"Sayang, ini babu baru kamu? Ya ampun, dekil banget! Baunya aja kayak ikan asin jemuran. Kamu yakin masakan dia aman buat perut aku yang harganya mahal ini?"
Suara melengking nan manja itu seolah merobek gendang telingaku.
Aku menahan napas, merapatkan tubuh ke dinding luar rumah, dan mengintip lebih lekat dari balik celah jendela dapur yang sedikit terbuka.
Seorang wanita muda dengan gaun merah ketat yang mencetak lekuk tubuhnya dan sepatu hak tinggi setajam paku baru saja melenggang masuk ke dapur.
Rambutnya dicat pirang, bibirnya dipulas lipstik merah menyala, dan aroma parfumnya yang menyengat sampai tercium ke tempatku berdiri di luar.
Adi, anak kandungku sendiri, langsung menyambut wanita itu dengan senyum semringah yang tak pernah kulihat akhir-akhir ini.
"Tentu aja aman dong, Bella Sayang. Kalau sampai rasanya gak enak, aku potong uang belanjanya bulan depan."
Adi mengecup pipi wanita bernama Bella itu tanpa canggung. Tepat di depan mata Putri!
Darahku mendidih melihatnya.
Putri, menantuku yang malang, kini sudah berganti pakaian. Daster kusamnya yang berlumur kecap tadi sudah diganti dengan seragam asisten rumah tangga berwarna hitam putih yang kedodoran.
Ia berdiri mematung di sudut dapur, menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil meremas nampan kosong di dadanya. Bahunya bergetar hebat.
"Heh, Babu! Ngapain kamu bengong di situ? Cepat tuangkan minum buat pacarku!" bentak Adi dengan suara menggelegar.
Putri tersentak kaget. Dengan langkah tertatih, ia bergegas mengambil teko es jeruk dan menuangkannya ke gelas. Namun, karena tangannya gemetar ketakutan, beberapa tetes air tumpah mengenai ujung meja.
"Aduh! Lo buta ya?!" jerit Bella dengan nada jijik, menepis tangan Putri kasar hingga teko itu nyaris terlepas.
"Gimana sih Mas, babu kamu ini kerjaannya gak becus banget! Kesal deh aku!"
"Maaf ... maafkan saya, Mbak," cicit Putri dengan suara parau, buru-buru mengambil lap kotor untuk membersihkan tumpahan air tersebut.
Bukannya memaafkan, Bella malah sengaja menendang kaki Putri yang sedang berjongkok mengelap meja.
"Sana pergi! Gak selera makanku ngeliat muka muram lo!"
Adi tertawa kecil, mengelus rambut Bella seolah menenangkan seekor kucing kesayangan.
"Udah, jangan marah-marah, nanti cantiknya hilang. Heh, gembel! Sana kamu cuci piring di belakang, jangan ganggu pemandanganku sama Bella."
Putri mengangguk cepat dan bergegas ke area cuci piring. Ia membelakangiku, tapi aku bisa mendengar sayup-sayup isakan tangisnya yang tertahan di bawah gemercik air keran.
Tanganku mengepal di ambang jendela sampai buku-buku jariku memutih.
Rasanya aku ingin mendobrak pintu itu sekarang juga, menjambak rambut pirang wanita gatal itu, dan menampar wajah anak kandungku bolak-balik sampai dia sadar!
Bisa-bisanya anak yang dulu kalau sakit selalu merengek minta kupeluk, sekarang berubah menjadi iblis tak berhati?
Namun, insting keibuanku dan pengalamanku menahan amarahku.
Jika aku masuk sekarang mengamuk, Adi pasti akan mencari seribu satu alasan untuk mengelak. Ia manipulatif, aku tahu persis watak aslinya jika sudah terdesak.
Aku tidak boleh gegabah. Air mata sia-sia tidak akan memenangkan peperangan ini.
Aku butuh bukti nyata.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, aku merogoh ponsel dari saku gamisku.
Kubuka aplikasi kamera, kuaktifkan mode perekam video dengan resolusi paling tinggi, lalu kuarahkan perlahan ke celah jendela.
Di dalam sana, dua sejoli tak tahu malu itu sedang asyik menyantap ayam goreng, ayam goreng yang kubeli dengan uangku, yang kuberikan untuk Putri agar dia tidak kelaparan!
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar