"Ini pasti gila! Kamu pasti sudah mengguna-guna Papa, kan, Indah?! Bagaimana mungkin seluruh aset dan perusahaan jatuh ke tangan perempuan miskin sepertimu, sedangkan aku, anak kandungnya sendiri, tidak mendapat sepeser pun?!"
Suara bentakan Jaka menggelegar memecah keheningan ruang keluarga yang masih diselimuti aroma melati sisa pemakaman.
Urat di leher suamiku itu menonjol, wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak tepat di depan wajahku.
Di atas meja kaca di antara kami, tergeletak selembar surat bermeterai yang baru saja dibacakan oleh Pak Haris, pengacara pribadi bapak mertuaku.
Isinya singkat, padat, dan sukses membuat bumi seakan runtuh bagi keluarga suamiku:
[Seluruh harta kekayaan, termasuk sembilan puluh persen saham pengendali di Admadja Group, diwariskan kepada menantu saya, Indah.]
"Benar kata Jaka! Surat wasiat ini pasti palsu atau hasil manipulasi! Beraninya kamu menipu kami di hari duka ini, Indah?!" sahut ibu mertuaku dengan napas memburu.
Matanya menatapku dengan kilat kebencian, seolah aku adalah parasit menjijikkan yang baru saja menggerogoti rumah megah ini.
"Pak Haris, saya minta wasiat ini dibatalkan! Perempuan kampung ini tidak berhak atas satu rupiah pun uang suamiku!"
"Maaf, Ibu. Surat wasiat ini sah dan memiliki kekuatan hukum penuh. Bapak sendiri yang merumuskannya secara sadar dan rahasia, jauh sebelum kesehatan beliau menurun," jawab Pak Haris tenang, merapikan berkas-berkasnya.
Jaka mengusap wajahnya kasar, lalu menatapku dengan tatapan mengancam.
Biasanya, melihat kilat kemarahan di mata Jaka akan membuatku menunduk ketakutan.
Selama tiga tahun pernikahan kami, aku selalu menjadi istri yang penurut, rela diinjak-injak, dan menerima segala hinaan dari Jaka maupun ibu mertuaku karena status sosialku yang jauh di bawah mereka.
Tapi hari ini berbeda. Air mataku sudah kering.
Mereka menuduhku licik. Mereka mengira aku merayu bapak mertuaku untuk merampas harta ini.
Padahal, mereka tidak tahu saja. Ada rahasia besar yang selama ini kusimpan rapat-rapat, sebuah alasan menyedihkan mengapa almarhum Papa mertuaku sampai menangis saat menyerahkan dokumen ini padaku sebulan yang lalu.
Papa bukannya membuang Jaka, melainkan sedang berusaha menyelamatkan perusahaan dari kebusukan darah dagingnya sendiri.
"Dengar, Indah," desis Jaka, melangkah maju hingga jarak kami hanya tersisa beberapa jengkal.
"Besok pagi, kita ke kantor notaris. Kamu harus menandatangani surat penyerahan seluruh aset itu kepadaku. Kalau kamu berani menolak, aku akan menceraikanmu detik itu juga dan menendangmu kembali ke gubuk kumuh tempat asalmu!"
Alih-alih gemetar atau memohon seperti yang biasa kulakukan, aku justru tersenyum tipis.
Perlahan, aku berdiri dari sofa, merapikan lipatan gamis hitamku, lalu membalas tatapan suamiku dengan sorot mata yang tak kalah tajam.
"Silakan ceraikan aku dan gugat wasiat ini ke pengadilan besok pagi, Mas Jaka. Tapi bersiaplah, karena di detik kamu melakukannya, aku jamin seluruh dunia akan tahu aib memalukan apa yang kamu dan ibumu sembunyikan di belakang Papa selama lima tahun terakhir."
***
Bab 2
"Aib apa yang kamu bicarakan, Perempuan Licik?! Jangan mencoba menggertakku dengan cerita murahan untuk menutupi akal busukmu yang sudah merampas hakku!"
Tangan Jaka terangkat ke udara, bersiap mendaratkan tamparan ke pipiku.
Namun, alih-alih memejamkan mata dan meringkuk ketakutan seperti Indah yang dulu, aku justru mendongak, menantang nyalang matanya yang memerah.
"Tampar saja, Mas," tantangku dengan suara rendah namun dingin.
"Satu tamparan darimu, dan besok pagi seluruh pemegang saham Admadja Group akan menerima salinan mutasi rekening perusahaan ke sebuah apartemen mewah bernomor 402 di kawasan Sudirman."
Tangan Jaka seketika berhenti di udara. Wajahnya yang semula merah padam karena amarah, perlahan berubah sepucat pasi.
Matanya membelalak lebar, seolah baru saja melihat hantu di siang bolong.
"D-dari mana kamu ..." Jaka terbata, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Dari mana aku tahu tentang Rani dan anak laki-laki berusia dua tahun bernama Reno yang selama ini kamu sembunyikan?"
Aku tersenyum sinis, menatap bergantian ke arah suamiku dan ibu mertuaku yang kini membeku di tempatnya.
"Kalian pikir Papa itu bodoh? Kalian pikir Papa tidak tahu kalau anak kebanggaannya ini diam-diam menguras kas perusahaan demi menghidupi istri simpanannya, dan ibunya sendiri yang membantu menutupi kebusukan itu?!"
"Jaga bicaramu, Indah!" Ibu mertuaku akhirnya bersuara, meski nadanya tak lagi segarang tadi. Tubuh wanita paruh baya itu tampak sedikit gemetar.
"Itu semua fitnah! Kamu sengaja mengarang cerita untuk menguasai harta suamiku!"
"Fitnah?" Aku tertawa pelan, tawa yang terasa hambar dan menyakitkan.
"Aku punya semua bukti transfernya, Ibu. Aku juga memegang rekaman CCTV saat Ibu menjenguk anak haram itu setiap akhir pekan dengan dalih pergi ke acara arisan. Papa mengetahui semuanya beberapa bulan sebelum beliau meninggal. Dan kebenaran itulah yang membuat jantung Papa hancur perlahan-lahan."
Keheningan yang mencekam langsung merayapi ruang keluarga. Jaka menurunkan tangannya dengan lemas.
Kesombongan yang selalu ia pamerkan di depanku runtuh dalam sekejap.
Selama tiga tahun pernikahan, aku selalu disalahkan oleh ibu mertuaku karena belum juga memberikan keturunan, dijadikan babu yang tak dihargai.
Padahal, di belakangku, suami yang sangat kuhormati mengkhianati pernikahan kami dengan persetujuan ibunya sendiri.
Papa mertuaku tahu betapa menderitanya aku. Di saat-saat terakhirnya, beliau menyerahkan seluruh kekuasaan ini padaku, bukan sekadar sebagai warisan, tapi sebagai pedang untuk menegakkan keadilan di rumah ini.
Aku mengambil surat wasiat dari atas meja, melipatnya dengan rapi, lalu menatap dua orang yang selama ini telah menorehkan luka paling dalam di hidupku.
"Keluarkan semua barang-barangmu dari kamar utama malam ini juga, Mas Jaka. Kalian boleh tetap tinggal di sini jika masih punya muka, tapi ingat satu hal, mulai detik ini akulah pemilik sah rumah ini, dan kalian hanyalah tamu yang bisa kuusir kapan saja aku mau."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar