Selasa, 14 April 2026

Suamiku Jatuh Miskin. Dan Diusir Ibunya Karena Dianggap Tak Berguna. Kuberikan Sisa Uangku, tapi Betapa Kagetnya Aku Ketika Suamiku Malah Membawaku ke Rumah Mewah. Ternyata Suamiku adalah...

 


"Bawa istrimu yang kampungan itu dan angkat kaki dari rumah ini! Anak miskin tak berguna!"


Suara melengking Ibu Mertuaku bergema ke seluruh penjuru ruang tamu. 


Sebuah koper usang dilemparkan begitu saja hingga isinya, baju-baju murah milikku dan suamiku, berserakan di lantai marmer yang dingin.


Aku segera berlutut, memunguti pakaian kami dengan mata berkaca-kaca. 


Di sofa, Mas Yuda, kakak suamiku, hanya tersenyum sinis sambil menyesap kopi mahalnya. Tidak ada sedikit pun niat darinya untuk menengahi.


"Bu, usaha Bara memang sedang bangkrut, tapi beri kami waktu beberapa hari saja untuk mencari kontrakan," ujarku memelas, menelan harga diriku demi pria yang berdiri mematung di sebelahku.


"Cuih! Menumpang di sini lalu makan dari uang Yuda? Tidak sudi!" Ibu mertuaku melipat tangan di dada, menatap kami penuh jijik. 


"Bara itu cuma benalu! Bisnis kecil-kecilan saja hancur, beda jauh dengan Yuda yang baru saja diangkat jadi Manajer di Grup Artha. Sekarang, pergi kalian!"


Aku menatap Bara, suamiku. Pria itu menunduk, wajahnya tertutup bayangan poni rambutnya. Tangannya mengepal erat, entah karena menahan marah atau malu. 


Tanpa berpikir panjang, aku meraih tangannya yang dingin.


"Ayo, Mas. Kita pergi," bisikku pelan namun mantap. "Kita tidak butuh belas kasihan mereka."


***


Malam itu, kami berjalan menyusuri trotoar di bawah langit yang mulai mendung. 


Bara sedari tadi hanya diam. Tiba-tiba, ia berhenti melangkah dan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Maafkan aku, Naya. Gara-gara aku, kamu ikut diusir. Aku benar-benar tidak punya apa-apa lagi sekarang," ucapnya lirih.


Dadaku sesak melihatnya. Aku merogoh dasar tas selempangku, mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah lecek. 


Kutarik tangan Bara dan kuletakkan amplop itu di telapak tangannya.


"Ini apa?" tanyanya kaget.


"Ini sisa tabunganku dari hasil jualan kue kering, Mas. Ada sekitar lima juta," ucapku sambil tersenyum tipis, berusaha menguatkannya. 


"Ambil saja semuanya. Pakai untuk kita sewa kos-kosan kecil dan makan sebulan ke depan. Nggak apa-apa mulai dari nol lagi, Mas. Asal kita sama-sama, aku yakin Mas pasti bisa bangkit."


Bara menatap amplop itu cukup lama. Jakunnya naik turun. 


Perlahan, senyum yang sama sekali tidak terlihat seperti senyum pria putus asa mengembang di bibirnya. Sorot matanya yang tadi redup mendadak berubah tajam dan penuh wibawa.


"Kamu memberikan seluruh uang terakhirmu untuk pria yang baru saja dibuang keluarganya?" tanyanya dengan nada yang anehnya. 


"Karena kamu suamiku."


Bara tertawa pelan. Ia tiba-tiba melambaikan tangan, menghentikan sebuah taksi mewah kelas premium yang kebetulan lewat. Ia membukakan pintu untukku. 


"Naiklah."


"Mas! Taksi ini argo mahal! Uang kita—"


"Masuk saja, Sayang," potongnya lembut namun dengan otoritas yang tak bisa kubantah.


Di dalam taksi, Bara menyebutkan sebuah alamat yang membuat jantungku nyaris copot. 


Itu adalah kawasan perumahan paling elit di kota ini, tempat tinggal para triliuner yang harga tanah per meternya tak masuk akal.


Sepanjang jalan aku terus meremas ujung bajuku karena panik, tapi Bara malah menggenggam tanganku dengan santai. 


Tiga puluh menit kemudian, taksi berhenti di depan sebuah gerbang besi raksasa bercat emas.


Aku bersiap meminta maaf pada supir taksi jika kami tak bisa membayar, tapi mataku terbelalak melihat apa yang terjadi di luar jendela. 


Enam orang satpam berbadan tegap yang berjaga di gerbang itu tiba-tiba berbaris rapi. 


Saat kaca jendela Bara turun, mereka semua membungkuk hormat. Gerbang raksasa itu terbuka otomatis.


Taksi melaju masuk, melewati taman berair mancur, sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah rumah megah bergaya Eropa modern yang membuatku menahan napas. 


Beberapa pelayan berseragam sudah berdiri berjejer di depan pintu utama.


Bara turun, membayar taksi dengan segepok uang seratus ribuan dari saku jasnya, entah dari mana ia mendapatkannya, lalu membukakan pintu untukku. Kakiku gemetar saat melangkah keluar.


"Mas, kita di mana? Ini rumah siapa? Kenapa satpam dan pelayan itu menunduk padamu?" tanyaku dengan suara tercekat, menatap suamiku seolah ia adalah orang asing.


Bara tersenyum penuh arti. Ia merangkulkan satu tangannya di pinggangku, menarikku mendekat, lalu berbisik tepat di telingaku dengan nada yang sanggup membuat seluruh dunia Ibu mertuaku dan Mas Yuda runtuh seketika.


"Selamat datang di rumah kita, Naya. Maaf aku berpura-pura miskin selama ini. Sudah saatnya kamu tahu, kalau pemilik Grup Artha yang sebenarnya adalah ..."


***


Bab 2

"Aku. Pemilik tunggal Grup Artha yang sebenarnya adalah aku, Naya. Pria yang baru saja ditendang dan dihina habis-habisan oleh keluarganya sendiri."


Kakiku lemas seketika. Jika bukan karena lengan kokoh Bara yang menahan pinggangku, aku pasti sudah luruh ke lantai. 


Napasku tertahan, mataku membulat sempurna menatap pria yang selama tiga tahun ini tidur di sampingku di atas kasur lipat yang tipis.


Bara yang selalu memakai kaus pudar dan tersenyum sabar setiap kali Ibu Mertuaku mencacinya, adalah seorang triliuner?


Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi berjalan cepat dari arah pintu utama, lalu menunduk hormat di hadapan kami. 


"Selamat datang kembali di rumah Anda, Tuan Muda Bara. Nyonya Naya, mari silakan masuk. Kami sudah menyiapkan air hangat dan makan malam untuk Anda berdua."


Bara mengangguk pelan. Ia menuntunku melewati pintu kayu jati raksasa itu. 


Begitu masuk, aku dibuat tercengang oleh kemewahan yang terpampang di depan mata. Lampu gantung kristal raksasa menyala keemasan, tangga melingkar berlapis karpet merah tebal, dan perabotan antik yang nilainya pasti setara dengan harga ratusan rumah subsidi.


Aku masih mengenakan daster katun murah dan sandal jepit tipis, berdiri di tengah ruangan bak istana ini. Rasanya sangat salah tempat.


"Mas, aku tidak mengerti." Suaraku bergetar saat pelayan itu pamit undur diri, menyisakan kami berdua di ruang tengah. 


"Kalau kamu sekaya ini, kenapa kamu membiarkan kita hidup susah? Kenapa kamu membiarkan Ibumu dan Mas Yuda terus menginjak-injak harga diri kita?"


Bara menuntunku duduk di sofa kulit yang sangat empuk. Ia berlutut di lantai, tepat di depanku, lalu menggenggam kedua tanganku erat. Matanya menatapku dengan kelembutan yang luar biasa dalam.


"Maafkan aku, Sayang," ucapnya lirih. 


"Almarhum Kakek mewariskan seluruh pemegang saham mayoritas dan aset utama keluarga untukku, bukan untuk Mas Yuda atau Ibu. Kakek tahu sifat asli mereka yang serakah dan hanya peduli pada uang. Kakek memintaku menyembunyikan ini sampai aku benar-benar siap."


Bara menghela napas panjang. 


"Aku sengaja memalsukan kebangkrutan bisnis kecilku itu untuk menguji mereka. Aku ingin melihat, apakah Ibu dan darah dagingku sendiri mau menampungku saat aku jatuh miskin. Dan malam ini, terbukti. Mereka membuang kita seperti sampah."


Air mataku menetes tanpa bisa ditahan. Mengingat koper kami dilempar dan kata-kata kasar Ibu Mertuaku tadi membuat dadaku kembali sesak.


Tangan besar Bara terangkat, mengusap air mataku dengan ibu jarinya. 


"Tapi dari ujian ini, aku mendapatkan berlian yang sesungguhnya. Kamu, Naya. Kamu rela memberikan sisa uang lima jutamu yang berharga demi pria tak berguna ini. Kamu bertahan di sisiku di saat keluargaku sendiri meludahiku."


Bara bangkit, lalu mengecup keningku cukup lama. 


"Mulai detik ini, penderitaanmu berakhir. Aku berjanji, orang-orang yang merendahkanmu malam ini akan berlutut di kakimu."


Belum sempat aku membalas ucapannya, pria bersetelan jas tadi, yang kutahu bernama Pak Reno, asisten pribadi Bara, masuk kembali ke ruangan membawa sebuah tablet canggih.


"Maaf mengganggu, Tuan Muda," ucap Pak Reno sambil menyerahkan tablet tersebut. 


"Ibu Anda baru saja memperbarui status sosial medianya. Beliau mengadakan syukuran besar-besaran di rumah untuk merayakan pengangkatan Tuan Yuda sebagai Manajer Cabang di Grup Artha besok pagi. Beliau juga menuliskan sindiran terang-terangan yang menjelek-jelekkan Anda dan Nyonya Naya di sana."


Bara mengambil tablet itu, membaca layar sejenak. Rahangnya mengeras, tapi anehnya, ada senyum miring yang terbit di bibirnya. 


Sebuah senyuman berbahaya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia mengembalikan tablet itu pada Pak Reno.


"Biarkan Ibuku menikmati panggung kesombongannya malam ini, Reno," bisik Bara dengan senyum dingin yang membekukan darah. 


"Karena besok pagi, aku sendiri yang akan menyeret anak kesayangannya itu keluar dari gedung perusahaanku, tepat di detik pertama ia duduk di kursi manajernya."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Istriku Ditabrak Mobil Sampai Meninggal, Ketika Aku Mau Menikah dengan Adik Tirinya, Tiba-tiba Istriku Datang dan Dia Ternyata...

  Bab 5 "Silakan menjerit sampai kerongkongan Anda putus, Nyonya. Tapi sertifikat rumah megah ini, gedung perusahaan anak Anda, hingga ...