"Tujuh hari, Bu! Tujuh hari Bang Yasir tidak pulang, dan Ibu masih saja melarangku lapor polisi?!"
"Kecilkan suaramu, Ainun!" desis Ibu mertuaku, matanya melirik cemas ke arah jendela yang tertutup rapat. "Kamu mau buat malu keluarga? Tetangga bisa dengar!"
"Malu kenapa, Bu? Suamiku hilang! Kapalnya sudah bersandar sejak tiga hari lalu, dan teman-temannya bilang Bang Yasir sudah pulang duluan malam itu juga!" cecarku tak tertahan.
"Mungkin dia sedang ada urusan di darat," potong Bapak dari sudut ruangan. Suaranya keras, tapi tangannya terlihat gemetar hebat meremas ujung sarung.
"Sampai mematikan ponsel berhari-hari? Tidak—" Ucapanku terhenti. Aku mengendus udara ruangan yang mendadak terasa berat.
"Tunggu, bau apa ini?"
Ruangan mendadak hening. Wajah Ibu dan Bapak seketika pucat pasi.
"B-bau apa? Ibu tidak cium apa-apa," sanggah Ibu terbata-bata.
"Ini bau anyir. Asalnya dari arah paviliun belakang," ujarku sambil mengambil langkah.
Ibu langsung berlari menghalangiku, merentangkan tangannya lebar-lebar dengan napas memburu.
"Berhenti di situ, Ainun! Jangan berani-berani kamu melangkah ke belakang!"
"Kenapa, Bu?! Baunya sangat menyengat!"
"KARENA BAPAK MELARANGMU!" bentak Bapak tiba-tiba, urat lehernya menonjol. Matanya melotot tajam, tapi aku bisa melihat kepanikan luar biasa di sana.
"Duduk di ruang tamu sekarang! Jangan pernah dekati paviliun itu!"
Memilih untuk tidak mendebat orang yang sedang kalap, aku membalikkan badan.
"Baik."
Aku berjalan ke ruang tamu dan menutup pintu agak keras. Tapi aku tidak beranjak menjauh. Aku menahan napas dan menempelkan telingaku rapat-rapat di balik daun pintu.
Hening sejenak. Lalu, terdengar bisikan panik yang langsung membuat darahku mendidih.
"Baunya sudah tidak bisa ditutupi lagi, Pak. Kita harus menguburnya malam ini juga," isak Ibu dengan suara gemetar.
"Bapak tahu! Ini juga gara-gara kamu yang menyuruh Bapak memaksa Yasir menandatangani surat warisan itu!" balas Bapak dengan desisan panik.
"Kalau malam itu dia tidak melawan, Bapak tidak akan refleks memukul kepalanya sekeras itu pakai balok kayu!"
Jantungku seakan berhenti berdetak. Kakiku seketika lemas.
Memukul kepalanya?
Air mataku tumpah. Tubuhku gemetar hebat antara amarah, hancur, dan kengerian.
Tanpa berpikir panjang, aku menyambar linggis kecil dari kotak perkakas di sudut kamar. Aku menerobos keluar, mengabaikan jeritan kaget kedua mertuaku.
"Ainun! Berhenti!" jerit Ibu histeris.
"Minggir!" bentakku kalap.
Aku mengayunkan linggis itu ke gembok paviliun belakang, Gembok karatan itu hancur. Dengan sisa tenaga, aku menendang pintunya hingga terbuka lebar.
Angin dingin berbau anyir pekat langsung menampar wajahku. Linggis di tanganku terlepas, jatuh menghantam lantai. Napasku tercekat di tenggorokan.
Di atas ranjang kayu di tengah ruangan itu, terbaring kaku sesosok tubuh mengenakan jaket kulit kesayangan suamiku.
Tiba-tiba, Ibu mertuaku menjatuhkan dirinya di kakiku. Tangisnya pecah meraung-raung, meremas ujung rokku bak orang kesurupan.
"Ainun, ini bukan seperti yang kamu bayangkan, Nak!" jerit Ibu mertuaku dengan wajah memelas yang dibanjiri air mata.
"Bapakmu cuma bermaksud memberinya pelajaran, tapi dia malah jatuh! Tolong, Nak. Kami sudah tua, jangan masukkan kami ke penjara. Mari kita kuburkan Yasir sama-sama malam ini, dan Ibu janji, besok seluruh harta warisan ini akan langsung Ibu balik nama atas namamu seutuhnya!"
***
Bab 2
"Semua harta warisan atas namaku, Bu? Termasuk dua kapal penangkap ikan Bang Yasir?"
Aku menelan ludah, menatap dingin wanita tua yang masih bersimpuh sambil memeluk kedua kakiku.
Di dalam dada, jantungku meronta, menjeritkan nama suamiku yang terbujur kaku.
Tapi aku tahu, berlari keluar sambil berteriak malam ini hanya akan membuatku disusul dan berujung sama seperti Bang Yasir.
Aku harus pura-pura. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu, dan apa senjata yang Bapak gunakan.
"Iya, Ainun! Semuanya! Rumah ini, kapal, tabungan, semuanya!" isak Ibu mertuaku cepat. Matanya berbinar penuh harap melihat keraguanku.
"Asal kamu tutup mulut dan kita kubur Yasir di halaman belakang malam ini juga!"
"Tidak bisa begitu, Bu," jawabku datar, pelan-pelan menarik kakiku dari cengkeramannya.
Bapak mertuaku yang sejak tadi mematung langsung maju selangkah, rahangnya mengeras.
"Apa maksudmu tidak bisa?! Kamu mau mengkhianati kami?!"
"Bukan begitu, Pak," potongku cepat, berusaha menatap matanya tanpa bergetar.
"Kalian pikir tetangga tidak akan curiga? Bang Yasir sudah hilang tujuh hari, lalu tiba-tiba ada gundukan tanah baru di belakang rumah yang bau sudah menyebar? Kita malah akan langsung ditangkap polisi!"
"L-lalu kita harus bagaimana, Ainun?" suara Ibu bergetar ketakutan.
"Kita harus melapor ke warga malam ini juga. Teriak minta tolong," ucapku mantap.
"KAMU GILA?!" bentak Bapak, tangannya refleks mengepal kuat.
"Dengarkan Ainun dulu, Pak!" balasku tak kalah keras. "Kita panggil warga, tapi kita siapkan alasan. Kita bilang saja Bang Yasir baru pulang diam-diam malam ini."
Mata Ibu mertuaku seketika melebar, dengan cepat menangkap maksudku.
"Ya, ya! Dia baru pulang malam ini, lewat pintu belakang karena tidak mau mengganggu kita yang sedang tidur! Lalu ..."
Ibu menelan ludah, menatap lantai paviliun yang berkerak darah merah gelap.
"... Lalu dia terpeleset! Ya, benar! Lantai ini licin karena bocor! Dia terpeleset dan kepalanya membentur ujung dipan kayu itu dengan sangat keras!" cerocos Ibu mertuaku dengan wajah kalut namun penuh siasat.
Bapak menghela napas panjang, kepanikannya perlahan mereda.
"Ya. Masuk akal. Jatuh dan kepalanya membentur dipan. Polisi desa tidak akan menyelidiki terlalu jauh kalau pihak keluarga menolak autopsi dan sudah mengikhlaskan."
Aku mengangguk pelan, meski perutku mual mendengar betapa lancarnya mereka mengarang cerita di atas mayat darah dagingnya sendiri.
Sambil melirik ke arah ranjang, aku memperhatikan luka menganga di kepala Bang Yasir.
Luka itu terlalu melengkung dan dalam. Itu bukan sekadar luka pukulan balok kayu, apalagi benturan dipan.
Mereka menyembunyikan sesuatu yang lebih kejam dari sekadar pertengkaran warisan. Aku butuh waktu mencari tahu sebelum warga meramaikan tempat ini.
"Biar Ibu yang lari ke depan teriak panggil Pak RT," ujar Ibu mulai bangkit berdiri. Dia menyeka air matanya dengan ujung daster, dan seketika itu juga raut sedihnya hilang tanpa sisa, berganti dengan wajah dingin tak berperasaan.
"Tunggu sebentar, Bu," tahan Bapak mertuaku dengan suara serak. Langkahnya perlahan mendekati jasad suamiku di atas kasur.
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar