"Sayang banget ya, Mbak Jannah. Istri sah kok penampilannya dekil dan kusam begini? Pantas saja Mas Hakim rela membelikan saya tas kulit eksklusif ratusan juta ini. Katanya, biar pas diajak jalan, dia nggak perlu menahan malu."
Suara tawa Restu mengudara, renyah dan penuh kemenangan di tengah riuhnya ibu-ibu arisan sore itu.
Sepasang mata berbulu mata palsu tebal itu menatapku meremehkan dari atas sampai bawah. Jari-jarinya yang dihiasi nail art mencolok sengaja mengelus permukaan kulit tas berdesain mewah di pangkuannya.
Beberapa ibu-ibu arisan mulai berbisik. Ada yang menatapku kasihan, ada pula yang diam-diam tersenyum sinis.
Di mata mereka, aku hanyalah Jannah, istri Hakim yang penampilannya terlalu sederhana, yang jarang memakai perhiasan mentereng, yang lebih suka memakai gamis katun polos daripada gaun desainer ternama.
Sementara Restu? Dia adalah wanita simpanan yang entah bagaimana punya nyali luar biasa untuk ikut arisan di lingkaran pertemananku, bertingkah seolah dialah ratunya.
Aku meletakkan cangkir tehku perlahan, memastikan bunyinya tidak terlalu keras saat bersentuhan dengan tatakan porselen.
Aku tidak marah. Sama sekali tidak. Aku justru menatap lurus ke arah tas itu.
Tas yang sangat indah. Jahitan dan kilau kulitnya memperlihatkan harganya yang tak masuk akal bagi karyawan biasa.
Ponsel di dalam tas tanganku sempat bergetar dua hari yang lalu. Sebuah notifikasi dari aplikasi perbankan prioritas muncul di layarku.
[Transaksi berhasil. Rp 285.000.000 di sebuah butik tas impor ibukota. Kartu Kredit Suplemen (04**).]
Itu adalah kartu kredit tambahan yang kubuatkan khusus atas nama Hakim.
Suamiku itu beralasan butuh pegangan dana tak terbatas untuk "menjamu klien-klien penting" agar proyek perusahaannya lancar.
Hakim tidak pernah tahu, perusahaan tempatnya bekerja hanyalah anak cabang dari grup bisnis milik almarhum papaku.
Dan Hakim jelas tidak tahu, bahwa 'uang jajan' tak terbatasnya selama ini mengalir langsung dari rekening pribadiku yang tak pernah ia sentuh.
"Bagus tasnya, Restu. Mas Hakim memang punya selera yang tinggi," ucapku tenang, menyunggingkan senyum tipis yang membuat kerutan bingung muncul di dahi perempuan itu.
"Semoga kamu bisa merawatnya baik-baik."
Restu mendengus, tampak kecewa karena aku tidak menangis, marah, atau menyiramnya dengan air es.
"Tentu saja, Mbak. Barang mahal harus dirawat dengan cinta. Sama seperti suami. Kalau istri sahnya cuma bisa dasteran, ya wajar kalau suaminya mencari yang lebih berkilau di luar."
Aku hanya mengangguk pelan, bangkit berdiri, lalu berpamitan kepada tuan rumah. Biarlah dia terbang tinggi sore ini.
Karena semakin tinggi dia terbang, akan semakin hancur wajahnya saat jatuh mencium bumi.
Aku sudah merencanakan sesuatu, dan itu akan menghancurkan suamiku dan selingkuhannya.
***
Bab 2
Malam harinya, aku duduk di sofa ruang kerja sambil menatap layar tabletku.
Sebuah pesan masuk dari Hakim sepuluh menit yang lalu:
[Sayang, malam ini Mas lembur ya. Ada makan malam dengan investor dari luar kota di restoran bintang lima. Mungkin Mas pulang larut. Kamu tidur duluan saja.]
Aku tertawa pelan. Investor dari luar kota, atau perempuan berbulu mata tebal yang minta ditraktir makan malam romantis setelah lelah memamerkan tas barunya?
Jari telunjukku mengetuk layar. Masuk ke aplikasi perbankan, memilih menu manajemen kartu kredit, dan menggulir ke nama Hakim - Kartu Suplemen Platinum.
Ada fitur kecil di sana yang sangat kusukai: Ubah Limit Kartu.
Limit awal: Rp 500.000.000.
Aku menghapus angka lima dan rentetan nol di belakangnya, lalu mengetikkan satu angka tunggal yang paling mematikan bagi seorang pria sombong.
0.
Simpan.
Masukkan PIN.
Perubahan limit berhasil.
Aku bersandar, menyesap pelan jus apel di gelasku sambil melirik jam dinding.
Pukul delapan malam. Restoran mewah biasanya menagih pembayaran sekitar pukul sembilan atau sepuluh. Mari kita hitung mundur.
Tiga, dua, satu.
Pukul sembilan lewat lima belas menit, layar ponselku menyala terang. Panggilan masuk dari Suamiku Tersayang.
Aku membiarkannya berdering hingga nada terakhir, lalu mengangkatnya dengan tenang.
"Halo, Mas? Tumben jam segini menelepon? Investornya sudah pulang?"
"Jannah! Ini kenapa kartuku ditolak?! Kasir sudah menggeseknya tiga kali dan semuanya gagal! Tagihannya lima belas juta, Jannah! Cepat telepon bank dan buka blokirnya sekarang, aku benar-benar malu dilihat banyak orang!" teriak Hakim dengan suara tertahan, panik setengah mati.
Aku menyunggingkan senyum dingin, membayangkan wajah pucat Hakim dan wajah kebingungan Restu di depan mesin pembayaran yang menolak kehormatan mereka.
"Investor penting, atau wanita simpananmu yang menenteng tas ratusan jutaku siang tadi, Mas? Selamat mencuci piring berdua di dapur restoran malam ini, karena limit kartu itu sudah kubuat nol rupiah."
***
Bab 3
"Beraninya kamu, Jannah! Buka blokir kartu ini sekarang juga atau aku—"
"Atau kamu apa, Mas? Mau memarahiku karena aku menolak membiayai kencan mewahmu dengan wanita itu? Silakan, Mas. Berteriaklah sesukamu. Tapi pastikan suaramu tidak terdengar sampai ke meja kasir."
Sambungan telepon kuputuskan sepihak sebelum Hakim sempat memaki lebih jauh.
Aku langsung mematikan daya ponsel, meletakkannya di atas meja nakas, dan menarik selimut tebal.
Malam ini, aku tidur dengan sangat nyenyak, membayangkan bagaimana sepasang pengkhianat itu berkeringat dingin mencari cara membayar tagihan bernilai belasan juta.
***
Pagi harinya, suasana rumah terasa sunyi hingga pukul tujuh. Aku sedang mengoleskan selai pada roti panggangku di dapur ketika suara bantingan pintu depan terdengar sangat keras.
Langkah kaki yang terburu-buru dan berat menghampiri ruang makan.
Hakim berdiri di ambang pintu dapur. Penampilannya sangat berantakan.
Kemeja mahalnya kusut masai, dasinya sudah entah ke mana, dan wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Matanya menatapku nyalang.
"Istri macam apa kamu, hah?!" bentaknya, menggebrak meja makan hingga cangkir kopiku bergetar.
"Bisa-bisanya kamu mempermalukanku di depan klien bisnisku! Kamu tahu gara-gara kamu mematikan kartu itu, aku harus menelepon temanku meminjam uang di tengah malam?!"
Aku mengunyah rotiku dengan pelan, menelannya, lalu menatapnya dengan ekspresi datar.
"Klien bisnis? Sejak kapan nama klien bisnismu berubah menjadi Restu, Mas?"
Hakim membeku. Jakunnya naik turun. Kilat kepanikan melintas sejenak di matanya sebelum tertutup oleh topeng arogansinya.
"J-jangan asal bicara! Siapa yang bilang aku bersama Restu? Aku sedang meeting dengan investor!"
Aku menghela napas panjang. Pria ini benar-benar tidak tahu malu. Tanganku meraih tablet yang sejak tadi tergeletak di meja, membuka sebuah layar, dan memutarnya ke arah Hakim.
Di layar itu, terpampang jelas unggahan status sosial media milik Restu dua jam yang lalu.
Sebuah foto dua tangan yang saling menggenggam di atas meja restoran mewah, dengan tas mahal berdesain eksklusif terpajang di sampingnya.
Caption unggahan itu sungguh membuat perutku mual:
[Makan malam romantis walau ada sedikit kendala teknis. Untung kesayanganku selalu punya cara untuk bertanggung jawab. Love you.]
Dan yang paling bodoh dari semuanya, jam tangan pria yang terekam di foto itu adalah jam tangan edisi terbatas yang kuberikan pada Hakim bulan lalu.
"Kendala teknis apa yang dia maksud, Mas? Kartu yang tertolak, atau wajahmu yang pucat pasi di depan pelayan restoran?" tanyaku dengan nada lembut yang mematikan.
Hakim bungkam. Wajahnya yang tadi merah karena marah, kini memucat.
Namun, alih-alih meminta maaf atau merasa bersalah, egonya sebagai laki-laki patriarki justru mengambil alih. Ia menepis tabletku hingga jatuh ke karpet.
"Lalu kenapa kalau aku makan malam dengannya?! Ini semua salahmu, Jannah!" tudingnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Kamu tidak pernah merawat diri! Kamu selalu tampil kusam, memakai baju murah, tidak pernah pantas kubawa ke acara penting! Wajar kalau aku butuh wanita yang bisa kubanggakan!"
Ia mencondongkan tubuhnya, menatapku penuh peremehan.
"Dengar ya, Jannah. Jangan merasa sok berkuasa cuma karena kamu memegang kendali kartu suplemen itu sesaat. Kamu pikir dari mana limit sebesar itu berasal? Itu pasti dari gajiku yang kamu tabung diam-diam, kan?! Mulai hari ini, aku tidak akan memberikan uang gajiku sepeser pun padamu! Biar kamu tahu rasa bagaimana hidup miskin tanpa suami sepertiku!"
Hakim tersenyum sinis, merapikan kerah kemejanya yang kusut seolah ia baru saja memenangkan perdebatan ini.
"Mulai detik ini, kamu tidak boleh memakai fasilitas apapun dariku. Termasuk mobil mewah di garasi itu. Itu mobil hasil keringatku, bukan untuk istri yang tidak tahu diuntung!"
Aku bangkit dari kursi perlahan. Menatap lurus tepat di manik mata pria yang selama tiga tahun ini hidup dari uang keluargaku tanpa menyadarinya.
"Silakan, Mas. Bawa saja semua hasil keringatmu itu. Tapi sebelum kamu pergi bekerja hari ini, coba periksa laci kerjamu dan baca baik-baik, atas nama siapa BPKB mobil mewah yang kamu banggakan itu tertulis."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar