Senin, 13 April 2026

(3) Mertuaku Pura-Pura Sakit Parah, Padahal Sebenarnya dia sedang Menguji Anak-Anaknya. Dan Kejutan, Ibu Mertuaku justru...

 


"Tiga ratus miliar?! Omong kosong apa lagi yang kau karang, Pengacara Gila?!" Wajah Arya memucat pasi, urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang bercampur panik.


Vina dengan kasar merampas kertas tebal itu dari tangan Pak Surya. Matanya bergerak cepat membaca deretan kalimat di sana, sebelum akhirnya lututnya lemas dan ia jatuh terduduk di lantai.


"Arya, ini benar, Arya. Ini cap jempol asli Ibu yang dilegalisir notaris. Semua utang rahasia perusahaan dibebankan ke namamu sebagai penjamin tunggal!" Suara Vina bergetar hebat. Air matanya kini benar-benar menetes, bukan lagi air mata buaya seperti tadi.


"Tidak mungkin! Perusahaan Ibu sehat! Uangnya banyak!" Arya menggeleng keras, menolak kenyataan sambil memegangi kepalanya.


"Perusahaan yang sering kalian kuras kasnya itu sudah lama diambang kebangkrutan, Saudara Arya," jelas Pak Surya dengan nada tenang yang mematikan. 


"Ibu kalian ini sangat cerdas. Beliau sengaja membiarkan kalian memegang kendali perusahaan yang dipenuhi lubang utang, sementara seluruh aset bersih yang tak tersentuh sudah dialihkan ke nama Hani."


Aku tertegun. Kupandangi wajah pucat ibu mertuaku yang masih terbaring dengan mata terpejam rapat di atas ranjang. 


Ya Tuhan, ternyata selama ini Ibu mertua merencanakan semua ini dalam diam untuk melindungiku?


"Aku ... aku tarik kata-kataku! Talak itu tidak sah! Aku cuma emosi sesaat!" 


Arya tiba-tiba berbalik menatapku. Matanya yang tadi garang kini memelas ketakutan. 


"Hani, Sayang, kau tahu aku tidak sungguh-sungguh, kan? Kita ini suami istri!"


Aku menatap jijik pada pria yang baru beberapa menit lalu memperlakukanku seperti sampah tak berguna.


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi, Arya," desisku tajam. 


Rasa rendah diriku yang selama tiga tahun ini mengurungku, mendadak menguap tanpa sisa. 


"Talak sudah jatuh. Kau sendiri yang mengusirku dengan lantang di depan pengacara keluarga."


"Hani! Kau jangan serakah! Kau pikir kau bisa mengurus Ibu sendirian?!" Vina ikut berteriak dari lantai, mencoba mencari celah untuk menyerangku. 


"Tolong, biarkan kami tetap tinggal di sini! Kalau kami keluar, bank akan langsung mengejar Arya!"


"Kalian yang tadi bersekongkol memalsukan dokumen untuk membuang Ibu ke panti jompo kumuh, dan sekarang kalian memohon padaku?" tanyaku dingin.


"Hani, kumohon. Bank akan menyita semuanya besok pagi kalau aku keluar dari rumah ini. Aku bisa dipenjara karena utang itu!" Arya merangsek maju, hendak bersimpuh di kakiku.


Pak Surya dengan sigap melangkah menghalanginya. 


"Jaga jarak Anda, Saudara Arya."


Aku menarik napas panjang, menatap bergantian kakak beradik yang kini terlihat sangat menyedihkan itu. 


Harta rupanya bisa mengubah manusia menjadi iblis, sekaligus menampar mereka menjadi pengemis dalam sekejap mata.


"Baik. Aku tidak akan mengusir kalian malam ini," ucapku perlahan.


Arya dan Vina serentak mendongak dengan secercah harapan di mata mereka.


"Benarkah, Hani? Terima kasih! Aku tahu kau menantu yang pemaaf!" ucap Vina terbata-bata sambil mengusap air matanya.


Aku tersenyum miring, menunduk menatap mereka berdua dengan tatapan paling dingin yang pernah kumiliki.


"Tapi karena rumah mewah ini sekarang milikku sepenuhnya, aku punya aturan baru," ucapku dengan suara lantang yang menggema di kamar itu. 


"Kalian boleh tetap tinggal, dengan syarat malam ini juga kalian berdua pindah tidur ke gudang sempit di sebelah garasi, dan mulai besok pagi, jangan harap ada sarapan sebelum kalian berdua selesai menyikat seluruh toilet di rumah ini!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

  "Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan ana...