang rumah sakit, menatap asisten kepercayaanku yang baru saja masuk ke ruangan.


"Semua akses keuangannya sudah mati, Dimas?" tanyaku pelan.


"Sudah, Bu Laras. Kartu kredit, ATM, bahkan akses ke brankas perusahaan sudah kami bekukan sepenuhnya atas perintah Ibu."


"Bagus. Lalu, bagaimana dengan anak kandungku?"


"Tuan muda sudah aman, Bu. Mobil suruhan Pak Anton yang hendak membuangnya ke panti asuhan sudah kami cegat di tengah jalan. Anak Ibu sekarang dijaga ketat oleh suster di vila pribadi."


Aku menghela napas sangat lega. Mataku kemudian beralih pada bayi mungil di boks bayi sebelahku, anak hasil perselingkuhan Mas Anton dan Rina. Wajahnya pucat dan napasnya dibantu selang oksigen kecil.


"Lalu, bayi perempuan ini mau kita apakan, Bu?" tanya Dimas sambil melirik iba.


"Biarkan saja dia di sini. Anak ini akan jadi senjata utamaku untuk menghancurkan mereka semua dari dalam," jawabku dingin.


Tiba-tiba, ponsel Dimas berdering. Dia mendengarkan sejenak, lalu menatapku dengan raut wajah menahan tawa.


"Ada laporan apa lagi?" selidikku.


"Satpam rumah utama baru saja menelepon, Bu. Ibu mertua Anda saat ini sedang menangis dan mengamuk memukuli gerbang besi. Koper-koper berisi barang mewah yang mereka ambil sudah dilempar keluar oleh petugas keamanan kita."


"Biarkan saja wanita tua serakah itu tidur di pinggir jalan malam ini. Jangan biarkan dia masuk sejengkal pun ke rumahku!"


"Baik, Bu. Lalu, apa rencana kita besok pagi saat Pak Anton kembali ke ruangan ini?"


Aku membaringkan kembali tubuhku dan menarik selimut, lalu menatap Dimas dengan tajam.


"Siapkan pengacara terbaik kita di balik pintu. Begitu suamiku masuk besok pagi, aku akan menunjukkan padanya bagaimana cara seorang istri buta dan lumpuh mencabut nyawa kesombongannya tanpa sisa!"


***



Aku Diusir Ibu Mertuaku karena dianggap Menantu Miskin. Padahal Dia Tidak Tahu Saja, Siapa Aku Sebenarnya!

 


"Angkat kaki kau dari sini, benalu! Wanita pembawa sial sepertimu bisa membuat auraku dan rumah mewah ini ikut miskin!"


Sebuah koper kanvas kusam mendarat kasar di ujung kakiku, isinya berhamburan memperlihatkan daster-daster luntur kesayanganku. 


Aku menatap datar pada Bu Widya, ibu mertuaku.


"Ibu mengusirku?" tanyaku pelan, menahan nada suaraku agar tetap terdengar bergetar.


"Jangan panggil aku Ibu! Anakku, Zaki, sudah sadar dari pelet murahanmu itu!" Bu Widya berkacak pinggang, menatapku jijik. 


"Zaki sudah menemukan wanita yang sepantasnya. Wanita kelas atas, bukan gembel sepertimu!"


Pintu utama terbuka. Zaki melangkah masuk sambil menggandeng pinggang seorang wanita bergaun merah ketat yang menenteng tas branded, yang dari baunya saja aku tahu itu barang KW.


"Mas Zaki," lirihku, berpura-pura terkejut.


Zaki membuang muka, melempar sebuah map cokelat ke lantai tepat di sebelah dasterku. 


"Tanda tangani surat cerai itu. Aku butuh pendamping yang berkelas, bukan wanita yang kerjaannya cuma nyapu dan ngepel."


"Betul kata Mas Zaki," sahut wanita bergaun merah itu, tersenyum merendahkan. 


"Kenalkan, aku Clara. Calon menantu kesayangan Tante Widya. Maaf ya, aku tidak berniat merebut suamimu. Tapi pria sesukses Mas Zaki memang butuh wanita karir sepertiku yang bekerja di Wiratama Group."


Wiratama Group? Aku menahan tawa yang nyaris meledak. 


"Oh, kamu kerja di Wiratama Group?" tanyaku polos.


"Tentu saja!" Bu Widya menyela bangga, mengelus lengan Clara. 


"Clara ini staf penting di sana! Gajinya saja bisa buat beli ginjalmu! Sekarang, bawa baju rombengmu itu dan keluar dari rumah mewah anakku!"


"Rumah mewah anakmu?" ulangku, memastikan pendengaranku tidak salah.


"Ya! Rumah ini, mobil mewah di depan, semua ini hasil keringat Zaki! Pergi sana!" bentak Bu Widya tak sabar.


Aku menunduk, memunguti pakaianku perlahan, lalu berdiri dan menatap ketiganya. 


Tak ada lagi wajah memelas. Bibirku melengkung membentuk senyum tipis yang membuat dahi Zaki berkerut bingung.


"Baik. Aku akan pergi," ucapku tenang, menyeret koper keluar.


Udara malam menyapaku begitu aku melewati gerbang besi menjulang itu. 


Aku merogoh ponsel dari saku jaketku yang lusuh dan menekan panggilan cepat. Nada sambung hanya berbunyi sekali.


"Halo, Pak Hermawan? Mulai malam ini, cabut hak pakai rumah mewah itu dan tarik kembali semua aset yang dipakai Zaki. Oh, satu hal lagi, pastikan staf magang baru bernama Clara di Wiratama Group dipecat tanpa pesangon besok pagi. Mari kita lihat bagaimana gembel sesungguhnya bertahan hidup besok."


***


Bab 2

"Singkirkan tangan kotor kalian dari kap mobil anakku! Berani-beraninya gembel seperti kalian mau menderek mobil milik Zaki!"


Bu Widya menjerit histeris sambil memukul-mukul lengan dua pria berbadan tegap berseragam hitam di halaman depan.


Zaki berlari keluar rumah dengan piyama kusutnya, disusul Clara yang tampak kesulitan menyeimbangkan diri di atas heels tingginya.


"Ada apa ini, Pak?! Kenapa mobil saya diderek?!" bentak Zaki marah, matanya melotot tajam.


"Maaf, Pak Zaki. Kami dari tim legal. Mulai malam ini, hak pakai atas kendaraan dan properti ini resmi ditarik kembali," ucap salah satu pria itu dingin, menyodorkan sebuah map berisi dokumen.


"Ditarik bagaimana maksudnya?! Ini mobil dari hasil keringatku sendiri! Rumah ini juga bonus dari pencapaianku!" 


Zaki menepis kertas itu kasar.


"Anda selama ini hanya menerima fasilitas pinjaman tanpa nama, Pak. Pemilik aslinya meminta aset ini ditarik. Silakan kosongkan rumah ini paling lambat jam enam pagi besok, atau kami yang akan melempar barang-barang Anda ke jalan."


Kedua pria itu masuk ke dalam truk derek tanpa mempedulikan amukan Zaki. Mobil merah kebanggaan keluarga itu ditarik pergi begitu saja.


"Astaga, Zaki! Ini pasti gara-gara perempuan pembawa sial itu!" Bu Widya memegangi kepalanya, nyaris pingsan. 


"Baru beberapa jam benalu itu angkat kaki, kesialannya langsung membuat rezekimu mampet!"


"Sialan!" Zaki mengusap wajahnya frustrasi. "Pasti sistem di kantor sedang error. Besok pagi-pagi sekali aku akan urus ke pusat!"


"Tenang, Mas Zaki, Tante," sela Clara lembut, mengusap dada Zaki untuk menenangkannya. 


"Tidak perlu panik begitu. Mungkin memang ada salah paham. Lagipula, kan masih ada aku. Gajiku dari Wiratama Group sangat besar. Aku bisa menyewa apartemen mewah untuk kita tinggal sementara waktu."


Bu Widya langsung tersenyum lega, menggenggam kedua tangan Clara. 


"Ya ampun, untung saja Zaki memilihmu, Sayang. Coba kalau dia masih bersama si gembel itu, mau makan apa kita besok?"


"Lagipula aku dengar besok akan ada pengangkatan karyawan tetap," lanjut Clara bangga. "Posisiku pasti aman, Tante."


Tiba-tiba, ponsel di dalam tas Clara berdering nyaring. Ia melirik layar dan membusungkan dadanya dengan sombong.


"Nah, ini dari Kepala HRD Wiratama Group. Pasti mereka mau memberitahu soal pengangkatanku. Biar aku loudspeaker ya, biar Tante dan Mas Zaki dengar." Clara menekan tombol hijau. 


"Halo, malam, Pak Budi? Ada kabar baik apa untuk saya?"


Keheningan menyelimuti teras rumah sebelum suara lantang dan marah dari seberang telepon menghancurkan senyum angkuh Clara.


"Kabar baik dari mana?! Mulai detik ini juga, kamu dipecat dengan tidak hormat, Clara! Jangan harap kamu bisa menginjakkan kaki di gedung Wiratama Group besok, dan bersiaplah namamu masuk daftar hitam di seluruh perusahaan di kota ini!"


***



(4) Ibu Mertuaku Ternyata Tidak Miskin. Selama ini Ibu Mertuaku Menyembunyikan...

 


Bab 4

"Saya, Lestari Adiwangsa, dengan ini menyatakan bahwa Danang hanyalah anak angkat yang telah gagal menunjukkan baktinya. Oleh karena itu, saya mencabut segala hak perwalian atas namanya, dan menyerahkan seluruh kepemilikan Adiwangsa Group berserta aset senilai lima ratus triliun rupiah jatuh mutlak ke tangan menantu saya, Kinan!"


Suara lantang nan tegas dari Pak Baskoro menggema, memantul di dinding ruang tamu yang catnya mulai mengelupas. Hening. 


Selama beberapa detik, hanya terdengar suara detak jam dinding dan embusan napas memburu dari Mas Danang.


"BOHONG!" Mas Danang tiba-tiba berteriak histeris, wajahnya merah padam.


Ia merampas kasar map berlogo garuda itu dari tangan Pak Baskoro, matanya melotot lebar membaca deretan kalimat dengan cap notaris di sana. 


"Ini pasti palsu! Kalian berkomplot, kan?! Kinan, kau pasti menyewa aktor tua ini untuk menipuku karena aku menceraikanmu semalam!"


Pak Baskoro tersenyum tipis, sebuah senyuman profesional yang justru terlihat sangat merendahkan. 


Ia memberi isyarat pada asistennya yang langsung mengeluarkan tumpukan dokumen lain, akta adopsi asli bermaterai puluhan tahun lalu, dan hasil tes DNA resmi.


"Ini bukti sah dari pengadilan, Saudara Danang. Anda diadopsi saat berusia dua tahun dari panti asuhan di pinggiran kota," jelas Pak Baskoro dengan nada sedingin es. 


"Mendiang Nyonya Besar menyembunyikan identitas aslinya demi alasan keamanan. Beliau adalah pendiri tunggal Adiwangsa Group. Dan karena Anda telah mengusir Nyonya Kinan secara tidak hormat, klausul pembatalan waris Anda otomatis aktif."


Raya yang sejak tadi berdiri mematung, mendadak lemas hingga harus berpegangan pada pinggiran sofa.


"L-lima ratus triliun? Adiwangsa Group yang menguasai puluhan hotel dan rumah sakit mewah itu?" gumam Raya dengan bibir bergetar hebat. Ia menoleh, menatap Mas Danang dengan pandangan jijik dan penuh amarah. 


"Jadi selama ini kau bukan siapa-siapa, Mas?! Kau cuma anak pungut yang kebetulan diurus orang kaya?!"


"Diam kau, Raya!" bentak Mas Danang panik.


Pria itu kembali menatapku. Kali ini, tidak ada lagi sorot arogan dan tatapan merendahkan di matanya. Ia menelan ludah kasar, menatap pakaian mewahku, pengacara di sisiku, dan bayangan mobil di luar jendela.


Seketika, lutut Mas Danang terlipat. Ia menjatuhkan dirinya di lantai, merangkak mendekat dan berusaha meraih ujung sepatu hak tinggiku dengan tangan gemetar.


"Kinan, Sayang. Maafkan Mas," suaranya mendadak melunak, terdengar sangat menyedihkan. 


"Mas khilaf semalam, Mas tidak sadar. Raya yang terus menghasut Mas untuk mengusirmu dan Ibu! Kita perbaiki semuanya ya? Kita ini suami istri, Sayang. Harta ini milik kita berdua, kan?"


Aku melangkah mundur, menghindari sentuhannya seolah ia adalah kuman penyakit. 


Hatiku yang dulu selalu luluh oleh kata-kata manisnya, kini hanya merasakan kepuasan melihat kehancurannya.


"Kita sudah resmi bercerai, Danang. Surat bermaterai yang kau lemparkan ke wajahku semalam sudah kutandatangani dan diserahkan ke pengadilan agama pagi ini oleh tim Pak Baskoro," jawabku dengan senyum miring.


Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah ini. Rumah sempit tempatku disiksa dan dijadikan pembantu tak bergaji selama tiga tahun.


"Dan asal kau tahu, sertifikat rumah kumuh ini atas nama Ibu," ucapku menatapnya tajam. "Yang artinya, per detik ini, rumah ini adalah hak milikku."


Mas Danang mendongak, wajahnya pias bagai mayat hidup. 


"K-Kinan, tolong jangan usir Mas. Mas mohon, Mas tidak punya uang sepeser pun."


Aku mengabaikan rengekannya dan menoleh ke arah pria paruh baya di sisiku.


"Pak Baskoro, beri dua parasit ini waktu lima belas menit untuk memasukkan baju murahan mereka ke dalam koper. Jika lebih dari itu mereka masih menginjakkan kaki di rumahku, seret dan lemparkan mereka ke jalanan aspal di depan, persis seperti sampah yang mereka buang semalam!"


***





Kujual Mobil dan Rumah Milik Mertuaku karena Mengaku-Ngaku Beli Hasil Jerih Payah Anaknya, padahal Aku yang Membelinya. Kubuat Mereka...

 "Silakan berkemas sekarang, Ibu Mertua. Rumah beserta isinya, dan juga mobil di garasi itu sudah resmi terjual."


"Kamu gila, Arini?!" pekik Ibu mertuaku dengan mata melotot tajam. 


"Ini rumah dan mobil hasil jerih payah anakku! Berani-beraninya kamu mengusir kami, dasar menantu tidak tahu diuntung!"


Aku tersenyum tipis, melipat kedua tangan di depan dada. 


"Jerih payah Mas Dimas yang kerjanya cuma tidur sampai siang, atau jerih payah Ibu yang hobi arisan memamerkan harta menantunya?"


"Jaga mulutmu, Dek!" Mas Dimas menunjuk wajahku dengan marah. "Kamu cuma numpang di sini! Jangan pernah kurang ajar sama Ibuku!"


"Numpang?" Aku tertawa sumbang. "Mas, coba kamu cek mutasi rekeningmu sekarang. Masih ada sisa uang gajiku yang diam-diam kamu klaim sebagai hasil keringatmu ke semua orang itu?"


Mas Dimas buru-buru merogoh saku, menekan layar ponselnya dengan panik. Wajahnya yang tadi merah padam karena marah mendadak pucat pasi.


"K-kosong? Arini, kemana semua uang di rekeningku?!" tanyanya dengan suara bergetar.


"Sudah kutarik semua. Lagipula itu uangku, bukan uangmu," ralatku tegas.


"Lalu kami harus tinggal di mana kalau rumah ini kamu jual, hah?!" teriak Ibu mertuaku mulai histeris. Wajah angkuhnya seketika runtuh.


"Bukan urusanku. Pembeli rumah ini akan tiba lima belas menit lagi bersama petugas pengosongan. Pastikan kalian tidak merusak barang apa pun."


Aku membalikkan badan, melangkah perlahan ke arah pintu utama. Tanganku meraih gagang pintu, lalu menoleh menatap mereka berdua untuk yang terakhir kalinya.


"Selamat menikmati kemiskinan yang sebenarnya. Oh, dan satu lagi, Mas, surat cerai kita akan diantar langsung oleh pengacaraku besok pagi."


***

Bab 2

"Mereka berdua sedang menangis di pinggir jalan sekarang, Bu Arini. Tetangga satu komplek sudah berkumpul menonton koper mereka yang berantakan."


Aku tersenyum tipis mendengar laporan Pak Anton, agen properti kepercayaanku, dari seberang telepon. 


"Bagus, Pak. Biarkan saja, pastikan kunci rumah sudah diganti semua."


Belum sempat aku meletakkan ponsel di atas meja lobi hotel bintang lima ini, layar kembali menyala. 


Panggilan masuk dari 'Mas Dimas'. Aku membiarkannya berdering panjang sebelum menekan tombol hijau.


"Arini! Cepat kembali ke sini sekarang juga! Ibu hampir pingsan kepanasan di luar, dan orang-orang malah menertawakan kami!" teriak Dimas dengan suara serak, perpaduan antara amarah dan panik yang luar biasa.


"Bukannya Ibumu hobi berada di luar rumah untuk memamerkan perhiasan emasnya ke tetangga? Sekarang dia bisa sekalian memamerkan koper bekasnya," balasku santai sambil menyesap kopi hangatku.


"Kamu benar-benar iblis, Rin! Tega kamu mempermalukan suamimu sendiri seperti ini! Jemput kami sekarang atau aku akan laporkan kamu ke polisi atas tuduhan penipuan!" ancamnya dengan napas terengah-engah.


Aku tertawa pelan. "Penipuan yang mana, Mas? Atas rumah yang sertifikatnya murni atas namaku sebelum kita menikah? Atau atas mobil yang cicilannya selalu aku bayar pakai uang pribadiku?"


Hening. Dimas seolah kehabisan kata-kata di ujung sana.


"Lagi pula, Mas," suaraku berubah dingin. "Kenapa kamu repot-repot menyuruhku menjemput? Kenapa tidak minta tolong saja pada Indah?"


Terdengar suara napas yang tercekat. 


"K-kamu ... tahu dari mana soal Indah?"


"Silakan hubungi selingkuhanmu itu untuk minta tumpangan, Mas. Tapi sayang sekali, aku baru saja mengirim orang untuk menarik paksa mobil yang sering dia pakai pamer ke kantor pagi ini."


***



Jasad Suamiku Ditemukan Membusuk di Rumah Mertuaku. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Apa jangan-jangan Mertuaku itu...

 


"Tujuh hari, Bu! Tujuh hari Bang Yasir tidak pulang, dan Ibu masih saja melarangku lapor polisi?!"


"Kecilkan suaramu, Ainun!" desis Ibu mertuaku, matanya melirik cemas ke arah jendela yang tertutup rapat. "Kamu mau buat malu keluarga? Tetangga bisa dengar!"


"Malu kenapa, Bu? Suamiku hilang! Kapalnya sudah bersandar sejak tiga hari lalu, dan teman-temannya bilang Bang Yasir sudah pulang duluan malam itu juga!" cecarku tak tertahan.


"Mungkin dia sedang ada urusan di darat," potong Bapak dari sudut ruangan. Suaranya keras, tapi tangannya terlihat gemetar hebat meremas ujung sarung.


"Sampai mematikan ponsel berhari-hari? Tidak—" Ucapanku terhenti. Aku mengendus udara ruangan yang mendadak terasa berat. 


"Tunggu, bau apa ini?"


Ruangan mendadak hening. Wajah Ibu dan Bapak seketika pucat pasi.


"B-bau apa? Ibu tidak cium apa-apa," sanggah Ibu terbata-bata.


"Ini bau anyir. Asalnya dari arah paviliun belakang," ujarku sambil mengambil langkah.


Ibu langsung berlari menghalangiku, merentangkan tangannya lebar-lebar dengan napas memburu. 


"Berhenti di situ, Ainun! Jangan berani-berani kamu melangkah ke belakang!"


"Kenapa, Bu?! Baunya sangat menyengat!"


"KARENA BAPAK MELARANGMU!" bentak Bapak tiba-tiba, urat lehernya menonjol. Matanya melotot tajam, tapi aku bisa melihat kepanikan luar biasa di sana. 


"Duduk di ruang tamu sekarang! Jangan pernah dekati paviliun itu!"


Memilih untuk tidak mendebat orang yang sedang kalap, aku membalikkan badan. 


"Baik."


Aku berjalan ke ruang tamu dan menutup pintu agak keras. Tapi aku tidak beranjak menjauh. Aku menahan napas dan menempelkan telingaku rapat-rapat di balik daun pintu.


Hening sejenak. Lalu, terdengar bisikan panik yang langsung membuat darahku mendidih.


"Baunya sudah tidak bisa ditutupi lagi, Pak. Kita harus menguburnya malam ini juga," isak Ibu dengan suara gemetar.


"Bapak tahu! Ini juga gara-gara kamu yang menyuruh Bapak memaksa Yasir menandatangani surat warisan itu!" balas Bapak dengan desisan panik. 


"Kalau malam itu dia tidak melawan, Bapak tidak akan refleks memukul kepalanya sekeras itu pakai balok kayu!"


Jantungku seakan berhenti berdetak. Kakiku seketika lemas. 


Memukul kepalanya?


Air mataku tumpah. Tubuhku gemetar hebat antara amarah, hancur, dan kengerian. 


Tanpa berpikir panjang, aku menyambar linggis kecil dari kotak perkakas di sudut kamar. Aku menerobos keluar, mengabaikan jeritan kaget kedua mertuaku.


"Ainun! Berhenti!" jerit Ibu histeris.


"Minggir!" bentakku kalap.


Aku mengayunkan linggis itu ke gembok paviliun belakang, Gembok karatan itu hancur. Dengan sisa tenaga, aku menendang pintunya hingga terbuka lebar.


Angin dingin berbau anyir pekat langsung menampar wajahku. Linggis di tanganku terlepas, jatuh menghantam lantai. Napasku tercekat di tenggorokan. 


Di atas ranjang kayu di tengah ruangan itu, terbaring kaku sesosok tubuh mengenakan jaket kulit kesayangan suamiku. 


Tiba-tiba, Ibu mertuaku menjatuhkan dirinya di kakiku. Tangisnya pecah meraung-raung, meremas ujung rokku bak orang kesurupan.


"Ainun, ini bukan seperti yang kamu bayangkan, Nak!" jerit Ibu mertuaku dengan wajah memelas yang dibanjiri air mata. 


"Bapakmu cuma bermaksud memberinya pelajaran, tapi dia malah jatuh! Tolong, Nak. Kami sudah tua, jangan masukkan kami ke penjara. Mari kita kuburkan Yasir sama-sama malam ini, dan Ibu janji, besok seluruh harta warisan ini akan langsung Ibu balik nama atas namamu seutuhnya!"


***

Bab 2

"Semua harta warisan atas namaku, Bu? Termasuk dua kapal penangkap ikan Bang Yasir?"


Aku menelan ludah, menatap dingin wanita tua yang masih bersimpuh sambil memeluk kedua kakiku. 


Di dalam dada, jantungku meronta, menjeritkan nama suamiku yang terbujur kaku. 


Tapi aku tahu, berlari keluar sambil berteriak malam ini hanya akan membuatku disusul dan berujung sama seperti Bang Yasir. 


Aku harus pura-pura. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu, dan apa senjata yang Bapak gunakan.


"Iya, Ainun! Semuanya! Rumah ini, kapal, tabungan, semuanya!" isak Ibu mertuaku cepat. Matanya berbinar penuh harap melihat keraguanku. 


"Asal kamu tutup mulut dan kita kubur Yasir di halaman belakang malam ini juga!"


"Tidak bisa begitu, Bu," jawabku datar, pelan-pelan menarik kakiku dari cengkeramannya.


Bapak mertuaku yang sejak tadi mematung langsung maju selangkah, rahangnya mengeras. 


"Apa maksudmu tidak bisa?! Kamu mau mengkhianati kami?!"


"Bukan begitu, Pak," potongku cepat, berusaha menatap matanya tanpa bergetar. 


"Kalian pikir tetangga tidak akan curiga? Bang Yasir sudah hilang tujuh hari, lalu tiba-tiba ada gundukan tanah baru di belakang rumah yang bau sudah menyebar? Kita malah akan langsung ditangkap polisi!"


"L-lalu kita harus bagaimana, Ainun?" suara Ibu bergetar ketakutan.


"Kita harus melapor ke warga malam ini juga. Teriak minta tolong," ucapku mantap.


"KAMU GILA?!" bentak Bapak, tangannya refleks mengepal kuat.


"Dengarkan Ainun dulu, Pak!" balasku tak kalah keras. "Kita panggil warga, tapi kita siapkan alasan. Kita bilang saja Bang Yasir baru pulang diam-diam malam ini."


Mata Ibu mertuaku seketika melebar, dengan cepat menangkap maksudku. 


"Ya, ya! Dia baru pulang malam ini, lewat pintu belakang karena tidak mau mengganggu kita yang sedang tidur! Lalu ..."


Ibu menelan ludah, menatap lantai paviliun yang berkerak darah merah gelap.


"... Lalu dia terpeleset! Ya, benar! Lantai ini licin karena bocor! Dia terpeleset dan kepalanya membentur ujung dipan kayu itu dengan sangat keras!" cerocos Ibu mertuaku dengan wajah kalut namun penuh siasat.


Bapak menghela napas panjang, kepanikannya perlahan mereda. 


"Ya. Masuk akal. Jatuh dan kepalanya membentur dipan. Polisi desa tidak akan menyelidiki terlalu jauh kalau pihak keluarga menolak autopsi dan sudah mengikhlaskan."


Aku mengangguk pelan, meski perutku mual mendengar betapa lancarnya mereka mengarang cerita di atas mayat darah dagingnya sendiri. 


Sambil melirik ke arah ranjang, aku memperhatikan luka menganga di kepala Bang Yasir.


Luka itu terlalu melengkung dan dalam. Itu bukan sekadar luka pukulan balok kayu, apalagi benturan dipan. 


Mereka menyembunyikan sesuatu yang lebih kejam dari sekadar pertengkaran warisan. Aku butuh waktu mencari tahu sebelum warga meramaikan tempat ini.


"Biar Ibu yang lari ke depan teriak panggil Pak RT," ujar Ibu mulai bangkit berdiri. Dia menyeka air matanya dengan ujung daster, dan seketika itu juga raut sedihnya hilang tanpa sisa, berganti dengan wajah dingin tak berperasaan.


"Tunggu sebentar, Bu," tahan Bapak mertuaku dengan suara serak. Langkahnya perlahan mendekati jasad suamiku di atas kasur.


***



(4) Istriku ditabrak mobil sampai meninggal. Saat kunikahi adik tiri istriku, mendadak istriku muncul. Siapa dia sebenarnya? Ternyata istriku sebenarnya...

Bab 4

 Ruangan itu seketika sunyi senyap. Mulut Ibu Mertua terbuka rapat, sementara Siska mendongak dengan tatapan syok seolah baru saja melihat hantu. 


Selama ini, Ibu Mertua selalu memperlakukan Riana bak pembantu karena mengira istriku itu hanya wanita sebatang kara yang miskin.


Aku sendiri terpaku. Istri penurut yang selama ini mendampingiku, adalah pewaris tunggal keluarga Adhitama?


Riana membalikkan badannya dengan sangat anggun, bersiap melangkah pergi meninggalkan kekacauan ini bersama para pengawalnya.


Namun sebelum ia benar-benar keluar, ia menoleh dari balik bahunya, menatap tepat ke arah Ibu Mertua dan Siska yang masih mematung di lantai.


"Silakan batalkan pernikahan ini dan urus kejahatan putri kesayanganmu itu ke kantor polisi, Ibu Mertua," ucap Riana dengan senyum yang sangat manis, namun mematikan. 


"Dan pastikan kalian mulai mengepak barang-barang kalian. Karena besok pagi, tim pengacaraku akan menyita rumah agung itu beserta seluruh aset perusahaan suamiku, sebagai bentuk penarikan modal besar-besaran dari keluarga Adhitama."


***


​"Borgol saja tangan rapuhnya itu, Pak Polisi. Semua bukti transfer dari rekeningnya ke montir bayaran ini, beserta rekaman CCTV asli dari bengkel, sudah dikirim langsung oleh tim pengacaraku ke meja komandan kalian."


Suara Riana yang dingin dan penuh perhitungan menyambut langkah tegap beberapa petugas kepolisian yang baru saja memasuki ruang utama gedung.


Pemandangan di depanku sungguh membuat perutku mual. 


Siska, wanita yang beberapa menit lalu berdiri anggun di sisiku dengan balutan gaun pengantin mewah, kini merangkak mundur dengan wajah berantakan. 


Tiara di kepalanya miring, riasannya luntur oleh air mata hitam dari maskara yang luruh, dan gaun putihnya terseret mengusap karpet merah yang kotor.


"Tidak! Lepaskan aku! Aku tidak membunuh siapa-siapa! Wanita di mobil itu pencuri, jadi dia pantas mati!" jerit Siska histeris saat dua petugas polisi wanita mulai memegang kedua lengannya.


"Kau tidak berhak menentukan nyawa orang lain, Siska! Niatmu sejak awal adalah menyingkirkanku!" balas Riana tajam, tatapannya menyala bagai nyala api yang siap menghanguskan adik tirinya itu.


Siska memberontak kasar, lalu menoleh ke arahku dengan tatapan memelas. 


"Mas! Tolong aku, Mas! Cegah mereka! Aku melakukan semua ini karena aku sangat mencintaimu, Mas! Aku tidak rela melihat Mas hidup menderita dengan wanita miskin seperti dia! Aku pantas menjadi istrimu!"


Mendengar kata 'cinta' keluar dari mulut liciknya, kemarahanku akhirnya meledak tak tertahankan.


"Jangan berani-berani kau menyebut kata cinta dari mulut kotormu itu!" bentakku, membuat Siska tersentak kaget karena selama ini ia hanya mengenalku sebagai pria penurut yang sabar. 


"Kau meracuni pikiranku dengan obat tidur, memfitnah istriku, dan sekarang kau berlindung di balik kata cinta setelah mencoba membunuhnya?! Aku lebih baik mati membusuk daripada harus bersentuhan dengan monster sepertimu!"


Penolakanku yang mentah-mentah rupanya menjadi pukulan terakhir bagi Siska. Kakinya benar-benar lemas. Ia meraung sejadi-jadinya saat borgol dingin itu akhirnya mengunci kedua pergelangan tangannya. 


Suara tangisannya yang melengking tak sedikit pun memancing simpati dari para tamu undangan; mereka justru merekam momen memalukan itu dengan ponsel masing-masing, berbisik jijik melihat kebusukan sang pengantin wanita.


Di sudut lain, penderitaan rupanya belum selesai. Ibu mertua, yang sedari tadi syok menyadari bahwa menantu yang selalu ia jadikan 'pembantu tak bergaji' adalah pewaris tunggal konglomerat Adhitama, kini tersadar dari lamunannya.


Mengetahui bahwa perusahaanku akan ditarik modalnya dan rumah megah kami akan disita, wanita tua itu tiba-tiba melempar harga dirinya. 


Ia berlari tertatih menghampiri Riana, bahkan hendak bersimpuh memegang ujung gaun Riana.


"Riana, Nak. Menantu Ibu yang paling cantik dan baik hati," rengek Ibu Mertua dengan suara dibuat-buat agar terdengar memelas. 


"Ibu mohon, Nak. Ampuni Siska, dia masih muda dan buta karena cinta. Dan tolong, jangan tarik aset suamimu. Perusahaan itu satu-satunya kebanggaan keluarga kita, Nak. Kau masih istri sahnya, kan? Kalian masih bisa mengulang semuanya dari awal."


Riana mundur selangkah, menolak disentuh sedikit pun. Ia menatap Ibu Mertua dengan sorot mata penuh ejekan yang elegan.


"Keluarga 'kita'?" Riana mengulangi kata itu dengan tawa sinis. 


"Sejak kapan Ibu menganggapku keluarga? Seingatku, aku hanya 'perempuan benalu pembawa sial' yang bahkan tidak diizinkan makan di meja yang sama jika ada tamu keluarga yang datang."


Ibu Mertua pucat pasi, mulutnya megap-megap tak mampu menjawab karena semua yang dikatakan Riana adalah kebenaran yang tak terbantahkan.


Riana membenarkan letak tas kecil mewahnya, lalu melirik sekilas ke arah Siska yang kini digiring paksa keluar gedung oleh pihak berwajib diiringi tatapan hina dari seluruh tamu. 


Tugasnya di sini sudah selesai. Pembalasannya telak, tanpa cacat.


Lalu, pandangan Riana akhirnya jatuh kepadaku. Mataku memerah, menahan rasa malu, penyesalan, dan rindu yang bercampur menjadi racun mematikan di dalam dada. 


Aku ingin memeluknya. Aku ingin berlutut memohon ampun karena begitu bodohnya membiarkan diriku disetir oleh Siska dan ibunya.


"Ri, aku ..." suaraku tercekat.


Namun, Riana hanya memberikan sebuah senyuman tipis yang sangat dingin, senyuman yang menjadi garis pemisah yang tak akan pernah bisa kulewati lagi seumur hidupku.


"Simpan pembelaanmu, Mas. Surat gugatan ceraiku akan mendarat di mejamu besok pagi. Pastikan kau menandatanganinya tanpa drama, karena aku tidak sudi namaku masih bersanding dengan pria buta yang tak bisa membedakan mana berlian sungguhan dan mana tumpukan sampah."


***




Senin, 13 April 2026

Aku Salah Satu Korban Kecelakaan Pesawat, Suamiku Mengiraku Telah Mati. Suamiku Mau Menikah Lagi, Kutemui Adik Tiri Suamiku, Dan Aku Rencanakan Balas Dendam Dengan...


 "Nikahi aku, Kala. Kita buat Mas Vino menyesal seumur hidupnya."


Pria yang tengah merapikan berkas di mejanya itu membeku. Map di tangannya terlepas, sementara matanya menatapku dengan sorot terkejut luar biasa.


"Mbak Cinta?" suara Kala terdengar serak dan bergetar. 


"Ini ... ini benar-benar Mbak? Bukankah nama Mbak ada di daftar penumpang pesawat yang jatuh tiga hari lalu itu? Kita semua mengira Mbak sudah meninggal!"


"Aku memang seharusnya ada di penerbangan itu, Kal," kataku dingin, melangkah maju mendekatinya. 


"Tapi aku turun sebelum lepas landas karena firasat buruk. Dan syukurlah aku tidak jadi terbang."


"Kalau begitu kenapa Mbak malah bersembunyi? Kenapa membiarkan seisi rumah geger dan menangis?" wajah Kala menyiratkan kepedulian yang tulus.


"Menangis? Siapa yang menangis?" Aku tersenyum perih, menahan rasa sesak di dada. 


"Karena di malam kecelakaan itu, aku pulang diam-diam. Dan kamu tahu apa yang kulihat? Mas Vino sedikit pun tidak menangisi kepergianku. Dia malah tertawa puas, merayakan kematianku, dan sudah menyebar undangan pernikahan barunya dengan menggunakan harta peninggalanku!"


Kala menghela napas panjang, sorot matanya berubah redup dan prihatin. 


"Aku tahu Mas Vino sering bersikap buruk, tapi aku tidak menyangka dia bisa sekejam itu pada istrinya sendiri. Lalu, kenapa Mbak menemuiku?"


"Karena aku butuh bantuanmu, Kala. Aku tahu kamu orang baik yang selalu ditindas olehnya, dan kamu satu-satunya orang di rumah itu yang peduli pada perusahaan peninggalan ayah kalian. Jika kita menikah, aku akan menggunakan seluruh kekuasaan dan hartaku untuk membantumu merebut posisi pewaris utama. Kita hentikan Mas Vino sebelum dia menghancurkan semuanya."


Kala terdiam cukup lama. Tatapan matanya menyiratkan pergolakan batin, namun perlahan rahangnya mengeras penuh tekad.


"Aku tidak pernah mengincar harta, Mbak. Tapi aku tidak bisa membiarkan Mas Vino terus berbuat zalim," ucap Kala pelan namun tegas. 


"Aku setuju. Aku akan menikah dengan Mbak dan membantu membalas rasa sakit Mbak."


Aku baru saja hendak menghela napas lega, namun kalimat Kala selanjutnya membuat napasku tercekat.


"Tapi, Mbak harus tahu satu rahasia besar tentang calon istri baru Mas Vino," ujar Kala dengan raut wajah serius.


"Rahasia apa?" tanyaku dengan napas tertahan.


"Wanita yang akan dinikahi Mas Vino lusa nanti adalah Marta, sahabat karib Mbak sendiri." 


Kala menatapku lekat. 


"Marta menjebak Mas Vino dan memaksanya menikah dengan alasan dia sedang mengandung anaknya. Padahal, tanpa sengaja aku pernah melihat hasil rekam medis rahasia milik Mas Vino, Mbak. Dan di sana tertulis jelas, kalau secara medis, Mas Vino itu sebenarnya mandul."


***


Bab 2

"Siapkan jas hitam terbaikmu, Kala. Besok, kita akan mengubah pesta pernikahan termegah di kota ini menjadi panggung kehancuran yang tak akan pernah mereka lupakan."


Aku menatap pantulan wajahku di cermin, menghapus sisa-sisa air mata kelemahan yang tak berguna. Mulai detik ini, Cinta yang naif dan penurut telah mati tertelan ombak.


Kala yang berdiri di ambang pintu menatapku dengan sorot mata kagum sekaligus cemas. 


"Mbak yakin mau melakukan konfrontasi langsung besok? Kita bisa saja memakai jalur hukum sekarang juga untuk membatalkan pengalihan aset yang Mas Vino lakukan."


"Tidak, Kala. Hukum saja tidak cukup untuk menebus pengkhianatan ini," jawabku tajam, membalikkan badan menghadapnya. 


"Penjara terlalu nyaman untuk peselingkuh seperti mereka. Aku ingin mereka hancur berkeping-keping secara sosial, tepat di puncak kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaanku."


Kala menghela napas panjang, melangkah mendekat. 


"Aku mendukungmu seratus persen. Tapi Mbak harus tahu, Mas Vino sudah memegang kartu akses brankas utama rumah. Dan Ibu mertua, beliau tidak henti-hentinya memuja Marta. Ibu mertua bahkan sudah membelikan banyak perhiasan untuk Marta karena mengira akan segera mendapatkan cucu penerus keluarga."


Aku tersenyum sinis. "Biar saja Ibu mertua bersorak gembira dan memanjakan menantu barunya itu. Semakin tinggi mereka terbang, semakin sakit saat kujatuhkan nanti. Soal harta, Mas Vino terlalu serakah sekaligus bodoh. Dia pikir dia sudah menguasai segalanya?"


"Maksud Mbak?" dahi Kala berkerut bingung.


"Dia tidak tahu kalau 80 persen aset kekayaanku yang sebenarnya sudah kuikat dalam perwalian rahasia sejak ayahku meninggal. Yang sedang Mas Vino hambur-hamburkan untuk pesta pernikahannya besok, hanyalah remah-remah sisa uang jajanku." Aku melipat tangan di dada. 


"Kamu sudah mengamankan dokumen yang kuminta?"


Kala menepuk saku jasnya sambil tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak pernah ia tunjukkan di depan keluarga kejam itu. 


"Tentu saja. Rekam medis asli Mas Vino yang menyatakan dia mandul permanen ada di tanganku. Ditambah bukti transfer rahasia Marta ke dokter kandungan gadungan itu."


"Kerja bagus. Besok, dokumen itu akan menjadi kado pernikahan paling indah untuk mereka."


***


Keesokan harinya, aku berdiri tegak di depan pintu utama ballroom hotel bintang lima yang kemegahannya dibayar menggunakan uangku. 


Aku memakai gaun merah menyala yang elegan, kontras dengan gaun pengantin putih suci yang pasti sedang dikenakan Marta di dalam sana.


Kala berdiri di sampingku, terlihat luar biasa tampan dan berwibawa dalam balutan jas hitam mahalnya. Ia menatapku lekat.


"Kamu terlihat sangat cantik sekaligus berbahaya, Mbak. Mas Vino pasti akan jantungan mengira dia sedang dijemput malaikat maut."


Aku menoleh, merapikan dasi Kala dengan lembut. 


"Bukan Mbak, Kala. Mulai detik ini, biasakan dirimu. Panggil aku nama saja, biar kita kelihatan akrab."


Kala tertegun sejenak, wajahnya sedikit merona sebelum akhirnya ia tersenyum penuh keyakinan. 


"Baik, Cinta. Kau siap memulai pertunjukannya?"


Dari balik pintu jati berukir raksasa di hadapan kami, terdengar suara pembawa acara melalui pengeras suara, meminta para tamu undangan untuk berdiri menyambut sepasang pengantin yang tengah berbahagia. Riuh tepuk tangan menggema di dalam ruangan.


"Buka pintunya sekarang, Kala," bisikku tajam.


Kedua penjaga pintu yang sudah disuap oleh Kala langsung mendorong gagang pintu raksasa itu lebar-lebar. 


Suara derit engsel pintu yang berat seketika membelah keramaian, membuat musik orkestra berhenti mendadak dan ribuan pasang mata menoleh ke arah kami. 


Termasuk Mas Vino dan Marta yang baru saja hendak melangkah ke pelaminan.


Aku mengangkat dagu, menginjak karpet merah dengan senyum paling meremehkan yang kumiliki.


"Maaf aku terlambat datang ke pemakamanku sendiri, Mas Vino sayang! Teruskan saja pestanya, aku sengaja datang kemari membawa kado berisi ayah biologis dari janin yang dikandung istrimu itu!"


***



(3) Mertuaku Pura-Pura Sakit Parah, Padahal Sebenarnya dia sedang Menguji Anak-Anaknya. Dan Kejutan, Ibu Mertuaku justru...

 


"Tiga ratus miliar?! Omong kosong apa lagi yang kau karang, Pengacara Gila?!" Wajah Arya memucat pasi, urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang bercampur panik.


Vina dengan kasar merampas kertas tebal itu dari tangan Pak Surya. Matanya bergerak cepat membaca deretan kalimat di sana, sebelum akhirnya lututnya lemas dan ia jatuh terduduk di lantai.


"Arya, ini benar, Arya. Ini cap jempol asli Ibu yang dilegalisir notaris. Semua utang rahasia perusahaan dibebankan ke namamu sebagai penjamin tunggal!" Suara Vina bergetar hebat. Air matanya kini benar-benar menetes, bukan lagi air mata buaya seperti tadi.


"Tidak mungkin! Perusahaan Ibu sehat! Uangnya banyak!" Arya menggeleng keras, menolak kenyataan sambil memegangi kepalanya.


"Perusahaan yang sering kalian kuras kasnya itu sudah lama diambang kebangkrutan, Saudara Arya," jelas Pak Surya dengan nada tenang yang mematikan. 


"Ibu kalian ini sangat cerdas. Beliau sengaja membiarkan kalian memegang kendali perusahaan yang dipenuhi lubang utang, sementara seluruh aset bersih yang tak tersentuh sudah dialihkan ke nama Hani."


Aku tertegun. Kupandangi wajah pucat ibu mertuaku yang masih terbaring dengan mata terpejam rapat di atas ranjang. 


Ya Tuhan, ternyata selama ini Ibu mertua merencanakan semua ini dalam diam untuk melindungiku?


"Aku ... aku tarik kata-kataku! Talak itu tidak sah! Aku cuma emosi sesaat!" 


Arya tiba-tiba berbalik menatapku. Matanya yang tadi garang kini memelas ketakutan. 


"Hani, Sayang, kau tahu aku tidak sungguh-sungguh, kan? Kita ini suami istri!"


Aku menatap jijik pada pria yang baru beberapa menit lalu memperlakukanku seperti sampah tak berguna.


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi, Arya," desisku tajam. 


Rasa rendah diriku yang selama tiga tahun ini mengurungku, mendadak menguap tanpa sisa. 


"Talak sudah jatuh. Kau sendiri yang mengusirku dengan lantang di depan pengacara keluarga."


"Hani! Kau jangan serakah! Kau pikir kau bisa mengurus Ibu sendirian?!" Vina ikut berteriak dari lantai, mencoba mencari celah untuk menyerangku. 


"Tolong, biarkan kami tetap tinggal di sini! Kalau kami keluar, bank akan langsung mengejar Arya!"


"Kalian yang tadi bersekongkol memalsukan dokumen untuk membuang Ibu ke panti jompo kumuh, dan sekarang kalian memohon padaku?" tanyaku dingin.


"Hani, kumohon. Bank akan menyita semuanya besok pagi kalau aku keluar dari rumah ini. Aku bisa dipenjara karena utang itu!" Arya merangsek maju, hendak bersimpuh di kakiku.


Pak Surya dengan sigap melangkah menghalanginya. 


"Jaga jarak Anda, Saudara Arya."


Aku menarik napas panjang, menatap bergantian kakak beradik yang kini terlihat sangat menyedihkan itu. 


Harta rupanya bisa mengubah manusia menjadi iblis, sekaligus menampar mereka menjadi pengemis dalam sekejap mata.


"Baik. Aku tidak akan mengusir kalian malam ini," ucapku perlahan.


Arya dan Vina serentak mendongak dengan secercah harapan di mata mereka.


"Benarkah, Hani? Terima kasih! Aku tahu kau menantu yang pemaaf!" ucap Vina terbata-bata sambil mengusap air matanya.


Aku tersenyum miring, menunduk menatap mereka berdua dengan tatapan paling dingin yang pernah kumiliki.


"Tapi karena rumah mewah ini sekarang milikku sepenuhnya, aku punya aturan baru," ucapku dengan suara lantang yang menggema di kamar itu. 


"Kalian boleh tetap tinggal, dengan syarat malam ini juga kalian berdua pindah tidur ke gudang sempit di sebelah garasi, dan mulai besok pagi, jangan harap ada sarapan sebelum kalian berdua selesai menyikat seluruh toilet di rumah ini!"


***



(2) Ibu Mertuaku Ternyata Tidak Miskin. Selama ini Ibu Mertuaku Menyembunyikan...

 


Bab 3

"Buang semua sisa baju murahan Kinan ke tempat sampah depan! Mulai hari ini, nyonya di rumah ini adalah aku, bukan perawat gratisan yang sudah kau usir semalam, Mas."


Suara tawa manja Raya menggema di ruang tengah yang sempit itu. 


Wanita bergaun merah tersebut bersandar manja pada Mas Danang, mengamati dua orang pria sewaan yang sedang mengeluarkan koper-koper berisi barang lamaku dari kamar utama. 


Mas Danang mengecup puncak kepala Raya dengan bangga. 


"Tentu saja, Sayang. Untung benalu itu sudah pergi. Sekarang kita tinggal menunggu surat tanah rumah rongsokan ini ketemu. Lumayan kalau kita jual untuk tambahan biaya pernikahan mewah kita nanti."


Belum sempat Raya membalas dengan pujian, suara ketukan pintu yang sangat keras dan berwibawa menghentikan tawa mereka. Mas Danang berdecak kesal, melepaskan pelukannya, lalu melangkah ke pintu depan dengan wajah terlipat.


"Siapa sih pagi-pagi begini—"

Ucapan Mas Danang terputus di kerongkongan saat pintu terbuka. 


Alih-alih tetangga atau penagih utang yang biasa datang, di teras rumah berdirilah tiga orang pria berjas abu-abu rapi dengan postur tegap. 


Di tengah mereka, berdiri seorang pria paruh baya berkacamata dengan tas kerja kulit yang tampak sangat mahal.


"Selamat pagi. Apakah benar ini kediaman Saudara Danang, putra angkat dari mendiang Nyonya Besar Lestari Adiwangsa?" tanya pria paruh baya itu dengan nada datar namun sangat berwibawa.


Mas Danang mengernyitkan dahi, tampak bingung sekaligus tersinggung. 


"Putra angkat? Sembarangan kalau bicara! Saya anak kandungnya! Dan nama ibu saya Tari, bukan Lestari Adiwangsa. Kalian ini sales asuransi atau apa? Ibu saya meninggal tidak meninggalkan apa-apa selain tagihan rumah sakit!"


Pria itu membetulkan letak kacamatanya, tak sedikit pun terintimidasi oleh bentakan Mas Danang. 


"Perkenalkan, saya Baskoro, Kepala Firma Hukum Adiwangsa & Rekan. Kedatangan kami kemari adalah untuk melaksanakan amanat mendiang Nyonya Besar, yakni pembacaan wasiat mutlak beliau."


Raya yang sejak tadi mengintip dari ruang tengah, buru-buru maju dan menempel pada lengan Mas Danang. Matanya berbinar licik melihat tas kerja kulit mewah di tangan Baskoro.


"Mas, mungkin ibumu diam-diam punya asuransi kematian tanpa sepengetahuanmu? Biarkan saja mereka masuk, siapa tahu jumlahnya lumayan," bisik Raya antusias.


Mas Danang yang tadinya marah, kini mendadak tersenyum miring. Ia membuka pintu lebih lebar. 


"Baiklah, silakan masuk, Pak Pengacara. Bacakan saja wasiatnya sekarang. Toh, saya satu-satunya ahli waris di sini. Sebutkan saja berapa jumlah uangnya."


Baskoro melangkah masuk, diikuti dua asistennya, namun ia sama sekali tidak duduk di sofa lusuh yang ditunjuk Mas Danang. Ia tetap berdiri tegak di tengah ruangan.


"Maaf, Saudara Danang. Pembacaan wasiat baru sah di mata hukum jika dihadiri oleh Pewaris Utama. Kita harus menunggu beliau tiba," ucap Baskoro dingin.


"Pewaris Utama? Maksud Bapak apa? Saya ini anak tunggalnya!" wajah Mas Danang mulai memerah menahan marah.


Belum sempat Baskoro menjawab, suara deru mesin halus terdengar dari luar. Sebuah mobil super mewah yang tak pernah terlihat melintas di kompleks perumahan padat ini, berhenti tepat di depan pagar karatan rumah Mas Danang.


Mas Danang dan Raya ternganga, berlomba-lomba melongok ke jendela. Mata mereka nyaris melotot keluar saat melihat supir berseragam putih turun dan membukakan pintu penumpang bagian belakang dengan sangat hormat.


Langkah kaki berlapis sepatu hak tinggi memijak jalanan aspal yang masih basah sisa hujan semalam. 


Aku melangkah keluar dengan balutan gaun setelan blazer berwarna navy yang elegan, rambut yang tertata rapi, dan aura yang jauh berbeda dari Kinan yang semalam diusir layaknya binatang.


Dari balik kaca mobil yang gelap, aku bisa melihat bayangan Gala yang duduk bersila, mengawasiku dengan tatapan tajamnya yang menenangkan, seolah memastikan tidak ada satu pun orang yang berani menyentuhku hari ini.


Aku melangkah masuk ke dalam rumah yang selama tiga tahun menjadi nerakaku itu. Mas Danang mundur selangkah hingga menabrak meja, wajahnya pias bagai melihat hantu.


"K-Kinan?! Dari mana ... baju siapa, dan mobil siapa itu?!" seru Mas Danang dengan suara gemetar, matanya bergerak panik menatapku dan Baskoro bergantian.


Raya tampak pucat, cengkeramannya pada lengan Danang mengendur. 


"Mas, apa-apaan ini? Kenapa gembel ini bisa datang pakai mobil mewah?!"


Aku mengabaikan keterkejutan mereka dan melangkah anggun ke tengah ruangan. Pak Baskoro dan dua asistennya serempak menunduk hormat padaku.


"Selamat pagi, Nyonya Kinan. Semua dokumen sudah siap. Apakah Anda ingin saya membacakannya sekarang?" tanya Pak Baskoro dengan takzim.


Aku menatap mata suamiku yang membelalak ketakutan, lalu beralih menatap selingkuhannya yang gemetar. Sebuah senyum tipis yang mematikan terukir di bibirku.


"Bacakan saja poin utamanya, Pak Baskoro. Sepertinya Mas Danang dan selingkuhannya sudah sangat tidak sabar ingin segera menjual rumahku ini."


***



Aku dibilang gila oleh Suami dan Mertua. Hingga Akhirnya Terbongkar Tujuan Mereka. Kurencakan Balas Dendam dengan...

 "Telan ramuan ini, Gita! Jangan buat Ibu marah lagi dengan tingkah gila kamu itu!" bentak Ibu mertuaku. Tangannya yang keriput menyodorkan mangkuk berisi cairan pekat berbau anyir tepat ke depan wajahku.


"Aku tidak gila, Bu! Aku sadar sepenuhnya!" balasku sengit. 


Kutepis tangan itu hingga sebagian cairan cokelatnya tumpah menodai karpet mahal di kamar.


"Zikri! Lihat istrimu ini! Penyakit kejiwaannya kumat lagi!" teriak Ibu mertuaku melengking.


Zikri, pria yang lima tahun ini berstatus suamiku, muncul dari ambang pintu. Wajahnya menyorotkan rasa iba yang luar biasa meyakinkan.


"Sayang, tolonglah. Minum obat penenang dari Ibu. Semalam kamu teriak-teriak sendiri lagi mencari wanita yang tidak ada," bujuk Zikri lembut. 


"Aku teriak karena aku melihat ada bayangan perempuan lain di rumah ini, Zikri! Kalian yang berbohong padaku!" napasku memburu, mencoba melepaskan diri dari cengkeramannya.


"Itu halusinasimu, Gita. Dokter bilang tingkat stresmu makin parah. Minum ini demi kesembuhanmu, ya?" Zikri mengambil alih mangkuk itu.


Tanpa bisa melawan tenaga suamiku, cairan pahit dan membuat mual itu dipaksa masuk ke tenggorokanku. Aku terbatuk hebat. Dadaku sesak.


"Tidur yang tenang, Gita. Jangan menyusahkan suamimu yang sudah banting tulang seharian," sinis Ibu mertuaku sambil menarik selimutku kasar, sebelum akhirnya mereka berdua keluar dan menutup pintu rapat-rapat.


Begitu derap langkah mereka menjauh, aku langsung berlari ke kamar mandi. Kumasukkan dua jariku ke kerongkongan.


Kumuntahkan semua cairan sialan itu ke dalam kloset hingga perutku terasa kosong. 


Aku membasuh wajahku yang pucat di wastafel. Jantungku berdegup kencang. Naluri perempuanku berteriak bahwa ada yang tidak beres.


Tengah malam, aku mengendap-endap keluar kamar. Niatku hanya ingin mengambil air hangat ke dapur, tetapi langkahku terhenti di balik pilar besar ruang keluarga.


Samar-samar, aku mendengar suara percakapan dari arah ruang kerja Zikri yang pintunya sedikit terbuka.


"Ibu yakin ramuan itu aman? Jangan sampai dia mati, Bu. Urusannya bisa panjang sama polisi nanti," suara Zikri terdengar berbisik, namun membekukan aliran darahku.


"Kamu ini penakut sekali, Zikri! Itu bukan racun mematikan, cuma ramuan perusak saraf pelan-pelan. Makin lama dia meminumnya, makin cepat surat keterangan gila dari dokter jiwa keluar."


Aku membekap mulutku sendiri kuat-kuat. Kakiku seketika lemas.


"Lalu semua aset perusahaannya?" tanya Zikri lagi, nadanya terdengar serakah.


"Kalau dia sudah resmi dinyatakan tidak waras, otomatis kamu yang jadi wali sah atas semua harta dan perusahaannya. Setelah itu, kita buang dia ke rumah sakit jiwa."


Terdengar helaan napas lega dari suamiku. 


"Syukurlah. Rara sudah terus-terusan merengek, Bu. Dia malu statusnya cuma istri siri. Rara ingin segera pindah ke rumah ini, menempati kamar utama sebagai nyonya besar yang sesungguhnya."


"Sabar. Sebentar lagi menantu kesayangan Ibu itu akan mendapatkan haknya. Biarkan si gila Gita itu hancur perlahan-lahan."


Duniaku runtuh detik itu juga. Air mataku luruh tanpa suara.


Jadi ini alasannya? 


Pengkhianatan berbalut kepedulian. 


Suamiku mengkhianatiku, menguras hartaku, dan berkomplot dengan ibunya untuk merusak kewarasanku demi istri mudanya!


Tangisku seketika terhenti, tergantikan oleh amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun. Rasa sakit di hatiku mengeras menjadi tekad.


Aku berbalik, melangkah kembali ke kamarku dengan seringai tipis yang menakutkan. Kutatap pantulan diriku yang berantakan di depan cermin besar.


"Kalian pikir bisa membodohiku dan merampas semuanya, Zikri? Mari kita lihat, siapa yang nanti akan benar-benar membusuk di rumah sakit jiwa."


***

Bab 2

"Ramuan dari Ibu kurang pahit pagi ini, Mas. Boleh aku minta tambah agar gilaku semakin sempurna?"


Zikri yang baru saja mengancingkan kemeja kerjanya tersentak kaget.


Di ambang pintu, Ibu mertuaku yang membawa nampan sarapan sampai menghentikan langkahnya. Mata mereka berdua menatapku ngeri.


Aku memiringkan kepala, tersenyum kosong dengan tatapan mata yang sengaja kubuat sayu.


"Gita, kamu bicara apa, Sayang?" Zikri mendekat dengan ragu-ragu, menatapku seolah aku bom waktu.


"Iya kan, Mas? Kalau aku tidak rajin minum ramuan itu, nanti bayangan perempuan yang mau merebut posisiku di rumah ini datang lagi. Aku takut, Mas," rengekku sambil menarik ujung lengan kemejanya. 


Zikri saling pandang dengan ibunya. Sebuah senyum tipis yang memuakkan terbit di bibir mertuaku itu.


"Tuh kan, Zikri. Ibu bilang juga apa. Obatnya mulai bekerja. Syarafnya sudah mulai berhalusinasi menyetujui keadaannya sendiri," bisik Ibu mertuaku, mengira aku tidak mendengarnya karena tatapanku yang pura-pura kosong.


"Baguslah, Bu. Nanti siang aku harus ke luar kota untuk urusan proyek. Tolong Ibu awasi Gita ketat-ketat. Pastikan dia tidak keluar kamar." Zikri mengelus rambutku penuh kepalsuan. 


"Mas kerja dulu ya, Sayang. Kamu istirahat yang tenang."


"Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Jangan mampir ke rumah perempuan lain ya," ucapku pelan, diiringi tawa kecil yang sengaja kubuat melengking.


Kulihat rahang Zikri menegang sejenak sebelum dia buru-buru keluar kamar. Ibu mertuaku menyusul setelah meletakkan nampan dan mengunci pintuku dari luar.


Begitu suara langkah mereka menghilang, senyum gilaku luntur seketika. Sorot mataku kembali tajam. 


Aku bergegas ke kamar mandi, memuntahkan kapas basah yang sejak tadi kugunakan untuk menyerap sisa rasa ramuan di ujung lidahku.


Luar kota? Omong kosong! Pasti dia pergi menemui istri sirinya itu.


Aku membuka laci paling bawah di meja rias yang terkunci rapat. 


Dari balik tumpukan kotak perhiasan, aku mengambil sebuah ponsel cadangan yang selama ini kugunakan khusus untuk urusan internal perusahaan. 


Zikri tidak pernah tahu keberadaan benda ini. Kutekan nomor Reno, pengacara sekaligus orang kepercayaanku di perusahaan. Panggilan tersambung pada dering kedua.


"Halo, Bu Gita? Syukurlah Ibu menghubungi saya. Pak Zikri baru saja meminta pencairan dana darurat perusahaan sebesar dua miliar!" Suara panik Reno langsung menyapaku.


"Tahan dana itu, Reno. Alihkan ke rekening luar negeriku dengan alasan audit mendadak," balasku cepat dan dingin.


"Tapi, Bu, Pak Zikri bilang ini untuk pelunasan proyek di Surabaya."


"Itu kebohongan besar! Dia tidak ke Surabaya. Reno, aku ingin kamu melacak ke mana saja aliran dana pribadiku yang dikelola Zikri selama tiga bulan terakhir. Tanpa terkecuali!" titahku tegas.


Hening sejenak di seberang sana, terdengar suara ketikan keyboard yang cepat.


"Bu, saya menemukan riwayat pembelian aset. Sebuah rumah mewah di kawasan elit Pondok Indah, atas nama ... Rara Paramita. Transaksinya baru saja selesai dua hari yang lalu."


Gigiku gemeretak menahan amarah. 


Pondok Indah? Dia membelikan rumah mewah untuk selingkuhannya memakai uang hasil keringatku sendiri?!


"Cari tahu alamat lengkap rumah itu, Reno. Dan mulai hari ini, blokir semua akses Zikri ke rekening perusahaan secara diam-diam. Buat seolah-olah sistem kita sedang down berkepanjangan."


"Baik, Bu Gita. Apa ada lagi yang harus saya siapkan?"


Kutatap pantulan diriku di cermin. Air mataku sudah mengering, menyisakan bara dendam yang siap membakar mereka semua.


"Siapkan dokumen pengalihan seluruh aset atas namaku secepatnya. Biarkan suamiku menikmati rumah barunya sesaat, Reno. Karena besok, aku akan mengirimkan 'kado pindahan' yang akan membuat madu sialan itu bertekuk lutut memohon ampun di bawah kakiku!"


***



Kutransfer 10 juta untuk Ibu Mertua, Eh Pas Berkunjung Malah Dikasih Lauk Sisa dan Basi. Setelah Kuselidiki Ternyata...

"Telan saja sayur lodeh basi itu, Yuni! Tidak usah banyak protes! Kalian pikir karena rajin transfer uang, kalian bisa menuntut perlakuan istimewa dariku?" bentak Ibu mertuaku seraya menggebrak meja makan.


Bau asam menyengat hidungku. Aku menunduk menahan pedih, sementara Mas Farhan menatap ibunya dengan rahang mengeras.


"Bu, ini sayurnya sudah berlendir! Setiap tanggal satu kami selalu transfer sepuluh juta, masa Ibu cuma menghidangkan sisa makanan berhari-hari begini?" protes Mas Farhan tak terima.


"Harga sembako mahal, Farhan! Kalau istrimu tidak mau makan, suruh dia masak sendiri!" balas Ibu mertua melotot tajam.


***


Malamnya, di kamar tamu yang pengap, kesabaranku benar-benar habis.


"Mas, sepuluh juta sebulan tidak mungkin habis cuma buat makan ikan asin dan sayur basi. Pasti ada yang disembunyikan ibumu," bisikku menatap suamiku lekat.


"Lalu kita harus bagaimana, Yun?" tanya Mas Farhan frustrasi.


"Bulan depan, kita pura-pura bangkrut. Hentikan semua jatah bulanan. Kita lihat wajah aslinya saat keran uang kita matikan total," cetusku mantap.


***


Satu bulan kemudian. Sesuai rencana, kami datang berkunjung dengan baju kusut dan wajah memelas.


"Mana transferan bulan ini? Ini sudah tanggal lima!" todong Ibu mertua begitu kami menginjak teras, tanpa sudi menanyakan kabar.


"Kami bangkrut, Bu," ucap Mas Farhan dengan suara bergetar yang sengaja dibuat-buat. 


"Perusahaanku gulung tikar. Kami tidak punya uang sepeser pun sekarang. Boleh kami numpang tinggal di sini sementara?"


Seketika, raut wajah Ibu mertua memerah padam. Urat di lehernya menonjol.


"Apa?! Bangkrut?! Cih, jangan harap kalian bisa menumpang di sini! Rumah ini bukan panti asuhan buat orang miskin!" teriaknya murka.


"Bu, aku ini anak kandungmu! Aku yang ngasih Ibu uang setiap bulan! Tega Ibu mengusir kami di saat susah?" Mas Farhan terbelalak tak percaya.


Belum sempat Ibu mertua menjawab, pintu kamar utama terbuka. Sosok wanita muda cantik keluar sambil memeluk manja lengan seorang pemuda yang tak lain adalah adik iparku.


"Bu! Mana uang sepuluh jutanya? Aku mau ajak pacarku belanja tas nih, tagihan apartemen mewah kita juga belum dibayar!" rengek adik iparku santai.


Aku terkesiap kaget. Mas Farhan mematung di tempat. Ibu mertua justru tersenyum sinis menatap kami yang syok berat.


"Baguslah kalau kalian sadar diri sudah jatuh miskin! Pergi sana kalian dari rumahku, karena uang bulanan itu dari dulu memang kugunakan untuk membiayai apartemen mewah adikmu, dan memanjakan wanita muda yang sudah kusiapkan untuk segera menggantikan posisimu sebagai menantu di rumah ini, Yuni!"


***

Bab 2

"Jadi selama ini Ibu memeras keringatku hanya untuk memelihara benalu yang mengincar posisi istriku?!" 


Suara Mas Farhan menggelegar, menatap sang ibu dengan kekecewaan yang teramat dalam.


Ibu mertua melipat tangan di dada, tak gentar sedikit pun. 


"Jaga bicaramu, Farhan! Adikmu itu butuh modal untuk masa depannya! Dan Rara ini keturunan keluarga terpandang, tidak seperti istrimu yang cuma karyawan rendahan yang sekarang ikut-ikutan melarat!"


Wanita muda bernama Rara itu tersenyum sinis, mengibaskan rambut panjangnya ke arahku. 


"Aduh, Mas Farhan, Mbak Yuni. Kalau memang sudah gembel dan tak berguna, ya minggir saja. Kasihan Ibu kalau harus menanggung beban kalian berdua."


Adik iparku ikut terkekeh meremehkan. 


"Makanya, Mas, jadi laki-laki itu yang pintar cari uang, jangan cuma bisa bangkrut. Sekarang mending kalian pergi dari sini sebelum aku panggilkan satpam komplek!"


Tanganku bergetar, tapi bukan karena takut. Aku menatap lurus ke arah tiga manusia serakah di depanku dengan senyum tipis. 


"Ternyata uang sepuluh juta setiap bulan itu hanya cukup untuk memperlihatkan seberapa murah harga diri kalian."


"Kurang ajar! Berani kau menghinaku di rumahku sendiri?!" pekik Ibu mertua sambil melangkah maju, mengangkat tangannya bersiap menamparku.


Dengan sigap, Mas Farhan mencengkeram pergelangan tangan ibunya sebelum menyentuh wajahku. Sorot mata suamiku kini berubah tajam dan tak terbantahkan.


"Jangan pernah berani menyentuh istriku lagi!" desis Mas Farhan dingin. Ia melepaskan tangan ibunya dengan kasar. 


"Ayo kita pergi, Yun. Mulai detik ini, wanita ini bukan ibuku, dan aku tidak punya keluarga lagi di sini."


Tanpa menoleh sedikit pun, Mas Farhan menarik tanganku menjauhi teras rumah yang telah menjadi saksi bisu pengkhianatan itu. 


Dari belakang, masih terdengar tawa kemenangan dan cemoohan mereka yang merayakan kepergian kami.


Di dalam taksi online yang kami pesan untuk menjauh, Mas Farhan tertunduk lesu. 


"Maafkan aku, Yun. Aku benar-benar malu. Istri sebaik dirimu malah diperlakukan seperti sampah oleh keluargaku sendiri."


Aku mengusap punggung tangan suamiku dengan lembut. Bukannya sedih, seulas senyum penuh arti justru mengembang di bibirku.


"Biarkan saja mereka menikmati kesombongan malam ini, Mas. Karena besok pagi, mereka pasti akan menangis darah saat tahu siapa pemilik sah apartemen mewah yang mereka tempati itu."


***



(3) Istriku ditabrak mobil sampai meninggal. Saat kunikahi adik tiri istriku, mendadak istriku muncul. Siapa dia sebenarnya? Ternyata istriku sebenarnya...

 


"Bawa masuk pria itu! Biar semua yang hadir di ruangan ini mendengar langsung dari mulutnya, siapa yang telah memberinya segepok uang untuk menyabotase mobilku!"


Suara Riana yang jernih dan sarat akan otoritas itu menggetarkan setiap sudut gedung pernikahan. 


Siska yang sedari tadi bersembunyi di balik punggungku, kini terhuyung mundur. Wajahnya yang tertutup riasan pengantin pucat pasi, tak ada lagi sisa-sisa gadis lugu yang selama ini selalu ia tampilkan.


Pintu utama terbuka lebar. Dua pengawal berjas hitam melangkah masuk, menyeret seorang pria bertopi yang meronta ketakutan.


"I-itu Maman, kan? Montir di bengkel depan komplek kita?" bisik Ibu Mertua yang duduk di barisan depan kursi keluarga. Suaranya bergetar hebat, matanya membelalak tak percaya melihat apa yang terjadi.


Begitu Maman dilemparkan ke atas karpet merah di depan meja akad, matanya langsung tertuju pada Siska. Pria itu menangkupkan kedua tangannya, memohon dengan air mata bercucuran.


"Mbak Siska! Tolong saya, Mbak! Mbak bilang semuanya bakal aman! Mbak janji ngasih saya seratus juta buat mutusin kabel rem mobil itu asalkan saya pakai jaket suami Mbak Riana malam itu! Tapi kenapa saya malah ditangkap begini, Mbak?!" ratap Maman histeris.


Bagaikan disambar petir, pengakuan itu meruntuhkan sisa-sisa kewarasanku. 


Napasku memburu. Aku menatap Siska dengan rasa jijik yang tak terlukiskan. 


Wanita yang selama tiga bulan ini merawatku dengan senyum lembutnya, yang hampir saja kunikahi hari ini, ternyata adalah dalang di balik tragedi maut itu!


"Tutup mulutmu! Aku tidak kenal siapa kau!" jerit Siska sambil menutup kedua telinganya, kakinya lemas hingga ia luruh ke lantai.


Aku memalingkan wajah dari Siska, menatap Riana dengan dada sesak. Logikaku masih berusaha mencerna kegilaan ini. 


"Ri, kalau Maman yang merusak remnya, lalu siapa ... siapa wanita yang tewas terbakar di dalam mobilmu malam itu? Aku melihat sendiri cincin kawin kita di jarinya."


Riana tersenyum miris, menatapku dengan sorot mata kasihan.


"Di rest area sebelum masuk tol, seorang wanita merampas tas dan memaksaku keluar dari kemudi. Dia mendorongku hingga kepalaku membentur trotoar. Saat dia kabur membawa mobil dan semua identitasku menuju kecelakaan maut rancangan Siska itu, aku tergeletak tak sadarkan diri."


Ibu Mertua tiba-tiba menerobos maju, menunjuk wajah Riana dengan jari telunjuknya yang keriput. 


"Kalau begitu kenapa kau tidak langsung pulang setelah sadar?! Kenapa membiarkan kami berduka?! Ini pasti akal-akalanmu saja untuk merusak hari bahagia Siska!"


Riana tidak marah dibentak seperti itu. Ia justru tertawa pelan, tawa elegan yang mengisyaratkan kekuasaan mutlak yang tak pernah kulihat sebelumnya. 


Ia mengusap cincin berlian besar di jarinya, membuat Ibu Mertua seketika bungkam melihat kilau kemewahan yang tak mungkin terbeli oleh gaji suamiku.


"Karena orang yang menemukanku malam itu dan memindahkanku ke rumah sakit di Singapura bukanlah warga biasa, Ibu. Mereka adalah keluarga kandungku," ucap Riana tenang, namun setiap kata-katanya menampar keras harga diri keluarga kami. 


"Keluarga konglomerat Adhitama. Keluarga kaya raya yang selama ini kusembunyikan identitasnya agar aku bisa hidup sederhana melayani suamiku."


***



Minggu, 12 April 2026

Suamiku tewas terbakar, tapi saat aku bekerja jadi pembantu, kulihat foto suamiku dengan...


 "Mas Bima itu orang baik! Suami saya cuma buruh pabrik biasa, mustahil dia punya utang lima ratus juta!"


Suaraku pecah, menahan tangis di hadapan dua pria berjas rapi yang menatapku sinis di ruang tamu.


"Buka matamu, Nyonya Laras!" Pria berkumis tebal itu menggebrak meja kayuku dengan kasar. 


"Lihat materai dan tanda tangannya. Pabrik tempatnya bekerja boleh saja sudah jadi abu, tapi utangnya tidak ikut hangus!"


"T-tapi kecelakaan itu baru seminggu," isakku, meremas ujung dasterku yang pudar. 


"Tanah makam suami saya saja masih basah. Dari mana saya bisa dapat uang sebanyak itu?"


"Bukan urusan kami! Besok pagi rumah ini kami sita. Sisanya, kau harus kerja keras untuk melunasinya, atau bersiap membusuk di penjara!"


"Laras, kamu bersihkan ruang kerja Tuan Besar di lantai dua," perintah Bi Inah, kepala pelayan, membuyarkan lamunanku.


Sudah tiga hari aku bekerja sebagai asisten rumah tangga di kawasan elite ini. 


Aku terpaksa menelan gengsi demi menyambung nyawa dan mencicil utang yang mengikat leherku.


"Baik, Bi. Ada pantangan yang harus saya ingat?" tanyaku menunduk patuh.


"Jangan sentuh dokumen apa pun! Tuan Besar sangat perfeksionis. Bersihkan saja debunya. Keluarga beliau baru pulang dari luar negeri, jadi pastikan semuanya mengkilap tak berdebu," ancam Bi Inah dengan raut serius.


"Siap, Bi Inah. Saya akan sangat berhati-hati."


Aku bergegas menaiki tangga berlapis karpet tebal itu. Memasuki ruang kerja bernuansa kayu mahoni, aku langsung disambut aroma maskulin yang entah mengapa terasa begitu familier di indra penciumanku.


"Kaya sekali Tuan Besar ini," gumamku pelan sambil menyapu debu di rak buku. Langkahku terhenti di depan meja kerja utama. 


Di sana, sebuah bingkai foto berlapis perak berdiri tegak. Iseng, aku mencondongkan tubuh untuk membersihkan kacanya.


"Ini pasti Nyonya dan Tuan ..."


Ucapanku terputus di udara. Kemoceng di tanganku terlepas, jatuh berdebum ke lantai. Kakiku mendadak lemas tak bertulang hingga aku harus mencengkeram tepi meja kuat-kuat.


Di dalam foto itu, berdiri seorang wanita cantik bergaun mewah. 


Namun, bukan itu yang membuat duniaku berhenti berputar. Melainkan sosok pria berjas mahal yang memeluk pinggang wanita itu dengan senyum yang sangat kukenal. Pria dengan luka gores kecil di pelipis kirinya.


Tanganku bergetar hebat menyentuh permukaan foto tersebut. Dadaku sesak, dipenuhi amarah dan ketidakpercayaan yang meledak-ledak.


"Kau membiarkanku menangisi kepergianmu dan menanggung utang ratusan juta yang menjerat leherku," bisikku dengan suara bergetar dan napas memburu. 


"Lalu, siapa pria berjas mahal yang sedang tersenyum memeluk istri dan anak lain di foto ini, Mas Bima?!"


***


Bab 2

"Bahkan setelah namaku tertulis di batu nisan, kamu masih saja ceroboh menjatuhkan barang, Laras."


Suara bariton yang berat dan sangat familier itu mengalun dari arah pintu yang setengah terbuka.


Aku berputar dengan cepat. Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat sosok tinggi tegap yang baru saja melangkah masuk. 


Pria itu mengunci pintu ruang kerja dari dalam dengan gerakan tenang. Dia mengenakan setelan jas mewah, rambutnya tertata rapi, dan aroma maskulinnya menguar kuat.


Itu Mas Bima. Suamiku yang seharusnya sudah menjadi abu!


"M-Mas Bima?" Suaraku nyaris tak terdengar. "K-kamu hantu?"


"Ini Mas, Ras. Suamimu," ucapnya parau. Mata elangnya menatapku penuh kerinduan saat dia melangkah maju dan langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukan yang hangat.


Selama beberapa detik, aku membeku. 


Namun, kesadaran tentang utang ratusan juta, ancaman penjara, dan foto keluarga yang baru saja kulihat membuat akal sehatku kembali. Dengan sekuat tenaga, aku mendorong dadanya hingga dia mundur selangkah.


"Jangan sentuh aku! Penipu!" teriakku tertahan, air mata kembali mengalir deras. "Kau biarkan istrimu dikejar rentenir karena utang lima ratus juta, sementara kau hidup mewah di istana ini?! Siapa kau sebenarnya?!"


"Kecilkan suaramu, Ras, kumohon," bisiknya panik, mencengkeram kedua bahuku dengan lembut namun tegas. 


"Mas bisa jelaskan semuanya! Mas berani bersumpah demi langit dan bumi, utang lima ratus juta itu bukan ulah Mas!"


"Lalu ulah siapa?! Tanda tangannya milikmu, Mas!"


"Itu jebakan pamanku! Dia yang sengaja membuat pabrik itu meledak untuk menyingkirkan Mas," sahutnya dengan rahang mengeras. 


"Kalau Mas tidak pura-pura tewas dalam kebakaran itu dan kembali ke keluarga ini, pamanku pasti akan mengincarmu juga, Laras! Mas harus kembali menjadi Dewa, pewaris tunggal keluarga ini, untuk menghancurkan paman dari dalam."


Aku menatapnya nanar, kepalaku berdenyut hebat. 


"Dewa? Jadi Bima hanyalah nama samaranmu? Lalu, bagaimana dengan foto ini?!" 


Aku menunjuk kasar ke arah bingkai perak di atas meja. 


"Siapa wanita dan anak yang kau peluk itu, Mas?!"


Sorot mata suamiku meredup. Dia mengusap wajahnya dengan frustrasi.


"Itu masa lalu Mas, Ras. Wanita itu mendiang istri pertamaku dari pernikahan bisnis keluarga. Dia sudah tiada. Mas kabur dari sangkar emas ini, membuang semua harta dan identitas, hanya supaya bisa hidup sederhana bersamamu. Kamu adalah satu-satunya wanita yang Mas cintai."


"Kalau kau mencintaiku, kenapa kau membiarkanku menderita di luaran sana?!" isakku, memukul dadanya yang bidang berulang kali. "Aku nyaris dipenjara, Mas!"


Mas Bima menangkap kedua tanganku, mengecup punggung tanganku dengan bibir yang gemetar. Matanya tak kalah berkaca-kaca. 


"Mas tahu, dan Mas minta maaf. Mas yang mengatur agar Bi Inah diam-diam merekrutmu bekerja di sini. Ini satu-satunya cara agar Mas bisa memantau dan melindungimu dari dekat, tanpa membuat pamanku curiga bahwa kelemahanku masih hidup di rumah ini."


Tangisku perlahan mereda. Tatapannya begitu tulus, persis seperti Mas Bima yang selama lima tahun ini selalu menyayangiku dan tak pernah menyakitiku sedikit pun. 


Dia merengkuhku kembali, dan kali ini aku membiarkan diriku bersandar di dada bidangnya yang berdebar kencang.


"Bertahanlah sebentar lagi sebagai pelayan di sini, Ras. Beri Mas waktu untuk membereskan paman, setelah itu kita akan ..."


Suara ketukan pintu yang keras tiba-tiba memutus ucapan Mas Bima. Kami berdua tersentak dan saling melepaskan pelukan.


"Dewa, Sayang? Kamu di dalam?" Sebuah suara wanita yang sangat manja terdengar dari balik pintu, diiringi suara kenop yang diputar dari luar. 


"Buka pintunya, Sayang. Aku sudah membawa gaun pengantin rancangan desainer Paris untuk pernikahan kita minggu depan loh!"


Tubuhku membeku. Mataku membelalak menatap suamiku yang wajahnya mendadak pucat pasi.


Aku memundurkan langkah, menatap pria di hadapanku dengan senyum getir yang menyayat hati. 


"Jadi ini alasanmu membawaku ke rumah ini dan memintaku bersabar, Mas Bima? Untuk menjadikanku babu di hari pernikahan keduamu?!"


***




Suamiku Jatuh Miskin. Dan Diusir Ibunya Karena Dianggap Tak Berguna. Kuberikan Sisa Uangku, tapi Betapa Kagetnya Aku Ketika Suamiku Malah Membawaku ke Rumah Mewah. Ternyata Suamiku adalah...

  "Bawa istrimu yang kampungan itu dan angkat kaki dari rumah ini! Anak miskin tak berguna!" Suara melengking Ibu Mertuaku bergema...