"Pergilah, Resti. Bawa sertifikat tanah tandus ini, jual seadanya untuk modalmu bertahan hidup, dan biarkan aku mati membusuk di jalanan. Aku sudah tak punya apa-apa lagi untuk melindungimu."
Suaraku parau dan bergetar hebat, nyaris tenggelam oleh deru hujan deras yang menghantam aspal.
Dadaku sesak, rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk paru-paruku setiap kali aku memaksakan diri mengambil napas.
Aku terduduk lemah di trotoar yang dingin, menatap nanar gerbang besi menjulang di hadapanku, rumah mewah keluargaku yang kini tertutup rapat untukku.
Ibu kandungku sendiri yang mengusirku satu jam yang lalu. Telingaku masih terngiang jelas caci makinya yang menyayat hati.
Ia bilang keluarga kami tidak butuh beban penyakitan yang hanya menghabiskan harta. Kakak laki-lakiku bahkan tega menendang koper lusuh kami keluar seolah kami adalah wabah.
Aku melirik Resti, istriku yang masih berdiri di bawah guyuran hujan. Tanganku yang pucat dan gemetar menyodorkan sebuah map cokelat lecek padanya.
Di dalamnya hanya ada selembar sertifikat tanah terbengkalai di ujung luar kota, lahan gersang berbatu yang tak laku dijual bahkan jika diobral murah.
Hanya itu sisa harta yang kumiliki. Aku memejamkan mata rapat-rapat, bersiap mendengar langkah kakinya menjauh. Wajar jika ia menyerah.
Namun, alih-alih pergi, Resti berjongkok di hadapanku. Ia mengambil map itu, lalu menggenggam tanganku yang sedingin es erat-erat.
"Kita mulai dari awal, Mas. Kalau keluarga ini membuangmu, biar aku yang memungutmu dan membuatmu berharga lagi," bisiknya dengan mata berkaca-kaca namun menyiratkan tekad yang belum pernah kulihat sebelumnya.
***
Enam bulan berlalu sejak malam kelam itu.
Siapa sangka, di balik tanah yang dianggap rongsokan oleh keluargaku, tersimpan potensi yang tak pernah mereka lirik. Resti tidak menyulap tanah itu dengan sihir atau uang kaget.
Istriku bekerja keras dari nol hingga tangannya yang dulu halus menjadi kasar. Ia membersihkan ilalang, mencangkul tanah berbatu, hingga tak sengaja menemukan mata air tersembunyi yang sangat jernih di perut lahan tersebut.
Berbekal mata air itu dan kegigihannya mengetuk puluhan pintu untuk mencari pinjaman modal kecil-kecilan, Resti perlahan mengubah tanah tandus itu menjadi perkebunan sayur organik premium dan sistem hidroponik raksasa.
Panen pertamanya sukses besar. Pesanan membludak dari berbagai restoran mewah di pusat kota.
Dalam hitungan bulan, omzet yang kami dapatkan melejit tak masuk akal.
Dari gubuk reot yang bocor, kami kini tinggal di sebuah vila modern yang asri tepat di tengah perkebunan kami.
Dan yang paling penting, berkat kerja keras Resti, aku akhirnya bisa mendapatkan perawatan medis terbaik hingga perlahan kembali bisa berjalan tegak.
Siang ini, aku berdiri di teras vila, memandangi hamparan hijau perkebunan kami yang sibuk oleh puluhan pekerja.
Resti menghampiriku, menyodorkan secangkir teh hangat dengan senyum lembutnya yang biasa.
Namun, momen damai kami terpotong saat Pak Yanto, manajer perkebunan kami, berlari kecil menghampiri teras dengan membawa sebuah map dan wajah tegang.
"Bu Resti, Pak Tirta. Ada kabar dari kota," lapor Pak Yanto sambil menelan ludah.
"Perusahaan keluarga Bapak, kolaps akibat skandal penipuan investasi. Sekarang mereka sedang mencari investor besar untuk menyelamatkan rumah utama mereka dari sitaan bank. Dan lucunya, mereka baru saja mengirim proposal ke perusahaan agrikultur kita, tanpa tahu siapa pemilik sebenarnya."
Aku tertegun. Jantungku berdesir aneh mendengar kehancuran keluargaku sendiri. Aku menoleh pada Resti, menunggu reaksinya.
Istriku meletakkan cangkir tehnya perlahan. Senyum lembutnya memudar, berganti dengan tatapan setajam elang.
Ia mengambil proposal berlogo perusahaan keluargaku itu, meliriknya sekilas, lalu melemparkannya ke atas meja dengan tatapan dingin.
"Terima proposal mereka dengan satu syarat, Pak Yanto. Beli rumah utama kebanggaan mereka dengan harga paling murah, lalu sampaikan pesan ini langsung ke telinga ibunya Mas Tirta, yaitu siapkan koper kalian, karena mulai besok pagi, nyonya rumah yang baru akan meratakan rumah mewah itu untuk dijadikan kandang sapi."
***
Bab 2
"Singkirkan sepatu kotor kalian dari karpet Turki saya! Kalian pikir karena bos kalian yang tak tahu adat itu sudah melunasi rumah ini, kalian bisa bertingkah seenaknya di kediaman keluarga Sanjaya?!"
Suara melengking itu menembus kaca mobil yang perlahan merayap memasuki pelataran luas. Aku mematung di kursi penumpang.
Di balik kaca patri jendela rumah mewah itu, aku bisa melihat sosok wanita paruh baya yang melahirkanku sedang mencaci-maki para pekerja berseragam yang sedang mengukur ulang halaman.
Di sebelahnya, Mas Bagas, berdiri melipat tangan dengan wajah angkuh yang tak berubah sedikit pun.
Enam bulan lalu, di pelataran yang sama, mereka menendangku keluar di tengah badai.
Kini, aku kembali. Resti yang duduk di balik kemudi menoleh padaku. Tidak ada lagi raut ketakutan atau sisa-sisa keputusasaan di wajah istriku.
"Sudah siap, Mas?" tanyanya dengan senyum tipis.
Aku menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi paru-paruku yang kini sudah kembali sehat sempurna. Kuanggukkan kepala dengan mantap.
"Ayo kita sapa mereka."
Begitu pintu mobil terbuka dan kami melangkah keluar, derap langkah sepatu kulitku beradu dengan paving blok, menarik perhatian dua orang di teras itu. Ibu dan Mas Bagas seketika menoleh.
Wajah meremehkan mereka mendadak kaku, membeku seperti disiram air es saat melihatku berjalan tegap, bukan lagi merangkak lemah dengan napas tersengal seperti hari terakhir kami bertemu.
"Tirta?" gumam Ibu, matanya melebar tak percaya menatap setelan jas rapi yang kukenakan.
Namun, keterkejutan itu hanya bertahan sedetik sebelum egonya kembali mengambil alih. Ia berkacak pinggang, menatap kami dengan sebelah alis terangkat sinis.
"Oh, jadi kalian pelayannya? Kebetulan sekali! Apa bos kampungan kalian yang baru membeli rumah ini mempekerjakan gelandangan seperti kalian untuk bersih-bersih? Atau uang kalian sudah habis dan mau mengemis lagi padaku?!"
Mas Bagas mendecih, melangkah maju menuruni anak tangga.
"Tebal muka sekali kalian berani menginjakkan kaki di sini. Dengar ya, Tirta, walaupun rumah ini terpaksa kami jual karena masalah kecil di perusahaan, level kami tetap jauh di atas kalian. Pergi sana, sebelum satpam menyeret ..."
"Maaf menyela, Ibu mertua, Mas Bagas," potong Resti tenang, suaranya mengalun lembut namun begitu dingin, memotong ucapan sombong itu di udara. Ia melangkah maju, berdiri melindungiku dengan dagu terangkat.
"Sepertinya ada kesalahpahaman. Kami ke sini bukan untuk mengemis, apalagi menjadi pelayan."
Ibu mendengus kasar. "Lalu untuk apa?! Jangan bilang istrimu yang miskin ini mau melamar jadi tukang cuci piring bos baru itu!"
Pak Yanto, manajer kami yang sejak tadi berdiri menahan emosi menghadapi cacian Ibu, melangkah ke sisi Resti dan menunduk hormat.
"Semua dokumen serah terima sudah beres, Bu Resti, Pak Tirta. Kita bisa mulai pembongkaran taman depan sore ini juga."
Hening sejenak. Angin siang itu seolah ikut berhenti berembus.
Mata Ibu mertua dan Mas Bagas bergerak kaku dari Pak Yanto, lalu beralih menatap Resti dan aku secara bergantian. Rahang Mas Bagas perlahan jatuh. Wajah pucat Ibu mulai kehilangan aliran darah.
"Bu ... Bu Resti?" ulang Ibu dengan suara bergetar, seakan baru saja menelan duri. "Apa maksudnya ini? Kalian ..."
Resti tersenyum manis, senyum yang sama saat ia memutuskan untuk menguasai segalanya enam bulan lalu. Ia mengeluarkan selembar dokumen berstempel resmi dari tasnya.
"Benar, Ibu mertua. Bos kampungan dan tak tahu adat yang baru saja menyelamatkan keluarga ini dari kebangkrutan adalah saya," ucap Resti santai.
"Dan sesuai kesepakatan tertulis yang kalian tanda tangani tanpa membaca nama pembelinya secara detail, kalian punya waktu lima belas menit untuk mengemasi pakaian kalian."
"Kau pasti menipu! Ini tidak mungkin! Kalian cuma gembel!" raung Mas Bagas, wajahnya merah padam menahan malu dan amarah.
Ia melangkah maju dengan tangan mengepal, berniat meraih kerah baju Resti.
Namun, sebelum tangannya menyentuh istriku, aku melangkah cepat dan mencengkeram pergelangan tangannya kuat-kuat, memelintirnya sedikit hingga ia memekik tertahan.
Kutatap tajam mata kakak kandungku yang dulu membuangku seperti sampah.
"Maksud Mas Bagas saham perusahaan yang baru saja Mas gadaikan ke rentenir itu?" Resti menambahkan dengan nada mengejek, membiarkan sebuah map tebal berisi bukti transaksi gelap meluncur jatuh ke lantai marmer di ujung kaki Ibu.
"Maaf, Ibu mertua. Sepertinya kalian bukan hanya harus angkat kaki dari rumah ini dengan tangan kosong sekarang juga, tapi bersiaplah merapikan kemeja kalian. Polisi yang akan menjemput Mas Bagas atas tuduhan penggelapan dana perusahaan sudah menunggu di depan gerbang."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar