Senin, 13 April 2026

Aku dibilang gila oleh Suami dan Mertua. Hingga Akhirnya Terbongkar Tujuan Mereka. Kurencakan Balas Dendam dengan...

 "Telan ramuan ini, Gita! Jangan buat Ibu marah lagi dengan tingkah gila kamu itu!" bentak Ibu mertuaku. Tangannya yang keriput menyodorkan mangkuk berisi cairan pekat berbau anyir tepat ke depan wajahku.


"Aku tidak gila, Bu! Aku sadar sepenuhnya!" balasku sengit. 


Kutepis tangan itu hingga sebagian cairan cokelatnya tumpah menodai karpet mahal di kamar.


"Zikri! Lihat istrimu ini! Penyakit kejiwaannya kumat lagi!" teriak Ibu mertuaku melengking.


Zikri, pria yang lima tahun ini berstatus suamiku, muncul dari ambang pintu. Wajahnya menyorotkan rasa iba yang luar biasa meyakinkan.


"Sayang, tolonglah. Minum obat penenang dari Ibu. Semalam kamu teriak-teriak sendiri lagi mencari wanita yang tidak ada," bujuk Zikri lembut. 


"Aku teriak karena aku melihat ada bayangan perempuan lain di rumah ini, Zikri! Kalian yang berbohong padaku!" napasku memburu, mencoba melepaskan diri dari cengkeramannya.


"Itu halusinasimu, Gita. Dokter bilang tingkat stresmu makin parah. Minum ini demi kesembuhanmu, ya?" Zikri mengambil alih mangkuk itu.


Tanpa bisa melawan tenaga suamiku, cairan pahit dan membuat mual itu dipaksa masuk ke tenggorokanku. Aku terbatuk hebat. Dadaku sesak.


"Tidur yang tenang, Gita. Jangan menyusahkan suamimu yang sudah banting tulang seharian," sinis Ibu mertuaku sambil menarik selimutku kasar, sebelum akhirnya mereka berdua keluar dan menutup pintu rapat-rapat.


Begitu derap langkah mereka menjauh, aku langsung berlari ke kamar mandi. Kumasukkan dua jariku ke kerongkongan.


Kumuntahkan semua cairan sialan itu ke dalam kloset hingga perutku terasa kosong. 


Aku membasuh wajahku yang pucat di wastafel. Jantungku berdegup kencang. Naluri perempuanku berteriak bahwa ada yang tidak beres.


Tengah malam, aku mengendap-endap keluar kamar. Niatku hanya ingin mengambil air hangat ke dapur, tetapi langkahku terhenti di balik pilar besar ruang keluarga.


Samar-samar, aku mendengar suara percakapan dari arah ruang kerja Zikri yang pintunya sedikit terbuka.


"Ibu yakin ramuan itu aman? Jangan sampai dia mati, Bu. Urusannya bisa panjang sama polisi nanti," suara Zikri terdengar berbisik, namun membekukan aliran darahku.


"Kamu ini penakut sekali, Zikri! Itu bukan racun mematikan, cuma ramuan perusak saraf pelan-pelan. Makin lama dia meminumnya, makin cepat surat keterangan gila dari dokter jiwa keluar."


Aku membekap mulutku sendiri kuat-kuat. Kakiku seketika lemas.


"Lalu semua aset perusahaannya?" tanya Zikri lagi, nadanya terdengar serakah.


"Kalau dia sudah resmi dinyatakan tidak waras, otomatis kamu yang jadi wali sah atas semua harta dan perusahaannya. Setelah itu, kita buang dia ke rumah sakit jiwa."


Terdengar helaan napas lega dari suamiku. 


"Syukurlah. Rara sudah terus-terusan merengek, Bu. Dia malu statusnya cuma istri siri. Rara ingin segera pindah ke rumah ini, menempati kamar utama sebagai nyonya besar yang sesungguhnya."


"Sabar. Sebentar lagi menantu kesayangan Ibu itu akan mendapatkan haknya. Biarkan si gila Gita itu hancur perlahan-lahan."


Duniaku runtuh detik itu juga. Air mataku luruh tanpa suara.


Jadi ini alasannya? 


Pengkhianatan berbalut kepedulian. 


Suamiku mengkhianatiku, menguras hartaku, dan berkomplot dengan ibunya untuk merusak kewarasanku demi istri mudanya!


Tangisku seketika terhenti, tergantikan oleh amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun. Rasa sakit di hatiku mengeras menjadi tekad.


Aku berbalik, melangkah kembali ke kamarku dengan seringai tipis yang menakutkan. Kutatap pantulan diriku yang berantakan di depan cermin besar.


"Kalian pikir bisa membodohiku dan merampas semuanya, Zikri? Mari kita lihat, siapa yang nanti akan benar-benar membusuk di rumah sakit jiwa."


***

Bab 2

"Ramuan dari Ibu kurang pahit pagi ini, Mas. Boleh aku minta tambah agar gilaku semakin sempurna?"


Zikri yang baru saja mengancingkan kemeja kerjanya tersentak kaget.


Di ambang pintu, Ibu mertuaku yang membawa nampan sarapan sampai menghentikan langkahnya. Mata mereka berdua menatapku ngeri.


Aku memiringkan kepala, tersenyum kosong dengan tatapan mata yang sengaja kubuat sayu.


"Gita, kamu bicara apa, Sayang?" Zikri mendekat dengan ragu-ragu, menatapku seolah aku bom waktu.


"Iya kan, Mas? Kalau aku tidak rajin minum ramuan itu, nanti bayangan perempuan yang mau merebut posisiku di rumah ini datang lagi. Aku takut, Mas," rengekku sambil menarik ujung lengan kemejanya. 


Zikri saling pandang dengan ibunya. Sebuah senyum tipis yang memuakkan terbit di bibir mertuaku itu.


"Tuh kan, Zikri. Ibu bilang juga apa. Obatnya mulai bekerja. Syarafnya sudah mulai berhalusinasi menyetujui keadaannya sendiri," bisik Ibu mertuaku, mengira aku tidak mendengarnya karena tatapanku yang pura-pura kosong.


"Baguslah, Bu. Nanti siang aku harus ke luar kota untuk urusan proyek. Tolong Ibu awasi Gita ketat-ketat. Pastikan dia tidak keluar kamar." Zikri mengelus rambutku penuh kepalsuan. 


"Mas kerja dulu ya, Sayang. Kamu istirahat yang tenang."


"Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Jangan mampir ke rumah perempuan lain ya," ucapku pelan, diiringi tawa kecil yang sengaja kubuat melengking.


Kulihat rahang Zikri menegang sejenak sebelum dia buru-buru keluar kamar. Ibu mertuaku menyusul setelah meletakkan nampan dan mengunci pintuku dari luar.


Begitu suara langkah mereka menghilang, senyum gilaku luntur seketika. Sorot mataku kembali tajam. 


Aku bergegas ke kamar mandi, memuntahkan kapas basah yang sejak tadi kugunakan untuk menyerap sisa rasa ramuan di ujung lidahku.


Luar kota? Omong kosong! Pasti dia pergi menemui istri sirinya itu.


Aku membuka laci paling bawah di meja rias yang terkunci rapat. 


Dari balik tumpukan kotak perhiasan, aku mengambil sebuah ponsel cadangan yang selama ini kugunakan khusus untuk urusan internal perusahaan. 


Zikri tidak pernah tahu keberadaan benda ini. Kutekan nomor Reno, pengacara sekaligus orang kepercayaanku di perusahaan. Panggilan tersambung pada dering kedua.


"Halo, Bu Gita? Syukurlah Ibu menghubungi saya. Pak Zikri baru saja meminta pencairan dana darurat perusahaan sebesar dua miliar!" Suara panik Reno langsung menyapaku.


"Tahan dana itu, Reno. Alihkan ke rekening luar negeriku dengan alasan audit mendadak," balasku cepat dan dingin.


"Tapi, Bu, Pak Zikri bilang ini untuk pelunasan proyek di Surabaya."


"Itu kebohongan besar! Dia tidak ke Surabaya. Reno, aku ingin kamu melacak ke mana saja aliran dana pribadiku yang dikelola Zikri selama tiga bulan terakhir. Tanpa terkecuali!" titahku tegas.


Hening sejenak di seberang sana, terdengar suara ketikan keyboard yang cepat.


"Bu, saya menemukan riwayat pembelian aset. Sebuah rumah mewah di kawasan elit Pondok Indah, atas nama ... Rara Paramita. Transaksinya baru saja selesai dua hari yang lalu."


Gigiku gemeretak menahan amarah. 


Pondok Indah? Dia membelikan rumah mewah untuk selingkuhannya memakai uang hasil keringatku sendiri?!


"Cari tahu alamat lengkap rumah itu, Reno. Dan mulai hari ini, blokir semua akses Zikri ke rekening perusahaan secara diam-diam. Buat seolah-olah sistem kita sedang down berkepanjangan."


"Baik, Bu Gita. Apa ada lagi yang harus saya siapkan?"


Kutatap pantulan diriku di cermin. Air mataku sudah mengering, menyisakan bara dendam yang siap membakar mereka semua.


"Siapkan dokumen pengalihan seluruh aset atas namaku secepatnya. Biarkan suamiku menikmati rumah barunya sesaat, Reno. Karena besok, aku akan mengirimkan 'kado pindahan' yang akan membuat madu sialan itu bertekuk lutut memohon ampun di bawah kakiku!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

  "Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan ana...