Bab 4
Ruangan itu seketika sunyi senyap. Mulut Ibu Mertua terbuka rapat, sementara Siska mendongak dengan tatapan syok seolah baru saja melihat hantu.
Selama ini, Ibu Mertua selalu memperlakukan Riana bak pembantu karena mengira istriku itu hanya wanita sebatang kara yang miskin.
Aku sendiri terpaku. Istri penurut yang selama ini mendampingiku, adalah pewaris tunggal keluarga Adhitama?
Riana membalikkan badannya dengan sangat anggun, bersiap melangkah pergi meninggalkan kekacauan ini bersama para pengawalnya.
Namun sebelum ia benar-benar keluar, ia menoleh dari balik bahunya, menatap tepat ke arah Ibu Mertua dan Siska yang masih mematung di lantai.
"Silakan batalkan pernikahan ini dan urus kejahatan putri kesayanganmu itu ke kantor polisi, Ibu Mertua," ucap Riana dengan senyum yang sangat manis, namun mematikan.
"Dan pastikan kalian mulai mengepak barang-barang kalian. Karena besok pagi, tim pengacaraku akan menyita rumah agung itu beserta seluruh aset perusahaan suamiku, sebagai bentuk penarikan modal besar-besaran dari keluarga Adhitama."
***
"Borgol saja tangan rapuhnya itu, Pak Polisi. Semua bukti transfer dari rekeningnya ke montir bayaran ini, beserta rekaman CCTV asli dari bengkel, sudah dikirim langsung oleh tim pengacaraku ke meja komandan kalian."
Suara Riana yang dingin dan penuh perhitungan menyambut langkah tegap beberapa petugas kepolisian yang baru saja memasuki ruang utama gedung.
Pemandangan di depanku sungguh membuat perutku mual.
Siska, wanita yang beberapa menit lalu berdiri anggun di sisiku dengan balutan gaun pengantin mewah, kini merangkak mundur dengan wajah berantakan.
Tiara di kepalanya miring, riasannya luntur oleh air mata hitam dari maskara yang luruh, dan gaun putihnya terseret mengusap karpet merah yang kotor.
"Tidak! Lepaskan aku! Aku tidak membunuh siapa-siapa! Wanita di mobil itu pencuri, jadi dia pantas mati!" jerit Siska histeris saat dua petugas polisi wanita mulai memegang kedua lengannya.
"Kau tidak berhak menentukan nyawa orang lain, Siska! Niatmu sejak awal adalah menyingkirkanku!" balas Riana tajam, tatapannya menyala bagai nyala api yang siap menghanguskan adik tirinya itu.
Siska memberontak kasar, lalu menoleh ke arahku dengan tatapan memelas.
"Mas! Tolong aku, Mas! Cegah mereka! Aku melakukan semua ini karena aku sangat mencintaimu, Mas! Aku tidak rela melihat Mas hidup menderita dengan wanita miskin seperti dia! Aku pantas menjadi istrimu!"
Mendengar kata 'cinta' keluar dari mulut liciknya, kemarahanku akhirnya meledak tak tertahankan.
"Jangan berani-berani kau menyebut kata cinta dari mulut kotormu itu!" bentakku, membuat Siska tersentak kaget karena selama ini ia hanya mengenalku sebagai pria penurut yang sabar.
"Kau meracuni pikiranku dengan obat tidur, memfitnah istriku, dan sekarang kau berlindung di balik kata cinta setelah mencoba membunuhnya?! Aku lebih baik mati membusuk daripada harus bersentuhan dengan monster sepertimu!"
Penolakanku yang mentah-mentah rupanya menjadi pukulan terakhir bagi Siska. Kakinya benar-benar lemas. Ia meraung sejadi-jadinya saat borgol dingin itu akhirnya mengunci kedua pergelangan tangannya.
Suara tangisannya yang melengking tak sedikit pun memancing simpati dari para tamu undangan; mereka justru merekam momen memalukan itu dengan ponsel masing-masing, berbisik jijik melihat kebusukan sang pengantin wanita.
Di sudut lain, penderitaan rupanya belum selesai. Ibu mertua, yang sedari tadi syok menyadari bahwa menantu yang selalu ia jadikan 'pembantu tak bergaji' adalah pewaris tunggal konglomerat Adhitama, kini tersadar dari lamunannya.
Mengetahui bahwa perusahaanku akan ditarik modalnya dan rumah megah kami akan disita, wanita tua itu tiba-tiba melempar harga dirinya.
Ia berlari tertatih menghampiri Riana, bahkan hendak bersimpuh memegang ujung gaun Riana.
"Riana, Nak. Menantu Ibu yang paling cantik dan baik hati," rengek Ibu Mertua dengan suara dibuat-buat agar terdengar memelas.
"Ibu mohon, Nak. Ampuni Siska, dia masih muda dan buta karena cinta. Dan tolong, jangan tarik aset suamimu. Perusahaan itu satu-satunya kebanggaan keluarga kita, Nak. Kau masih istri sahnya, kan? Kalian masih bisa mengulang semuanya dari awal."
Riana mundur selangkah, menolak disentuh sedikit pun. Ia menatap Ibu Mertua dengan sorot mata penuh ejekan yang elegan.
"Keluarga 'kita'?" Riana mengulangi kata itu dengan tawa sinis.
"Sejak kapan Ibu menganggapku keluarga? Seingatku, aku hanya 'perempuan benalu pembawa sial' yang bahkan tidak diizinkan makan di meja yang sama jika ada tamu keluarga yang datang."
Ibu Mertua pucat pasi, mulutnya megap-megap tak mampu menjawab karena semua yang dikatakan Riana adalah kebenaran yang tak terbantahkan.
Riana membenarkan letak tas kecil mewahnya, lalu melirik sekilas ke arah Siska yang kini digiring paksa keluar gedung oleh pihak berwajib diiringi tatapan hina dari seluruh tamu.
Tugasnya di sini sudah selesai. Pembalasannya telak, tanpa cacat.
Lalu, pandangan Riana akhirnya jatuh kepadaku. Mataku memerah, menahan rasa malu, penyesalan, dan rindu yang bercampur menjadi racun mematikan di dalam dada.
Aku ingin memeluknya. Aku ingin berlutut memohon ampun karena begitu bodohnya membiarkan diriku disetir oleh Siska dan ibunya.
"Ri, aku ..." suaraku tercekat.
Namun, Riana hanya memberikan sebuah senyuman tipis yang sangat dingin, senyuman yang menjadi garis pemisah yang tak akan pernah bisa kulewati lagi seumur hidupku.
"Simpan pembelaanmu, Mas. Surat gugatan ceraiku akan mendarat di mejamu besok pagi. Pastikan kau menandatanganinya tanpa drama, karena aku tidak sudi namaku masih bersanding dengan pria buta yang tak bisa membedakan mana berlian sungguhan dan mana tumpukan sampah."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar