Rabu, 15 April 2026

Mertuaku Selalu Menumpang Makan, Mengambil Bahan Masakanku, tapi Suamiku Tidak Membela, Bahkan Uang Gajiannya Diberikan pada Mertuaku! Kuceraikan Suamiku dan Kunikahi Pria Kaya yang Membuat Suamiku Menyesal!

 


"Tentu saja aku yang berhak membawa daging dan beras ini! Anakku yang banting tulang mencari uang, jadi sudah sepantasnya ibunya yang menikmati, bukan istri benalu sepertimu!"


Kalimat pedas itu meluncur mulus dari bibir Ibu mertuaku. Tangannya dengan cekatan memindahkan seluruh bahan makanan yang baru saja kubeli ke dalam kantong belanjaannya sendiri. 


Kulkasku yang semula penuh untuk persediaan kami selama satu bulan, kini nyaris kosong melompong.


Aku menoleh menatap Hasan, suamiku, yang sejak tadi hanya berdiri bersandar di ambang pintu dapur. 


Aku menanti ia membuka suara, membelaku, atau setidaknya melarang ibunya menjarah isi dapur kami untuk yang kesekian kalinya.


"Mas," panggilku lirih, menatapnya dengan dada yang bergemuruh.


Namun, bukannya menghentikan sang ibu, Hasan malah membuang muka dan menghela napas panjang. 


"Sudahlah, Sarah. Ikhlaskan saja untuk Ibu. Beliau 'kan yang melahirkanku. Jangan terlalu perhitungan jadi istri."


Dengkulku mendadak lemas. Kekecewaan yang luar biasa menghantam dadaku. 


"Perhitungan kamu bilang, Mas? Uang belanja yang kamu kasih bulan ini cuma lima ratus ribu! Dan sekarang, semua bahan masakan yang kubeli dengan sisa uang itu dibawa oleh Ibumu?"


"Ya kamu harusnya pintar-pintar mengelola uang, dong! Lagipula, gajiku bulan ini sudah kuberikan sebagian besarnya untuk biaya arisan Ibuku. Kamu masak seadanya saja dulu sampai bulan depan," jawab Hasan ringan, tanpa ada raut penyesalan atau rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.


Air mataku nyaris tumpah, tetapi sekuat tenaga kutahan. 


Selama tiga tahun pernikahan, aku selalu menekan ego dan menahan diri. Aku diam saat Ibu mertuaku datang setiap minggu hanya untuk menumpang makan dan mengkritik caraku mengurus rumah. 


Aku juga diam saat Hasan diam-diam mentransfer gajinya untuk keluarganya, sementara aku harus pontang-panting berjualan makanan ringan secara online demi menutupi kebutuhan sehari-hari kami.


Selama ini aku bertahan karena cinta, berharap Hasan akan berubah dan menyadari bahwa keluarga utamanya kini adalah aku. 


Tapi hari ini, tamparan realita itu akhirnya menyadarkanku. 


Hasan bukan hanya tidak bisa membelaku, dia dengan sadar menginjak-injak harga diriku demi keluarganya.


Aku menatap lurus ke arah ibu mertuaku yang kini tersenyum sinis penuh kemenangan sambil menenteng dua kantong plastik besar berisi hak-hakku. 


Lalu pandanganku beralih pada Hasan yang tampak tak acuh, seolah menormalisasi penderitaanku.


Tak ada lagi air mata. Tiba-tiba saja, hatiku terasa sangat dingin dan mati rasa. 


Perlahan, aku melepaskan celemek yang melekat di tubuhku dan menjatuhkannya begitu saja ke lantai dapur.


"Kamu mau apa, Sarah? Cepat bereskan dapur, aku sudah lapar dan mau makan," tegur Hasan dengan kening berkerut kasar, tak suka melihat tindakanku.


Aku menatap tepat di manik matanya dan mengulas senyum paling dingin yang belum pernah kutunjukkan sebelumnya.


"Minta saja ibumu memasakkan beras dan daging yang baru dirampoknya tadi, Mas. Karena mulai detik ini, aku bukan lagi istrimu, dan percayalah, keputusanmu membiarkanku pergi hari ini akan menjadi penyesalan paling menghancurkan dalam hidupmu!"


***

Bab 2

"Silakan angkat kakimu dari rumah ini! Paling-paling besok pagi kamu sudah menangis berlutut di depanku karena kelaparan di jalanan!"


Suara tawa meremehkan Hasan menggelegar ke seluruh penjuru ruang tamu, disusul oleh senyum culas Ibu mertuaku yang masih sibuk mengemasi bahan makanan rampasannya.


"Biarin aja dia pergi, San! Perempuan mandul yang cuma bisa jadi benalu dan nggak tahu diuntung kayak dia, mana ada laki-laki lain yang mau pungut? Paling juga luntang-lantung di pinggir jalan!" tambah wanita paruh baya itu dengan nada sinis yang menyayat hati.


Aku tidak menanggapi cemoohan mereka. 


Tanpa ragu sedikit pun, aku melangkah masuk ke kamar dan menyeret koper berukuran sedang yang sudah berisi seluruh pakaian dan barang pribadiku. 


Tidak banyak yang kubawa, karena selama tiga tahun pernikahan ini, Hasan nyaris tidak pernah membelikanku apa-apa.


Aku berjalan melewati mereka berdua dengan kepala tegak. Tak ada lagi air mata, tak ada lagi Sarah yang penurut dan rela diinjak-injak.


"Oh, jadi beneran mau minggat? Ingat ya, Sarah! Sekali kamu melangkah keluar dari pintu itu, jangan harap aku mau menerimamu kembali!" ancam Hasan dengan mata mendelik. 


Dia rupanya masih yakin aku hanya menggertak sambal.


Aku berhenti sejenak tepat di ambang pintu, menoleh padanya dengan tatapan datar. 


"Simpan saja ancamanmu, Mas. Karena mulai detik ini, rumah kumuh ini dan kalian berdua sudah tidak ada harganya lagi di mataku."


Kutinggalkan Hasan yang mematung dengan wajah memerah menahan marah. Aku berjalan cepat menyusuri gang perumahan yang sepi, menembus dinginnya angin malam. 


Tentu saja, aku tidak sebodoh yang mereka pikirkan. Aku tidak akan luntang-lantung di jalanan. 


Selama Hasan dan ibunya sibuk merendahkanku, aku diam-diam telah mengurus sebuah penawaran besar yang selama ini selalu kutolak demi mempertahankan rumah tangga konyol ini.


Aku merogoh ponsel dari saku jaketku dan menekan satu nomor kontak yang sudah lama kusimpan. Panggilan itu langsung terjawab pada dering pertama.


"Aku sudah keluar dari rumah itu. Kirimkan mobilnya sekarang," ucapku tanpa basa-basi.


"Baik. Tuan Muda sudah menunggu Anda dari tadi."


Hanya butuh waktu lima belas menit menunggu di halte depan jalan raya. Sebuah mobil hitam mengkilap yang harganya bisa membeli puluhan rumah Hasan melaju pelan dan berhenti tepat di depanku.


Seorang sopir berseragam rapi bergegas keluar, membukakan pintu penumpang belakang sambil menunduk hormat. 


Namun, bukan kemewahan mobil itu yang membuat napasku tertahan, melainkan sosok pria tampan dengan balutan jas armani yang duduk di dalam mobil. Pria dengan aura mengintimidasi yang selama ini diam-diam selalu memantau hidupku.


Pria itu menatapku dengan sorot mata tajam namun penuh kelembutan yang aneh, lalu mengulurkan tangannya dari dalam mobil.


"Sudah puas membuang waktu berhargamu dengan pria menyedihkan itu, Sarah? Sekarang, menikahlah denganku, dan mari kita buat mereka mengemis di bawah kakimu!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mertuaku Selalu Menumpang Makan, Mengambil Bahan Masakanku, tapi Suamiku Tidak Membela, Bahkan Uang Gajiannya Diberikan pada Mertuaku! Kuceraikan Suamiku dan Kunikahi Pria Kaya yang Membuat Suamiku Menyesal!

  "Tentu saja aku yang berhak membawa daging dan beras ini! Anakku yang banting tulang mencari uang, jadi sudah sepantasnya ibunya yang...