"Bangun, Sayang! Bunda pulang bawa robot-robotan yang kamu minta! Katanya kamu mau peluk Bunda, kenapa kamu malah pejamkan mata di sini?!"
Jeritanku memecah isak tangis pelayat yang memenuhi ruang tamu siang itu.
Koper berisi pakaian, makanan ringan, dan mainan impor yang kubeli dengan keringat selama tiga tahun, tergeletak begitu saja di teras. Benda-benda itu tak lagi ada harganya sekarang.
Lututku lemas, tak mampu menopang tubuh saat membaca nama yang tertulis di papan tulis hitam depan rumah: [Telah berpulang ke Rahmatullah, Bintang Pratama.]
Baru tiga jam yang lalu kakiku menginjakkan kaki di bandara.
Aku sengaja tidak memberi kabar pada siapa pun, berniat memberikan kejutan untuk ulang tahun Bintang yang ketujuh esok hari.
Namun, semesta justru memberiku kejutan yang menghancurkan seluruh kewarasanku.
Suamiku, Mas Dimas, segera memelukku erat. Wajahnya basah oleh air mata, mengelus punggungku yang bergetar hebat.
"Sabar, Arini. Istighfar. Ini sudah takdir Bintang. Dia terpeleset dari tangga lantai dua pagi tadi, ini murni kecelakaan, Sayang."
Aku menggeleng keras, menatap tak percaya pada kain hijau yang menutupi tubuh mungil kesayanganku.
Di sudut ruangan, kulihat ibu mertuaku, Bu Lastri, duduk di kursi dengan wajah tertunduk sambil memegang tasbih. Tidak ada isak tangis darinya, hanya raut wajah datar yang selalu ia tunjukkan padaku sejak dulu.
"Tiga tahun aku menahan rindu, Mas! Tiga tahun aku banting tulang menjadi pembantu di negeri seberang demi kalian!" ratapku, memukul pelan dada suamiku dengan sisa tenaga.
"Kenapa kalian tidak menjaganya dengan baik? Kenapa Bintang bisa sampai jatuh?!"
"Namanya juga musibah, Rin. Dia lari-larian dan kurang hati-hati," sahut ibu mertuaku dingin, bahkan tanpa menatap mataku. "Sudahlah, ikhlaskan saja. Menangis darah pun tidak akan membuat anakmu kembali."
Hatiku serasa diiris sembilu mendengar ucapan tanpa simpati itu. Namun, aku terlalu hancur untuk berdebat.
Dengan langkah tertatih, aku pamit sebentar ke arah dapur untuk membasuh wajah dan mengambil segelas air, mencoba menenangkan dada yang sesak napas.
Namun, saat kakiku melewati lorong dekat kamar ibu mertuaku, langkahku terhenti. Pintunya sedikit terbuka.
Samar-samar, aku mendengar suara bisikan dari dalam sana. Mas Dimas menyusul ibunya.
Aku menahan napas, menajamkan pendengaran, dan detik itu juga rasanya duniaku runtuh untuk yang kedua kalinya.
"Ibu benar-benar kelewatan! Kenapa Ibu sampai mendorong Bintang dari tangga?!" Suara Mas Dimas terdengar bergetar, tertahan oleh kepanikan yang luar biasa.
"Kalau sampai Arini tahu Ibu yang sengaja membuatnya jatuh karena anak itu memergoki Ibu menjual perhiasannya, kita tidak akan pernah bisa mencicipi uang kirimannya lagi!"
***
Bab 2
"Mas Dimas, Ibu, kalian sedang membicarakan apa? Kenapa suara kalian terdengar tegang sekali saat Bintang sedang kaku dibungkus kain kafan di luar sana?"
Suaraku bergetar, sengaja kubuat serak dan putus asa. Tanganku yang memegang segelas air putih pura-pura gemetar hingga airnya sedikit menetes ke lantai.
Aku berdiri tepat di ambang pintu kamar ibu mertua yang setengah terbuka, menatap dua manusia di depanku dengan tatapan kosong.
Mas Dimas dan Bu Lastri terlonjak kaget. Wajah suamiku pucat pasi. Ia buru-buru melangkah mendekatiku, merangkul pundakku dengan senyum prihatin yang dipaksakan.
"Arini sayang, sejak kapan kamu berdiri di situ?" suara Mas Dimas terdengar sumbang dan gugup.
"Tadi ... tadi Mas cuma menenangkan Ibu. Ibu terus-terusan menyalahkan diri sendiri karena merasa lalai menjaga Bintang sampai ... sampai Bintang jatuh dari tangga."
Pembohong. Air mataku kembali menetes, tapi kali ini bukan karena duka semata, melainkan amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun.
Aku mendengar semuanya. Aku tahu perempuan tua di hadapanku ini yang sengaja mencelakai darah dagingku demi menutupi aksi pencuriannya.
Dan laki-laki yang berstatus suamiku ini? Dia lebih memilih menutupi kejahatan ibunya demi harta hasil keringatku!
Namun, kewarasanku menahan laju emosi. Jika aku mengamuk sekarang tanpa bukti, mereka bisa dengan mudah membalikkan fakta.
Aku hanya seorang istri yang baru pulang dari luar negeri, linglung, dan berduka.
Tetangga pasti akan mengira aku depresi dan berhalusinasi. Aku harus menelan paku berkarat di tenggorokanku ini dalam-dalam.
Aku harus bermain cantik.
"Kepalaku pusing, Mas. Tolong antar aku ke depan. Aku ingin menemani Bintang untuk terakhir kalinya," isakku, membiarkan tubuh lemasku bersandar pasrah di dada suamiku.
***
Prosesi pemakaman Bintang berlangsung di bawah rintik gerimis sore.
Aku memerankan tugasku dengan sempurna, sebagai ibu yang hancur lebur. Berkali-kali aku nyaris tumbang di samping pusara anakku yang masih basah.
Sementara itu, Mas Dimas terus merangkulku erat, memasang wajah suami paling berduka dan penuh tanggung jawab di hadapan para pelayat, meski aku tahu tangannya di bahuku terasa sedingin es.
***
Malam harinya, rumah terasa sunyi mencekam setelah para tetangga pulang dari acara doa bersama.
Aku duduk termangu di tepi ranjang, memeluk erat baju piyama bermotif dinosaurus milik Bintang yang masih menyisakan wangi bedak bayinya. Dadaku sesak menahan kerinduan yang kini berubah menjadi dendam kesumat.
Tiba-tiba, pintu kamar berderit terbuka tanpa ketukan. Bu Lastri melangkah masuk, diikuti Mas Dimas di belakangnya. Tidak ada lagi gurat kesedihan palsu di wajah ibu mertuaku.
Ia melipat kedua tangannya di dada, berdiri dengan tatapan angkuh yang selama tiga tahun ini berhasil ia sembunyikan di balik panggilan telepon yang selalu terdengar manis.
Aku menatap mereka dengan mata sembab, menunggu apa yang akan dilakukan dua lintah darat ini.
Dan benar saja, ucapan yang keluar dari mulut ibu mertuaku selanjutnya sukses membuat kewarasanku nyaris putus.
"Sudah cukup sandiwaramu meratapi anak itu seharian ini, Arini. Toh menangis darah pun dia tidak akan hidup lagi! Karena Bintang sudah tidak ada, besok pagi-pagi sekali kamu hubungi agenmu. Minta jadwal secepatnya untuk kembali kerja ke luar negeri. Untuk apa kamu berlama-lama di sini, pengeluaran rumah ini kan harus terus jalan!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar