"Minggir, Hani! Kau cuma menantu benalu, jangan berani-berani menghalangi jalan keluarga inti saat pembacaan wasiat Ibuku!"
Tubuhku terhuyung ke belakang akibat dorongan kasar Vina, kakak iparku.
"Duduk saja di pojok sana. Jangan bikin malu. Ini urusan kami yang punya hak darah," desis Arya, suamiku sendiri.
Bukannya menolong, ia justru menatapku dengan sorot merendahkan.
Aku hanya bisa menunduk sambil meremas ujung dasterku.
Selama tiga tahun terakhir, akulah yang setia memandikan, menyuapi, dan merawat ibu mertuaku yang terbaring lemah.
Sementara anak kandungnya asyik berfoya-foya di luar, kini saat Ibu dikabarkan kritis dan pengacara keluarga tiba, mereka mendadak berkumpul dengan air mata buaya.
Di atas ranjang, Ibu Mertua masih bernapas putus-putus dengan mata terpejam rapat.
"Mari kita mulai. Mengingat kondisi Ibu Ratna yang kian menurun, beliau meminta surat wasiat ini dibacakan hari ini juga," ucap Pak Surya, sang pengacara keluarga.
"Ibuuu, Arya janji akan menjaga rumah peninggalan Ibu dengan baik," isak Arya sambil menggenggam tangan ibunya yang pucat pasi.
"Ibu tenang saja, perusahaan Ibu biar Vina yang kelola sepenuhnya. Vina tidak akan biarkan orang luar ikut campur," sahut Vina sambil melirik sinis ke arahku.
Pak Surya berdehem pelan, lalu membuka map cokelat tebal di tangannya.
"Saya bacakan. Seluruh aset kekayaan atas nama Ibu Ratna yang meliputi rumah mewah ini, saham mayoritas perusahaan, dan deposito tunai senilai lima ratus miliar rupiah."
Napas Arya dan Vina terdengar tertahan. Mata mereka berbinar serakah.
"Diserahkan sepenuhnya, mutlak, dan tidak bersyarat kepada ..."
Pak Surya membetulkan letak kacamatanya, lalu menatap lurus ke arahku.
"... menantu Ibu Ratna, yaitu Saudari Hani."
Hening. Udara di kamar itu seakan tersedot habis.
"APA?!" jerit Vina melengking, menunjuk wajah pengacara itu. "Bapak gila?! Bapak pasti sudah disogok perempuan miskin ini, kan?!"
"Ini penipuan! Tidak mungkin Ibu memberikan semua hartanya pada babu ini!" bentak Arya. Ia melangkah maju menepuk meja dengan keras.
"Aku anak kandungnya! Aku pewaris utamanya! Pasti ada alasan tidak masuk akal di balik ini!"
Aku mematung di sudut ruangan. Jantungku berdebar tak karuan menatap raut wajah suamiku yang murka, lalu menatap ibu mertuaku yang masih terbaring kaku tak berdaya.
"Wasiat ini sah di mata hukum, tanpa paksaan, dan Ibu Ratna sendiri yang mendiktekan alasannya kepada saya beberapa waktu lalu," tegas Pak Surya, membalik halaman terakhir dari dokumen tersebut.
"Bacakan alasannya! Aku ingin dengar kebohongan apa yang dikarang perempuan ini!" tantang Arya dengan napas memburu.
Pak Surya menatap tajam ke arah Arya dan Vina bergantian, lalu membacakan kalimat terakhir yang dicetak tebal dengan suara lantang.
"Tertulis di sini pesan langsung dari Ibu Ratna: 'Semua hartaku kuserahkan pada Hani, karena selama tiga tahun tubuhku lumpuh dan tak bisa bicara, hanya Hani yang tidak pernah diam-diam mencoba membekap wajahku dengan bantal setiap kali kalian mengira aku sudah tertidur pulas.'"
***
Bab 2
"Fitnah keji macam apa ini?! Kau pasti yang menghasut Ibu dengan cerita murahan ini untuk merampok harta keluarga kami, kan, Hani?!" gelegar Arya, suaranya menggelegar memenuhi penjuru kamar.
Vina ikut maju, telunjuknya nyaris menusuk mataku.
"Benar! Kau sengaja mencuci pikiran Ibu saat kami tidak ada! Sejak kapan Ibu bisa tahu apa yang kami bicarakan? Dia itu lumpuh dan matanya selalu terpejam setiap kami datang!"
"Jaga ucapan kalian," potong Pak Surya tegas, suaranya tak kalah mengintimidasi.
"Semua bukti, termasuk rekaman dari kamera tersembunyi di kamar ini yang merekam perbuatan kalian, sudah diserahkan Ibu Ratna kepada pihak berwajib melalui saya jauh sebelum kondisinya kritis."
Aku menelan ludah dengan susah payah. Tubuhku gemetar karena rasa tak percaya yang tiba-tiba merayapi tengkukku.
"Jadi, selama ini kalian benar-benar diam-diam menempelkan cap jempol Ibu untuk memalsukan peralihan aset, dan berencana membuang Ibu ke panti jompo kumuh bulan depan?" tanyaku dengan suara bergetar, menatap Arya lekat-lekat.
"Ibu kandung kalian sendiri?"
"Tutup mulutmu, babu!" Arya melangkah maju dengan mata melotot, lalu mencengkeram lenganku dengan sangat kasar.
"Kau pikir dengan selembar kertas sampah ini kau bisa mendadak jadi nyonya besar di sini? Kau itu cuma perempuan miskin yang beruntung kunikahi!"
"Lepaskan lengan Saudari Hani, Arya," peringat Pak Surya, melangkah maju mendekati kami.
"Setiap tindakan kekerasan yang Anda lakukan padanya hanya akan mempercepat proses penangkapan Anda berdua atas tuduhan penggelapan dan penipuan."
Arya mendengus kasar. Ia menghempaskan lenganku hingga aku nyaris terjatuh menabrak nakas tempat obat-obatan Ibu Mertua berada.
"Kau pikir aku takut pada ancaman omong kosongmu, Pengacara Tua?" desis Arya tajam. Ia lalu menoleh pada kakaknya.
"Panggil satpam sekarang! Seret pengacara ini dan perempuan gila ini keluar dari rumah kita!"
"Betul! Ceraikan saja dia detik ini juga, Arya! Usir dia tanpa membawa pakaian sehelai pun dari rumah ini!" jerit Vina berapi-api.
Arya kembali menatapku, telunjuknya teracung tepat di depan wajahku.
"Dengar baik-baik, Hani. Mulai detik ini juga, kau kuceraikan! Pergi kau dari sini dan jangan pernah bermimpi bisa menyentuh satu sen pun harta keluargaku!" bentak Arya dengan rahang mengeras.
Bukannya panik, Pak Surya justru merapikan letak kacamatanya, tersenyum tipis, dan membalik lembar terakhir dari dokumen tebal di tangannya.
"Keputusan yang sangat ceroboh, Saudara Arya. Karena sesuai klausul tambahan di halaman ini, jika Anda berani menjatuhkan talak pada Saudari Hani, maka seluruh utang rahasia perusahaan sebesar tiga ratus miliar rupiah otomatis akan dibebankan ke atas nama Anda pribadi, dan rumah mewah ini akan langsung disita bank besok pagi."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar