"Ampun, Bu. Jangan kurung aku di gudang lagi. Aku mohon. Aku janji tidak akan pernah mengadu pada Mas Vito kalau dia pulang."
Suara rintihan yang menyayat hati itu menghentikan langkahku tepat di ambang pintu belakang rumahku sendiri.
Koper berisi hadiah kejutan dari Dubai terlepas begitu saja dari genggamanku, menghantam lantai dengan suara berdebum.
Aku pulang diam-diam tanpa memberi kabar, berniat memberikan kejutan manis untuk Firda, istri yang begitu kurindukan setelah dua tahun merantau.
Namun, kejutan ini justru berbalik menghantam kewarasanku sendiri.
Dengan tangan gemetar, aku mendorong pintu yang setengah terbuka itu. Duniaku seakan runtuh seketika.
Di sudut ruang cuci yang lembap dan temaram, kulihat Firda meringkuk memeluk kedua lututnya.
Istriku yang dulu begitu anggun dan terawat, kini tampak sangat mengenaskan. Rambutnya kusut masai, pakaiannya lusuh, dan tubuhnya begitu kurus.
Ia bergumam sendiri dengan tatapan kosong yang menyiratkan ketakutan luar biasa. Istriku terlihat seperti kehilangan kewarasannya.
"Astaghfirullah! Vito?! Kamu pulang, Nak?!"
Suara melengking itu memecah keheningan. Ibuku muncul dari arah ruang tengah dengan wajah panik yang kaget, disusul derap langkah Nisa, adik kandungku satu-satunya.
Dalam hitungan detik, raut panik di wajah Ibu berubah menjadi tangisan histeris. Ia berlari dan langsung menubrukku dalam pelukan.
"Syukurlah kamu pulang, Nak! Ibu sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi," isak Ibu sambil mengusap air matanya yang mengalir deras.
"Istrimu ... istrimu tiba-tiba kehilangan akal sehatnya sejak tiga bulan lalu, Nak! Dia sering mengamuk dan meracau tidak jelas."
Nisa ikut mendekat, menampilkan raut wajah yang tak kalah memelas.
"Benar, Mas. Mbak Firda sering bertingkah aneh. Ibu sampai jatuh bangun dan kurang tidur merawat Mbak Firda setiap hari. Kami sudah berusaha menyembunyikannya karena tidak mau mengganggu fokus kerjamu di sana, Mas."
Aku menatap Ibu dan Nisa bergantian dengan dada sesak yang seolah dicekik kuat-kuat. Mataku memanas.
Namun, saat tatapanku menelisik penampilan mereka berdua, sebuah kejanggalan aneh menampar logikaku.
Jika Ibu sampai kurang tidur merawat istriku yang sakit, kenapa wajah Ibu tampak begitu glowing dan berseri sehabis perawatan mahal?
Dan pandanganku terpaku pada leher Nisa. Jantungku berdetak semakin cepat.
Kalung emas berliontin safir itu ... itu adalah perhiasan mahal yang kukirimkan khusus untuk ulang tahun Firda bulan lalu.
Mengapa kalung itu melingkar manis di leher Nisa?
Aku menelan ludah dengan susah payah, berusaha menyembunyikan badai kecurigaan di kepalaku.
Aku menepis pelukan Ibu perlahan, lalu melangkah gontai menghampiri Firda yang semakin gemetar ketakutan saat melihat Ibu dan Nisa di belakangku.
Aku berlutut, merengkuh tubuh kurus istriku ke dalam pelukan. Bau pesing dan apek menyeruak, membuktikan bahwa omongan Ibu tentang merawat Firda hanyalah omong kosong belaka.
Dari ekor mataku, aku bisa melihat Ibu dan Nisa saling melempar pandangan aneh yang sulit kuartikan, sebelum akhirnya kembali memasang wajah duka sedih seolah mereka adalah pahlawan yang menjadi korban keadaan.
Aku memejamkan mata, membiarkan air mataku jatuh di puncak kepala Firda. Namun, tepat pada detik itu, sebuah pergerakan mengejutkan terjadi.
Tangan dingin Firda yang bergetar tiba-tiba mencengkeram kerah kemejaku dengan kekuatan penuh.
Tatapan kosongnya mendadak berubah tajam, menembus tepat ke manik mataku dengan sisa-sisa kewarasan yang ia pertahankan mati-matian, lalu bibirnya yang kering berbisik parau nyaris tanpa suara tepat di telingaku.
"Aku tidak gila, Mas. Geledah laci meja rias adikmu malam ini, dan kau akan menemukan bubuk apa yang selalu mereka paksa aku minum setiap hari."
***
Bab 2
"Usir istrimu dari rumah ini besok pagi, Vito! Ibu tidak sudi menampung perempuan histeris yang kerjaannya cuma mengamuk dan membuat malu keluarga besar kita!" desis Ibu dengan raut wajah penuh kebencian, menatap Firda seolah istriku itu adalah sampah yang menjijikkan.
Kalimat kejam itu meluncur begitu mudah dari bibir wanita yang telah melahirkanku. Tanganku yang sedang mendekap tubuh gemetar Firda sontak mengepal kuat.
Amarah dan rasa tak percaya bergemuruh hebat di dadaku. Namun, mengingat bisikan parau Firda beberapa detik yang lalu, aku tahu aku tidak boleh gegabah.
Jika mereka bisa memanipulasi keadaan dan menyiksa psikologis istriku hingga tampak seperti orang yang kehilangan akal sehat, mereka pasti punya rencana licik lain yang belum kuketahui.
Aku menunduk, menyembunyikan kilat kemarahan di mataku, lalu memasang raut wajah lelah dan putus asa.
"Beri aku waktu malam ini untuk menenangkannya, Bu," ucapku dengan suara serak yang kubuat serealistis mungkin.
"Biar aku tidur bersamanya malam ini. Besok, kita bicarakan lagi nasib Firda."
Kulihat Ibu dan Nisa saling melempar pandangan. Ada seulas senyum licik yang berusaha keras mereka sembunyikan di sudut bibir.
"Ya sudah kalau itu maumu, Mas. Nisa sudah siapkan kamar tamu untuk kalian. Kamar utama Mas Vito sedang direnovasi," sahut Nisa dengan nada sok peduli, padahal matanya tak lepas melirik koper mahal bawaanku.
Aku mengangguk pelan, lalu membopong tubuh Firda menuju kamar tamu yang pengap. Hatiku tersayat melihat betapa ringannya tubuh istriku sekarang.
Di dalam kamar, Firda kembali meringkuk di sudut ranjang. Ia tak bersuara, namun jari telunjuknya diam-diam menunjuk ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam, lalu menunjuk ke arah pintu.
Aku mengangguk samar, memberinya isyarat bahwa aku mengerti.
Waktu terasa merayap begitu lambat. Aku menunggu dengan sabar hingga suasana rumah benar-benar sunyi senyap.
Tepat pukul satu dini hari, aku bangkit perlahan dari ranjang. Aku melangkah mengendap-endap keluar kamar, menghindari lantai yang berderit, menuju kamar Nisa.
Pintu kamar adikku itu tidak terkunci rapat. Lewat celah pintu yang sedikit terbuka, kulihat lampu tidurnya sudah temaram dan terdengar dengkuran halus.
Dengan napas tertahan, aku menyelinap masuk. Sesuai petunjuk Firda, targetku adalah meja rias di sudut ruangan.
Tanganku bergerak hati-hati membuka laci pertama.
Di bawah tumpukan perhiasan yang kuyakin dibeli dari uang bulananku untuk Firda, tanganku meraba sebuah amplop cokelat tebal dan sebuah benda pipih kecil.
Sebuah alat perekam suara mini. Saat aku menempelkannya ke telinga dan menekan tombol putarnya pelan, terdengar suara jeritan-jeritan mengerikan, tangisan, dan ancaman yang berbisik tajam.
Tubuhku bergetar hebat.
Jadi ini yang mereka putar setiap malam secara diam-diam di telinga Firda untuk menyiksanya secara psikologis hingga istriku tertekan dan ketakutan?!
Bukan hanya itu yang membuat napasku tercekat.
Di dalam amplop cokelat itu, terlipat buku tabungan atas nama Firda yang saldonya terkuras habis hingga tersisa lima puluh ribu rupiah.
Di baliknya, terdapat setumpuk bukti transfer dengan nominal ratusan juta ke sebuah rekening atas nama: Citra.
Keterangannya membuat mataku memanas: 'DP Rumah Baru', 'Modal Butik'.
Tiba-tiba, suara kasur berderit membuatku membeku. Nisa menggeliat dalam tidurnya.
Namun, alih-alih bangun, ia justru meraih ponselnya di atas nakas yang menyala terang, menjawab sebuah panggilan masuk dalam keadaan setengah sadar.
Aku menahan napas di balik bayangan lemari, mendengarkan percakapan yang membuat darahku mendidih hingga ke ubun-ubun.
"Halo, Mbak Citra? Iya, tenang saja," gumam Nisa pelan namun terdengar begitu berbisa.
"Mas Vito sudah pulang dan dia percaya seratus persen perempuan udik itu sudah histeris dan depresi. Besok kita paksa Mas Vito ceraikan Firda. Setelah itu, Mbak Citra bisa masuk jadi nyonya di rumah ini, dan ingat, jatah bulananku dari Mbak Citra harus naik dua kali lipat sesuai kesepakatan Ibu ya."
Duniaku berhenti berputar.
Fakta menjijikkan ini menamparku telak. Ibu yang seharusnya melindungi menantunya, dan adik kandungku sendiri, berkomplot menghancurkan istriku demi harta dan wanita lain.
Aku memasukkan perekam suara dan buku tabungan itu ke dalam saku jasku.
Perlahan, aku melangkah keluar dari kamar Nisa dengan aura sedingin es, meninggalkan adikku yang kembali tertidur pulas dengan mimpi serakahnya.
Aku kembali ke kamar tamu. Firda masih terjaga, menatapku dengan mata nanar yang berkaca-kaca.
Aku duduk di tepi ranjang, merengkuh wajahnya yang tirus, lalu mengeluarkan ponselku.
Sudah waktunya aku berhenti menjadi pria penurut yang mereka bodohi.
Mereka pikir aku hanya pekerja biasa di luar negeri yang hartanya bisa mereka rampas untuk wanita murahan? Mereka salah besar memilih lawan.
Aku menekan sebuah nomor rahasia asisten pribadiku. Begitu panggilan terhubung, aku menatap tajam ke arah pintu dengan rahang mengeras.
"Halo, Bram? Tarik kembali semua aset, blokir seluruh kartu kredit, dan sita rumah yang kutumpangkan pada keluargaku besok pagi tanpa sisa. Laki-laki yang mereka pikir hanya pekerja kasar ini, akan menunjukkan siapa pria sesungguhnya yang sedang mereka usik."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar