Selasa, 05 Mei 2026

Aku dan suami hidup miskin dan melarat, bahkan tak dianggap di keluarga besar. Kukira kami akan miskin selamanya, sampai akhirnya koin emas milik ibuku mengubah hidup kami...

 


"Jauhkan tangan kotormu dari meja ini, Alin! Harga taplaknya saja setara dengan gaji suami melaratmu itu selama sepuluh tahun!"


Sentakan keras dari Tante Sarah membuat seluruh pasang mata di ruang tamu mewah itu menatapku tajam. 


Aku buru-buru menarik tanganku yang baru saja hendak menyusun piring kotor. 


Di sebelahku, Gio, suamiku, hanya bisa menunduk dalam-dalam sambil terus membersihkan sisa makanan yang tumpah di lantai dengan kain lap kusamnya.


Hari ini adalah acara arisan keluarga besar. Namun, jangankan diundang sebagai tamu, aku dan Gio hanya dipanggil untuk menjadi "babu dadakan". 


Keluarga besarku tak pernah menganggap kami ada sejak aku memutuskan menikah dengan Gio, seorang pria yang saat itu hanyalah pekerja serabutan. 


Di mata mereka, kami adalah aib. Kasta terendah yang hanya pantas menerima hinaan.


"Udah, Ma, biarin aja. Nanti kalau piringnya pecah, mereka mana mampu ganti. Kos-kosan sempit mereka saja sudah nunggak dua bulan, kan?" timpal Bella, sepupuku, sambil tertawa sinis.


Dadaku sesak. Mataku memanas. Aku melirik Gio yang rahangnya mengeras, tapi ia menelan semua egonya dan kembali tersenyum pahit, menatapku dengan isyarat 'tidak apa-apa, sabar ya'.


Malam itu, kami pulang menembus gerimis dengan sepeda motor tua Gio yang knalpotnya sudah bocor. 


Sesampainya di petak kos-kosan kami yang pengap dan atapnya bocor di sudut ruangan, pertahananku akhirnya runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya di tepi kasur tipis kami.


"Maafkan aku, Alin," bisik Gio parau. Ia berlutut di depanku, mengusap air mataku dengan tangannya yang kasar. 


"Aku suami yang gagal. Jangankan membahagiakanmu, aku bahkan belum bisa membungkam mulut mereka yang selalu menghinamu."


Aku menggeleng pelan, memeluk pundaknya yang bergetar. Kami sudah berusaha. Gio banting tulang dari pagi sampai malam, tapi hutang almarhum ayahku terus mencekik leher kami.


Dalam rasa putus asa yang memuncak, pandanganku tertuju pada sebuah kotak kayu usang di sudut lemari pakaian. Kotak peninggalan almarhumah Ibuku.


"Simpan ini, Nduk. Jangan pernah dibuka kecuali kamu merasa dunia sudah benar-benar menghancurkanmu dan tak ada lagi jalan keluar," pesan Ibu saat itu terngiang di telingaku.


Dengan tangan gemetar, aku beranjak dan meraih kotak berdebu itu. Saat kubuka, di dalamnya ternyata ... 


***

Di dalamnya hanya ada secarik kain beludru hitam yang membungkus sebuah koin. Sebuah koin emas kusam dengan ukiran singa gagah dan inisial huruf 'M' yang terlihat tua.


"Koin apa ini, Lin?" Gio mendekat, menatap benda di tanganku dengan kening berkerut bingung. Ia mengambilnya, mengamatinya di bawah cahaya lampu kos yang remang-remang. 


"Tulisannya aneh. Ini ... kayaknya cuma koin kuningan biasa peninggalan ibu kamu."


Aku menghela napas panjang, tersenyum miris. 


"Entahlah, Yo. Tapi besok kita coba bawa ke toko barang antik di pusat kota. Siapa tahu laku seratus atau dua ratus ribu. Lumayan buat beli beras dan cicil tunggakan kos kita."


Gio mengangguk setuju. Ia tersenyum hangat berusaha menenangkanku walau sorot matanya menyiratkan keputusasaan yang sama. 


Kami benar-benar tidak tahu benda apa yang ada di genggaman kami malam itu.


***


Keesokan paginya, berbekal nekat, aku dan Gio melangkah masuk ke sebuah toko barang antik besar di pusat kota. 


Baru saja kami berdiri di depan meja kasir, seorang penilai barang dengan kacamata tebal menatap kami dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan.


"Maaf, toko kami tidak menerima barang rongsokan. Kalau mau jual kuningan bekas, ke tukang loak saja di ujung jalan," usir pria itu dengan nada bosan.


"Tolong dilihat dulu sebentar, Pak," ucap Gio sabar, walau tangannya mengepal menahan malu. 


"Istri saya mau menjual koin kuno peninggalan ibunya."


Sambil berdecak kesal, pria itu merampas koin dari tanganku. 


"Paling-paling koin imitasi dari—"


Kalimatnya terhenti. Mulutnya ternganga. Ia tiba-tiba menyambar kaca pembesar di atas mejanya, meneliti lambang singa di koin itu dengan tangan yang mulai bergetar hebat. 


Keringat dingin seketika mengucur membasahi pelipisnya.


Sikap arogannya lenyap tak berbekas. Ia buru-buru keluar dari balik meja kasir, lalu membungkuk hormat hingga sembilan puluh derajat di hadapanku dan Gio.


"N-Nyonya, Tuan." Suaranya bergetar menahan keterkejutan yang luar biasa. 


"D-dari mana kalian mendapatkan Koin Mangkuluhur ini?"


Aku dan Gio saling berpandangan bingung. 


"Itu peninggalan ibu saya. Memangnya itu koin apa?"


Pria itu menelan ludah dengan susah payah, menatap kami dengan pandangan takjub sekaligus penuh hormat. 


"Ini bukan sembarang koin, Nyonya! Konglomerat di negara ini, Keluarga Besar Mangkuluhur, telah mengerahkan orang-orangnya selama puluhan tahun untuk mencari koin ini ke seluruh penjuru negeri! Ini adalah bukti bahwa pemilik koin ini pernah menolong nyawa leluhur mereka di masa lalu. Dan siapapun yang datang membawa benda ini, Keluarga Mangkuluhur telah bersumpah akan mengabulkan permintaan apa pun, dan menjamin seluruh kehidupan Anda dalam kemewahan tanpa batas!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(4) Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

  "Bukan cuma kafe kebanggaanmu yang akan gulung tikar hari ini, Tuan Yoga. Tapi rumah mewah tempat ibumu bersandiwara ini juga akan ka...