Selasa, 05 Mei 2026

Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

 


"PLAK! Detik ini juga, kutalak kau, Hani! Bawa kedua orang tuamu dan angkat kaki dari rumahku sekarang juga!"


Suaraku menggema lantang di ruang tamu yang mewah ini, memecah keheningan malam. Telapak tanganku masih terasa panas, namun amarah di dadaku jauh lebih membakar.


Hani tersungkur ke lantai marmer sedingin es. Tangan kasarnya, tangan yang kukira selalu setia mengaduk adonan kue pesanan dari subuh hingga larut malam demi membantuku, kini terangkat mengusap sudut bibirnya yang robek dan berdarah. 


Seragam kerjanya yang lusuh tampak sangat kontras dengan kemegahan rumah ini.


"Nduk! Ya Allah, Hani!" Bapak dan Ibu mertuaku yang mengenakan baju batik pudar seketika berhamburan. 


Ibu menangis histeris memeluk putrinya, sementara Bapak menatapku dengan sorot mata terluka yang bergetar hebat.


"Tega kamu, Nak Yoga," suara Bapak parau. "Anak saya kerja banting tulang siang malam, tangannya sampai kapalan mengurus rumah ini, dan ini balasanmu?"


"Kerja banting tulang?!" Aku tertawa sinis, menatap jijik pada keluarga miskin di hadapanku ini. 


"Dia bukan kerja keras, Pak! Dia cuma menutupi kedoknya! Mama sudah cerita semuanya. Hani yang mencuri sertifikat rumah ini dan diam-diam menaruh racun di minuman Mama setiap pagi 'kan?! Perempuan miskin yang serakah!"


Di belakangku, Mama menangis terisak, memegangi dadanya seolah dia adalah korban paling menderita di dunia. 


"Sudah, Yoga. Mama ikhlas. Biarkan saja perempuan ular ini pergi. Mama bersyukur Tuhan masih melindungi nyawa Mama dari menantu licik seperti dia."


Aku menatap Hani dengan penuh kebencian. Aku menyesal pernah menikahinya. 


Aku menyesal pernah kasihan pada perempuan biasa-biasa saja yang selalu pulang dengan aroma tepung dan keringat ini.


Namun, reaksi Hani sungguh di luar dugaanku. 


Dia tidak menangis memohon ampun. Dia tidak bersujud di kakiku seperti yang kuharapkan dari perempuan bersalah yang tertangkap basah.


Hani berdiri secara perlahan, dibantu oleh kedua orang tuanya. Dia meraih tas kanvas murahannya yang tergeletak di sofa, menuntun kedua orang tuanya menuju pintu utama.


Namun, tepat di ambang pintu, langkahnya terhenti. Perempuan pekerja keras yang baru saja kuceraikan itu menoleh ke arahku. 


Bukannya menangis, dia justru tersenyum sinis. Tatapannya yang biasa teduh kini menajam, menghunus lurus ke arah kemejaku yang sedikit terbuka, menatap bekas luka operasi akibat kecelakaan tiga tahun lalu.


"Bagus, Mas. Tamparan ini pas untuk melunasi hutang nyawamu tiga tahun lalu." 


Suara Hani mengalun tenang, kelewat tenang untuk seorang wanita yang baru saja diusir dengan kasar.


"Silakan rawat ibumu yang malang itu. Tapi sebelum aku benar-benar pergi, coba tanyakan padanya, siapa perempuan gembel yang berlumuran darah menyeret tubuh hancurmu dari mobil malam itu? Dan ke mana larinya uang asuransi kecelakaanmu, sampai istrimu ini harus tangannya kapalan mengaduk adonan kue tiap subuh hanya agar kalian bisa tetap hidup mewah?"


Wajah ibuku di belakangku mendadak seputih kapas. Tangisannya berhenti seketika.


Hani tersenyum miring melihat reaksi wanita paruh baya itu, lalu kembali menatapku. 


"Selamat menikmati sisa hidupmu bersama pembohong paling ulung yang kau panggil Mama, Mas Yoga. Silakan tutup pintunya rapat-rapat, dan jangan pernah mencariku saat kamu tahu kebenarannya."


***

"Uang asuransi apa maksud perempuan gila itu, Ma? Dan siapa yang sebenarnya membawaku ke rumah sakit malam itu?!" tuntutku, menatap tajam pada Mama yang kini gemetar hebat.


Suaraku menggema, memecah keheningan mencekam yang ditinggalkan Hani. 


Mama yang sedari tadi pucat pasi, seketika memegangi kepalanya sambil merintih kesakitan, seolah pertanyaanku baru saja menghantamnya dengan palu godam.


"Ya Tuhan, Yoga! Kamu ... kamu lebih percaya fitnah perempuan miskin itu daripada ibu kandungmu sendiri?!" jerit Mama dengan napas tersengal. Tubuhnya limbung dan jatuh terduduk di atas sofa beludru. 


"Tiga tahun Mama merawatmu saat koma! Tiga tahun Mama menahan hinaan karena kamu menikahi perempuan gembel itu! Sekarang dia memfitnah Mama mencuri uang asuransimu dan kamu menuduh Mama berbohong?!"


Mama terisak hebat, memukuli dadanya sendiri. Melihat air mata wanita yang melahirkanku itu, rasa bersalah seketika menyergapku. 


Benar, apa yang kupikirkan? Hani jelas-jelas hanya sedang meracau karena tak terima kuusir. Perempuan itu memang pandai memutarbalikkan fakta.


"Maafkan Yoga, Ma. Yoga cuma kaget mendengar ucapannya," bisikku, berlutut memijat pelan kaki Mama.


"Dia itu cuma mau menghancurkan hubungan kita sebelum pergi, Ga! Sertifikat rumah kita hilang, itu faktanya! Biarkan saja dia pergi, kita masih punya Kafe yang makin sukses. Kamu tidak butuh istri benalu seperti dia!" pungkas Mama sambil menyeka air matanya, bangkit dan berjalan tertatih menuju kamarnya.


Namun, entah mengapa, dadaku tetap bergemuruh tak karuan. Ada yang mengganjal. 


Tatapan Hani sebelum pergi tadi ... itu bukan tatapan seorang pembohong yang terpojok. Itu tatapan seseorang yang muak menyimpan rahasia.


Aku bergegas menuju kamar yang selama tiga tahun ini kutempati bersama Hani. Lemari pakaiannya sudah kosong melompong. 


Aku membongkar laci nakasnya dengan kasar, berniat mencari bukti sertifikat rumah yang dituduhkan Mama.


Nihil. Laci itu kosong. Namun, di sudut paling dalam laci yang biasa ia kunci rapat-rapat itu, tanganku menyentuh sebuah amplop cokelat usang yang sudah menguning.


Dengan tangan bergetar, kubuka amplop itu. Mataku melebar. Napasku seakan tercekat di tenggorokan.


Bukan sertifikat rumah yang kutemukan. Melainkan setumpuk kuitansi rumah sakit atas namaku dari tiga tahun lalu, lengkap dengan bercak darah kering di ujung kertasnya. 


Di bagian bawah kuitansi ratusan juta itu, tertera jelas tanda tangan penyetor: Hani Larasati.


Dan di balik kuitansi itu, terselip sebuah bukti transfer asuransi kecelakaanku ... yang dikirim utuh ke rekening atas nama ibuku sendiri, tepat di hari kedua aku koma.


Kakiku seketika lemas. Hani tidak berbohong.


***


Sementara itu, di bawah rintik hujan malam yang dingin, sebuah taksi melaju membelah jalanan ibu kota. 


Di kursi belakang, Bapak dan Ibu masih menangis sesenggukan, meratapi nasib putri mereka yang diusir.


Namun Hani tak meneteskan air mata sedikit pun. Wajah pucatnya yang biasa menunduk lelah, kini tegak menatap lurus ke depan. 


Tangan kasarnya yang selalu bau tepung itu dengan tenang merogoh ponsel murah dari dalam tas kanvasnya. Ia memutar sebuah nomor. 


Panggilannya langsung dijawab pada dering pertama.


"Halo, Rini," ucap Hani memecah suara isak tangis ibunya. Nadanya dingin, setajam pedang yang baru saja dihunus dari sarungnya. 


"Besok subuh, tarik semua karyawan dari dapur pusat. Hentikan suplai adonan kue dan roti ke seluruh cabang Kafe Yoga. Biar mantan suamiku dan ibunya itu tahu, tangan kapalan siapa yang sebenarnya menghidupi kesombongan mereka selama ini."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku dan suami hidup miskin dan melarat, bahkan tak dianggap di keluarga besar. Kukira kami akan miskin selamanya, sampai akhirnya koin emas milik ibuku mengubah hidup kami...

  "Jauhkan tangan kotormu dari meja ini, Alin! Harga taplaknya saja setara dengan gaji suami melaratmu itu selama sepuluh tahun!" ...