Senin, 13 April 2026

(3) Istriku ditabrak mobil sampai meninggal. Saat kunikahi adik tiri istriku, mendadak istriku muncul. Siapa dia sebenarnya? Ternyata istriku sebenarnya...

 


"Bawa masuk pria itu! Biar semua yang hadir di ruangan ini mendengar langsung dari mulutnya, siapa yang telah memberinya segepok uang untuk menyabotase mobilku!"


Suara Riana yang jernih dan sarat akan otoritas itu menggetarkan setiap sudut gedung pernikahan. 


Siska yang sedari tadi bersembunyi di balik punggungku, kini terhuyung mundur. Wajahnya yang tertutup riasan pengantin pucat pasi, tak ada lagi sisa-sisa gadis lugu yang selama ini selalu ia tampilkan.


Pintu utama terbuka lebar. Dua pengawal berjas hitam melangkah masuk, menyeret seorang pria bertopi yang meronta ketakutan.


"I-itu Maman, kan? Montir di bengkel depan komplek kita?" bisik Ibu Mertua yang duduk di barisan depan kursi keluarga. Suaranya bergetar hebat, matanya membelalak tak percaya melihat apa yang terjadi.


Begitu Maman dilemparkan ke atas karpet merah di depan meja akad, matanya langsung tertuju pada Siska. Pria itu menangkupkan kedua tangannya, memohon dengan air mata bercucuran.


"Mbak Siska! Tolong saya, Mbak! Mbak bilang semuanya bakal aman! Mbak janji ngasih saya seratus juta buat mutusin kabel rem mobil itu asalkan saya pakai jaket suami Mbak Riana malam itu! Tapi kenapa saya malah ditangkap begini, Mbak?!" ratap Maman histeris.


Bagaikan disambar petir, pengakuan itu meruntuhkan sisa-sisa kewarasanku. 


Napasku memburu. Aku menatap Siska dengan rasa jijik yang tak terlukiskan. 


Wanita yang selama tiga bulan ini merawatku dengan senyum lembutnya, yang hampir saja kunikahi hari ini, ternyata adalah dalang di balik tragedi maut itu!


"Tutup mulutmu! Aku tidak kenal siapa kau!" jerit Siska sambil menutup kedua telinganya, kakinya lemas hingga ia luruh ke lantai.


Aku memalingkan wajah dari Siska, menatap Riana dengan dada sesak. Logikaku masih berusaha mencerna kegilaan ini. 


"Ri, kalau Maman yang merusak remnya, lalu siapa ... siapa wanita yang tewas terbakar di dalam mobilmu malam itu? Aku melihat sendiri cincin kawin kita di jarinya."


Riana tersenyum miris, menatapku dengan sorot mata kasihan.


"Di rest area sebelum masuk tol, seorang wanita merampas tas dan memaksaku keluar dari kemudi. Dia mendorongku hingga kepalaku membentur trotoar. Saat dia kabur membawa mobil dan semua identitasku menuju kecelakaan maut rancangan Siska itu, aku tergeletak tak sadarkan diri."


Ibu Mertua tiba-tiba menerobos maju, menunjuk wajah Riana dengan jari telunjuknya yang keriput. 


"Kalau begitu kenapa kau tidak langsung pulang setelah sadar?! Kenapa membiarkan kami berduka?! Ini pasti akal-akalanmu saja untuk merusak hari bahagia Siska!"


Riana tidak marah dibentak seperti itu. Ia justru tertawa pelan, tawa elegan yang mengisyaratkan kekuasaan mutlak yang tak pernah kulihat sebelumnya. 


Ia mengusap cincin berlian besar di jarinya, membuat Ibu Mertua seketika bungkam melihat kilau kemewahan yang tak mungkin terbeli oleh gaji suamiku.


"Karena orang yang menemukanku malam itu dan memindahkanku ke rumah sakit di Singapura bukanlah warga biasa, Ibu. Mereka adalah keluarga kandungku," ucap Riana tenang, namun setiap kata-katanya menampar keras harga diri keluarga kami. 


"Keluarga konglomerat Adhitama. Keluarga kaya raya yang selama ini kusembunyikan identitasnya agar aku bisa hidup sederhana melayani suamiku."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

  "Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan ana...