"Buka pagarnya, Refi! Aku rela berlutut memohon ampun di aspal panas ini asalkan kamu mau menyelamatkan Mas dari jeratan utang ratusan juta ini! Mas mengaku salah, Refi!" raung Mas Retno.
Suara gedoran keras di pagar besi rumahku bersahutan dengan tangisan histeris Ibu mertuaku di trotoar.
Laki-laki yang baru beberapa menit lalu menatapku dengan penuh kesombongan, kini tak ubahnya seperti anak kecil yang kehilangan arah, memohon belas kasihan.
Aku berdiri di balik teralis pagar, menatapnya dengan raut wajah datar tanpa emosi.
"Minta tolonglah pada ego dan harga dirimu yang setinggi langit itu, Mas. Bukankah kamu mau membuktikan bisa menginjak-injak harga diriku dengan gajimu sendiri? Oh, maaf, aku lupa kamu baru saja dipecat tidak hormat."
Tanpa memedulikan raungannya yang semakin putus asa, aku membalikkan badan dan melangkah elegan memasuki rumah.
Kukunci pintu utama rapat-rapat, mengisolasi semua drama dari luar. Udara sejuk dari pendingin ruangan menyambutku, perlahan melunturkan sisa-sisa penat di pundakku.
Aku berjalan menuju dapur, menyeduh secangkir teh hangat, lalu duduk bersandar di sofa ruang keluarga.
Kutatap sekeliling rumahku yang bersih dan tenang.
Bertahun-tahun aku menyembunyikan identitasku yang sebenarnya demi menjaga perasaan seorang suami yang bahkan tidak tahu cara menghargai kesetiaan.
Tiba-tiba, suara dering telepon dari tablet kerjaku memecah keheningan. Layarnya menampilkan nama kontak eksklusif yang hanya kuhubungi untuk urusan bisnis berskala besar.
Kusentuh tombol hijau di layar.
"Ya, Pak Handoko? Ada laporan apa siang ini?"
"Selamat siang, Bu Refi," sapa suara bariton yang berat dan profesional dari seberang sana.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Ibu. Ini mengenai reservasi Grand Ballroom untuk acara resepsi atas nama Retno pada akhir pekan ini."
Aku menyesap tehku perlahan, tersenyum miring.
"Ada masalah dengan pria penipu itu?"
"Tepat sekali, Bu. Pria itu baru saja menelepon resepsionis kami. Sambil menangis terisak, dia memohon penundaan pembayaran denda pembatalan sepihak dan memaksa agar seluruh tagihan tersebut dikirim ke alamat rumah Ibu, mengklaim bahwa Ibu yang akan melunasinya. Sesuai instruksi awal, kami menahan prosesnya sementara. Apa yang harus kami lakukan terhadap pria ini?"
Tawaku tak tertahan lagi. Mas Retno benar-benar manusia tidak tahu malu.
Setelah hancur lebur dan ketahuan berselingkuh, ia masih berani memakai namaku sebagai tameng untuk lari dari utang vendor hotelnya.
Kutaruh cangkir tehku di atas meja kaca, menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang menyala tajam. Kemenangan ini harus dieksekusi dengan sangat sempurna.
"Tolak mentah-mentah permintaannya, Pak Handoko. Kirimkan surat penagihan denda maksimal beserta tim legal kita ke alamat mana pun dia bersembunyi malam ini," ucapku dengan nada dingin yang mematikan.
"Dan pastikan tim penagih kita membisikkan satu fakta kecil ini ke telinganya saat dia menangis ketakutan nanti, beri tahu laki-laki angkuh itu bahwa pemilik sah hotel bintang lima tempatnya berutang saat ini, adalah aku."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar