Selasa, 05 Mei 2026

(17) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


"Tiga tahun lamanya Anda mengajariku cara memimpin perusahaan raksasa dan menaklukkan persaingan bisnis laut, namun mengapa Anda tidak pernah memberitahuku satu hal yang paling penting, bagaimana caranya memanggil Anda dengan sebutan 'Ayah'?"


Suaraku memecah keheningan di dalam ruang kerja megah berdinding kaca yang menghadap langsung ke perairan laut lepas Taiwan.


Di seberang meja kayu mahoni yang besar, Tuan Haris Wijaya, taipan maritim yang selama ini kupanggil bos dan mentor, terpaku kaku. 


Cangkir keramik berisi teh oolong hangat yang baru saja hendak ia sesap, terlepas dari tangannya dan pecah berkeping-keping di atas karpet tebal.


Aku melangkah maju dengan dada yang bergemuruh hebat, meletakkan map berisi hasil tes DNA yang kubawa langsung dari Jakarta ke atas mejanya.


Kutinggalkan Sari dan Bintang di rumah dengan penjagaan ketat, lalu terbang membelah langit malam menggunakan jet hanya demi menuntut sebuah kebenaran yang direnggut dariku tiga puluh tahun lalu.


Tuan Haris menatap map itu dengan tangan gemetar. Wajahnya yang selalu memancarkan aura penguasa itu kini memucat. 


Perlahan, ia membuka map tersebut. Matanya menyusuri deretan kalimat medis di sana, sebelum akhirnya berhenti pada angka kecocokan yang nyaris seratus persen.


Napas pria paruh baya itu tercekat. Setetes air mata yang tak pernah kulihat sebelumnya, jatuh menetes membasahi kertas tersebut.


"D-Danu?" bisiknya parau, mendongak menatapku dengan mata yang memerah.


Aku menelan ludah, menahan bongkahan emosi yang menyumbat tenggorokanku. 


"Mantan asisten rumah tangga Anda, Maryam, adalah wanita yang selama ini kuberi nafkah dan kupanggil Ibu. Tiga puluh tahun yang lalu, saat keluarga Wijaya sedang berada di titik hancur, dia membawaku lari ke Indonesia."


Tuan Haris bangkit dari kursi kebesarannya dengan langkah terhuyung. Ia berjalan memutar meja, lalu tanpa ragu merengkuh tubuhku ke dalam pelukan yang begitu erat dan hangat. 


Tangisnya pecah, sebuah tangisan dari seorang ayah yang kehilangan separuh jiwanya selama tiga dekade.


"Pantas saja," isak Tuan Haris, menepuk punggungku pelan dengan kasih sayang yang luar biasa. 


"Pantas saja saat pertama kali aku melihatmu di pelabuhan dulu, ada tarikan batin yang begitu kuat. Kamu memiliki mata ibumu, Danu. Mata istriku yang sangat kucintai."


Aku membalas pelukannya, membiarkan pertahananku runtuh sejenak. Inilah rasanya dekapan seorang ayah.


***


Setelah emosi kami sedikit mereda, Tuan Haris menyuruhku duduk. Ia menatapku lekat-lekat, seolah takut aku akan menghilang lagi jika ia mengedipkan mata.


"Tiga puluh tahun lalu, keluarga kita dijebak dalam sebuah skandal manipulasi saham terbesar oleh pesaing bisnis. Semua aset kita dibekukan, rumah utama kita disita paksa oleh pengadilan," jelas Tuan Haris dengan suara bergetar menahan kepedihan masa lalu. 


"Di tengah kekacauan penyitaan dan kerumunan massa hari itu, Maryam yang bertugas menjagamu diam-diam membawamu kabur. Kami mengira kamu hilang di tengah keramaian. Ibumu jatuh sakit karena duka yang sangat mendalam akibat kehilanganmu, hingga akhirnya ia meninggal beberapa tahun kemudian."


"Maryam sengaja menyembunyikan identitasku dan mengaku sebagai ibu angkatku, hanya agar saat aku dewasa, aku bisa dijadikan sapi perahnya," ucapku tenang, lidahku masih sedikit canggung namun hatiku terasa ringan memanggil pria ini dengan sebutan ayah. 


"Tapi Ayah tidak perlu khawatir. Dia sudah mendapatkan ganjaran hukumnya di Jakarta atas kasus pencemaran nama baik, dan anak perempuannya kini harus bekerja tanpa henti untuk melunasi utang padaku."


"Tentu saja itu tidak cukup Danu, Ayah akan buat perhitungan lebih daripada yang mereka pikirkan."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar