Kamis, 07 Mei 2026

(4) Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

 


"Bukan cuma kafe kebanggaanmu yang akan gulung tikar hari ini, Tuan Yoga. Tapi rumah mewah tempat ibumu bersandiwara ini juga akan kami segel tepat dalam kurun waktu enam puluh menit."


Suara bariton yang berat dan dingin itu seolah menghentikan pasokan oksigen ke paru-paruku.


Ponsel di tanganku, yang baru saja terputus dari panggilan Hani, merosot dan jatuh berdebum ke lantai marmer.


Di ambang pintu kamar Mama, berdiri seorang pria jangkung berjas navy dengan potongan rambut rapi dan rahang tegas. Auranya begitu mengintimidasi, membuatku seketika merasa kerdil di rumahku sendiri.


"Siapa kamu berani masuk ke rumahku sembarangan?!" jerit Mama. Ia melangkah maju dengan sisa-sisa keangkuhannya, meski wajahnya sudah sepucat mayat. 


Pria tampan itu tersenyum tipis, senyum merendahkan yang sama sekali tidak mencapai matanya. Ia melangkah masuk, lalu menyodorkan sebuah kartu nama beraksen emas yang terlihat sangat mahal tepat di depan dadaku.


"Perkenalkan, nama saya Wendi. Kuasa hukum pribadi Nyonya Hani Larasati," ucap pria itu lugas.


Mataku terbelalak membaca deretan nama firma hukum Wendi di kartu tersebut. 


Wendi? Pengacara kelas atas dari ibukota ini mewakili Hani? 


Hani, istriku yang bajunya selalu bau margarin dan tangannya penuh bekas luka panggangan oven?


"Nyonya Hani memerintahkan saya untuk mengurus proses hukum terkait penggelapan uang asuransi oleh ibu Anda," lanjut Wendi tanpa ampun, melemparkan sebuah map tebal ke atas kasur Mama. 


"Selain itu, Nyonya Hani selama ini yang diam-diam melunasi bunga pinjaman bank atas sertifikat rumah ini yang digadaikan ibu Anda kepada rentenir. Karena talak sudah Anda jatuhkan semalam, Nyonya Hani mencabut semua aliran dananya. Pihak bank akan datang untuk proses penyitaan siang ini juga."


"T-tidak mungkin! Perempuan miskin itu tidak mungkin punya uang sebanyak itu!" 


Mama memekik histeris, memegangi kepalanya sebelum matanya mendelik ke atas dan tubuhnya ambruk ke lantai. Pingsan.


Namun, demi Tuhan, aku tak lagi mempedulikan Mama. 


Rasa panik, kebingungan, dan penyesalan yang luar biasa kini menelan kewarasanku. 


Aku berlari keluar rumah bak orang kesetanan, melompat ke dalam mobil, dan menginjak pedal gas dalam-dalam menuju rumah mertuaku di perkampungan padat penduduk.


Sepanjang jalan, dadaku sesak. Aku akan meminta maaf. Aku akan memohon agar Hani memberiku kesempatan kedua dan menjelaskan semua kesalahpahaman ini.


Namun, saat aku tiba di gang sempit itu, rumah sederhana bercat hijau pudar tersebut sudah terkunci rapat. Kosong melompong.


"Loh, Mas Yoga nyari Mbak Hani?" sapa seorang ibu tetangga yang sedang menyapu halaman. 


"Nggak tahu toh, Mas? Tadi subuh ada tiga mobil mewah jemput Bapak dan Ibu. Kata orang-orang bawaannya, Mbak Hani udah pindah ke kawasan elit. Ya ampun, cantiknya istri Mas Yoga tadi pagi, bajunya mentereng kayak nyonya besar, wangi banget, beda sama biasanya!"


Bagaikan disambar petir di siang bolong, aku melangkah mundur perlahan. Hatiku mencelus hebat. 


Dari mana Hani mendapat semua akses dan kekuasaan itu?


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(6) Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

  "Sentuh dia satu milimeter saja, maka saya pastikan Anda keluar dari gedung ini tanpa bisa berjalan lagi, Tuan Yoga." Suara Wend...