Selasa, 14 April 2026

Istriku Ditabrak Mobil Sampai Meninggal, Ketika Aku Mau Menikah dengan Adik Tirinya, Tiba-tiba Istriku Datang dan Dia Ternyata...

 


Bab 5

"Silakan menjerit sampai kerongkongan Anda putus, Nyonya. Tapi sertifikat rumah megah ini, gedung perusahaan anak Anda, hingga mobil mewah yang terparkir di garasi itu, semuanya sah terdaftar di bawah naungan Adhitama Group."


Suara dingin dan tegas dari pria berjas rapi itu seketika menghentikan raungan histeris Ibuku. 


Hari ini, duniaku benar-benar kiamat. Ancaman Riana di gedung pernikahan kemarin bukanlah gertakan sambal. 


Tepat pukul delapan pagi, lima mobil hitam memasuki pekarangan rumah kami, menurunkan tim pengacara dan petugas penyitaan.


Aku hanya bisa terduduk kaku di sofa ruang tamu. Mataku kosong menatap belasan orang tak dikenal berlalu-lalang, memasukkan barang-barang mewah, vas antik, hingga lukisan mahal ke dalam kotak-kotak besar.


"Kalian tidak bisa melakukan ini! Ini rumah anakku! Perusahaan itu dibangun dengan keringat anakku, bukan perempuan penipu itu!" jerit Ibu lagi, kali ini berusaha merebut sebuah guci porselen dari tangan salah satu petugas.


Pria berjas yang merupakan ketua tim pengacara Riana, aku melihat name tag bernama Haris di dadanya, hanya tersenyum sinis. Ia mengeluarkan sebuah map tebal dan melemparkannya ke atas meja kaca di hadapanku.


"Buka dan baca sendiri, Tuan," ucap Haris dingin, menatap lurus ke arahku. 


"Modal awal perusahaan Anda? Suntikan dana dari perusahaan cangkang milik Adhitama. Klien-klien raksasa yang selama tiga tahun ini Anda banggakan? Semuanya adalah kolega bisnis Tuan Besar Adhitama yang diminta Nona Riana untuk memakai jasa Anda. Anda pikir Anda sukses karena kehebatan Anda sendiri? Tidak. Anda selama ini hanya disuapi oleh wanita yang keluarga Anda perlakukan layaknya pembantu."


Bagaikan ditimpa reruntuhan gedung, tubuhku lemas tak bertulang. Tanganku gemetar saat membuka lembar demi lembar dokumen di dalam map itu. 


Benar. Semuanya benar. Stempel rahasia Adhitama Group ada di setiap proyek besar yang membesarkan namaku.


Riana, istriku yang selalu menunduk patuh saat dimarahi ibuku karena masakannya kurang asin, istri yang selalu memijat bahuku saat aku pulang larut malam, dia adalah penopang seluruh hidupku. 


Dan aku, dengan bodohnya, menghancurkan berlian itu demi pecahan beling bernama Siska.


"Mas! Lakukan sesuatu! Jangan diam saja seperti orang bodoh! Kita mau tinggal di mana kalau rumah ini disita?!" Ibu mengguncang bahuku dengan kasar, air matanya membanjiri wajah keriputnya.


Aku menepis tangan Ibu dengan lelah. Tenagaku seolah menguap tak bersisa. 


"Kita akan kembali ke rumah kontrakan lama kita di pinggiran kota, Bu," jawabku parau. "Sama seperti sebelum aku menikahi Riana."


Ibu terbelalak ngeri mendengarnya, lalu kembali jatuh terduduk di lantai sambil meratapi nasibnya.


Haris menyodorkan sebuah pena mahal ke hadapanku, menyodorkan satu dokumen terakhir bersampul merah. 


Surat gugatan cerai.


Tanpa membaca isinya, tanpa mencoba membela diri, aku menggoreskan tanda tanganku di sana. 


Air mata penyesalan menetes, merusak tinta di atas kertas putih itu. Aku pantas mendapatkan ini. Aku pantas hancur.


Haris mengambil kembali dokumen itu, memeriksanya dengan puas, lalu memasukkannya ke dalam tas kerjanya. 


"Keputusan yang cerdas, Tuan. Setidaknya Anda tidak mempermalukan diri Anda lebih jauh lagi."


Ia berbalik, memberi isyarat kepada timnya untuk bersiap meninggalkan rumah yang kini sudah kosong melompong. 


Namun, tepat di ambang pintu utama, Haris menghentikan langkahnya. Pria itu menoleh dari balik bahunya, menatapku dengan sebuah senyum misterius yang membuat bulu kudukku meremang.


"Tugas saya di sini sudah selesai. Tapi Nona Riana menitipkan satu pesan terakhir untuk Anda, Tuan," ucap Haris, suaranya menggema di ruang tamu yang kini sunyi. 


"Beliau berpesan, 'Katakan padanya untuk menyalakan televisi jam delapan malam ini. Aku ingin mantan suamiku melihat secara langsung, siapa pria berkuasa yang selama ini diam-diam menjagaku, mencintaiku, dan siap menggantikan posisinya malam ini juga.'"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anakku Meninggal Didorong dari Tangga oleh Mertuaku. Aku Baru Pulang Bekerja dari Luar Negeri Mengamuk, Betapa Kagetnya Aku Kalau Ternyata....

  "Bangun, Sayang! Bunda pulang bawa robot-robotan yang kamu minta! Katanya kamu mau peluk Bunda, kenapa kamu malah pejamkan mata di si...