Selasa, 14 April 2026

Kujual Mobil dan Rumah Milik Mertuaku karena Mengaku-Ngaku Beli Hasil Jerih Payah Anaknya, padahal Aku yang Membelinya. Kubuat Mereka...

 "Silakan berkemas sekarang, Ibu Mertua. Rumah beserta isinya, dan juga mobil di garasi itu sudah resmi terjual."


"Kamu gila, Arini?!" pekik Ibu mertuaku dengan mata melotot tajam. 


"Ini rumah dan mobil hasil jerih payah anakku! Berani-beraninya kamu mengusir kami, dasar menantu tidak tahu diuntung!"


Aku tersenyum tipis, melipat kedua tangan di depan dada. 


"Jerih payah Mas Dimas yang kerjanya cuma tidur sampai siang, atau jerih payah Ibu yang hobi arisan memamerkan harta menantunya?"


"Jaga mulutmu, Dek!" Mas Dimas menunjuk wajahku dengan marah. "Kamu cuma numpang di sini! Jangan pernah kurang ajar sama Ibuku!"


"Numpang?" Aku tertawa sumbang. "Mas, coba kamu cek mutasi rekeningmu sekarang. Masih ada sisa uang gajiku yang diam-diam kamu klaim sebagai hasil keringatmu ke semua orang itu?"


Mas Dimas buru-buru merogoh saku, menekan layar ponselnya dengan panik. Wajahnya yang tadi merah padam karena marah mendadak pucat pasi.


"K-kosong? Arini, kemana semua uang di rekeningku?!" tanyanya dengan suara bergetar.


"Sudah kutarik semua. Lagipula itu uangku, bukan uangmu," ralatku tegas.


"Lalu kami harus tinggal di mana kalau rumah ini kamu jual, hah?!" teriak Ibu mertuaku mulai histeris. Wajah angkuhnya seketika runtuh.


"Bukan urusanku. Pembeli rumah ini akan tiba lima belas menit lagi bersama petugas pengosongan. Pastikan kalian tidak merusak barang apa pun."


Aku membalikkan badan, melangkah perlahan ke arah pintu utama. Tanganku meraih gagang pintu, lalu menoleh menatap mereka berdua untuk yang terakhir kalinya.


"Selamat menikmati kemiskinan yang sebenarnya. Oh, dan satu lagi, Mas, surat cerai kita akan diantar langsung oleh pengacaraku besok pagi."


***

Bab 2

"Mereka berdua sedang menangis di pinggir jalan sekarang, Bu Arini. Tetangga satu komplek sudah berkumpul menonton koper mereka yang berantakan."


Aku tersenyum tipis mendengar laporan Pak Anton, agen properti kepercayaanku, dari seberang telepon. 


"Bagus, Pak. Biarkan saja, pastikan kunci rumah sudah diganti semua."


Belum sempat aku meletakkan ponsel di atas meja lobi hotel bintang lima ini, layar kembali menyala. 


Panggilan masuk dari 'Mas Dimas'. Aku membiarkannya berdering panjang sebelum menekan tombol hijau.


"Arini! Cepat kembali ke sini sekarang juga! Ibu hampir pingsan kepanasan di luar, dan orang-orang malah menertawakan kami!" teriak Dimas dengan suara serak, perpaduan antara amarah dan panik yang luar biasa.


"Bukannya Ibumu hobi berada di luar rumah untuk memamerkan perhiasan emasnya ke tetangga? Sekarang dia bisa sekalian memamerkan koper bekasnya," balasku santai sambil menyesap kopi hangatku.


"Kamu benar-benar iblis, Rin! Tega kamu mempermalukan suamimu sendiri seperti ini! Jemput kami sekarang atau aku akan laporkan kamu ke polisi atas tuduhan penipuan!" ancamnya dengan napas terengah-engah.


Aku tertawa pelan. "Penipuan yang mana, Mas? Atas rumah yang sertifikatnya murni atas namaku sebelum kita menikah? Atau atas mobil yang cicilannya selalu aku bayar pakai uang pribadiku?"


Hening. Dimas seolah kehabisan kata-kata di ujung sana.


"Lagi pula, Mas," suaraku berubah dingin. "Kenapa kamu repot-repot menyuruhku menjemput? Kenapa tidak minta tolong saja pada Indah?"


Terdengar suara napas yang tercekat. 


"K-kamu ... tahu dari mana soal Indah?"


"Silakan hubungi selingkuhanmu itu untuk minta tumpangan, Mas. Tapi sayang sekali, aku baru saja mengirim orang untuk menarik paksa mobil yang sering dia pakai pamer ke kantor pagi ini."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Pura-Pura Buta dan Tak Bisa Berjalan karena Ditabrak Mertuaku Sendiri. Bukannya Merasa Bersalah, Anakku Mau Ditukar dengan Anak Selingkuhan Suamiku. Kalian Akan Merasakan Akibatnya!

  "Tukar bayinya sekarang, Anton! Istrimu yang buta dan lumpuh itu tidak akan pernah tahu kalau kita menukar darah dagingnya dengan ana...