Sabtu, 13 Juni 2026

(8) Ibuku selalu bilang istriku pemalas, padahal yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu istriku. Diam-diam kupasang CCTV, dan kubuat ibuku menyesal karena...

 


Mata Ibu berkaca-kaca. Pertahanannya nyaris runtuh. Ia melihat ke arah ruang makan yang masih penuh dengan piring kotor sisa sarapan keluarga Paman Budi, lalu menatap Raisa yang kini sedang disajikan segelas jus jeruk segar oleh Chef Anton di atas sofa yang bersih.


Kontras yang begitu tajam ini seolah menampar ego Ibu berulang kali tanpa ampun. Ia terjebak dalam kebohongannya sendiri. 


Jika ia meminta bantuan staf Raisa, ia harus mengakui bahwa selama ini Raisa-lah yang mengurus rumah dan bahwa dirinya tidak sekuat yang ia sombongkan. 


Namun jika ia diam, tubuhnya akan hancur lebur ditelan kelelahan.


Ibu menelan ludah, air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya yang kuyu. Ia membuka mulut, seolah ingin memohon, melepaskan semua gengsi dan kesombongannya demi sedikit belas kasihan.


Namun, sebelum satu kata pun keluar dari bibirnya, aku menepuk tangan sekali, memotong niatnya dengan senyum paling menawan.


"Silakan beristirahat di kamarmu yang sudah diubah menjadi suite bintang lima, Sayang," ucapku pada Raisa yang membalasnya dengan senyum manis. 


Aku lalu menoleh ke arah Ibu yang kini mematung dengan keputusasaan yang nyata. 


"Oh ya, Bu. Paman Budi tadi titip pesan, beliau mengundang teman-teman masa kecilnya dari desa sebelah untuk reuni dan makan malam di sini nanti malam. Ciko yakin, lima puluh porsi hidangan tradisional asli dari tangan emas Ibu, pasti akan membuat mereka semua bertepuk tangan memuji kehebatan Nyonya rumah ini tanpa henti."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(8) Ibuku selalu bilang istriku pemalas, padahal yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu istriku. Diam-diam kupasang CCTV, dan kubuat ibuku menyesal karena...

  Mata Ibu berkaca-kaca. Pertahanannya nyaris runtuh. Ia melihat ke arah ruang makan yang masih penuh dengan piring kotor sisa sarapan kelua...