Bab 3
"Buang semua sisa baju murahan Kinan ke tempat sampah depan! Mulai hari ini, nyonya di rumah ini adalah aku, bukan perawat gratisan yang sudah kau usir semalam, Mas."
Suara tawa manja Raya menggema di ruang tengah yang sempit itu.
Wanita bergaun merah tersebut bersandar manja pada Mas Danang, mengamati dua orang pria sewaan yang sedang mengeluarkan koper-koper berisi barang lamaku dari kamar utama.
Mas Danang mengecup puncak kepala Raya dengan bangga.
"Tentu saja, Sayang. Untung benalu itu sudah pergi. Sekarang kita tinggal menunggu surat tanah rumah rongsokan ini ketemu. Lumayan kalau kita jual untuk tambahan biaya pernikahan mewah kita nanti."
Belum sempat Raya membalas dengan pujian, suara ketukan pintu yang sangat keras dan berwibawa menghentikan tawa mereka. Mas Danang berdecak kesal, melepaskan pelukannya, lalu melangkah ke pintu depan dengan wajah terlipat.
"Siapa sih pagi-pagi begini—"
Ucapan Mas Danang terputus di kerongkongan saat pintu terbuka.
Alih-alih tetangga atau penagih utang yang biasa datang, di teras rumah berdirilah tiga orang pria berjas abu-abu rapi dengan postur tegap.
Di tengah mereka, berdiri seorang pria paruh baya berkacamata dengan tas kerja kulit yang tampak sangat mahal.
"Selamat pagi. Apakah benar ini kediaman Saudara Danang, putra angkat dari mendiang Nyonya Besar Lestari Adiwangsa?" tanya pria paruh baya itu dengan nada datar namun sangat berwibawa.
Mas Danang mengernyitkan dahi, tampak bingung sekaligus tersinggung.
"Putra angkat? Sembarangan kalau bicara! Saya anak kandungnya! Dan nama ibu saya Tari, bukan Lestari Adiwangsa. Kalian ini sales asuransi atau apa? Ibu saya meninggal tidak meninggalkan apa-apa selain tagihan rumah sakit!"
Pria itu membetulkan letak kacamatanya, tak sedikit pun terintimidasi oleh bentakan Mas Danang.
"Perkenalkan, saya Baskoro, Kepala Firma Hukum Adiwangsa & Rekan. Kedatangan kami kemari adalah untuk melaksanakan amanat mendiang Nyonya Besar, yakni pembacaan wasiat mutlak beliau."
Raya yang sejak tadi mengintip dari ruang tengah, buru-buru maju dan menempel pada lengan Mas Danang. Matanya berbinar licik melihat tas kerja kulit mewah di tangan Baskoro.
"Mas, mungkin ibumu diam-diam punya asuransi kematian tanpa sepengetahuanmu? Biarkan saja mereka masuk, siapa tahu jumlahnya lumayan," bisik Raya antusias.
Mas Danang yang tadinya marah, kini mendadak tersenyum miring. Ia membuka pintu lebih lebar.
"Baiklah, silakan masuk, Pak Pengacara. Bacakan saja wasiatnya sekarang. Toh, saya satu-satunya ahli waris di sini. Sebutkan saja berapa jumlah uangnya."
Baskoro melangkah masuk, diikuti dua asistennya, namun ia sama sekali tidak duduk di sofa lusuh yang ditunjuk Mas Danang. Ia tetap berdiri tegak di tengah ruangan.
"Maaf, Saudara Danang. Pembacaan wasiat baru sah di mata hukum jika dihadiri oleh Pewaris Utama. Kita harus menunggu beliau tiba," ucap Baskoro dingin.
"Pewaris Utama? Maksud Bapak apa? Saya ini anak tunggalnya!" wajah Mas Danang mulai memerah menahan marah.
Belum sempat Baskoro menjawab, suara deru mesin halus terdengar dari luar. Sebuah mobil super mewah yang tak pernah terlihat melintas di kompleks perumahan padat ini, berhenti tepat di depan pagar karatan rumah Mas Danang.
Mas Danang dan Raya ternganga, berlomba-lomba melongok ke jendela. Mata mereka nyaris melotot keluar saat melihat supir berseragam putih turun dan membukakan pintu penumpang bagian belakang dengan sangat hormat.
Langkah kaki berlapis sepatu hak tinggi memijak jalanan aspal yang masih basah sisa hujan semalam.
Aku melangkah keluar dengan balutan gaun setelan blazer berwarna navy yang elegan, rambut yang tertata rapi, dan aura yang jauh berbeda dari Kinan yang semalam diusir layaknya binatang.
Dari balik kaca mobil yang gelap, aku bisa melihat bayangan Gala yang duduk bersila, mengawasiku dengan tatapan tajamnya yang menenangkan, seolah memastikan tidak ada satu pun orang yang berani menyentuhku hari ini.
Aku melangkah masuk ke dalam rumah yang selama tiga tahun menjadi nerakaku itu. Mas Danang mundur selangkah hingga menabrak meja, wajahnya pias bagai melihat hantu.
"K-Kinan?! Dari mana ... baju siapa, dan mobil siapa itu?!" seru Mas Danang dengan suara gemetar, matanya bergerak panik menatapku dan Baskoro bergantian.
Raya tampak pucat, cengkeramannya pada lengan Danang mengendur.
"Mas, apa-apaan ini? Kenapa gembel ini bisa datang pakai mobil mewah?!"
Aku mengabaikan keterkejutan mereka dan melangkah anggun ke tengah ruangan. Pak Baskoro dan dua asistennya serempak menunduk hormat padaku.
"Selamat pagi, Nyonya Kinan. Semua dokumen sudah siap. Apakah Anda ingin saya membacakannya sekarang?" tanya Pak Baskoro dengan takzim.
Aku menatap mata suamiku yang membelalak ketakutan, lalu beralih menatap selingkuhannya yang gemetar. Sebuah senyum tipis yang mematikan terukir di bibirku.
"Bacakan saja poin utamanya, Pak Baskoro. Sepertinya Mas Danang dan selingkuhannya sudah sangat tidak sabar ingin segera menjual rumahku ini."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar