"Bagaimana mungkin tangan renta yang setiap pagi hanya bisa mengaduk sisa nasi aking ini, menggenggam erat sebuah pin berlian di napas terakhirnya?"
Suaraku bergetar, tertelan oleh dinginnya angin malam di hutan belakang rumah kami.
Tanganku yang gemetar perlahan melepaskan kepalan tangan Ibu mertuaku, Ibu Lastri, yang kini sudah kaku.
Beberapa jam yang lalu, Ibu pamit mencari kayu bakar. Pakaiannya selalu sama, kebaya pudar kebanggaannya yang jahitannya lepas di sana-sini, serta kain jarik usang.
Kami memang hidup serba kekurangan. Untuk makan sehari-hari saja aku harus memutar otak.
Namun sekarang, ia terbaring tak bernyawa di atas tumpukan daun kering tanpa ada satu pun luka di tubuhnya.
Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak kaget seolah ia baru saja melihat kenyataan yang merenggut nyawanya seketika.
Dengan tangan bergetar, kuambil benda kecil yang sedari tadi digenggam erat oleh Ibu.
Sebuah pin berlian asli yang berkilau di bawah cahaya bulan. Di baliknya terukir inisial 'A.D.', lambang keluarga konglomerat Adiningrat yang sering kulihat di televisi balai desa.
Namun, bukan hanya pin itu yang membuat napasku tercekat.
Saat angin menyibakkan kebaya lusuh Ibu, mataku tak sengaja menangkap secarik kain di baliknya.
Aku memang perempuan desa yang polos, tapi aku tahu bedanya kain murahan dengan kain mahal.
Di balik baju gembelnya, Ibu mengenakan pakaian dalam dari kain sutra asli dengan bordiran butik ternama. Pakaian yang harganya mungkin bisa menghidupi kami bertahun-tahun!
Kepalaku berdenyut keras. Tiba-tiba saja, ingatanku melayang pada sikap suamiku selama beberapa hari terakhir.
Mas Danu sering pulang larut malam dengan alasan lembur di pabrik batako, padahal aroma tubuhnya wangi parfum mahal, bukan bau debu.
Ia juga mulai sering mengangkat telepon sembunyi-sembunyi di kamar mandi, dan menatapku dengan sorot mata yang sulit kuartikan.
Apakah Mas Danu tahu tentang ini? Bahwa kemiskinan ibunya hanyalah topeng belaka?
Suara derak ranting patah menyadarkanku. Dari balik pepohonan, Mas Danu berlari tergesa-gesa dengan senter di tangannya. Wajahnya pias.
Instingku mendadak bekerja. Dengan cepat, kumasukkan pin berlian itu ke dalam saku dasterku sedalam mungkin.
Aku tidak boleh gegabah. Jika suamiku memang menyembunyikan sesuatu, aku harus mencari tahu kebenarannya sendiri sebelum aku menjadi korban kebohongan ini.
"Ayna! Ya Tuhan, Ibu!" Mas Danu berhambur, jatuh berlutut dan memeluk tubuh kaku ibunya. Tangisnya pecah seketika, menggema di tengah hutan yang sunyi.
Aku ikut bersimpuh, meneteskan air mata kepedihan, sebagian karena duka, sebagian lagi karena ketakutan yang luar biasa.
"Ibu, Mas. Aku menemukan Ibu sudah tergeletak di sini. Napasnya sudah berhenti," isakku, memeluk lengan suamiku, memainkan peran sebagai istri penurut yang tak tahu apa-apa.
Mas Danu mengusap wajah ibunya yang membelalak dengan tangan gemetar.
Di tengah isak tangisnya yang memilukan, suamiku tiba-tiba berseru panik.
"Ya Tuhan, Ayna! Kenapa kau biarkan Ibu sendirian?! Kau tahu kan penyakit jantung Ibu bisa kumat kapan saja kalau dia kelelahan di tempat sedingin ini?!"
Deg.
Jantungku seolah berhenti berdetak saat itu juga. Air mataku seketika mengering. Kutatap wajah Mas Danu yang masih menangis memeluk ibunya.
"Penyakit jantung, Mas?"
Aku membalas tatapannya dengan sorot mata sepolos mungkin, sementara jari-jariku di dalam saku meremas kuat ujung tajam pin berlian itu.
"Bukankah selama lima tahun kita menikah, Ibu hanya punya riwayat sakit lambung karena kita terlalu miskin untuk makan tiga kali sehari?"
***
Bab 2
"Kamu ini bicara apa, Ayna?! Dokter puskesmas bulan lalu bilang jantung Ibu lemah! Kamu saja yang terlalu sibuk mengurus sisa beras di dapur sampai tidak pernah peduli pada keluhan Ibu!"
Bentakan Mas Danu menggema, memecah keheningan hutan dan membungkam bibirku.
Matanya yang merah karena menangis kini menatapku nyalang, penuh kilatan amarah yang aneh.
Selama lima tahun pernikahan kami, Mas Danu adalah sosok suami yang bertutur kata lembut, meski kami hidup melarat.
Baru kali ini ia membentakku, dan itu justru untuk menutupi kebohongan yang meluncur lancar dari bibirnya.
Aku menunduk, menyembunyikan senyum getir yang hampir terbentuk.
Dokter puskesmas? Batinku mencibir tajam. Jangankan ke dokter, untuk membeli jamu tolak angin di warung saja Ibu mertuaku selalu menolak mentah-mentah dengan alasan sayang uang.
Namun, aku menelan kembali semua sanggahanku.
"Maafkan aku, Mas. Aku sungguh tidak tahu," cicitku pelan, kembali memasang topeng sebagai istri penurut yang bodoh.
"Mari kita bawa Ibu pulang. Udara di sini semakin dingin."
Proses pemakaman keesokan harinya berjalan penuh derai air mata.
Para tetangga berdatangan ke rumah bilik bambu kami, berbisik iba melihat Mas Danu yang meratapi kepergian ibunya dengan tubuh bergetar hebat.
Namun, di balik kerudung lusuhku, pikiranku berkelana ke arah lain.
Saat memandikan jenazah Ibu tadi pagi, aku harus bersusah payah mengamankan pakaian dalam sutra mahal itu dari pandangan ibu-ibu yang membantu.
Jika mereka sampai melihatnya, rahasia ini pasti akan menjadi gosip satu desa.
Kain sutra berlabel butik luar negeri itu kini kusimpan rapat di dasar lemariku, bersanding dengan pin berlian inisial 'A.D.' yang sedingin es.
Malam harinya, setelah para pelayat pulang dan tahlilan usai, Mas Danu pamit ke kamar mandi.
Menggunakan kesempatan itu, aku beralasan ingin merapikan barang-barang almarhumah dan menyelinap masuk ke kamar Ibu mertuaku.
Kamar itu pengap dan berbau minyak angin. Kasurnya tipis dan bantalnya sudah kempis.
Aku meraba bagian bawah kasur, lalu beralih ke tumpukan kebaya pudar di dalam lemari plastik reotnya.
Tanganku terhenti saat merasakan sesuatu yang keras dan pipih terselip di dalam lipatan kain jarik paling bawah.
Sebuah buku tabungan bersampul kulit elegan.
Napasku tertahan saat membuka halaman pertamanya. Tertera nama yang membuat lututku lemas: Lastri Adiningrat. Mataku membelalak melihat deretan angka saldo di halaman terakhir.
Nolnya begitu banyak hingga pandanganku mengabur.
Bagaimana mungkin? Selama ini Ibu selalu membagi sebungkus mi instan menjadi dua denganku, berdalih agar kami bisa menabung untuk masa depan Mas Danu.
Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar mendekat. Dengan tangan gemetar panik, aku segera memasukkan kembali buku tabungan itu ke tempat asalnya dan buru-buru pura-pura melipat selimut kusam Ibu saat pintu kamar ditarik terbuka.
"Ayna, sedang apa kamu di situ?" tegur Mas Danu dengan nada dingin yang mengiris.
"A-aku ... aku merapikan selimut Ibu, Mas. Rasanya aneh melihat kamar ini kosong," jawabku, memaksakan sebulir air mata jatuh ke pipiku.
Mas Danu menatapku dengan sorot menyelidik yang tajam, lalu menghela napas kasar.
"Sudahlah, tinggalkan saja. Aku lelah."
Ia berbalik meninggalkanku begitu saja menuju ruang tengah.
Tidak ada pelukan pelipur lara, tidak ada tatapan hangat yang biasanya ia berikan saat melihatku bersedih. Sikapnya benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat.
Tengah malam, rasa haus membangunkanku. Aku bangkit perlahan dari tikar pandan, berniat pergi ke dapur.
Namun, langkahku terhenti di ambang pintu saat melihat celah cahaya dari pintu belakang rumah yang sedikit terbuka.
Aku mengendap-endap mendekat dalam gelap. Di luar sana, di bawah remang cahaya bulan, Mas Danu sedang berdiri membelakangiku. Ponsel murahan yang layarnya retak itu tidak ada di tangannya.
Sebagai gantinya, sebuah ponsel pintar keluaran terbaru yang sangat tipis menempel di telinganya.
Aku menahan napas, menempelkan telingaku di celah pintu kayu yang lapuk. Jantungku serasa dihantam palu godam saat mendengar suara suamiku.
Suaranya tidak lagi serak karena duka, melainkan begitu tenang, licik, dan penuh kepuasan.
"Semuanya berjalan lancar, Sayang. Kematian Ibu murni karena syok jantung, dan istri udikku itu terlalu bodoh untuk menyadari apa pun. Begitu semuanya selesai, aku akan menceraikan gembel itu dan membawamu menguasai rumah utama Adiningrat."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar