Kamis, 16 April 2026

Suamiku Mengambil Sertifikat Rumah Warisan Orangtuaku untuk Selingkuhannya. Dia Pikir Aku Bodoh? Dia Tidak Tahu Saja Kalau Aku Sudah...

 


"Sertifikat rumah warisan ayahmu ini aku bawa, ya. Kamu kan cuma ibu rumah tangga, nggak ngerti cara muterin uang. Biar aku yang jadikan modal, kamu cukup duduk manis di rumah nunggu hasilnya."


Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Rizwan, suamiku. Dia tersenyum meremehkan sambil memasukkan sebuah map hijau ke dalam tas kulit mahalnya.


Aku hanya menunduk, memasang wajah polos dan patuh layaknya istri berbakti. 


Tepat seperti peran yang selama ini ia sematkan padaku: Bela, si ibu rumah tangga penurut yang tidak tahu apa-apa soal dunia luar.


"Iya, Mas. Hati-hati di jalan, ya. Semoga urusan modalnya lancar," ucapku selembut mungkin, lalu mencium punggung tangannya.


Rizwan mengusap puncak kepalaku singkat, sorot matanya kilatan kemenangan yang tak bisa ia sembunyikan. Aroma parfum yang menusuk hidung menguar dari kemejanya, bukan parfum yang biasa aku belikan. 


Itu wangi perempuan lain. Wangi dari perempuan yang belakangan ini selalu memanggil suamiku dengan sebutan 'Papi' di pesan WhatsApp yang sengaja disembunyikannya.


Begitu mobil SUV hitam milik Rizwan keluar dari pagar rumah, bahuku yang sejak tadi menurun perlahan tegak. Senyum polos di wajahku menguap, berganti dengan seringai dingin.


Aku berjalan santai menuju sofa ruang tengah, mengambil iPad dari bawah bantal, dan membuka aplikasi pelacak suara yang diam-diam sudah kupasang di mobil suamiku sejak dua minggu lalu.


Terdengar suara dentuman musik pelan dari dalam mobil, disusul suara klik dari panggilan telepon yang tersambung.


"Halo, Sayang? Gimana? Berhasil?" Suara manja seorang perempuan terdengar melengking di seberang sana. Adel. Perempuan parasit yang mengira bisa merebut semuanya dariku.


"Beres dong, Sayang," jawab Rizwan dengan tawa congkak. 


"Si Bela itu gampang banget dibodohin. Dia kasih aja ini sertifikat rumahnya pas aku bilang mau diputer buat bisnis. Hari ini juga aku bawa ke rentenir kenalanku, cairannya langsung aku transfer buat bayar sewa ruko mewah yang kamu mau itu. Kamu tinggal siapin aja grand opening butikmu."


"Aaa! Makasih, Sayang! Ruko di Sudirman itu emang strategis banget. Biarin aja istri bodohmu itu ngurus dapur, kita yang nikmatin uangnya!"


Aku tertawa kecil mendengar percakapan menjijikkan itu. 


Istri bodoh? 


Rizwan mungkin pandai bersandiwara di ranjang, tapi dia lupa dengan siapa dia menikah. 


Dia pikir aku tidak tahu ke mana larinya uang tabungan kami selama enam bulan terakhir? 


Dia pikir aku akan membiarkan sertifikat rumah peninggalan almarhum papaku, satu-satunya hartaku yang paling berharga, melayang begitu saja untuk mendanai gaya hidup selingkuhannya?


Aku menyandarkan tubuh di sofa, menyesap teh yang masih hangat.


Rizwan tidak tahu, bahwa satu bulan yang lalu, tepat setelah aku menemukan bukti perselingkuhannya dengan Adel, aku sudah bergerak lebih cepat dari dugaannya. 


Sertifikat asli rumah ini sudah kubalik nama dan kumasukkan ke dalam perwalian aset atas namaku sepenuhnya dengan perlindungan hukum ganda. 


Map hijau yang baru saja dibawa suamiku dengan penuh rasa bangga itu? 


Itu hanyalah sertifikat lama yang nomor serinya sudah diblokir total oleh Badan Pertanahan Nasional. Kertas usang yang tidak ada harganya. 


Silakan saja dia mencari rentenir atau bank mana pun yang mau menerimanya. Aku jamin, sore ini dia akan pulang dengan wajah ditekuk.


Namun, kejutan sesungguhnya bukan di situ.


Tanganku meraih sebuah map cokelat tebal dari laci meja. Aku mengusap halaman depannya yang bertuliskan Akta Jual Beli.


Adel sangat menginginkan ruko mewah berlantai tiga di kawasan Sudirman itu untuk butiknya. Ruko elit dengan harga sewa fantastis. 


Yang Adel dan Rizwan tidak pernah cari tahu adalah, siapa pemilik baru gedung tersebut sejak minggu lalu.


Uang warisan papaku lebih dari cukup untuk membeli ruko itu secara tunai.


Aku mengambil ponselku, mendial nomor pengacara sekaligus manajer properti kepercayaanku. Panggilan tersambung pada nada ketiga.


"Halo, Pak Dimas. Suamiku sedang berkeliling kota membawa sertifikat kedaluwarsa untuk digadaikan. Biarkan saja. Yang penting sekarang, tolong pastikan penyewa ruko nomor 8 di Sudirman atas nama Adel itu menerima karangan bunga dariku untuk pembukaan butiknya besok," ucapku sambil menatap tajam ke arah luar jendela.


"Baik, Bu Bela. Ada pesan khusus yang ingin ditulis di pita karangan bunganya?" 


"Ada." Aku tersenyum menyeringai.


"Tulis dengan huruf kapital yang besar: SELAMAT MENIKMATI RUKO MILIK ISTRI SAH DARI LAKI-LAKI YANG SEDANG KAMU PERAS. JANGAN LUPA BAYAR SEWA BULAN DEPAN."


***

Bab 2

"Sertifikat ini statusnya sudah diblokir total, Pak Rizwan. Anda sedang mencoba menipu saya, atau justru Anda yang sedang dibodohi habis-habisan oleh istri Anda sendiri?"


Suara berat dan mengintimidasi milik Ko Hendra, rentenir kelas atas yang terkenal tak punya ampun, menggema dari dalam AirPods yang terpasang manis di telingaku. 


Aku tersenyum tipis sambil membalik halaman majalah, membiarkan terapis salon melanjutkan pijatannya di kakiku.


Dari balik penyadap suara yang kusembunyikan di tas kerjanya, aku bisa mendengar embusan napas Rizwan yang tercekat.


"D—diblokir bagaimana maksudnya, Ko? Ini sertifikat asli! Saya sendiri yang ambil dari lemari istri saya pagi ini! Istri saya itu cuma ibu rumah tangga biasa, dia nggak mungkin ngerti urusan blokir-memblokir begini!" Suara suamiku bergetar panik.


Terdengar tawa meremehkan dari Ko Hendra. 


"Cek saja sendiri ke BPN kalau Anda tidak percaya. Kertas yang Anda bawa ini sekarang tidak lebih berharga dari bungkus kacang. Silakan keluar dari kantor saya sebelum saya panggil keamanan. Jangan buang waktu saya!"


***


Suara langkah kaki yang terburu-buru dan deru napas kasar Rizwan menjadi alunan musik paling indah siang ini. 


Laki-laki egois itu pasti sedang berkeringat dingin sekarang. Dia sudah terlanjur berjanji pada Adel akan melunasi sisa biaya sewa ruko dan dekorasi grand opening hari ini juga.


Di dalam mobilnya, Rizwan langsung menelepon Adel. Nadanya yang tadi memelas di depan rentenir, kini mendadak berubah sok tenang.


"Halo, Sayang. Duh, maaf banget ya. Ini orang banknya tiba-tiba bilang sistem pencairannya lagi down. Uangnya baru bisa cair minggu depan. Kamu pakai uang tabunganmu dulu ya buat nutupin sisa sewa rukonya? Kan besok udah opening."


"Apa?! Kok gitu sih, Mas?!" rengek Adel dari seberang sana, suaranya melengking tajam. 


"Uang tabunganku kan udah habis buat beli tas yang kemarin kamu suruh pamerin ke teman-teman arisanku! Pokoknya aku nggak mau tahu, pihak manajemen ruko Sudirman itu galak banget, Mas. Kalau besok pagi pelunasannya nggak masuk, acara grand opening-nya bakal dibatalin sepihak!"


Aku tertawa tanpa suara hingga bahuku berguncang. Tentu saja manajemen ruko itu galak. 


Manajer propertiku, Pak Dimas, memang sudah kuinstruksikan untuk terus menekan Adel sampai ke batas maksimal.


***


Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa sangat tegang. Rizwan duduk di hadapanku dengan wajah kuyu dan kantung mata hitam. 


Dia bahkan belum menyentuh roti panggang dan kopi hitam yang kusiapkan. Matanya terus menatap layar ponsel yang menyala-nyala sejak tadi. Ada puluhan panggilan tak terjawab dari Adel.


"Mas? Kok nggak dimakan sarapannya? Mikirin modal usahanya, ya?" tanyaku lembut, menuangkan air putih ke gelasnya dengan raut wajah istri paling polos sedunia. 


"Uangnya sudah cair, Mas?"


Rizwan tersentak, menatapku dengan tatapan waspada sebelum memaksakan sebuah senyuman kaku. 


"Eh, a-aman kok, Bel. Cuma ada kendala teknis sedikit. Kamu nggak usah mikirin soal uang, ya. Biar Mas yang pusing. Kamu urus rumah aja."


Ponselku bergetar. Sebuah foto masuk dari Pak Dimas. Foto sebuah karangan bunga raksasa berukuran 3x2 meter dengan mawar merah menyala, terpampang gagah tepat di pintu masuk ruko nomor 8 di kawasan Sudirman. 


Tulisannya tercetak sangat besar dan jelas, persis seperti yang kuminta.


Tepat pada detik yang sama, ponsel Rizwan berdering nyaring. Nama 'Adel' berkedip di layar.


Karena terlalu panik, tangan Rizwan gemetar saat menyentuh layar, tanpa sengaja menekan tombol loudspeaker. 


Teriakan histeris Adel langsung meledak, memenuhi seluruh ruang makan kami.


"MAS RIZWAN! KAMU GILA YA?! INI MAKSUDNYA APA ADA KARANGAN BUNGA RAKSASA DARI ISTRIMU DI DEPAN BUTIKKU?! DIA BILANG RUKO INI MILIKNYA?! JAWAB, MAS! JAWAB!"


Rizwan membeku seketika. Wajahnya pias, seputih kertas. Matanya perlahan beralih menatapku dengan sorot horor yang tak terlukiskan.


Aku meletakkan cangkir kopiku dengan anggun, menyandarkan punggung ke kursi, lalu menatap lurus tepat ke manik matanya. 


Senyum polos yang selalu kutunjukkan padanya selama lima tahun terakhir lenyap tak berbekas.


"Kenapa pucat begitu, Mas? Kasihan lho selingkuhanmu sepertinya butuh penjelasan kenapa mulai bulan depan dia harus bayar uang sewa ruko langsung ke rekening istri sahmu ini."


***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suamiku Mengambil Sertifikat Rumah Warisan Orangtuaku untuk Selingkuhannya. Dia Pikir Aku Bodoh? Dia Tidak Tahu Saja Kalau Aku Sudah...

  "Sertifikat rumah warisan ayahmu ini aku bawa, ya. Kamu kan cuma ibu rumah tangga, nggak ngerti cara muterin uang. Biar aku yang jadi...