Senin, 04 Mei 2026

(16) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


"Pantas saja dia tega membiarkan istri dan darah dagingku mengemis setetes air matang, sementara putrinya tidur beralaskan kasur miliaran rupiah. Ternyata, selama tiga puluh tahun ini, aku hanyalah mesin pencetak uang yang dipungut untuk membiayai keserakahan mereka berdua."


Kertas hasil tes DNA itu jatuh begitu saja ke atas meja kerjaku. Tubuhku bersandar kaku pada kursi kulit, menatap langit-langit ruangan dengan pikiran yang bergemuruh hebat.


Bertahun-tahun aku menahan rindu, mempertaruhkan nyawa di tengah ganasnya ombak lautan demi mengirimkan setiap sen hasil keringatku untuk wanita yang kupanggil 'Ibu'. 


Rasa bersalah karena harus meninggalkannya selalu menghantuiku setiap malam di perantauan. 


Namun kenyataannya? Aku tak lebih dari sekadar sapi perah yang sengaja dibesarkan tanpa setetes pun ikatan darah.


Galen berdiri diam di seberang meja, memberikan waktu bagiku untuk mencerna fakta yang menampar kewarasanku malam ini.


"Panggil Rini ke ruangan ini sekarang," titahku memecah keheningan. Suaraku terdengar serak dan sangat berat. 


"Pasti ada alasan mengapa wanita tua itu membawaku ke dalam keluarganya dan menyembunyikan identitas asliku."


Galen mengangguk hormat dan segera bergegas keluar.

Tak butuh waktu lama, pintu ruang kerjaku kembali terbuka. 


Mbak Rini melangkah masuk dengan bahu bergetar. Seragam pekerja abu-abunya tampak kusut, dan wajahnya dipenuhi raut ketakutan yang luar biasa. Matanya melirik ragu ke arah kertas berlogo rumah sakit di atas mejaku.


"A-ada apa, Danu? Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku di dapur," cicit Rini, menunduk tak berani menatap mataku.


Aku menatapnya datar, lalu menggeser kertas hasil tes DNA itu ke ujung meja, tepat di hadapannya.


"Bacalah, Rini. Dan setelah itu, aku ingin kamu menceritakan semua hal yang kamu ketahui tentang masa laluku. Jangan mencoba berbohong sedikit pun, atau aku pastikan sisa utang miliaranmu akan ditagih paksa ke pengadilan besok pagi," ancamku halus namun menusuk.


Tangan Rini yang kasar akibat cairan pembersih lantai perlahan meraih kertas itu. Detik berikutnya, matanya membelalak sempurna. 


Kertas itu bergetar hebat dalam genggamannya. Napasnya tercekat, dan ia menatapku dengan wajah pucat pasi seolah baru saja melihat hantu.


"K-kamu ... kamu sudah tahu?" bisiknya dengan bibir bergetar.


"Aku bukan anak kandung Maryam. Aku bukan adikmu," balasku dingin. "Dari mana ibumu memungutku, Rini? Jawab sekarang."


Air mata Rini langsung tumpah. Hilang sudah sisa-sisa keangkuhannya. Di bawah tekanan bukti medis dan posisinya yang tak lebih dari seorang pekerja pengemban utang, ia tak punya celah untuk berkelit.


"I-Ibu tidak memungutmu, Danu," isak Rini, suaranya pecah oleh ketakutan. "Tiga puluh tahun lalu, Ibu bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah keluarga yang sangat kaya raya. Keluarga itu baru saja merayakan kelahiran anak laki-laki pertama mereka. Tapi ... tapi suatu malam, rumah tangga mereka hancur karena fitnah, dan di tengah kekacauan itu, Ibu diam-diam membawamu kabur."


Darahku seakan berhenti mengalir mendengarnya. 


"Dia menculikku?" desisku tajam.


Rini menggeleng panik, mencoba mencari pembenaran. 


"Ibu selalu beralasan pada orang-orang bahwa dia mengadopsi anak yatim piatu! Suami Ibu sudah meninggal, dan kami hidup sangat miskin. Ibu bilang, kalau kami punya anak laki-laki, saat besar nanti kamu bisa disuruh bekerja keras menanggung hidup kami. Maafkan aku, Danu. Aku tahu sejak aku remaja, tapi Ibu melarangku bicara."


Tanganku mengepal kuat di bawah meja. Betapa licik dan serakahnya wanita tua itu. Ia merenggutku dari keluarga asliku, membiarkanku hidup dalam kepalsuan, hanya agar saat aku dewasa, aku bisa mengorbankan nyawaku untuk mendanai gaya hidup mewah mereka, sementara ia menyiksa istri dan anakku yang tak bersalah.


"Galen," panggilku, berusaha mengendalikan emosi yang nyaris meledak.


"Tuan," sahut asistenku sigap.


"Bawa Rini kembali ke kamarnya. Mulai besok, pastikan ia tidak bisa menghubungi siapa pun di luar rumah ini."


Setelah Rini dibawa keluar dengan langkah terseok, ruang kerja kembali sunyi. Namun, pikiranku tidak lagi berada di ruangan ini. 


Ada keluarga di luar sana yang mungkin menangisi kehilanganku selama tiga dekade. Ada orang tua kandung yang merana karena ulah mantan asisten rumah tangga mereka.


"Tuan Danu," Galen kembali masuk ke ruangan, menyela lamunanku. Wajah pria itu terlihat lebih tegang dari biasanya, menatap layar tabletnya dengan dahi berkerut. 


"Sembari Anda menginterogasi Rini tadi, tim intelijen kita langsung melakukan pencocokan DNA Anda ke dalam basis data medis nasional dan internasional untuk melacak keluarga biologis Anda."


Aku segera mendongak. "Apa ada hasilnya?"


"Sangat mengejutkan, Tuan," Galen menelan ludah, sebuah pemandangan langka bagi asistenku yang selalu berdarah dingin itu. Ia memutar layar tabletnya ke arahku. 


"DNA Anda memiliki kecocokan sembilan puluh sembilan koma sembilan persen dengan seorang konglomerat besar. Seseorang yang sangat Anda kenal."


Aku menatap foto seorang pria paruh baya berwibawa yang terpampang di layar tablet. Pria yang kapalnya pernah kuselamatkan di Taiwan. 


Pria yang mengangkatku menjadi anak didik, dan tanpa alasan yang masuk akal, dengan sukarela mewariskan separuh kerajaan bisnis perikanannya kepadaku tiga tahun lalu.


Napas ku tercekat di tenggorokan.


"Siapkan jet pribadi kita malam ini juga, Galen. Kita harus segera terbang ke Taiwan menemui taipan maritim yang sudah menjadikan aku pewarisnya itu, karena sepertinya, pria tua yang selama ini kupanggil bos, adalah ayah kandungku sendiri."


***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar