Minggu, 12 April 2026

Suamiku tewas terbakar, tapi saat aku bekerja jadi pembantu, kulihat foto suamiku dengan...


 "Mas Bima itu orang baik! Suami saya cuma buruh pabrik biasa, mustahil dia punya utang lima ratus juta!"


Suaraku pecah, menahan tangis di hadapan dua pria berjas rapi yang menatapku sinis di ruang tamu.


"Buka matamu, Nyonya Laras!" Pria berkumis tebal itu menggebrak meja kayuku dengan kasar. 


"Lihat materai dan tanda tangannya. Pabrik tempatnya bekerja boleh saja sudah jadi abu, tapi utangnya tidak ikut hangus!"


"T-tapi kecelakaan itu baru seminggu," isakku, meremas ujung dasterku yang pudar. 


"Tanah makam suami saya saja masih basah. Dari mana saya bisa dapat uang sebanyak itu?"


"Bukan urusan kami! Besok pagi rumah ini kami sita. Sisanya, kau harus kerja keras untuk melunasinya, atau bersiap membusuk di penjara!"


"Laras, kamu bersihkan ruang kerja Tuan Besar di lantai dua," perintah Bi Inah, kepala pelayan, membuyarkan lamunanku.


Sudah tiga hari aku bekerja sebagai asisten rumah tangga di kawasan elite ini. 


Aku terpaksa menelan gengsi demi menyambung nyawa dan mencicil utang yang mengikat leherku.


"Baik, Bi. Ada pantangan yang harus saya ingat?" tanyaku menunduk patuh.


"Jangan sentuh dokumen apa pun! Tuan Besar sangat perfeksionis. Bersihkan saja debunya. Keluarga beliau baru pulang dari luar negeri, jadi pastikan semuanya mengkilap tak berdebu," ancam Bi Inah dengan raut serius.


"Siap, Bi Inah. Saya akan sangat berhati-hati."


Aku bergegas menaiki tangga berlapis karpet tebal itu. Memasuki ruang kerja bernuansa kayu mahoni, aku langsung disambut aroma maskulin yang entah mengapa terasa begitu familier di indra penciumanku.


"Kaya sekali Tuan Besar ini," gumamku pelan sambil menyapu debu di rak buku. Langkahku terhenti di depan meja kerja utama. 


Di sana, sebuah bingkai foto berlapis perak berdiri tegak. Iseng, aku mencondongkan tubuh untuk membersihkan kacanya.


"Ini pasti Nyonya dan Tuan ..."


Ucapanku terputus di udara. Kemoceng di tanganku terlepas, jatuh berdebum ke lantai. Kakiku mendadak lemas tak bertulang hingga aku harus mencengkeram tepi meja kuat-kuat.


Di dalam foto itu, berdiri seorang wanita cantik bergaun mewah. 


Namun, bukan itu yang membuat duniaku berhenti berputar. Melainkan sosok pria berjas mahal yang memeluk pinggang wanita itu dengan senyum yang sangat kukenal. Pria dengan luka gores kecil di pelipis kirinya.


Tanganku bergetar hebat menyentuh permukaan foto tersebut. Dadaku sesak, dipenuhi amarah dan ketidakpercayaan yang meledak-ledak.


"Kau membiarkanku menangisi kepergianmu dan menanggung utang ratusan juta yang menjerat leherku," bisikku dengan suara bergetar dan napas memburu. 


"Lalu, siapa pria berjas mahal yang sedang tersenyum memeluk istri dan anak lain di foto ini, Mas Bima?!"


***


Bab 2

"Bahkan setelah namaku tertulis di batu nisan, kamu masih saja ceroboh menjatuhkan barang, Laras."


Suara bariton yang berat dan sangat familier itu mengalun dari arah pintu yang setengah terbuka.


Aku berputar dengan cepat. Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat sosok tinggi tegap yang baru saja melangkah masuk. 


Pria itu mengunci pintu ruang kerja dari dalam dengan gerakan tenang. Dia mengenakan setelan jas mewah, rambutnya tertata rapi, dan aroma maskulinnya menguar kuat.


Itu Mas Bima. Suamiku yang seharusnya sudah menjadi abu!


"M-Mas Bima?" Suaraku nyaris tak terdengar. "K-kamu hantu?"


"Ini Mas, Ras. Suamimu," ucapnya parau. Mata elangnya menatapku penuh kerinduan saat dia melangkah maju dan langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukan yang hangat.


Selama beberapa detik, aku membeku. 


Namun, kesadaran tentang utang ratusan juta, ancaman penjara, dan foto keluarga yang baru saja kulihat membuat akal sehatku kembali. Dengan sekuat tenaga, aku mendorong dadanya hingga dia mundur selangkah.


"Jangan sentuh aku! Penipu!" teriakku tertahan, air mata kembali mengalir deras. "Kau biarkan istrimu dikejar rentenir karena utang lima ratus juta, sementara kau hidup mewah di istana ini?! Siapa kau sebenarnya?!"


"Kecilkan suaramu, Ras, kumohon," bisiknya panik, mencengkeram kedua bahuku dengan lembut namun tegas. 


"Mas bisa jelaskan semuanya! Mas berani bersumpah demi langit dan bumi, utang lima ratus juta itu bukan ulah Mas!"


"Lalu ulah siapa?! Tanda tangannya milikmu, Mas!"


"Itu jebakan pamanku! Dia yang sengaja membuat pabrik itu meledak untuk menyingkirkan Mas," sahutnya dengan rahang mengeras. 


"Kalau Mas tidak pura-pura tewas dalam kebakaran itu dan kembali ke keluarga ini, pamanku pasti akan mengincarmu juga, Laras! Mas harus kembali menjadi Dewa, pewaris tunggal keluarga ini, untuk menghancurkan paman dari dalam."


Aku menatapnya nanar, kepalaku berdenyut hebat. 


"Dewa? Jadi Bima hanyalah nama samaranmu? Lalu, bagaimana dengan foto ini?!" 


Aku menunjuk kasar ke arah bingkai perak di atas meja. 


"Siapa wanita dan anak yang kau peluk itu, Mas?!"


Sorot mata suamiku meredup. Dia mengusap wajahnya dengan frustrasi.


"Itu masa lalu Mas, Ras. Wanita itu mendiang istri pertamaku dari pernikahan bisnis keluarga. Dia sudah tiada. Mas kabur dari sangkar emas ini, membuang semua harta dan identitas, hanya supaya bisa hidup sederhana bersamamu. Kamu adalah satu-satunya wanita yang Mas cintai."


"Kalau kau mencintaiku, kenapa kau membiarkanku menderita di luaran sana?!" isakku, memukul dadanya yang bidang berulang kali. "Aku nyaris dipenjara, Mas!"


Mas Bima menangkap kedua tanganku, mengecup punggung tanganku dengan bibir yang gemetar. Matanya tak kalah berkaca-kaca. 


"Mas tahu, dan Mas minta maaf. Mas yang mengatur agar Bi Inah diam-diam merekrutmu bekerja di sini. Ini satu-satunya cara agar Mas bisa memantau dan melindungimu dari dekat, tanpa membuat pamanku curiga bahwa kelemahanku masih hidup di rumah ini."


Tangisku perlahan mereda. Tatapannya begitu tulus, persis seperti Mas Bima yang selama lima tahun ini selalu menyayangiku dan tak pernah menyakitiku sedikit pun. 


Dia merengkuhku kembali, dan kali ini aku membiarkan diriku bersandar di dada bidangnya yang berdebar kencang.


"Bertahanlah sebentar lagi sebagai pelayan di sini, Ras. Beri Mas waktu untuk membereskan paman, setelah itu kita akan ..."


Suara ketukan pintu yang keras tiba-tiba memutus ucapan Mas Bima. Kami berdua tersentak dan saling melepaskan pelukan.


"Dewa, Sayang? Kamu di dalam?" Sebuah suara wanita yang sangat manja terdengar dari balik pintu, diiringi suara kenop yang diputar dari luar. 


"Buka pintunya, Sayang. Aku sudah membawa gaun pengantin rancangan desainer Paris untuk pernikahan kita minggu depan loh!"


Tubuhku membeku. Mataku membelalak menatap suamiku yang wajahnya mendadak pucat pasi.


Aku memundurkan langkah, menatap pria di hadapanku dengan senyum getir yang menyayat hati. 


"Jadi ini alasanmu membawaku ke rumah ini dan memintaku bersabar, Mas Bima? Untuk menjadikanku babu di hari pernikahan keduamu?!"


***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

  "Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan ana...