"Telan saja sayur lodeh basi itu, Yuni! Tidak usah banyak protes! Kalian pikir karena rajin transfer uang, kalian bisa menuntut perlakuan istimewa dariku?" bentak Ibu mertuaku seraya menggebrak meja makan.
Bau asam menyengat hidungku. Aku menunduk menahan pedih, sementara Mas Farhan menatap ibunya dengan rahang mengeras.
"Bu, ini sayurnya sudah berlendir! Setiap tanggal satu kami selalu transfer sepuluh juta, masa Ibu cuma menghidangkan sisa makanan berhari-hari begini?" protes Mas Farhan tak terima.
"Harga sembako mahal, Farhan! Kalau istrimu tidak mau makan, suruh dia masak sendiri!" balas Ibu mertua melotot tajam.
***
Malamnya, di kamar tamu yang pengap, kesabaranku benar-benar habis.
"Mas, sepuluh juta sebulan tidak mungkin habis cuma buat makan ikan asin dan sayur basi. Pasti ada yang disembunyikan ibumu," bisikku menatap suamiku lekat.
"Lalu kita harus bagaimana, Yun?" tanya Mas Farhan frustrasi.
"Bulan depan, kita pura-pura bangkrut. Hentikan semua jatah bulanan. Kita lihat wajah aslinya saat keran uang kita matikan total," cetusku mantap.
***
Satu bulan kemudian. Sesuai rencana, kami datang berkunjung dengan baju kusut dan wajah memelas.
"Mana transferan bulan ini? Ini sudah tanggal lima!" todong Ibu mertua begitu kami menginjak teras, tanpa sudi menanyakan kabar.
"Kami bangkrut, Bu," ucap Mas Farhan dengan suara bergetar yang sengaja dibuat-buat.
"Perusahaanku gulung tikar. Kami tidak punya uang sepeser pun sekarang. Boleh kami numpang tinggal di sini sementara?"
Seketika, raut wajah Ibu mertua memerah padam. Urat di lehernya menonjol.
"Apa?! Bangkrut?! Cih, jangan harap kalian bisa menumpang di sini! Rumah ini bukan panti asuhan buat orang miskin!" teriaknya murka.
"Bu, aku ini anak kandungmu! Aku yang ngasih Ibu uang setiap bulan! Tega Ibu mengusir kami di saat susah?" Mas Farhan terbelalak tak percaya.
Belum sempat Ibu mertua menjawab, pintu kamar utama terbuka. Sosok wanita muda cantik keluar sambil memeluk manja lengan seorang pemuda yang tak lain adalah adik iparku.
"Bu! Mana uang sepuluh jutanya? Aku mau ajak pacarku belanja tas nih, tagihan apartemen mewah kita juga belum dibayar!" rengek adik iparku santai.
Aku terkesiap kaget. Mas Farhan mematung di tempat. Ibu mertua justru tersenyum sinis menatap kami yang syok berat.
"Baguslah kalau kalian sadar diri sudah jatuh miskin! Pergi sana kalian dari rumahku, karena uang bulanan itu dari dulu memang kugunakan untuk membiayai apartemen mewah adikmu, dan memanjakan wanita muda yang sudah kusiapkan untuk segera menggantikan posisimu sebagai menantu di rumah ini, Yuni!"
***
Bab 2
"Jadi selama ini Ibu memeras keringatku hanya untuk memelihara benalu yang mengincar posisi istriku?!"
Suara Mas Farhan menggelegar, menatap sang ibu dengan kekecewaan yang teramat dalam.
Ibu mertua melipat tangan di dada, tak gentar sedikit pun.
"Jaga bicaramu, Farhan! Adikmu itu butuh modal untuk masa depannya! Dan Rara ini keturunan keluarga terpandang, tidak seperti istrimu yang cuma karyawan rendahan yang sekarang ikut-ikutan melarat!"
Wanita muda bernama Rara itu tersenyum sinis, mengibaskan rambut panjangnya ke arahku.
"Aduh, Mas Farhan, Mbak Yuni. Kalau memang sudah gembel dan tak berguna, ya minggir saja. Kasihan Ibu kalau harus menanggung beban kalian berdua."
Adik iparku ikut terkekeh meremehkan.
"Makanya, Mas, jadi laki-laki itu yang pintar cari uang, jangan cuma bisa bangkrut. Sekarang mending kalian pergi dari sini sebelum aku panggilkan satpam komplek!"
Tanganku bergetar, tapi bukan karena takut. Aku menatap lurus ke arah tiga manusia serakah di depanku dengan senyum tipis.
"Ternyata uang sepuluh juta setiap bulan itu hanya cukup untuk memperlihatkan seberapa murah harga diri kalian."
"Kurang ajar! Berani kau menghinaku di rumahku sendiri?!" pekik Ibu mertua sambil melangkah maju, mengangkat tangannya bersiap menamparku.
Dengan sigap, Mas Farhan mencengkeram pergelangan tangan ibunya sebelum menyentuh wajahku. Sorot mata suamiku kini berubah tajam dan tak terbantahkan.
"Jangan pernah berani menyentuh istriku lagi!" desis Mas Farhan dingin. Ia melepaskan tangan ibunya dengan kasar.
"Ayo kita pergi, Yun. Mulai detik ini, wanita ini bukan ibuku, dan aku tidak punya keluarga lagi di sini."
Tanpa menoleh sedikit pun, Mas Farhan menarik tanganku menjauhi teras rumah yang telah menjadi saksi bisu pengkhianatan itu.
Dari belakang, masih terdengar tawa kemenangan dan cemoohan mereka yang merayakan kepergian kami.
Di dalam taksi online yang kami pesan untuk menjauh, Mas Farhan tertunduk lesu.
"Maafkan aku, Yun. Aku benar-benar malu. Istri sebaik dirimu malah diperlakukan seperti sampah oleh keluargaku sendiri."
Aku mengusap punggung tangan suamiku dengan lembut. Bukannya sedih, seulas senyum penuh arti justru mengembang di bibirku.
"Biarkan saja mereka menikmati kesombongan malam ini, Mas. Karena besok pagi, mereka pasti akan menangis darah saat tahu siapa pemilik sah apartemen mewah yang mereka tempati itu."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar