Senin, 04 Mei 2026

(4) Kulempar surat cerai ke wajah istriku. Tapi anehnya istriku tidak sedih, dia malah tertawa membuatku bingung. Ternyata selama ini istriku menunggu diceraikan karena dia adalah...

 


"Tanya pada anak kesayanganmu itu, Bu! Kesalahan fatal apa yang sudah Aryo perbuat sampai dokumen pemusnahan perusahaan kita ditandatangani langsung oleh mantan istrinya sendiri ... Kirana?!"


"Kirana?! Jangan gila kau, Randi! Benalu miskin yang baru saja diusir adikmu lima menit lalu itu tidak mungkin pemilik perusahaan raksasa!"


Jeritan Ibu melengking tajam, memecah ketegangan yang pekat. Tangannya mencengkeram lengan sofa hingga buku-buku jarinya memutih. 


Beliau menggeleng kuat-kuat, menolak mentah-mentah kenyataan yang baru saja dilemparkan Randi.


"Ibu pikir aku punya waktu untuk bercanda di saat perusahaanku sedang di ujung tanduk?!" balas Randi dengan nada putus asa yang menyayat. 


"Aku baru saja mengirimkan foto dokumennya ke WhatsApp Aryo. Lihat sendiri, Bu! Lihat sendiri siapa yang sudah kalian buang hari ini!"


Tangan gemetarku merogoh saku, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah menyala. 


Sebuah pesan gambar dari Randi masuk. Dengan napas tertahan, aku membukanya.


Mataku langsung tertuju pada bagian bawah dokumen bernilai ratusan miliar tersebut. 


Ada cap basah berlogo mahkota emas, dan tepat di atasnya, sebuah tanda tangan. Tanda tangan dengan lengkungan khas yang baru saja kulihat lima menit lalu.


Secara refleks, pandanganku jatuh pada surat cerai yang berserakan di atas karpet. Kutarik napas panjang yang terasa menyakitkan. 


Tanda tangan di dokumen raksasa itu, identik tanpa cela dengan tanda tangan di atas materai cerai kami.


"T-tidak, ini sungguhan, Bu." Suaraku nyaris tak terdengar, tenggorokanku mengering seolah menelan pasir. "Itu ... itu benar-benar tanda tangan Kirana."


Ibu merebut ponselku. Matanya membelalak lebar melihat bukti tak terbantahkan di layar. 


Detik itu juga, seluruh kesombongan dan keangkuhan yang selalu menempel di wajahnya runtuh tak bersisa. Kakinya lemas, membuatnya jatuh terduduk di atas karpet, tepat di atas surat cerai yang tadi ia hina.


"Aryo,apa yang kau lakukan di situ berdiri seperti orang bodoh?!" jerit Ibu tiba-tiba, suaranya berubah panik dan melengking histeris. 


Beliau merangkak meraih ujung celanaku, menarik-nariknya dengan kasar. 


"Kejar dia, Aryo! Dia baru saja keluar, kan?! Kejar istrimu! Sujud di kakinya, cium tangannya, robek surat cerai ini! Lakukan apa saja asal dia tidak menghancurkan keluarga kita!"


Kesadaranku kembali. Tanpa berpikir panjang, aku membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin menuju pintu utama. 


Pikiranku kacau balau. Aku harus menghentikannya. Aku harus memohon maaf. Persetan dengan harga diriku yang selalu kujaga tinggi-tinggi.


Aku membanting pintu depan hingga terbuka lebar.


Namun, pemandangan di halaman depan rumahku seketika membuat langkahku terhenti mendadak. Udara malam yang dingin terasa membekukan aliran darahku.


Halaman yang biasanya sepi kini dipenuhi oleh lima mobil hitam mengkilap. Di tengah-tengahnya, sebuah mobil mewah memanjakan mata dengan kemewahannya yang tak masuk akal. 


Belasan pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam berdiri rapi, menunduk hormat dengan sudut sempurna.


Dan di sana, wanita yang selama tiga tahun ini mencucikan bajuku, memasak makananku, dan menelan semua makian ibuku, sedang berdiri anggun. Seorang pria bersarung tangan putih membukakan pintu mobil untuknya.


"Kirana! Tunggu, Kirana!" teriakku, berlari menuruni anak tangga teras bak orang kesetanan.


Namun, belum sempat aku mendekat, dua pria berbadan besar langsung menghadang, mendorong dadaku dengan tenaga yang membuatku terhuyung ke belakang.


Kirana menahan langkahnya. Dia menoleh pelan. Tidak ada lagi wanita rapuh yang selalu menunduk itu. Wajah cantiknya kini memancarkan aura seorang ratu yang absolut. 


Perlahan, ujung bibirnya melengkung, membentuk senyuman dingin yang membuat bulu kudukku berdiri.


"Kirana, kumohon! Maafkan aku! Batalkan pemutusan kontraknya, kita bicarakan ini baik-baik! Aku ... aku tarik kembali talakku!" seruku memelas, mengabaikan tatapan merendahkan dari para pengawalnya.


Dia menatapku dari atas ke bawah, seolah aku adalah lelucon paling tidak lucu yang pernah ia dengar. Pria bersarung tangan putih di dekatnya menunduk hormat, menunggu perintah. Kirana memberi isyarat kecil dengan jarinya agar pengawalnya itu mundur selangkah.


"Talak tidak bisa ditarik seperti anak kecil yang meminta kembali mainannya, Aryo," ucapnya lembut, namun setiap kata yang keluar terasa setajam silet yang menyayat harga diriku. 


"Ah, tapi mumpung kau berlari-lari mengejarku ke sini, aku lupa memberitahumu satu hal kecil untuk ibumu."


"A-apa?" tanyaku terbata, firasat buruk kembali mencengkeram jantungku dengan brutal.


"Sertifikat rumah mewah yang selama ini selalu ibumu banggakan dan agung-agungkan itu, sebenarnya sudah kubeli secara rahasia dan kubalik nama atas namaku sejak perusahaan kalian hampir kolaps dua tahun lalu. Jadi, sampaikan salamku pada ibumu, kalian punya waktu tepat dua puluh empat jam untuk mengepak barang dan angkat kaki dari propertiku!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(4) Kulempar surat cerai ke wajah istriku. Tapi anehnya istriku tidak sedih, dia malah tertawa membuatku bingung. Ternyata selama ini istriku menunggu diceraikan karena dia adalah...

  "Tanya pada anak kesayanganmu itu, Bu! Kesalahan fatal apa yang sudah Aryo perbuat sampai dokumen pemusnahan perusahaan kita ditandat...