Jumat, 12 Juni 2026

Mertuaku memberikan warisan tanah untuk suamiku, tapi suamiku menjualnya memakainya untuk selingkuh dibelakangku. Saat mertuaku sekarat, tiba-tiba aku dikejutkan dengan diberi warisan lebih dari suamiku berupa....

 


Mertuaku memberikan warisan tanah untuk suamiku, tapi suamiku menjualnya memakainya untuk selingkuh dibelakangku. Saat mertuaku sekarat, tiba-tiba aku dikejutkan dengan diberi warisan lebih dari suamiku berupa....


***


"Lima ratus juta, Ta! Tanah warisan Ibu di kampung akhirnya laku. Tapi ingat baik-baik, jangan pernah bermimpi mencicipi sepeser pun uang ini, karena namamu tidak pernah ada di surat tanah itu. Kamu cuma menantu yang numpang hidup!"


Ucapan Andi menggema di ruang tamu yang sempit ini, memekakkan telinga sekaligus mengiris harga diriku. 


Pria yang kunikahi lima tahun lalu itu menepuk-nepuk tas selempangnya yang menggembung dengan pongah. 


Kilat matanya bukan lagi tatapan hangat seorang suami, melainkan sorot serakah pria yang tiba-tiba merasa berada di puncak dunia.


Aku, Rita, hanya bisa menelan ludah getir sambil meremas ujung dasterku yang sudah memudar warnanya. 


"Mas, Ibu sedang sakit keras di rumah sakit. Apa uang itu tidak sebaiknya dipakai untuk biaya pengobatan Ibu dulu?" ujarku sepelan mungkin, mencoba meredam emosi.


"Heh! Biaya rumah sakit sudah ditanggung asuransi, buat apa buang-buang uangku?" dengus Andi sinis. Ia menyisir rambutnya dengan jari, lalu melirik jam tangan palsu di pergelangannya. 


"Aku ada urusan bisnis penting. Kamu jaga Ibu di rumah sakit. Jangan berani-berani meneleponku kalau tidak ada hal yang darurat!"


Tanpa menunggu jawabanku, Andi melenggang pergi. Sesaat setelah pintu ditutup dengan bantingan keras, aroma parfum wanita, manis dan menyengat, yang jelas bukan milikku, menguar tipis dari udara yang ditinggalkannya.


Urusan bisnis penting.


Aku tersenyum getir. Air mataku akhirnya luruh. Baru kemarin lusa, saat aku mencucikan kemeja kerjanya, aku menemukan setruk tagihan hotel bintang empat dan selembar kuitansi pembelian kalung emas atas nama 'Clara'.


Tanah warisan mertuaku yang niatnya untuk modal usaha keluarga kami, nyatanya lenyap dalam sekejap demi membiayai perselingkuhan suamiku sendiri.


Di saat Andi bersenang-senang menghamburkan uang hasil warisan Ibunya untuk wanita lain, akulah yang setiap malam terjaga. 


Akulah yang membersihkan kotoran Ibu, menyuapinya bubur hambar, dan membisikkan doa di telinganya saat mesin pemonitor jantung berbunyi menyayat hati.


***


Tiga minggu berlalu seperti di neraka. Kondisi Ibu mertuaku, Bu Ningsih, memburuk drastis. Dokter sudah angkat tangan.


Malam ini, di ruang ICU yang dingin, mesin elektrokardiogram berbunyi dengan tempo yang lambat dan tak beraturan. 


Aku menggenggam tangan Ibu yang keriput dan sedingin es. Air mataku terus mengalir membasahi punggung tangannya.


"I ... bu," bisikku parau.


Tiba-tiba, pintu ruangan didorong dengan kasar. Andi masuk dengan napas tersengal. 


Kemejanya berantakan, ada noda lipstik samar di kerahnya yang berusaha ia tutupi dengan kerah jaket. Ia mendekat ke ranjang dengan wajah panik yang terlihat begitu dipaksakan.


"Ibu! Ibu kenapa? Ibu jangan tinggalkan Andi, Bu!" ratap Andi, mencoba meraih tangan Ibu yang satu lagi.


Namun, hal yang tak terduga terjadi. Bu Ningsih, yang sedari tadi menutup mata dan napasnya tersengal, perlahan membuka kelopaknya. Matanya yang sayu namun tajam menatap putranya dengan sorot kekecewaan yang teramat dalam. 


Perlahan, Ibu menarik tangannya dari genggaman Andi dengan sisa tenaga yang ia punya.

Seorang pria paruh baya bersetelan jas rapi, Pak Darmawan, notaris keluarga yang diam-diam sering menemuiku dan Ibu di rumah sakit tanpa sepengetahuan Andi, melangkah maju dari sudut ruangan yang remang. Ia membawa sebuah map cokelat bersegel.


Andi menatap notaris itu dengan dahi berkerut, kebingungan setengah mati. 


"Siapa bapak? Dan apa yang bapak bawa?"


Ibu Ningsih terbatuk pelan, dadanya naik turun dengan cepat. Ia menoleh menatapku dengan senyuman paling tulus yang pernah kulihat, sebelum kembali menatap Andi dengan tatapan menghakimi. 


Ruangan itu mendadak hening, hanya tersisa suara mesin penopang kehidupan dan tarikan napas terakhir seorang Ibu yang mengetahui kebusukan darah dagingnya sendiri.


"Kamu pikir tanah lima ratus juta di desa yang kau jual demi menghidupi pelacurmu itu adalah seluruh hartaku, Andi? Itu hanyalah remahan untuk menyingkirkan anak durhaka sepertimu. Malam ini, tepat di depan matamu, kuserahkan warisan utamaku kepada satu-satunya menantu yang paling setia, Rita, berupa ..."


***

"Seluruh aset berharga peninggalan Almarhumah Bapak, yang meliputi jaringan minimarket di tiga provinsi, dua buah rumah mewah di kawasan elit ibu kota, beserta deposito tunai senilai lima puluh miliar rupiah, secara sah, mutlak, dan tanpa syarat apa pun, diserahkan sepenuhnya kepada menantu beliau, Nyonya Rita."


Suara bariton Pak Darmawan, sang notaris, memecah keheningan ruang ICU bak petir di siang bolong.


Andi terhuyung ke belakang. Matanya membelalak hampir keluar dari sarangnya. 


Tas selempang berisi uang setengah miliar hasil menjual tanah di kampung yang sedari tadi ia banggakan, tiba-tiba terlihat seperti uang mainan belaka.


"Bapak pasti bercanda!" suara Andi bergetar, wajahnya pucat pasi. "Itu tidak mungkin! Ibuku cuma punya tanah di desa dan rumah kecil yang kami tempati sekarang! Dari mana datangnya minimarket dan uang lima puluh miliar?!"


Di atas ranjang pesakitannya, Ibu Ningsih tersenyum tipis. Beliau menatap wajah putranya yang pias dengan sorot mata lega, lalu menoleh padaku. 


Genggaman tangannya yang dingin di tanganku mengerat untuk terakhir kalinya. 


Sebuah isyarat tanpa kata, bahwa beliau menitipkan segalanya, sekaligus memintaku memberi pelajaran pada darah dagingnya sendiri.


Perlahan, mata renta itu terpejam. Garis di layar monitor di samping ranjang berubah lurus, diiringi bunyi datar yang memekakkan telinga.


Ibu mertuaku yang luar biasa telah berpulang, membawa rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat demi menguji ketulusan anak dan menantunya.


"Ibu ..." Aku terisak, mencium punggung tangan beliau berulang kali.


Andi sama sekali tidak memedulikan kepergian ibunya. 


Alih-alih menangisi sosok yang baru saja menghembuskan napas terakhir, pria itu justru melompat ke arah Pak Darmawan dan berusaha merebut map cokelat tersebut.


"Ini pasti penipuan! Kamu pasti menyogok notaris ini kan, Ta?!" tuduh Andi dengan telunjuk gemetar ke arahku. 


"Aku anak kandungnya! Aku ahli waris satu-satunya! Tidak mungkin Ibu memberikan segalanya pada perempuan asing sepertimu!"


Pak Darmawan dengan tenang menepis tangan Andi dan merapikan jasnya. 


"Semua dokumen ini sah di mata hukum, Saudara Andi. Selama lima tahun ini, mendiang Nyonya Ningsih sengaja hidup sederhana untuk melihat siapa yang benar-benar tulus merawatnya di masa tua. Dan sayangnya, Anda gagal dalam ujian yang dibuat ibu Anda sendiri."


Ruangan itu seketika terasa mencekik bagi Andi. Ia terdiam seribu bahasa. Matanya bergerak gelisah menatapku, menatap map di tangan notaris, dan menatap jenazah ibunya bergantian.


Tiba-tiba, sebuah senyum canggung dan dipaksakan muncul di wajah suamiku. Sikap arogan dan angkuhnya menguap tak berbekas. Ia melangkah mendekatiku, merentangkan tangan seolah ingin memelukku dengan hangat.


"Sayang ... ya ampun, istriku," ucapnya dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, sangat bertolak belakang dengan bentakannya beberapa jam yang lalu. 


"Ibu memang paling tahu kalau kamu pandai mengatur keuangan keluarga. Syukurlah, Ta. Kehidupan kita akan berubah. Kita tidak perlu lagi tinggal di rumah sempit itu. Kita kelola uang puluhan miliar itu sama-sama ya, demi masa depan rumah tangga kita."


Aku menatap pria di hadapanku ini dengan perasaan mual yang tak tertahankan. 


Betapa pandainya ia bersandiwara. Setelah yang lalu aku disebut 'menantu yang numpang hidup', namun begitu tahu aku memiliki harta puluhan miliar, statusku seketika berubah menjadi 'istri tersayang'.


Aku mundur selangkah, menolak sentuhannya. Kuusap air mataku, lalu mengangkat dagu tinggi-tinggi. Sudah cukup aku menjadi istri yang selalu mengalah dan menunduk.


"Masa depan rumah tangga kita, Mas?" tanyaku dengan senyum tipis yang penuh arti.


"Iya, Sayang! Milikmu adalah milikku juga, kan? Kita ini suami istri," sahutnya dengan mata berbinar-binar penuh keserakahan.


Aku merapikan kerah kemejanya yang berantakan, menatap tepat ke manik matanya yang dipenuhi kilap harta, lalu berbisik pelan,


"Tentu saja kita suami istri, Mas. Tapi sebelum kita bicara soal mengelola uang lima puluh miliar, bagaimana kalau kita bahas dulu tagihan hotel bintang empat dan kalung emas atas nama Clara? Karena mulai detik ini, seluruh fasilitas, kebebasan, dan uang jajarmu sebagai suamiku, kucabut sampai ke akar-akarnya."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ibuku selalu bilang istriku pemalas, padahal yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu istriku. Diam-diam kupasang CCTV, dan kubuat ibuku menyesal karena...

  "Masa hukuman untuk istriku sudah resmi berakhir hari ini, Bu. Dan karena Ibu selalu mengeluh Raisa adalah menantu pemalas yang menyu...