Senin, 13 April 2026

Aku Salah Satu Korban Kecelakaan Pesawat, Suamiku Mengiraku Telah Mati. Suamiku Mau Menikah Lagi, Kutemui Adik Tiri Suamiku, Dan Aku Rencanakan Balas Dendam Dengan...


 "Nikahi aku, Kala. Kita buat Mas Vino menyesal seumur hidupnya."


Pria yang tengah merapikan berkas di mejanya itu membeku. Map di tangannya terlepas, sementara matanya menatapku dengan sorot terkejut luar biasa.


"Mbak Cinta?" suara Kala terdengar serak dan bergetar. 


"Ini ... ini benar-benar Mbak? Bukankah nama Mbak ada di daftar penumpang pesawat yang jatuh tiga hari lalu itu? Kita semua mengira Mbak sudah meninggal!"


"Aku memang seharusnya ada di penerbangan itu, Kal," kataku dingin, melangkah maju mendekatinya. 


"Tapi aku turun sebelum lepas landas karena firasat buruk. Dan syukurlah aku tidak jadi terbang."


"Kalau begitu kenapa Mbak malah bersembunyi? Kenapa membiarkan seisi rumah geger dan menangis?" wajah Kala menyiratkan kepedulian yang tulus.


"Menangis? Siapa yang menangis?" Aku tersenyum perih, menahan rasa sesak di dada. 


"Karena di malam kecelakaan itu, aku pulang diam-diam. Dan kamu tahu apa yang kulihat? Mas Vino sedikit pun tidak menangisi kepergianku. Dia malah tertawa puas, merayakan kematianku, dan sudah menyebar undangan pernikahan barunya dengan menggunakan harta peninggalanku!"


Kala menghela napas panjang, sorot matanya berubah redup dan prihatin. 


"Aku tahu Mas Vino sering bersikap buruk, tapi aku tidak menyangka dia bisa sekejam itu pada istrinya sendiri. Lalu, kenapa Mbak menemuiku?"


"Karena aku butuh bantuanmu, Kala. Aku tahu kamu orang baik yang selalu ditindas olehnya, dan kamu satu-satunya orang di rumah itu yang peduli pada perusahaan peninggalan ayah kalian. Jika kita menikah, aku akan menggunakan seluruh kekuasaan dan hartaku untuk membantumu merebut posisi pewaris utama. Kita hentikan Mas Vino sebelum dia menghancurkan semuanya."


Kala terdiam cukup lama. Tatapan matanya menyiratkan pergolakan batin, namun perlahan rahangnya mengeras penuh tekad.


"Aku tidak pernah mengincar harta, Mbak. Tapi aku tidak bisa membiarkan Mas Vino terus berbuat zalim," ucap Kala pelan namun tegas. 


"Aku setuju. Aku akan menikah dengan Mbak dan membantu membalas rasa sakit Mbak."


Aku baru saja hendak menghela napas lega, namun kalimat Kala selanjutnya membuat napasku tercekat.


"Tapi, Mbak harus tahu satu rahasia besar tentang calon istri baru Mas Vino," ujar Kala dengan raut wajah serius.


"Rahasia apa?" tanyaku dengan napas tertahan.


"Wanita yang akan dinikahi Mas Vino lusa nanti adalah Marta, sahabat karib Mbak sendiri." 


Kala menatapku lekat. 


"Marta menjebak Mas Vino dan memaksanya menikah dengan alasan dia sedang mengandung anaknya. Padahal, tanpa sengaja aku pernah melihat hasil rekam medis rahasia milik Mas Vino, Mbak. Dan di sana tertulis jelas, kalau secara medis, Mas Vino itu sebenarnya mandul."


***


Bab 2

"Siapkan jas hitam terbaikmu, Kala. Besok, kita akan mengubah pesta pernikahan termegah di kota ini menjadi panggung kehancuran yang tak akan pernah mereka lupakan."


Aku menatap pantulan wajahku di cermin, menghapus sisa-sisa air mata kelemahan yang tak berguna. Mulai detik ini, Cinta yang naif dan penurut telah mati tertelan ombak.


Kala yang berdiri di ambang pintu menatapku dengan sorot mata kagum sekaligus cemas. 


"Mbak yakin mau melakukan konfrontasi langsung besok? Kita bisa saja memakai jalur hukum sekarang juga untuk membatalkan pengalihan aset yang Mas Vino lakukan."


"Tidak, Kala. Hukum saja tidak cukup untuk menebus pengkhianatan ini," jawabku tajam, membalikkan badan menghadapnya. 


"Penjara terlalu nyaman untuk peselingkuh seperti mereka. Aku ingin mereka hancur berkeping-keping secara sosial, tepat di puncak kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaanku."


Kala menghela napas panjang, melangkah mendekat. 


"Aku mendukungmu seratus persen. Tapi Mbak harus tahu, Mas Vino sudah memegang kartu akses brankas utama rumah. Dan Ibu mertua, beliau tidak henti-hentinya memuja Marta. Ibu mertua bahkan sudah membelikan banyak perhiasan untuk Marta karena mengira akan segera mendapatkan cucu penerus keluarga."


Aku tersenyum sinis. "Biar saja Ibu mertua bersorak gembira dan memanjakan menantu barunya itu. Semakin tinggi mereka terbang, semakin sakit saat kujatuhkan nanti. Soal harta, Mas Vino terlalu serakah sekaligus bodoh. Dia pikir dia sudah menguasai segalanya?"


"Maksud Mbak?" dahi Kala berkerut bingung.


"Dia tidak tahu kalau 80 persen aset kekayaanku yang sebenarnya sudah kuikat dalam perwalian rahasia sejak ayahku meninggal. Yang sedang Mas Vino hambur-hamburkan untuk pesta pernikahannya besok, hanyalah remah-remah sisa uang jajanku." Aku melipat tangan di dada. 


"Kamu sudah mengamankan dokumen yang kuminta?"


Kala menepuk saku jasnya sambil tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak pernah ia tunjukkan di depan keluarga kejam itu. 


"Tentu saja. Rekam medis asli Mas Vino yang menyatakan dia mandul permanen ada di tanganku. Ditambah bukti transfer rahasia Marta ke dokter kandungan gadungan itu."


"Kerja bagus. Besok, dokumen itu akan menjadi kado pernikahan paling indah untuk mereka."


***


Keesokan harinya, aku berdiri tegak di depan pintu utama ballroom hotel bintang lima yang kemegahannya dibayar menggunakan uangku. 


Aku memakai gaun merah menyala yang elegan, kontras dengan gaun pengantin putih suci yang pasti sedang dikenakan Marta di dalam sana.


Kala berdiri di sampingku, terlihat luar biasa tampan dan berwibawa dalam balutan jas hitam mahalnya. Ia menatapku lekat.


"Kamu terlihat sangat cantik sekaligus berbahaya, Mbak. Mas Vino pasti akan jantungan mengira dia sedang dijemput malaikat maut."


Aku menoleh, merapikan dasi Kala dengan lembut. 


"Bukan Mbak, Kala. Mulai detik ini, biasakan dirimu. Panggil aku nama saja, biar kita kelihatan akrab."


Kala tertegun sejenak, wajahnya sedikit merona sebelum akhirnya ia tersenyum penuh keyakinan. 


"Baik, Cinta. Kau siap memulai pertunjukannya?"


Dari balik pintu jati berukir raksasa di hadapan kami, terdengar suara pembawa acara melalui pengeras suara, meminta para tamu undangan untuk berdiri menyambut sepasang pengantin yang tengah berbahagia. Riuh tepuk tangan menggema di dalam ruangan.


"Buka pintunya sekarang, Kala," bisikku tajam.


Kedua penjaga pintu yang sudah disuap oleh Kala langsung mendorong gagang pintu raksasa itu lebar-lebar. 


Suara derit engsel pintu yang berat seketika membelah keramaian, membuat musik orkestra berhenti mendadak dan ribuan pasang mata menoleh ke arah kami. 


Termasuk Mas Vino dan Marta yang baru saja hendak melangkah ke pelaminan.


Aku mengangkat dagu, menginjak karpet merah dengan senyum paling meremehkan yang kumiliki.


"Maaf aku terlambat datang ke pemakamanku sendiri, Mas Vino sayang! Teruskan saja pestanya, aku sengaja datang kemari membawa kado berisi ayah biologis dari janin yang dikandung istrimu itu!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

  "Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan ana...