Senin, 04 Mei 2026

Mayat istri dan anakku ditemukan membusuk di hutan. Padahal baru kemarin aku tinggal untuk jualan di kota. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa gerak-gerik ibuku mencurigakan?

 


"Waktu perkiraan kematiannya sudah lebih dari dua belas hari, Pak Arka. Kondisi jenazah sudah mengalami pembusukan lanjut. Berdasarkan struktur gigi, sisa pakaian, serta cincin kawin berukir nama 'Arka & Shena' yang masih melekat di jari manis kerangka tersebut, kami sangat yakin ini adalah jenazah istri dan anak Anda."


Dunia di sekelilingku berhenti berputar. Udara di ruang forensik yang dingin dan berbau formalin ini mendadak terasa mencekik tenggorokan. Kakiku kehilangan pijakan, membuatku luruh ke lantai yang dingin.


"Bapak gila?!" Aku berteriak, suaraku pecah hingga menggema di dinding ruangan. Aku mencengkeram ujung meja besi tempat dua kantong jenazah itu diletakkan. 


"Dua belas hari?! Komandan, baru kemarin subuh saya berangkat jualan ke kota! Kemarin! Bukan dua minggu yang lalu!"


Polisi berpakaian preman itu menatapku dengan sorot iba, namun tegas. 


"DNA tidak mungkin berbohong, Pak Arka."


"Tapi kemarin saya masih mencium pipi anak saya!" Tangisku pecah, dadaku naik turun menahan sesak yang luar biasa. 


"Istri saya ... Shena. d

Dia masih membuatkan saya kopi! Dia memakaikan jaket ke tubuh saya sebelum saya pamit! Mana mungkin mereka membusuk dalam waktu sehari?!"


Pikiranku kacau balau. Aku memang jarang pulang karena berjualan, setiap dia minggu sekali aku pulang, dan baru kemarin jadwalnya. 


Memoriku berputar kembali ke subuh kemarin. 


Semuanya terasa begitu nyata. Aroma kopi hitam kesukaanku, dinginnya embun pagi, dan gundukan selimut di atas ranjang tempat Gio, anakku yang baru berusia empat tahun, terlelap.


Tunggu.


Napas saya tiba-tiba tercekat saat sebuah kejanggalan menampar kewarasanku.


Kemarin ini setiap subuh ... lampu kamar sengaja dimatikan. Ruangan sangat gelap. Dan yang menyodorkan secangkir kopi kepadaku di dapur bukanlah Shena.


Melainkan Ibuku.


"Shena kecapekan, Arka. Semalaman dia mengurus Gio yang rewel. Biarkan dia tidur, Ibu saja yang menyiapkan bekalmu," begitu kata Ibu kemarin pagi.


Aku memang masuk ke kamar untuk pamit. Aku melihat dua gundukan di balik selimut tebal. 


Aku mengecup apa yang kukira sebagai puncak kepala anak dan istriku di tengah kegelapan, lalu pergi begitu saja karena buru-buru mengejar jadwal kereta ke kota.


Lalu siapa yang membalas pesan WhatsApp-ku tadi malam? 


Semalam Shena masih mengetik pesannya dengan manja, mengabarkan kalau Gio minta dibelikan mainan mobil-mobilan baru.


Jika istri dan anakku sudah tewas membusuk di hutan pinus sejak dua belas hari yang lalu, lalu siapa yang tinggal di rumah bersamaku selama ini?!


***

Bab 2

Dengan tangan gemetar dan pandangan yang kabur oleh air mata, aku berlari keluar dari rumah sakit. 


Aku mengemudikan mobil pick-up bututku dengan kesetanan menembus derasnya hujan. 


Aku harus pulang. Aku butuh penjelasan. Pikiranku terus tertuju pada satu-satunya orang yang ada di rumah itu bersama Shena dan Gio sebelum aku berangkat.


Mamaku sendiri. Mama Sarah.


Begitu mobilku berhenti di pekarangan, aku langsung melompat turun. Pintu depan tidak terkunci. Aku menerobos masuk.


Aneh. Rumah ini terlalu bersih.


Aroma karbol dan pemutih pakaian yang sangat menyengat langsung menusuk indra penciumanku, mengalahkan aroma hujan dari luar. 


Lantai ruang tamu basah dan mengkilap, seolah baru saja disikat berkali-kali.


Di sudut dapur, Mama Sarah berdiri membelakangiku. Wanita paruh baya itu sedang asyik memasak sesuatu di atas wajan, bersenandung kecil menyanyikan lagu lawas dengan nada yang riang gembira.


Pinggulnya bergoyang ringan, seolah tak ada beban di dunia ini.


"Ma," panggilku dengan suara serak dan bergetar.


Mama Sarah membalikkan badannya. Ia tersenyum sangat lebar melihat kedatanganku. 


Senyum yang Entah mengapa membuat bulu kudukku meremang. 


Mataku tanpa sengaja tertuju pada pergelangan tangan kanannya. 


Gelang emas putih dengan bandul huruf 'S' yang kubelikan untuk ulang tahun Shena bulan lalu, kini melingkar manis di pergelangan tangan ibuku.


"Eh, anak kebanggaan Mama sudah pulang dari kota?" sapanya dengan nada kelewat ceria. Ia mengambil lap bersih, mengelap tangannya dengan santai. 


"Kebetulan sekali, Mama masak daging kesukaanmu, Arka."


Aku menelan ludah. Tubuhku gemetar hebat. 


"Ma, polisi baru saja menelepon. Jenazah Shena dan Gio ditemuin membusuk di hutan, Ma."


Aku menunggu reaksi terkejutnya. Aku menunggu ibuku menjerit histeris atau menangis tak percaya seperti layaknya seorang nenek yang kehilangan cucunya. 


Tapi tidak. Wajahnya sama sekali tidak berubah. Tidak ada keterkejutan, tidak ada kesedihan.


Mama Sarah hanya memiringkan kepalanya sedikit, menatapku dengan tatapan kosong yang mengerikan. 


Senyum di bibirnya perlahan berubah menjadi seringai tipis.


"Syukurlah kalau sudah ditemukan polisi, Arka. Berarti mulai malam ini Mama sudah tidak perlu lagi repot-repot mengetik pesan WhatsApp membalas chat-mu pakai HP istrimu, kan? Jari Mama sampai pegal meniru gaya bicara perempuan udik itu selama dua belas hari ini."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mayat istri dan anakku ditemukan membusuk di hutan. Padahal baru kemarin aku tinggal untuk jualan di kota. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa gerak-gerik ibuku mencurigakan?

  "Waktu perkiraan kematiannya sudah lebih dari dua belas hari, Pak Arka. Kondisi jenazah sudah mengalami pembusukan lanjut. Berdasarka...