"Makan saja sisa lauk di dapur, Noah! Orang melarat seperti kalian harusnya bersyukur masih diizinkan menginjakkan kaki di acara keluarga ini!"
Suara melengking Ibu Rahmi, bibi tertua di keluarga besar suamiku, menggema di ruang makan.
Gelak tawa sarkas dari saudara-saudara yang lain langsung menyusul, menusuk gendang telingaku bak ribuan jarum.
Aku menatap piring di hadapan suamiku dengan dada bergemuruh hebat. Hanya ada nasi sisa, kuah gulai yang sudah dingin, dan beberapa potong tempe.
Sementara di meja utama, mereka berpesta pora dengan daging panggang dan hidangan mewah lainnya.
Ini bukan yang pertama kalinya. Setiap kali ada acara keluarga, aku dan Noah selalu diasingkan ke dapur, diperlakukan tak lebih dari sekadar pembantu rendahan.
"Zahra, tidak apa-apa. Ini sudah cukup untuk mengganjal perut," bisik Noah sambil tersenyum teduh. Tangan besarnya menggenggam jemariku yang sudah bergetar karena menahan amarah.
Aku menepis pelan tangannya. Cukup! Aku tidak bisa lagi membiarkan harga diri suamiku diinjak-injak seperti ini. Noah mungkin pria yang terlalu sabar, tapi sebagai istrinya, darahku mendidih.
"Kita pulang sekarang, Mas," desisku tajam.
Aku menarik tangan Noah, memaksanya berdiri. Beberapa pasang mata di meja makan kini menatap kami dengan tatapan meremehkan.
"Oh, lihat! Menantu miskin kita tersinggung rupanya!" ejek Rian, sepupu Noah, sambil tersenyum sinis. "Mau pulang pakai apa kalian? Jalan kaki sampai sandal jepit kalian putus?"
"Setidaknya kami pulang dengan harga diri, bukan dengan merendahkan darah daging sendiri!" balasku sengit, tak peduli dengan tatapan melotot Ibu Rahmi dan bisik-bisik pedas kerabat lainnya.
Aku setengah menyeret Noah keluar dari pelataran rumah megah itu. Udara malam yang dingin langsung menerpa wajahku yang memanas.
Air mataku tertahan di pelupuk, murni karena kesal dan sakit hati melihat pria sebaik Noah diperlakukan layaknya sampah oleh keluarganya sendiri.
"Zahra, maafkan aku membuatmu harus menanggung rasa malu ini," ucap Noah lirih saat kami berdiri di tepi jalan raya.
Ia menunduk, menyembunyikan ekspresi wajahnya di balik bayang-bayang lampu jalan.
Baru saja aku hendak memeluknya untuk menenangkannya, sorot lampu yang sangat terang menyilaukan mata kami.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam pekat meluncur mulus dan berhenti tepat di hadapan kami.
Jantungku berdegup kencang. Tamu siapa yang datang dengan mobil sekelas triliuner ini?
Bahkan paman Noah yang paling sombong pun tidak akan mampu membelinya.
Pintu kemudi terbuka. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan sarung tangan putih bergegas turun.
Ia berjalan memutar, setengah berlari menghampiri kami, lalu membungkuk hormat hingga sembilan puluh derajat, bukan kepadaku, melainkan kepada suamiku yang penampilannya malam ini paling sederhana.
"Maafkan keterlambatan saya menjemput Anda, Tuan Muda Noah. Apakah kita akan langsung kembali ke mansion utama atau Anda ingin saya meratakan rumah di belakang kita ini terlebih dahulu?"
***
Bab 2
"Ratakan saja perusahaan suaminya besok pagi, Pak Dirman. Malam ini, istriku sudah terlalu lelah menghirup udara bercampur kemunafikan di tempat ini."
Suara Noah terdengar begitu dingin dan berwibawa, sangat kontras dengan nada lembutnya saat menyuruhku memakan sisa lauk beberapa menit yang lalu.
Aku terpaku, menatap suamiku seolah dia adalah orang asing yang baru saja turun dari langit.
"Mas, apa-apaan ini? Tuan Muda? Ratakan perusahaan? Tolong jangan bilang kamu menyewa aktor dan mobil mewah ini hanya untuk menghiburku karena ucapan Mas Rian tadi!" suaraku bergetar, setengah panik dan setengah tak percaya.
Pak Dirman, pria paruh baya berseragam rapi itu, tersenyum kecil ke arahku sambil menunduk hormat.
"Nyonya Muda sungguh pandai bergurau. Tuan Noah adalah pewaris tunggal—"
"Sudah, Pak Dirman. Biar aku yang menjelaskannya nanti," potong Noah cepat dengan nada tegas.
Dengan gerakan yang sangat elegan, tangan besar Noah membukakan pintu mobil untukku.
"Masuklah, Sayang. Udara malam tidak baik untukmu. Jangan pedulikan mereka lagi."
Aku masuk bagai terhipnotis. Aroma peppermint*
dan kemewahan kulit jok mobil langsung menyergap indra penciumanku.
Ini gila. Pakaianku yang hanya gamis pudar biasa ini terasa sangat salah tempat berada di dalam mobil ini.
Noah ikut masuk dan duduk di sampingku. Kaca partisi perlahan naik secara otomatis, memisahkan kami dengan Pak Dirman di kursi kemudi. Hening. Hanya ada debar jantungku yang berpacu gila-gilaan.
"Maafkan aku, Zahra," Noah memecah keheningan, menggenggam kedua tanganku. Sorot matanya kembali teduh, persis seperti Noah yang selama ini kukenal.
"Aku tidak bermaksud menipumu. Tiga tahun lalu, aku meninggalkan keluargaku karena muak dengan intrik perebutan harta peninggalan kakekku. Aku ingin hidup tenang, dan aku ingin mencari wanita yang mencintaiku apa adanya, bukan karena isi dompetku. Dan aku menemukan wanita hebat itu, yaitu kamu."
Dadaku sesak. Selama dua tahun pernikahan kami, aku banting tulang bekerja, mati-matian menabung setiap sen, dan rela berdebat batin dengan hinaan keluarganya hanya untuk membela pria ini.
Pria yang ternyata bisa membeli seluruh harga diri keluarga besar Ibu Rahmi jika dia mau!
"Lalu kenapa sekarang kamu membongkarnya, Mas? Kenapa tidak biarkan aku terus terlihat bodoh menangisi suami miskin yang diinjak-injak keluarganya sendiri?!" air mataku akhirnya pecah. Ada rasa lega melihatnya berdaya, tapi juga marah karena dibohongi.
Noah menarikku ke dalam dekapannya, mengelus punggungku dengan penuh penyesalan.
"Karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku bisa menahan seribu hinaan yang diarahkan padaku sedingin es, tapi aku tidak akan pernah membiarkan satu tetes pun air matamu jatuh karena merendahkan diri demi aku. Masa persembunyianku sudah habis, Zahra."
Mobil tiba-tiba berbelok mulus dan memasuki sebuah gerbang besi raksasa yang dijaga ketat oleh belasan pria berjas hitam. Mataku membelalak melihat sebuah bangunan megah bak istana berdiri angkuh di ujung jalan setapak yang diterangi lampu kristal.
Ponsel di dasbor depan yang terhubung ke speaker kabin tiba-tiba berbunyi.
"Tuan Muda, maaf menyela," suara Pak Dirman terdengar dari speaker.
"Tuan Rian baru saja menelpon ke asisten pribadi Anda dengan panik. Ia memohon belas kasihan karena semua akses kredit perusahaannya dan rekening Ibu Rahmi mendadak dibekukan oleh Bank Sentral Adhitama malam ini juga. Apa instruksi Anda selanjutnya?"
Noah menatap tajam ke luar jendela, rahangnya mengeras sebelum ia menyeringai tipis, memberikan jawaban yang membuat darahku berdesir hebat.
"Katakan pada Rian, jika dia ingin kartu kredit ibunya aktif kembali, mereka berdua harus datang merangkak ke gerbang istanaku besok pagi, dan memohon maaf pada istriku sambil memakan sisa makanan dari dapur pelayanku!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar