"Ini tahu goreng yang kamu mau! Makanlah, dan tolong berhenti membuat kepalaku pusing dengan rengekanmu itu!"
Kulemparkan bungkusan plastik kresek hitam itu ke atas meja reyot di hadapan Jihan.
Istriku yang tengah hamil enam bulan itu tersentak kaget. Mata sendunya menatapku dengan genangan air mata, namun tangannya yang kurus pucat dan gemetar perlahan tetap meraih bungkusan tersebut.
Dadaku bergemuruh oleh rasa kesal yang belum juga padam.
Sore tadi, aku baru saja menerima amplop gajian hasil kerasku bekerja sebulan penuh sebagai buruh pabrik.
Namun, belum sempat amplop itu singgah di saku celanaku, Ibu sudah lebih dulu mencegatku di depan pintu rumahnya.
"Berikan gajimu bulan ini, Dafa. Adikmu si Abizar butuh motor baru untuk gaya-gayaan di kampus, dan Ibu harus bayar utang arisan," titah Ibu mutlak siang tadi, tanpa peduli bahwa aku juga memiliki istri yang sedang mengandung.
Aku menyerahkan semuanya. Tak tersisa sepeser pun.
Namun saat aku pulang ke kontrakan kami yang sempit, Jihan menyambutku sambil memegangi perut buncitnya.
Ia memohon dengan suara parau, mengatakan bahwa bayi kami sangat mengidamkan tahu goreng di ujung jalan.
Ia hanya meminta uang sepuluh ribu rupiah. Uang yang tak lagi kumiliki.
Rasa malu karena tak bisa mengabulkan permintaan kecil istriku, bercampur dengan ego dan amarah karena terus ditekan oleh keadaan, membuatku melakukan hal paling tidak masuk akal.
Saat melewati gerobak gorengan Pak Yanto yang sudah tutup, aku melihat penjual itu membuang sisa tahu goreng yang sudah dingin ke dalam tong sampah.
Karena gelap mata, aku memungutnya.
Kini, di bawah lampu bohlam kontrakan yang temaram, aku menatap Jihan yang memakan tahu goreng dingin yang kupungut dari tempat sampah itu.
Jihan memakannya dengan lahap, seolah tak mempedulikan rasanya yang mungkin sudah sedikit masam dan berdebu. Air matanya menetes membasahi pipinya, berbaur dengan setiap kunyahan.
Maafkan Mas, Jihan. Mas benar-benar tidak punya uang, batinku menjerit, namun bibirku terlalu angkuh untuk mengucapkannya.
Aku memalingkan wajah, tak sanggup melihatnya.
Namun, baru pada gigitan ketiga, suara kunyahan itu tiba-tiba terhenti.
Terdengar suara rintihan tertahan. Aku menoleh dengan cepat dan melihat mata Jihan mendelik hebat.
Jihan mencengkeram leher dan dadanya dengan kuat, sementara tangan kirinya meremas perut buncitnya.
Bungkusan plastik kresek itu terjatuh ke lantai, menumpahkan sisa tahu di atas ubin. Napasnya tersengal parah, seolah ada bongkahan batu yang menyumbat tenggorokannya.
"Jihan?! Jihan, kamu kenapa?!" Aku panik bukan main.
Kurengkuh tubuhnya yang tiba-tiba meluruh ke lantai. Wajahnya pucat pasi dan mulai membiru dalam hitungan detik. Keringat dingin membasahi dahinya.
Ia menatapku dengan tatapan kosong yang menyayat hati, bibirnya bergerak tanpa suara seolah ingin menyampaikan satu hal terakhir, sebelum akhirnya matanya tertutup rapat dan tubuhnya lunglai dalam pelukanku.
Duniaku runtuh saat itu juga.
Dengan sisa tenaga dan air mata yang mulai pecah, aku menggendongnya dan berlari kesetanan menuju klinik terdekat, menembus rintik hujan malam itu.
Doa tak putus-putusnya kurapalkan.
Namun, takdir menamparku dengan kenyataan paling menyakitkan.
Di ruang gawat darurat yang dingin itu, nyawa istri dan calon anakku tak bisa diselamatkan. Jihan pergi untuk selamanya secara mendadak.
Aku menangis meraung sambil memukul-mukul lantai rumah sakit, merutuki kebodohanku.
Tahu dari tempat sampah itu pasti sudah dipenuhi bakteri atau basi! Ulahku sendiri yang telah mencelakakannya! Aku suami yang tidak berguna!
Di tengah kehancuran dan rasa penyesalanku yang tak berujung, pintu ruangan terbuka.
Seorang dokter keluar dengan wajah pias. Ia menatapku dengan sorot mata yang menyiratkan keprihatinan yang mendalam, sekaligus kemarahan yang tertahan.
Tangannya menggenggam sebuah buku catatan kecil yang lusuh.
"Tahu goreng kotor yang Anda berikan itu memang memicu pendarahan lambungnya yang sudah sangat parah, Pak," ucap Dokter itu dengan suara bergetar, menyodorkan buku lusuh yang ternyata adalah jurnal harian milik istriku.
"Tapi yang benar-benar merenggut nyawa istri Anda bukanlah makanan sisa itu. Apa Anda sama sekali tidak pernah tahu, bahwa selama satu tahun terakhir ini istri Anda menahan sakitnya kanker lambung stadium akhir sendirian, menolak semua resep obatnya, hanya agar uang gajian Anda bisa terus Anda berikan utuh kepada ibu Anda?"
***
Bab 2
"Buat apa kamu menangisi perempuan penyakitan itu sampai bergulingan di lantai rumah sakit, Dafa? Bikin malu saja! Cepat urus surat kematiannya dan cairkan asuransi dari pabrik tempatmu bekerja. Adikmu si Abizar butuh tambahan uang muka untuk motor sport-nya, Ibu tidak mau dia dihina teman-teman kampusnya!"
Suara melengking Ibu menggema di lorong rumah sakit yang dingin, menembus gendang telingaku bagai ribuan jarum.
Aku perlahan mengangkat wajahku yang basah oleh air mata.
Di depanku, Ibu berdiri dengan wajah tanpa dosa, melipat tangan di dada dengan angkuh.
Di sebelahnya, Abizar, adik laki-lakiku yang selalu dibanggakan Ibu, asyik bermain ponsel tanpa sekalipun menatap ke arah ruang jenazah tempat istriku terbujur kaku.
"Asuransi?" suaraku serak, bergetar menahan amarah dan kehancuran yang tak tergambarkan. "Istri Dafa baru saja meninggal, Bu! Anak di kandungannya juga tiada! Dan yang Ibu pikirkan hanya motor sport Abizar?!"
Ibu mendelik, matanya melotot tajam.
"Loh, memangnya salah? Dia sudah pergi, mau dikembalikan lagi pakai air mata? Kalau dari dulu dia tidak penyakitan dan menyusahkanmu, uang gajianmu pasti lebih banyak sisa untuk Ibu!"
Napasku tercekat. Aku menatap wanita yang melahirkanku itu dengan pandangan nanar.
Selama ini aku selalu patuh. Aku mengabdi, memberikan seluruh hasil keringatku, menutup mata dan telinga dari keluhan Jihan karena kupikir berbakti pada Ibu adalah jalan kebenaran.
Namun hari ini, topeng itu terbuka sempurna.
Dengan tangan gemetar, kubuka jurnal lusuh milik Jihan yang diberikan dokter tadi. Air mataku kembali menetes di atas halaman pertama yang terbuka.
Tulisan tangan Jihan yang rapi tampak sedikit bergetar, seolah ia menahan sakit saat menulisnya.
[12 Januari.
Hari ini Ibu mertua datang lagi ke kontrakan saat Mas Dafa bekerja.
Ibu mengambil semua stok beras dan uang tabungan persalinanku yang kusimpan di bawah kasur. Katanya, Abizar butuh sepatu baru yang mahal.
Saat aku memohon untuk disisakan sepuluh ribu saja untuk membeli obat pereda nyeri lambung, Ibu mendorongku sampai aku terjatuh.
'Jangan manja! Perutmu sakit karena kamu pemalas!' kata Ibu.
Aku hanya bisa menangis sambil meminum air putih dari keran untuk meredakan perih.
Mas Dafa sudah sangat lelah bekerja di pabrik, aku tidak ingin membebaninya dengan mengadukan hal ini. Biarlah aku yang menahan semuanya.]
Dadaku seolah dihantam godam raksasa. Jantungku serasa diremas hingga hancur berkeping-keping.
Selama ini, saat aku banting tulang di pabrik, istriku yang sedang hamil dan menahan sakit yang luar biasa, justru diperlakukan tanpa belas kasih oleh keluargaku sendiri.
Dan aku, aku justru menyerahkan gajianku yang berharga kepada mereka, membiarkan istriku kelaparan dan memakan tahu sisa dari tempat sampah!
"Dafa! Kamu dengar Ibu tidak?!" bentak Ibu lagi, menyadarkanku dari lamunan.
"Cepat urus jenazahnya, pemakaman umum di belakang desa cukup. Jangan buang-buang uang untuk peti yang mahal!"
Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. Rasa penyesalan dan kebencian pada diriku sendiri melebur menjadi satu.
***
Singkat waktu, dengan sisa-sisa tenaga dan kewarasan, aku membawa jasad Jihan ke pemakaman umum. Langit sore itu mendung pekat, seolah ikut meratapi kebodohanku.
Hanya ada aku, Pak RT, dan beberapa penggali kubur. Ibu dan Abizar bahkan menolak ikut karena alasan tanah makam yang becek dan kotor.
Saat tubuh kaku Jihan yang terbalut kain kafan hendak diturunkan perlahan ke liang lahad, suara deru mesin mobil mewah yang menderu kencang memecah keheningan makam.
Bukan hanya satu, tapi lima mobil sedan hitam mengkilap berbaris memasuki area pemakaman kumuh itu.
Pintu mobil terbuka, dan puluhan pria berpakaian jas rapi berhamburan keluar, membentuk barisan penjagaan.
Langkah semua orang terhenti. Para penggali kubur mematung di tempat.
Dari mobil yang berada di paling tengah, turunlah seorang pria paruh baya dengan tongkat berukiran naga dari kayu jati.
Meski rambutnya sudah memutih, auranya memancarkan ketegasan dan kekuasaan yang luar biasa.
Matanya yang tajam menatap lurus ke arah keranda jenazah Jihan, dan sebulir air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Pria itu melangkah mendekat ke arah liang lahad. Saat ia menatapku, tatapannya berubah menjadi bilah pedang yang menyiratkan murka yang tak tertahankan.
"Hentikan! Jangan ada yang berani menutupi jasad putriku dengan tanah kotor ini! Angkat kembali jasadnya, bawa pulang Pewaris Tunggal Keluarga Konglomerat Adiwangsa sekarang juga, dan pastikan laki-laki tak tahu diri ini beserta keluarganya membayar lunas setiap tetes air mata putriku mulai detik ini!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar