"Masa hukuman untuk istriku sudah resmi berakhir hari ini, Bu. Dan karena Ibu selalu mengeluh Raisa adalah menantu pemalas yang menyusahkan, Ciko sudah menemukan solusi paling brilian agar Ibu tidak perlu lagi repot-repot melihatnya menyentuh sapu dan panci di rumah ini."
Suaraku mengalun tenang di ruang keluarga yang berantakan.
Ibu, yang sedang terduduk lemas di sofa dengan napas tersengal setelah meladeni anak-anak Paman Budi, perlahan mendongak. Wajahnya yang kuyu tiba-tiba memancarkan seberkas harapan.
Mungkin di kepalanya, ia berpikir aku akhirnya menceraikan Raisa atau mengusirnya selamanya.
Namun, senyum lega di wajah Ibu seketika luntur saat suara deru mesin mobil mewah terdengar memasuki pelataran rumah kami.
Aku berjalan ke pintu utama dan membukanya lebar-lebar. Dari balik pintu mobil yang dibukakan oleh sopir, turunlah Raisa.
Istriku tidak tampak seperti seseorang yang baru saja menjalani hukuman. Kulitnya bercahaya, wajahnya segar merona, dan ia mengenakan gaun santai berbahan sutra yang sangat anggun.
Ia terlihat persis seperti seorang ratu yang baru saja kembali dari masa liburan yang menenangkan.
Di belakang Raisa, tiga orang berseragam rapi, dua wanita dan satu pria berpakaian koki, turun dari mobil van yang menyusul di belakangnya.
"Selamat datang kembali di istanamu, Sayang," sapaku lembut, mengecup punggung tangan Raisa dengan takzim sebelum menuntunnya masuk.
Ibu berdiri dengan susah payah, matanya membelalak menatap Raisa dan tiga orang asing yang berdiri berjajar rapi di belakang istriku.
"C—Ciko? Siapa mereka?" tanya Ibu dengan suara parau, melirik penuh harap pada dua wanita berseragam housekeeping itu.
"Kamu akhirnya menyewa pembantu untuk membantu Ibu mengurus keluarga Paman Budi?"
Aku tersenyum penuh kehangatan, merangkul pinggang Raisa dengan protektif.
"Oh, tentu bukan, Bu. Ciko tidak berani melukai harga diri Ibu," jawabku dengan nada sehalus sutra.
"Ibu kan selalu bilang kalau tenaga bantuan dari luar itu tidak selevel dengan standar Ibu, dan tangan emas Ibu pantang digantikan oleh siapa pun. Jadi, Ciko tidak akan mengotori karya seni Ibu di rumah ini."
Kutunjuk ketiga orang berseragam itu satu per satu dengan bangga.
"Ini Chef Anton, Bi Sumi, dan Bi Inah. Mulai detik ini, mereka adalah staf pribadi yang Ciko bayar mahal khusus untuk melayani setiap tarikan napas Raisa. Bi Sumi akan mengurus pakaian dan kamar Raisa, Bi Inah akan memijat dan menyiapkan keperluan mandinya, dan Chef Anton khusus memasak menu diet sehat kesukaan Raisa."
Wajah Ibu mendadak pucat. Bibirnya bergetar hebat.
"L—lalu siapa yang membersihkan kekacauan Paman Budi di dapur? Siapa yang memasak untuk belasan tamu kita?!"
"Tentu saja Nyonya rumah kita yang paling mandiri dan tangguh. Siapa lagi kalau bukan Ibu?" jawabku santai, memasang raut wajah penuh kekaguman yang kubuat-buat.
"Ibu kan selalu bilang Raisa itu pemalas dan hanya numpang makan. Nah, Ciko sekarang meresmikan status itu. Raisa tidak akan menyentuh pekerjaan rumah sekecil apa pun. Ia hanya akan duduk manis, bersantai, dan diratukan di rumah ini. Dengan begitu, Ibu bisa membuktikan pada Paman Budi betapa hebatnya Ibu mengurus semuanya sendirian tanpa gangguan 'menantu pemalas', bukan?"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar