Kamis, 11 Juni 2026

Kuusir istriku ke jalanan bersama dengan anakku yang lusuh. Kukira mereka sudah menjadi gila di jalan. Tapi saat aku mau menikah lagi, betapa kagetnya aku saat mantan istri dan anakku muncul...

 


Kuusir istriku ke jalanan bersama dengan anakku yang lusuh. Kukira mereka sudah menjadi gila di jalan. Tapi saat aku mau menikah lagi, betapa kagetnya aku saat mantan istri dan anakku muncul...


***


"Pergi kalian berdua dari sini! Bawa anak gembelmu itu dan jangan pernah berani menginjakkan kaki kotor kalian di rumahku lagi!"


Suara teriakanku malam itu masih terekam jelas di kepala. Derasnya hujan dan kilatan petir menjadi saksi bagaimana aku menendang koper lusuh berisi beberapa helai pakaian milik Aurel keluar dari pintu depan. 


Wanita yang pernah berjanji sehidup semati denganku itu tersungkur di lantai teras yang basah, mendekap erat Daffa, putra kami yang baru berusia empat tahun. 


Daffa menangis ketakutan, wajahnya pias dan tubuhnya gemetar.


Bukannya iba, rasa muak justru merajai hatiku. Aku tidak tahan lagi hidup dalam kemiskinan bersama mereka. 


Bisnisku saat itu sedang merangkak naik, dan aku butuh pendamping yang sepadan, bukan wanita udik yang hanya tahu cara memasak dan mengurus rumah. 


Kututup pintu kayu jati itu dengan bantingan keras, mengunci rapat-rapat lembaran masa laluku yang memalukan.


***


Tiga tahun berlalu sejak malam badai itu.


Aku merapikan dasi kupu-kupu di depan cermin besar bernuansa emas, tersenyum puas melihat pantulan diriku yang kini berbalut setelan jas rancangan desainer ternama. 


Malam ini adalah puncak kesuksesanku. Aku akan menikahi Siska, putri tunggal dari seorang konglomerat properti. 


Pernikahan ini bukan sekadar penyatuan cinta, melainkan tiket emas menuju puncak rantai makanan para pengusaha.


Sambil melangkah keluar dari ruang rias menuju ballroom hotel bintang lima yang telah disewa khusus, pikiranku sejenak melayang pada Aurel. 


Sesekali aku bertanya-tanya, apakah wanita itu masih hidup? 


Tanpa uang, tanpa keluarga, dan membawa anak kecil di kerasnya jalanan kota. 


Aku tertawa sinis dalam hati. Mereka pasti sudah menjadi gelandangan, atau mungkin perlahan kehilangan kewarasan di sudut jembatan layang. 


Begitulah hukum alam bagi mereka yang lemah.


***


Alunan musik orkestra menyambut langkahku. Tepuk tangan riuh dari para tamu VIP menggema saat aku berdiri di altar, menunggu pengantinku. Kemewahan berpendar dari lampu kristal raksasa di atas kami. 


Ini adalah duniaku sekarang. Sempurna. Tak tersentuh.


Namun, detik-detik saat MC hendak memanggil mempelai wanita, alunan musik mendadak terhenti oleh suara bantingan pintu utama ballroom yang menjeblak terbuka.


Suasana mendadak hening. Ratusan pasang mata, termasuk mataku, tertuju pada ambang pintu. 


Beberapa petugas keamanan tampak kewalahan menahan langkah sekelompok pria berjas hitam yang menerobos masuk, membuka jalan untuk dua sosok yang melangkah dengan keanggunan luar biasa.


Seorang wanita dengan gaun malam sutra berwarna emerald yang mencetak siluet tubuh sempurnanya berjalan masuk. 


Wajahnya dipoles riasan tegas namun elegan, memancarkan aura kekuasaan yang mengintimidasi. 


Di genggaman tangannya, seorang bocah laki-laki mengenakan setelan tuksedo yang terlihat sangat rapi dan berkelas, menatap lurus ke arahku dengan sorot mata yang tajam dan dingin.


Jantungku serasa berhenti berdetak. Lututku tiba-tiba kehilangan tulang.


Itu Aurel. Dan Daffa.


Bukan Aurel yang lusuh, kurus, dan menyedihkan. Ini adalah versi Aurel yang terlihat mampu membeli harga diriku dan seluruh tamu di ruangan ini tanpa perlu berkedip. 


Langkah sepatunya menggema memecah kesunyian yang mencekam, terus berjalan mendekati pelaminan hingga berhenti tepat di hadapanku. 


Bau parfum mahal merasuk ke indra penciumanku, menghapus tuntas memori tentang bau hujan tiga tahun lalu.


Aurel menatapku dari atas ke bawah, sudut bibirnya tertarik membentuk senyum miring yang membekukan darahku, lalu ia mengangkat mikrofon yang baru saja direbut pengawalnya dari tangan MC yang gemetar.


"Lanjutkan saja pesta murahan ini, Mas Zaki. Aku datang bukan untuk mengacau, hanya ingin memberi tahu bahwa gedung hotel ini baru saja sah menjadi milikku, dan kau punya waktu sepuluh menit untuk menyingkirkan dekorasi jelekmu ini sebelum satpamku membuangnya ke tempat sampah."


***

"Sepuluh menitmu dimulai dari sekarang, Mas Zaki. Waktu adalah aset, dan nyatanya, asetku terlalu mahal untuk sekadar dihabiskan memandangi wajah pucatmu di hari bahagiamu ini."


Keheningan di ruangan itu terasa begitu pekat hingga suara jarum jatuh pun mungkin akan terdengar. 


Tubuhku membeku. Mataku menatap nanar pada sosok elegan di depanku. 


Aurel memutar balik mikrofon di tangannya dengan anggun, lalu menyerahkannya kembali kepada MC yang masih mematung dengan mulut setengah terbuka.


Siska, yang sejak tadi berdiri di belakang panggung, akhirnya melangkah maju dengan gaun putihnya yang menjuntai. Wajah cantiknya memerah menahan amarah.


"Apa maksudmu?! Siapa kau berani datang dan mengklaim tempat ini?!" Suara Siska melengking, menembus kebisuan para tamu. 


"Keamanan! Persilakan tamu tidak diundang ini keluar dari pestaku sekarang juga!"


Beberapa petugas keamanan hotel bergerak ragu, namun langkah mereka seketika terhenti ketika belasan pria berjas hitam di belakang Aurel serempak menyilangkan tangan di depan dada. 


Tatapan datar mereka cukup untuk membuat siapa pun mundur teratur.


Tepat saat Siska hendak meluapkan amarahnya lagi, seorang pria paruh baya berjalan tergopoh-gopoh menembus kerumunan. 


Itu Pak Darmawan, calon ayah mertuaku, sang konglomerat properti yang selama ini kuagungkan. 


Namun, alih-alih mengusir Aurel, pria berwibawa itu justru memucat pasi. Keringat dingin menetes di pelipisnya.


"Nyonya ... Nyonya Aurelia?" suara Pak Darmawan bergetar, tubuhnya sedikit membungkuk hormat. 


"S-saya tidak tahu kalau Anda yang mengambil alih kepemilikan hotel ini. Bukankah proses pemindahannya baru berjalan minggu depan?"


Siska terkesiap. Begitu pula denganku. 


Nyonya Aurelia? Sejak kapan nama mantan istriku berubah menjadi sebuah institusi kekuasaan yang sanggup membuat seorang Darmawan tunduk hormat?


Aurel tersenyum simpul, sebuah senyuman yang sangat tenang namun sanggup meruntuhkan keangkuhan siapa pun. 


"Prosesnya kupercepat pagi ini, Pak Darmawan. Aku butuh ruang pertemuan ini untuk perayaan ulang tahun putraku. Sayang sekali, manajer Anda menyewakannya pada pihak yang ... kurang menjanjikan."


Tatapan Aurel beralih padaku, menguliti setiap lapis kebanggaan semu yang kukenakan malam ini. 


Aku mencoba membuka mulut, ingin memanggil namanya, namun suaraku tercekat di tenggorokan.


Saat itulah, Daffa, darah daging yang dulu kusingkirkan ke jalanan, menarik pelan ujung gaun ibunya. 


Tidak ada lagi sisa tangis atau ketakutan di wajah anak itu. Sorot matanya sangat tenang, memancarkan wibawa yang entah sejak kapan tertanam di dalam dirinya.


"Ibu," panggil Daffa dengan suara jernih yang menggema di ruangan sunyi itu. 


"Tempat ini terlalu bising, dan pria di sana menatap kita dengan cara yang tidak sopan. Bolehkah kita minta mereka untuk segera berkemas?"


Kalimat itu meluncur dari bibir seorang anak berusia tujuh tahun, menghantam telak tepat di ulu hatiku. 


Anakku sendiri baru saja menyingkirkanku dari istana impianku, dengan cara yang jauh lebih elegan daripada yang pernah kulakukan padanya di malam badai itu.


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ibuku selalu bilang istriku pemalas, padahal yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu istriku. Diam-diam kupasang CCTV, dan kubuat ibuku menyesal karena...

  "Masa hukuman untuk istriku sudah resmi berakhir hari ini, Bu. Dan karena Ibu selalu mengeluh Raisa adalah menantu pemalas yang menyu...