Senin, 04 Mei 2026

(10) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


"Astagfirullahaladzim, Bu Ningsih! Jadi selama ini Ibu yang diam-diam mengambil kalung emas saya dan berniat memfitnah menantu Ibu sendiri?!"


Jeritan Bu Tejo yang melengking tinggi sukses membuat seisi kamar itu mendadak hening bak kuburan. 


Mata wanita paruh baya itu terbelalak lebar, menatap tak percaya pada untaian kalung emas miliknya yang kini tergeletak manis di atas kasur, tepat di antara tumpukan barang dari dalam tas kulit milik Ibu.


Wajah Ibu seketika memucat, seputih kertas. Bibirnya bergetar hebat, sementara matanya bergerak liar mencari alasan. 


"I-itu ... itu tidak benar, Jeng Tejo! Pasti ... pasti ada yang sengaja menaruhnya di dalam tas saya! Ya, pasti perempuan pencuri ini yang memindahkannya untuk menjebak saya!" tunjuk Ibu dengan jari telunjuk yang gemetar ke arah Fitri.


Namun, alih-alih mendapat dukungan, ibu-ibu kompleks yang sejak tadi berkerumun di ambang pintu kini justru menatap Ibu dengan pandangan penuh selidik dan jijik.


"Menjebak bagaimana maksud Ibu?" balasku cepat, nadaku tenang namun mematikan. 


"Sejak arisan kemarin sore bubar, tas kulit itu tidak pernah lepas dari pangkuan Ibu, lalu Ibu bawa masuk ke dalam kamar yang selalu Ibu kunci rapat. Baru pagi ini tas itu Ibu letakkan di sofa ruang depan. Kapan istri saya punya waktu untuk menyusup ke kamar Ibu, mengambil kalungnya, lalu menaruhnya di dalam tas Ibu, sementara sejak semalam Fitri tertidur pulas di samping saya?"


"Benar kata Nak Putra, Bu Ningsih," sahut Bu Marni, tetangga sebelah rumah yang terkenal paling kritis. 


"Logikanya tidak masuk akal. Lagipula, dari awal Mbak Fitri ini anaknya sopan dan baik. Kok ya tega-teganya Ibu menuduh menantu sendiri yang bukan-bukan. Malu, Bu, sudah tua kok masih suka main fitnah."


"Saya setuju! Untung saja ketahuan. Kalau tidak, kasihan Mbak Fitri nama baiknya hancur di depan warga," timpal ibu-ibu lainnya secara bersahutan, membuat posisi Ibu semakin terpojok.


Bu Tejo melangkah maju dengan wajah merah padam menahan amarah. Ia menyambar kalung emasnya dari atas kasur dan menatap Ibu dengan sorot mata penuh kekecewaan.


"Saya benar-benar tidak menyangka, Bu Ningsih. Selama ini saya mengira Ibu teman yang baik, ternyata hati Ibu penuh dengan kedengkian. Mulai hari ini, jangan pernah tegur sapa saya lagi. Saya tidak sudi punya teman yang hobi memfitnah dan mengadu domba keluarganya sendiri!"


Dengan langkah menghentak kasar, Bu Tejo berbalik dan pergi meninggalkan kamar kami, disusul oleh rombongan ibu-ibu kompleks yang masih terus mencibir dan menggeleng-gelengkan kepala.


Kini, di dalam kamar itu hanya tersisa aku, Fitri, Ibu, dan Siska yang sejak tadi hanya berdiri mematung di sudut ruangan dengan keringat dingin membasahi pelipisnya.


Sepeninggal para warga, keangkuhan Ibu yang sempat runtuh kini kembali berkobar. 


Alih-alih merasa bersalah atau meminta maaf, beliau justru menatapku dengan mata menyalang, penuh dengan kebencian yang mendalam.


"Puas kamu, Putra?! Puas kamu mempermalukan ibu kandungmu sendiri di depan seluruh warga kompleks?!" bentak Ibu histeris, napasnya memburu naik turun. 


"Kamu memang anak durhaka! Kamu rela menghancurkan harga diri ibumu hanya demi membela perempuan yang bahkan tidak bisa memberimu keturunan ini!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(4) Kulempar surat cerai ke wajah istriku. Tapi anehnya istriku tidak sedih, dia malah tertawa membuatku bingung. Ternyata selama ini istriku menunggu diceraikan karena dia adalah...

  "Tanya pada anak kesayanganmu itu, Bu! Kesalahan fatal apa yang sudah Aryo perbuat sampai dokumen pemusnahan perusahaan kita ditandat...